"Aku tak akan melakukan apapun padamu, Akiko. Hanya ingin mengubahmu menjadi jauh lebih baik."
Pikiran mereka terhubung, seperti telepati.
Kakak guru bisa mengetahui pikiran Akiko, tetapi Akiko tidak bisa mengetahui apa yang dipikiran Kakak guru.
--
Suzuha masuk, melihat Akiko yang seperti sedang melamun.
"Ada apa kawan?"
"Umm, tak apa-apa.."
"Bagaimana kalau kita mulai?"
Akiko menganggukkan kepalanya.
Lalu Suzuha mengambil sebuah kertas beserta pulpen dan memberikannya kepada Akiko.
"Gambarlah cita-citamu di masa depan."
"Aku tak bisa menggambar.."
Suzuha berpikir sejenak.
"Tuliskanlah cita-citamu di sini."
"Tidak bisa"
"Kenapa?"
"Umm..." Akiko tertunduk.
"Anak ini benar-benar dalam kesulitan, sepertinya dia memang sangat pemalu. Berdasarkan info yang kudapat
dari Kakak guru, dia punya cita-cita menjadi seorang penyanyi terkenal. Mungkin, inilah pintu yang harus kubuka kuncinya." Pikir Suzuha
"Apakah kamu punya cita-cita untuk menjadi seorang penyanyi terkenal?"
"Iya.." Akiko menormalkan kembali posisi wajahnya.
"Aku tau beberapa hal yang harus kau lakukan. Inginkah kamu tahu?"
"Iya."
"Sebentar."
Suzuha menuju ke rak buku, dan mengambil sebuah buku. "Killing the shame"
"Bacalah ini, terapkan ke dalam kehidupanmu sehari-hari."
Akiko mengambil buku itu.
"Tetapi ini masih disegel."
"Bukalah. Tak apa."
Dibukalah segel plastik buku tersebut. Dibuka bukunya, baca sekilas, lalu dilihatnya bagian sipnosis dari buku tersebut.
"Bolehkah aku membawa buku ini ke rumah untuk dibaca?"
"Tentu saja."
"Terima kasih Guru."
"Sama-sama."
"Oh ya, hari ini kita sampai disini saja OK?" Kita bertemu besok. Dan kamu memiliki PR."
"Apa itu?"
"Bacalah buku itu, dan kamu harus tahu detail buku itu, dan juga latar belakang penulisnya."
"OK kak."
"Sekarang kamu boleh pulang. Hati-hati di jalan."
"Terima kasih kak. Mata ashita, arigatou gozaimasu"
"Hai, doitashimashite. Mata ashita."
============End of File===========
Gak mau curhat ke manusia!
Emang, isi dari blogku yang satu ini tentang curhatku yang tak ingin kucurhatkan ke manusia langsung, tetapi aku ingin curhat ke media.
-Maaf Akiko Hisamanya saya suspend, feelingku kacau akhir ini-
Di Muthahhari, merupakan awal aku tahu rasa sakit hati yang sebenarnya.
Baru aku di Muthahhari, ngasih kado ke sahabat saat miladnya, lalu sahabatku nanya "apa maksud kamu ngasih kado ini?"
Baru aku di Muthahhari, merasakan feeling yang amat sangat down disebabkan "sahabat"ku sendiri sehingga penyakit liverku hampir kambuh, karena stres memikirkannya.
Baru aku di Muthahhari, dipilih-kasih oleh sahabat yang mengakunya "gak pernah pilih-pilih sahabat", tetapi dia malah memilih sahabat yang punya wajah yang bagus, hartawan, dan pintar.
Baru aku di Muthahhari, nemu orang yang ngakunya sahabat tapi ga pernah mau dekat dengan diriku tanpa alasan jelas.
Baru aku di Muthahhari, nilaiku jauh ngedrop gara aku mikirin sahabatku yang menyakiti hati dan berpikir, "apa yang salah dariku"
Baru aku di Muthahhari, aku... Hhhh...
Tuhan, maukah Engkau mengulurkan lengan cintaMu kepada hamba agar hamba bisa melupakan sejenak kesakitan ini?
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-Maaf Akiko Hisamanya saya suspend, feelingku kacau akhir ini-
Di Muthahhari, merupakan awal aku tahu rasa sakit hati yang sebenarnya.
Baru aku di Muthahhari, ngasih kado ke sahabat saat miladnya, lalu sahabatku nanya "apa maksud kamu ngasih kado ini?"
