Ibu...
Label: Ibu, melahirkan, perjuangan, persalinanAku kini berada di sebuah rumah sakit bersalin di Jalan Sumatera, Bandung. Aku pertama kali ada di sini sejak pukul 1:30 pagi. Ketika 10 menit sebelumnya, kakakku yang sedang hamil merasakan "mules", yang, menurut kepercayaan kami, sebagai tanda sebentar lagi akan melahirkan. Ketika diberitahu demikian, aku langsung melek, hilang rasa kantuknya, dan tancap gas dari rumah ke rumah sakit ini.
Kakakku hingga tulisan ini dibuat belum melahirkan, tetapi sudah mulai pembukaan kedelapan. Kedelapan dari sepuluh. Rasa mules mulai beralih menjadi rasa sakit yang membuat orang di sekitarnya ikut pilu juga. Yah, karena mendengar pilu itu, aku menjadi termotivasi untuk menulis ini.
Ibu, siapa sih yang tidak mengenalnya? Dialah wakil Tuhan yang Pengasih lagi Penyayang di muka bumi ini. Dialah yang melahirkan kita, mengurus kita, membesarkan kita. Yah, meskipun kadang menurut kita, ibu kita itu "bawel", "jahat" dan sebagainya, hatinya tidak berniat demikian. Mungkin karena kelepasan, tidak sengaja. Menjadi ibu bukanlah sebuah pekerjaan yang ringan, apalagi yang juga mencari nafkah. Lelah, letih, lesu. Tapi tahukah kalian? Dengan senyum kalian yang menyambutnya, itu sudah cukup untuk menghilangkan 3Lnya.
Ah, dahulu aku hanya mendengarkan "katanya", katanya melahirkan itu sakit, katanya melahirkan itu adalah menantang maut, katanya, dan katanya. Sehingga aku sering kali menyepelekannya. Aku adalah orang yang tipikalnya cenderung kurang percayaan kalau belum merasakan dan menyaksikannya. Kini, aku menyaksikan dengan mata, kepala, dan perasaanku sendiri.
Di dalam ruang HCU (High Care Unit), begitu banyak selang yang menempel kepada kakakku. Selang oksigen, selang infus, semuanya selang penyambung kehidupan. Ia mengeluh, "sakit!", berulang kali, menggenggam lengan ibuku dengan kuat sekali. Terbayang sakitnya. Ada yang bilang, skala sakitnya orang yang melahirkan itu 15 dari 10. Mungkin jauh lebih gila lagi dari yang kubayangkan. Dan mungkin inilah yang dimaksud dengan “menantang maut”
Mungkin, ibuku dahulu seperti itu. Betapa repotnya mengandungku dan sakitnya melahirkanku. Perjuangannya yang hebat selama 9 bulan, hanya demi aku terlahir ke dunia ini dengan selamat, sehat, tanpa memedulikan dirinya sendiri yang menantang maut. Pasti, seorang perempuan ketika melahirkan diantara hidup dan mati, dan condong kepada kematian. Sakitnya, hebat, mungkin tak ada obat bius yang secara 100% menghilangkan rasa sakit ini. Kalaupun ada pastilah bisa menyebabkan keburukan bahkan kematian.
Alhamdulillah, ibuku selamat ketika melahirkanku, dan kini ia mengurusku hingga aku sebesar ini. Tetapi aku kini sadar, aku memperlakukan ibuku dengan tidak baik. Aku kadang memarahi ibuku, padahal ibuku tidak tahu apa-apa, atau bukan maksud berbuat buruk. Kadang aku mengabaikan ibuku, tetapi ibuku memperhatikanku dengan penuh kasih sayang, hingga ketika aku sakit ia rela tidak tidur berhari-hari, hanya untuk menungguiku, dengan harapan aku cepat sehat.
Ya Allah, aku sadar kini, betapa hebatnya perjuangan sang ibu. Ibu tidak mengharapkan balasan apapun dari anaknya kecuali keberhasilan anaknya dalam kehidupan. Aku harus mulai semakin menghargainya, menyayanginya, ya, berbalas budi! Meskipun budi sang ibu tak akan pernah terbalas hingga kapan pun, aku tetap akan memberikan yang terbaik yang kubisa, kuharap ia bahagia dengan apa yang kuberi.
Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa...
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia...
image taken from http://srhelena.blogspot.com/2012/05/mothers-love.html
Racun Televisi bagi Remaja
Label: cinta, FTV, Hedonisme, Materialisme, Remaja, sosialisasi
Selasa, 21 Agustus 2012, sekitar jam 10 pagi, saya baru keluar dari kamar ibu saya, sehabis ketiduran di sana (entah kenapa saya sekarang menjadi nokturnal), dibangunkan oleh kakak saya dengan cara yang khas, yaitu tidur di sebelah saya dan kemudian mendorong-dorong saya agar saya bergeser, memberinya spasi lebih agar dia bisa tidur. Lalu, karena sudah merasa kebanyakan tidur, saya keluar kamar yang langsung tembus ke ruang keluarga. Kebetulan di ruang keluarga sedang kosong dan TV menyala, orang tua saya sedang melayani tamu di depan. Yah karena pikiran masih baru sadar dari fantasinya, saya duduk sejenak sebelum mengambil teh untuk diminum (makan teh itu rasanya sesyuatu banget dah, kapok saya).
