Pemimpin


“Hingga tatakala mereka (bala tentara Sulaiman) sampai ke lembah semut, lalu berkatalah seekor diantara mereka (Ratu Semut): Hai sekalian semut masuklah ke dalam sarangmu, agar kamu tidak dihancurkan oleh Sulaiman dan bala Tentaranya, sedangkan mereka (Sulaiman dan bala tentaranya) tidak mengetahui akan sarangmu.”

Bacalah, kawan. Tuhan ingin menjadikan ratu semut sebagai contoh pemimpin. Ketika rakyat-rakyat semut nyawanya sedang dalam ancaman akan terinjak oleh bala tentara Sulaiman yang tidak mengetahui keberadaan mereka (semut-semut), sang ratu semut memerintahkan kepada rakyatnya agar masuk ke dalam sarang-sarangnya. Ratu semut ingin agar rakyat-rakyatnya aman.

Kau tahu kawan? Indonesia, dahulu dikenal sebagai negeri yang hijau makmur, paru-paru dunia. Batang tumbuhan yang ditancapkan di bumi Indonesia akan tumbuh menjadi tanaman yang subur, air mengalir di sungai begitu jernihnya dan bisa langsung diminum.

Pemimpin Indonesia dahulu sangatlah amanah. Lihatlah ketika mereka memimpin, negeri subur ini mampu membuat rakyat makmur bahagia.

Kini, Indonesia berubah, menjadi seperti sebuah bangsa yang terbuang.

Bandingkan pemimpin-pemimpin kita dulu dengan pemimpin-pemimpin kita kini. Mereka kini hanyalah mementingkan perut mereka. Tak peduli apa yang mereka lakukan –meskipun hal itu akan membakar perutnya sendiri-, entah itu korupsi, suap, dan tindakan kotor lainnya, mereka lakukan demi memenuhi hawa nafsu raja-nya.

Negeri yang subur ini berubah menjadi negeri yang tandus, kering. Sawah-sawah yang hijau dan menyejukkan mata diubah menjadi mall megah -yang hanyalah memenuhi nafsu para kaum materialis-. Karena dibaliknya para pemimpin kita tergiur oleh uang dari para pengelola mall. Akibatnya? Banyak! Salah satunya adalah iklim menjadi tidak karuan, dan kehidupan menjadi tidak seimbang.

Kau tahu Tomcat? Kumbang yang kini mengganas hingga ke kota. Menyebabkan kulit manusia melepuh  jika kita mengalami kontak dengan bisanya. Janganlah menyalahkan Tomcat. Tomcat tidak akan mewabah jika habitatnya, sawah, tidak dirusak oleh manusia. Kau tahu? Jika kita merusak alam, alam akan marah pada kita. Dan mungkin kumbang Tomcat ini ingin menyampaikan pesan kemarahan alam terhadap manusia.

Alkisah sebuah negeri di jaman prasasti
Yang dulu hijau makmur gemah ripah loh jinawi
Namun tiba-tiba datang raksasa sakti
Menghancurkan negeri adu domba sana sini

Mungkin di pikiran kita masih segar, mengenai kasus Wisma Atlet yang melibatkan Nazarrudin cs. Jika kita flashback lebih jauh lagi, kita menemukan fakta, betapa arogannya para pemimpin kita. Mereka ingin mendirikan sebuah gedung baru, yang harganya triliunan. Bagaimana rakyat tidak marah, kawan? Kau masih ingat sewaktu kita berjalan-jalan saat ngabuburit ramadhan kemarin? Masih banyak orang yang telanjang, kelaparan, tanpa papan, kepanasan. Sedangkan para  pemimpin kita? Gedung mewah yang masih begitu nyaman tetapi miring sedikit saja sudah ribut.

Hai para pemimpin! Bukalah mata kalian! Lihatlah di bawah kalian! Tataplah dengan mata hatimu kaum yang lemah, yang kepanasan, yang kelaparan! Sedangkan kalian, yang notabene sebagai pemimpin yang seharusnya membuat rakyat bahagia, malah meminta fasilitas super mewah sedangkan rakyat yang kau pimpin masih meratapi nasib. Pantaskah itu? Kalian adalah pemimpin, bukan raja! Berhentilah mengeluarkan air mata buaya! Hentikan segala tipu dustamu!

Kita mundur lagi beberapa waktu. Ketika sidang paripurna terbuka dimulai, April 2011 yang lalu,  seorang anggota DPR yang bernama Arifinto, dipergoki sedang menonton video yang tidak senonoh. Ah, kawan, betapa mirisnya. Seseorang yang berasal dari “dewan terhormat” melakukan sesuatu yang tidak terhormat. Bagaimana rakyat mau menghormati kalian, wahai “dewan terhormat”? Berperilakulah terhormat, maka kau pun akan dihormati. Itulah hukum alam.