Baru aku di Muthahhari, merasakan feeling yang amat sangat down disebabkan "sahabat"ku sendiri sehingga penyakit liverku hampir kambuh, karena stres memikirkannya.
Baru aku di Muthahhari, dipilih-kasih oleh sahabat yang mengakunya "gak pernah pilih-pilih sahabat", tetapi dia malah memilih sahabat yang punya wajah yang bagus, hartawan, dan pintar.
Baru aku di Muthahhari, nemu orang yang ngakunya sahabat tapi ga pernah mau dekat dengan diriku tanpa alasan jelas.
Baru aku di Muthahhari, nilaiku jauh ngedrop gara aku mikirin sahabatku yang menyakiti hati dan berpikir, "apa yang salah dariku"
Baru aku di Muthahhari, aku... Hhhh...
Tuhan, maukah Engkau mengulurkan lengan cintaMu kepada hamba agar hamba bisa melupakan sejenak kesakitan ini?
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Akiko Hisama ~the Doa (ドア) 1
Label: Akiko Hisama
8:00:01, hari selanjutnya.
Akiko tiba di sekolah. Dia memutar-mutar kepalanya, "Dimana kakak guru yang kemarin?". Karena tak kunjung ketemu, Akiko duduk di bawah pohon rindang di sekolahnya.
.....
-Ada yang menepuk bahunya-
Lalu Akiko melirik ke belakang. "Oh kakak..."
"Sudah siapkah kamu untuk bertemu dengan gurumu?"
Akiko terdiam.
"Apakah kamu teringat lagi dengan Tanaka kemarin saat kau sendirian di bus?"
DEG!
"Darimana dia tahu kalau aku kemarin memikirkan si Tanaka sialan itu? Padahal saat itu aku sedang sendirian. Apa dia mengintip? Tidak mungkin juga, aku bicara itu dalam hati. Siapa dia sebenarnya? Kenapa bisa tahu pikiranku?"
8:05:01
"Ayo, ikutlah dengan kakak, kasihan gurumu menunggu."
"iii, iya kak..."
Lalu mereka berdua berjalan, menuju ruangan 4 dimana guru berada.
"Siapa dia ini? Dia datang tiba-tiba tanpa terlihat sebelumnya. Dia datang saat pikiranku sedang rumit, datang begitu saja..."
"Kita sudah sampai, ayo masuk." Ucap kakak guru sambil tersenyum.
"Iya kak, terima kasih."
"Sama-sama."
"Akan kucari tahu siapa kau!" dalam hati Akiko.
----
Lalu sang kakak guru mengenalkan Akiko kepada guru musiknya yang baru, "Suzuha Karada".
"Siapa namamu?" Tanya Suzuha
"Emm, Akiko..."
"Senang berkenalan denganmu." sambil menjulurkan tangan, mengajak bersalaman. Dan Akiko menjabat tangan Suzuha dengan dingin.
"Sebentar ya, ada yang ingin aku obrolkan dulu dengan gurumu. Kamu bisa duduk dulu di sana" Suzuha sambil menunjuk kursi yang berada di sebelah kirinya.
Duduklah Akiko, lalu kakak guru dan Suzuha berbicara berdua dengan suara pelan di lawang pintu.
"Apakah Akiko seperti itu?" tanya Suzuha.
"Memang, dia sering sekali mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan. Dia sepertinya masih trauma dengan beberapa kejadian buruk yang menimpanya.Dan dia berubah menjadi seseorang yang rendah diri. Bisa kau bantu aku menyembuhkannya, dan mengubah dia menjadi seseorang yang hebat? Tentu saja aku akan membantumu"
"Hm, mungkin... Apa hal positif potensial yang kau lihat dari dia?"
"Dendamnya terhadap Tanaka, temannya yang sekarang juara 1 Kaizu Band Contest di Okinawa. Jika kita cerdas, kita bisa mengubah dendamnya jadi energi penggerak semangatnya."
"Oh, dan selain itu, dia juga bisa mengenal tinggi nada, setahuku dia belum pernah mendalami musik. Hm, aku terpikirkan sebuah rencana. Ini dia ...."
Bla bla bla
Akiko meratapi mereka berdua.
"Apa yang mereka bicarakan? Mereka berdua terlihat begitu akrab. Apakah ada sesuatu yang mereka rencanakan?"
"Oke kalau begitu! Ayo kita laksanakan rencana kita, kita ubah Akiko. Kita saling bantu, okay?" Respon Suzuha.
"Oke, don't lose contact."
"Apa yang akan mereka lakukan padaku!?"
==============End of file part 1=============
Langganan:
Komentar (Atom)