Kebetulan, saat itu TV sedang menampilkan sinetron remaja di salah satu TV swasta yang hurufnya konsonan semua. Saya kurang begitu tahu, apakah itu sebutannya sinetron remaja atau FTV, saya tidak berminat mencari tahu, kecuali jika ada yang memberi tahu.
Ciri khas sekali, dengan latar belakang scene yang indah, ada cewe dan cowo yang kejar-kejaran, kemudian latar belakang tersebut mengalami transisi menjadi sebuah rumah mewah dengan mobil yang sama-sama mewah pula. Kamera melakukan zoom kepada para pemain. Cewe pakai rok mini, dan baju ketat. Si cowo pun tak kalah dari segi penampilan. Rambut mohawk, wajah cantik putih seperti cewe.
Segalanya serba mahal, tapi muatan kebaikan saya rasa tidak ada. Film tersebut hanya mengajarkan hedonisme dan materialisme. Kesenangan dhohiriyah. Film-film seperti itu mengajak penontonnya untuk melupakan bahwa semua itu akan lenyap, dengan segmen remaja sebagai sasarannya. Pembaca tahu sendiri, bagaimana remaja dapat dengan mudahnya terpengaruh, apalagi oleh media dan mayoritas.
Remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak (childhood) menjadi dewasa (adulthood). Pada masa inilah, remaja mencari jati dirinya, meniru beberapa orang di sekitarnya, itulah proses sosialisasi pada remaja. Lingkungan remaja yang baik akan menghasilkan individu yang baik, demikian pula sebaliknya, lingkungan buruk akan menghasilkan individu yang buruk pula.
Dalam sosiologi, media sosialisasi yang pertama adalah keluarga. Bisa kita lihat sendiri, anak yang hidup dalam keluarga yang harmonis sangatlah berbeda dengan keluarga yang broken home. Anak yang hidup dalam keluarga yang harmonis sudah memiliki panutan yang baik, orang tuanya. Lalu bagaimana dengan yang broken home? Dia mencari sendiri. Dan sebagaimana remaja pada umumnya, mereka belum bisa menentukan mana yang baik dan buruk sebagaimana seharrusnya. Ada kalanya mereka menganggap sesuatu yang buruk, geng motor perusak misalnya, sebagai hal yang baik, karena mendengar dari temannya bahwa geng motor itu keren. Dan demikian pula sebaliknya. Itulah yang berbahaya.
Kembali lagi ke topik. Remaja merupakan sasaran empuk para pelancar hedonisme dan materialisme, karena remaja merupakan sosok pencari jati diri. Wajah yang bersih (padahal hasil dari obat-obatan, saya senang cantik yang alami), mobil dan rumah mewah, fisik yang menawan, semua yang nampak saja. Dan alam bawah sadar para remaja dicecoki pemikiran ini, secara tidak terasa. Sehingga patokan "kehebatan dan kesempurnaan" hanya terpatri pada sesuatu yang nampak. Padahal materi terikat oleh waktu, dan akan tergerus oleh waktu.
Berbeda dengan para pecinta yang tetap saling mecintai dengan ruhaninya. Contohnya adalah mereka kakek nenek yang tetap saling mencintai hingga akhir hayatnya. Romantis bukan? Cinta dengan fisik tidak akan bertahan lama. Seganteng-gantengnya (atau cantik), sekalinya menua, mereka akan menjadi jelek, keriput, dan buruk.
Saya merindukan tayangan-tayangan pada masa lalu, masa saya kanak-kanak. Saya sudah lama tidak menyaksikannya, sehingga lupa namanya. Ada sebuah tayangan, kartun, yang mendidik. Mengajarkan kepada saya kecil, mengenai sosok Nabi Muhammad saw.. Yah, acara-acara tersebut mengajarkan bagaimana menjadi anak-anak seharusnya, yang bahagia dengan dunia bermain, tetapi tidak melupakan agama. Kalau kita lihat sekarang, banyak acara yang target audience-nya adalah anak-anak, tetapi mengajarkan yang tidak seharusnya, seperti pacaran, berantem, individualisme, dan 2 paham itu, materialisme dan hedonisme.