Kini, kembalilah ke masa kita saat ini menginjakkan kaki, kawan. Saksikanlah berita. Lihat, terjadi demo dimana-mana. Puluhan orang terluka dalam demo itu. Mereka menyuarakan aspirasi mereka dengan anarki. Sifat anarkis itu bukanlah hal yang tidak wajar. Itulah wujud ledakan dari akumulasi kemarahan mereka terhadap para pemimpin kita. Cobalah tengok ke atas, kawan. Para pemimpin kita menutup telinganya, membutakan matanya. Mereka seolah tidak ingin menyaksikan apa yang rakyat katakan. Mereka lebih melayani hawa nafsu hewaninya.

Raksasa tertawa
Hahahahahaha
Gembira karena membuat orang-orang menjadi sengsara
Rakyat pun menangis
Hihihihihi
Ksatria bertikai membela diri dan golongannya sendiri...

BBM belum juga naik, harga-harga kebutuhan pokok sudah naik terlebih dahulu. Ah, kasihan mereka, yang untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang ketika harganya belum naik saja sudah sulit, bagaimana nanti jika harga-harga sembako semakin merangkak naik? Sungguh mataku terbasahi oleh air mata mereka. Nanti mereka mau makan apa? Tidaklah mungkin mereka memakan kerikil dan batu. Janganlah mereka menjadi “kanibal”!

Ah iya kawan, aku jadi teringat Gayus, si buncit nakal yang telah memakan mentah-mentah uang rakyat. Dia bagaikan sedang memakan daging babi busuk yang tak pernah dicuci. Pajak yang seharusnya dipakai pembangunan struktural malah dipakai untuk membangun rumah pribadi dan membeli rumah yang keduanya sama-sama super mewah. Dia membiarkan sesamanya kelaparan, sedangkan dia sendiri kenyang dari hasil mencuri uang-uang sesamanya hingga dia kelaparan.

Bibit-bibit Gayus pun bertumbuhan dengan subur di tanah yang subur (makmur) ini. Tikus-tikus ulung lahir begitu banyak. PNS dengan eselon rendah bisa membeli sebuah mobil  mewah. Sebuah keajaiban yang hanya ada di Indonesia.

Satu kata: “Miris”

Nafsu serakah raksasa semakin menjadi
Tiga hari sekali dia minta upeti...

Rasanya kupingku lelah mendengar hal-hal yang seperti ini! Ah, daripada diriku membiarkan telinga ini terbakar karena ulah para “pejabat”, lebih baik aku berdoa untuk sesamaku...

Tuhan, dengarlah do’aku. Janganlah Engkau menambah derita mereka yang sudah amat pedih, tetapi, bahagiakanlah mereka, Wahai Yang Maha Membahagiakan. Kaulah berita terindah bagi mereka. Julurkan tangan-Mu untuk menyayangi mereka.

Tuhan, wujudkanlah sebuah negeri impian yang ada di dalam mimpiku ini. Aku ingin ada satu negeri yang hijau dan subur, rakyatnya hidup dengan makmur dan sejahtera, pemimpinnya disegani. Negeri yang selalu mendapatkan berkah dari-Mu, tak ada yang kelaparan, tak ada yang tidak memakai sehelai pakaian pun, tak ada yang kehilangan akalnya. Negeri yang bersahabat dengan negeri-negeri lainnya. Negeri yang rakyatnya senantiasa tersenyum bahagia, mencintai sesamanya, tak ada perang, tak ada kejahatan. Dan kelak, negeri itu bernama “Indonesia”.

Adakah negeri impian, negeri khayalan, idaman semua orang
Disana tak ada perang, dan kejahatan, rakyatnya aman dan tentram
Adakah negeri impian, negeri khayalan, idaman semua orang
Semua cukup sandang pangan, bergandengan tangan, menjunjung persaudaraan...
Menyenangkan, mengasyikan... wouwouwou....
Menyenangkan, mengasyikan... wouwouwou....

#Project Pop - Negeri Impian

photograph is courtesy of http://hirangputihhabang.wordpress.com/

Hold My Hand



Matahari yang terik menyinari Kota Bandung, 5 Agustus 2011, tepat pada tanggal 5 Ramadhan 1432H. "Kau tahu kawan, seluruh umat muslim di penjuru dunia melaksanakan ibadah puasa. Seperangkat ibadah yang mengontrol hawa nafsu kita, mendidik agar kita senantiasa berbagi kepada sesama, dan menumbuhkan cinta."

Tetapi, masih banyak orang yang belum mengerti apa arti puasa, kawan. Mereka hanya tahu kalau puasa hanyalah sebatas menahan lapar dan haus. Tetapi, mereka tetap melakukan keburukan, bertengkar, bahkan menghilangkan nyawa sesamanya.

I hear the flower’s kinda crying loud
The breeze’s sound in sad
Oh no....

