Strike 2!

Belakangan saya ingin offline, karena hiruk pikuk media sosial dan instant messaging mulai membuat saya pening, bahkan pada tingkat tertentu mengganggu emosi. Tiga hari menggunakan lagi ponsel lipat, yang ada malah masalah. Ada kesalahpahaman. Mungkin memang karena manusia sekarang sudah begitu bergantung kepada teknologi.

Meski demikian, aku yang harus berdamai dengan penggunaan teknologi informasi, tetap masih belum bisa berdamai dengan media sosial, yang mulai membuat kacau banyak hal. Banyak aktor kurang ajar yang menggunakan media sosial untuk memenuhi keinginannya tanpa memperhatikan dampak yang mereka timbulkan. Gila kalau liat media sosial, sedang wabah seperti ini malah banyak orang (atau, orang dengan banyak akun) yang membuat narasi yang memecah belah, baik sesama rakyat maupun rakyat dengan Pemerintah dan menebeng agama. Saya tak masalah dengan orang yang mengeritik Pemerintah demi kemajuan bangsa, yang sebenarnya begitu kelihatan bedanya dengan menjatuhkan. Sederhananya, yang mengeritik akan memberikan solusi yang masuk akal dan tepat sasaran; berbeda dengan menjatuhkan yang argumennya melulu dengan kebencian, membajak emosi manusia dengan narasi yang memancing marah dan takut.

Suaraku kalah berisik dibandingkan mereka, karenanya aku lebih memilih melindungi orang yang sudah bisa mendengar suaraku; dan menjaga kewarasanku sendiri.

Khusus instant messaging, mungkin aku akan mempelajari lagi fitur-fiturnya, selain fitur blok. Karena keluar dari grup akan menimbulkan sentimen yang kurang baik. Dan juga, belajar untuk tidak terlalu mikir berlebihan, atau takut berlebihan. Atau, praduga yang tak terbuktikan, yang hanya lahir dari rasa takut.

Dan aku sedang berusaha berdamai dengan trauma sakit masa lalu. Aku punya sentimen negatif terhadap whatsapp berkat kejadian menyakitkan 5 tahun lalu, yang bekasnya kadang masih terasa, kalau tak perih ya ganjal. Itulah sebabnya kalau balas whatsapp pasti jauh lebih lama daripada misalnya pakai line atau sms; karena aku sebenarnya ogah pakai whatsapp. Tak nyaman.

Tapi apa boleh buat, aku harus berdamai, aku harus mengejar ketertinggalan. Mari saling menguatkan...

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top