Pikiranku, Ketuhanan...


Saya merenung, ketika kenapa semua diciptakan secara berpasangan. Ada laki, ada perempuan.. Ada jantan ada betina. Ada neutron ada positron.  Ada negatif ada positif, ada yang jahat ada yang baik. Kenapa Allah tidak menciptakan satu saja? Misalnya di dunia ini hanya ada yang baik, tak ada yang jahat.

Mungkin, ini kesimpulan saya, “Agar tercipta keseimbangan di dunia ini”. Tepat memang kesimpulan saya ini. Bayangkan di dunia ini kutub medan magnet hanya ada satu? Pasti keadaan bumi akan amat sangat kacau.

Tak ada kejahatan dunia ini tak akan pernah ada perkembangan kan? Dan selain itu, kalau hanya ada kutub positif, tak mungkin dinamo dapat berputar kan? Sama seperti kehidupan dunia ini. Tidak ada pasangannya tidak mungkin ada perputaran pada kehidupan. Kesimpulan kedua, “agar kehidupan berputar”.

Eksistensi Tuhan nampak disini. Tidak ada yang mengawali tak mungkin ada akhir. Tak mungkin ada proses tanpa akhir (kalau proses tanpa akhir itu siklus, tetap saja ada awal dan akhirnya. Dalam siklus terjadi repetisi proses akhir menuju proses awal).Sesuai dengan sifat Allah, “Yang Maha Awal” dan “Yang Maha Akhir”.

Tanpa interferensi yang mengawali kehidupan, tak mungkin ada kehidupan. Seperti mesin mobil, ada dinamo starternya kan? Kehidupan mesin mobil tersebut diinterferensi oleh gerak rotasi dari dinamo starter itu. Tidak mungkin mesin mobil bisa menyala sendiri tanpa penggerak awal, mobil bisa menyala jika ada penggerak awal (dinamo starter, atau start dorong).

Seperti yang saya bilang, tak ada yang mengawali, tak ada yang mengakhiri. Kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, di dunia ini ada akhir dari sesuatu. Contohnya, kematian manusia, itu merupakan akhir, akhir dan ada awalnya, yaitu kelahiran kan? Tak mungkin tak ada proses kelahiran, manusia “ujug-ujug” lahir begitu saja. Ngeri kan kalau kayak gitu? Saya sendiri tidak ujug-ujug ada di dunia, saya dilahirkan juga toh.

Ah, ada buku “ayat-ayat semesta” di meja kerja saya. Lalu saya membaca buku itu dan saya beruntung.

Allah telah berfirman dalam Surah Al-Rum ayat 11:
“Allah memulai penciptaan, kemudian mengembalikan (mengulangi)-nya, kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan”
“Yabda’u Khalaqa”, sebuah kata kerja sedang yang memiliki makna sedang, atau akan memulai penciptaan. Dan sangat logis, karena mengarah kepada manusia. Dia sedang menciptakan manusia dan Dia akan menciptakan manusia. Kita lihat realita, setiap waktu ada saja ada manusia yang dilahirkan, ada yang akan dilahirkan. Dan ayat ini ditutup dengan pernyataan bahwa manusia (kamu) akan dikembalikan kepadaNya. (Ayat-Ayat Semesta, Agus Purwanto: Hal. 336)

Dengan logika dan dalil Al-Qur’an mengenai satu kasus ini telah jelas bahwa eksistensi Tuhan itu nyata. Tak ada yang memulai, tak ada proses dan tak ada akhir.

Wallahualam.
--
Dan terlintas di pikiran saya kenapa semua diciptakan secara berpasangan. Di benak saya, Mungkin ini simbolisasi Allah bahwa hanya Allahlah yang Maha Esa dan tidak terbagi oleh apapun. Dan makhluknya tersusun atas dua atau lebih sesuatu.

Dan juga, berpasangan ini menunjukkan eksistensi Tuhan juga. Sebelumnya telah dikenal teori “kekekalan materi” . dengan penemuan anti-materi yang merupakan pasangan dari materi yang juga  dapat melenyapkan materi, runtuhlah teori itu, dan juga runtuh teori “Jagat raya abadi” yang berasal dari pemahaman fisika klasik.

Dalam teori Jagat raya abadi dinyatakan bahwa waktu dan ruang merupakan hal yang absolut dan juga materi adalah kekal, yang menunjukkan sebuah “keabadian”, yang berarti tidak membutuhkan Pencipta yang menjaga..

Dengan penemuan anti materi itu, tercetuslah teori bayrogenesis, kelahiran materi, yang juga menunjukkan jagat raya tercipta pada masa lalu yang berhingga.