Hatinya masih sangat hampa, kosong akan Asma-Asma Tuhannya yang mulia. Kau tahu kawan? Bahwa hati seseorang yang hampa akan diisi oleh kejahatan nafsu yang ditimbulkan oleh dirinya sendiri. Semakin penuh, semakin mengeraslah hatinya. Ketika pada akhirnya, hati tersebut bagaikan sebuah batu yang siap menghancurkan hati lainnya yang selembut sutra. Dan kau pasti mengetahui, apa yang terjadi jika batu menghantam batu. Mereka akan saling menghancurkan.

So cold and empty inside
Lost a way long time ago
Did we really turn out blind
We don’t see that we keep hurting each other
All we do is just fight

Pernahkah kau merasakan indahnya cinta kepada sesama? Cinta ialah berbagi, berbagi rasa bahagia yang kita miliki kepada orang yang disekitar kita. Bukankah Manusia Yang Mulia (Muhammad saw) telah mengajarkan kita akan cinta?

"Cintailah anak yatim", begitulah yang diajarkan oleh beliau, Sang Cahaya Ilahi. Bayangkanlah senyum-senyum anak yatim, yang senang ketika kita berada diantara mereka, berbagi pengetahuan, berbagi kebahagiaan, bersama. Kita telah membahagiakan Rasulullah saw.! Dapatkah kau membayangkan keindahannya, kawan?

Now we share the same bright sun
The same round moon
Why don’t we share the same love
Tell me why not
Life is shorter than most have thought

Tetaplah bersamaku! Masihkah kau ingat ketika kita berjuang bersama? Di saat sulit, di saat senang, kita selalu bersama. Kita saling membantu sama lain. Itulah cinta, kawan. Cinta tidaklah selamanya untuk lawan jenis, cinta adalah untuk seluruh umat manusia! Karena cintalah, dunia ini ada, dan diciptakan.

Hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what we have left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And let’s pray for a beautiful world
A beautiful world I share with you

Ah, kawan. Cobalah tengok ke luar, aku ingin kita merenung bersama. Kau pasti pernah melewati jalanan di kota kan? Lihatlah, banyak anak-anak (di)terlantar(kan). Mereka seharusnya bermain dengan riang, bahagia, dan penuh canda tawa, layaknya ketika kita sewaktu kecil dahulu.

Tetapi, kau telah menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri, kawan. Banyak anak-anak jalanan yang hujan-hujanan sembari kelaparan, menanti akan rerecehan yang diberikan oleh pengendara kendaraan bermotor, yang belum tentu semuanya memberikan.

Kita makan tiga kali sehari, kawan, lengkap dengan lauk pauknya. Tetapi, apakah demikian dengan anak-anak jalanan? Jika kau memperhatikan lebih jauh, mereka boro-boro membeli lauk pauk sebagai pelengkap nasi, nasi pun mereka tidak sanggup untuk membelinya!

Coba, bertanyalah kepada diri kita masing-masing, kawan. "Apakah kita masih mau membuang makanan, dan pelit kepada fakir miskin, sedangkan saudara-saudara kita kelaparan?"

Children seem like they’ve lost their smile
On the new blooded playgrounds
Oh no...

How could we ignore, heartbreaking crying sounds
And we’re still going on
Like nobody really cares
And we just stopped feeling all the pain because
Like it’s a daily basic affair

Dunia ini tidak memiliki batasan, kawan. Tuhan menciptakan bumi ini bulat, dengan maksud bahwa kita semuanya bertetangga. Tiadalah penting perbedaan warna kulit, ras, bahasa, apalagi kedudukan. Di mata Tuhan, seluruh manusia adalah sama. Ya, itulah mengapa Tuham menciptakan dunia ini bulat, kawan.

Kita semuanya bertetangga. "Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing." Kita hidup untuk saling membantu satu sama lainnya. Dan, kau tahu? Bahwa Tuhan memerintahkan kita agar menunaikan zakat dan mengeluarkan shadaqah jika kita memiliki harta lebih. Tuhan telah mengatur sedemikian rupa sistematika zakat dan shadaqah, kembali kepada bumi itu bulat, seluruh hak manusia adalah sama. Kita semua adalah tetangga.

No matter how far I might be
I’m always gonne be your neighbor
There’s only one small planet where to be
So I’m always gonna be your neighbor
We cannot hide, we can’t deny
That we’re always gonna be neighbors
You’re neighbor, my neighbor
We’re neighbors

Bangunlah dari perenungan ini, kawan. Rangkul aku, pegang tanganku. Kita berdo'a dengan menebarkan bibit cinta ke seluruh alam semesta. Kelak, kita akan melihat indahnya bunga-bunga cinta bertebaran di semesta ciptaan Yang Maha Cinta ini!

So hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what we have left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And let’s pray for a beautiful world
A beautiful world I share with you...

--Maher Zain - Hold My Hand
 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top