Ketika muslim ditanya, apa yang ada sebelum alam semesta tercipta? Jawabnya “Tuhan Allah”
Kesimpulannya, jagat raya memerlukan keterlibatan sesuatu yang berada pada luar dirinya agar tetap terus hidup, dialah Allah.. Subhanallah

Wallahualam bismi wahab

Maka, bersyukurlah! (1)

Alkisah di sebuah desa kumuh yang terpencil di pinggiran Kota Bandung, ada sebuah keluarga yang hidupnya menyedihkan. Keluarga itu memiliki 8 anak. Sang kepala keluarga hanyalah seorang pemulung yang hasil hariannya tak seberapa, bahkan hanya cukup untuk makan bagi dirinya sendiri. Sang Ibu, bekerja sebagai buruh cuci harian, yang tidak tetap kerjanya. Beliau bekerja hanya jika ada yang memintanya. Kedelapan anaknya, 6 diantaranya telah menikah tetapi masih satu rumah dengan orang tuanya. Hanyalah tersisa satu anaknya yang cacat, dan satu lagi yang normal.

Setiap hari, ibunya selalu menasihati anak-anaknya, "Nak, meskipun hidup kita amat pas-pasan, hanya bisa makan nasi garam, tetaplah bersyukur. Allah selalu bersama kita. Mungkin kelak, kita akan hidup bahagia, tetaplah bersyukur ya Nak."

Ayah dan ibunya memang dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai orang yang saleh(ah). Ayahnya tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah di mesjid. Ibunya merupakan seorang guru mengaji di mushalla dekat rumahnya.

Indra dan Andi, merekalah dari 8 bersaudara yang belum menikah. Indra masih mengenyam pendidikan di jenjang SMA kelas 2, dan Andi SMA kelas 3. Andi merupakan salah satu siswa berprestasi di sekolahnya. Dia pernah memenangkan lomba olimpiade biologi tingkat internasional saat kelas 1 SMA bersama teman-teman lainnya, sehingga karena prestasinya itu, dia gratis bersekolah selama 3 tahun. Meskipun hanya seorang anak pemulung dan buruh cuci, dia selalu bersyukur akan apapun yang dia miliki.

Sedangkan Indra, merupakan penyandang cacat. Hanya sebelah tangannya, tepatnya tangan kanan saja yang normal. Sehingga ia sering mendapat caci dan makian di sekolahnya. Meskipun begitu, dia tak pernah patah semangat, karena dia melihat kakaknya yang berprestasi di sekolahnya. "Kakakku juga bisa, aku juga harus bisa!" Dia bersyukur meskipun dia cacat, tetapi dia memiliki seorang kakak yang selalu mendukungknya, dan cerdas.

-

Suatu hari dalam klise kehidupannya, Indra bertanya kepada Ibunya.

"Bu, mengapa kita harus bersyukur? Lihatlah, aku cacat! Aku tidak seperti teman-temanku yang lain, yang tangannya sempurna! Apakah aku dilahirkan untuk dihina? Allah tidak adil!!" Ronta Indra kecil yang saat itu masih duduk di bangku SMP kelas 3.

"Keadaan seperti ini merupakan anugerah Allah, nak. Kau tidaklah cacat. Allah memberikan seluruh manusia  dengan nilai kemampuan yang sama. Ada yang dikurangi setengah di satu sisi, tetapi selalu ditambah setengah di satu sisi. Meskipun kau hanya punya satu tangan, tapi tanganmu itu memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan tangan-tangan orang lain. Bersyukurlah nak, kaulah salah satu yang menerima anugrah Allah."

Indra pun merenungi kata-kata ibunya.

"Tapi, mengapa kita harus hidup dalam keadaan miskin?" tanya Indra

Ibu pun tersenyum. "Nak, lihatlah ke bawah. Masih banyak yang keadaannya lebih menyedihkan daripada kita. Ada yang tinggal di pinggir jalan, ada yang hanya memakan nasi aking. Kita? Alhamdulillah nak, kita masih bisa makan dengan nasi yang bagus, kadang kita bisa makan dengan lauk."

Anak itu terdiam.

"Nak, kau tahu bagaimana cara menambah rejeki?" tanya sang Ibu.

"Apa itu, bu?" tanya Indra

"Bersyukurlah, dan saling memberi. Meskipun kita miskin, tetaplah saling memberi. Karena memberi itu merupakan salah satu wujud syukur. Allah berjanji akan menambah rejeki bagi orang yang bersyukur."

“Sesungguhnya orang-orang lelaki yang bersedekah dan orang-orang perempuan yang bersedekah, serta mereka memberikan pinjaman kepada Allah, sebagai pinjaman yang baik (ikhlas), akan digandakan balasannya (dengan berganda-ganda banyaknya), dan mereka pula akan beroleh pahala yang mulia. (Al-Quran Surah al Hadid, Ayat 18)
 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top