Jika kau ingin menghancurkan suatu kalangan, pengaruhilah kaum mudanya. Saya rasa itu tepat, mengingat pemuda yang akan menjadi generasi selanjutnya yang meneruskan suatu kalangan. Jika generasi muda berhasil dicekoki, ketika generasi beralih, generasi muda selanjutnya juga akan dicekoki ajaran yang sama oleh generasi muda yang sudah menua itu, dan akan terus menerus berulang, dan mencekoki generasi selanjutnya akan lebih mudah daripada generasi-generasi awal.
Sebenarnya, saya ingin sekali bermunculan kembali tayangan-tayangan yang mendidik, yang memperindah akhlak kita, yang memperluas khazanah mengetahuan kita, dan tentu saja menghibur, bukan tayangan hiburan yang tidak berbobot atau bahkan mengajarkan hedonisme dan materialisme.
Tulisan saya ini berseri, sehingga insyaAllah di masa mendatang saya akan menulis kembali mengenai Filter bagi racun televisi ini. Semoga saya masih diberi kesempatan di masa mendatang. Aamiin. Semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi para pembaca. Stay tuned, dan salam sejahtera bagi para pembaca!
Kebetulan, saat itu TV sedang menampilkan sinetron remaja di salah satu TV swasta yang hurufnya konsonan semua. Saya kurang begitu tahu, apakah itu sebutannya sinetron remaja atau FTV, saya tidak berminat mencari tahu, kecuali jika ada yang memberi tahu.
Ciri khas sekali, dengan latar belakang scene yang indah, ada cewe dan cowo yang kejar-kejaran, kemudian latar belakang tersebut mengalami transisi menjadi sebuah rumah mewah dengan mobil yang sama-sama mewah pula. Kamera melakukan zoom kepada para pemain. Cewe pakai rok mini, dan baju ketat. Si cowo pun tak kalah dari segi penampilan. Rambut mohawk, wajah cantik putih seperti cewe.
Segalanya serba mahal, tapi muatan kebaikan saya rasa tidak ada. Film tersebut hanya mengajarkan hedonisme dan materialisme. Kesenangan dhohiriyah. Film-film seperti itu mengajak penontonnya untuk melupakan bahwa semua itu akan lenyap, dengan segmen remaja sebagai sasarannya. Pembaca tahu sendiri, bagaimana remaja dapat dengan mudahnya terpengaruh, apalagi oleh media dan mayoritas.
Remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak (childhood) menjadi dewasa (adulthood). Pada masa inilah, remaja mencari jati dirinya, meniru beberapa orang di sekitarnya, itulah proses sosialisasi pada remaja. Lingkungan remaja yang baik akan menghasilkan individu yang baik, demikian pula sebaliknya, lingkungan buruk akan menghasilkan individu yang buruk pula.
Dalam sosiologi, media sosialisasi yang pertama adalah keluarga. Bisa kita lihat sendiri, anak yang hidup dalam keluarga yang harmonis sangatlah berbeda dengan keluarga yang broken home. Anak yang hidup dalam keluarga yang harmonis sudah memiliki panutan yang baik, orang tuanya. Lalu bagaimana dengan yang broken home? Dia mencari sendiri. Dan sebagaimana remaja pada umumnya, mereka belum bisa menentukan mana yang baik dan buruk sebagaimana seharrusnya. Ada kalanya mereka menganggap sesuatu yang buruk, geng motor perusak misalnya, sebagai hal yang baik, karena mendengar dari temannya bahwa geng motor itu keren. Dan demikian pula sebaliknya. Itulah yang berbahaya.
Kembali lagi ke topik. Remaja merupakan sasaran empuk para pelancar hedonisme dan materialisme, karena remaja merupakan sosok pencari jati diri. Wajah yang bersih (padahal hasil dari obat-obatan, saya senang cantik yang alami), mobil dan rumah mewah, fisik yang menawan, semua yang nampak saja. Dan alam bawah sadar para remaja dicecoki pemikiran ini, secara tidak terasa. Sehingga patokan "kehebatan dan kesempurnaan" hanya terpatri pada sesuatu yang nampak. Padahal materi terikat oleh waktu, dan akan tergerus oleh waktu.
Berbeda dengan para pecinta yang tetap saling mecintai dengan ruhaninya. Contohnya adalah mereka kakek nenek yang tetap saling mencintai hingga akhir hayatnya. Romantis bukan? Cinta dengan fisik tidak akan bertahan lama. Seganteng-gantengnya (atau cantik), sekalinya menua, mereka akan menjadi jelek, keriput, dan buruk.
Saya merindukan tayangan-tayangan pada masa lalu, masa saya kanak-kanak. Saya sudah lama tidak menyaksikannya, sehingga lupa namanya. Ada sebuah tayangan, kartun, yang mendidik. Mengajarkan kepada saya kecil, mengenai sosok Nabi Muhammad saw.. Yah, acara-acara tersebut mengajarkan bagaimana menjadi anak-anak seharusnya, yang bahagia dengan dunia bermain, tetapi tidak melupakan agama. Kalau kita lihat sekarang, banyak acara yang target audience-nya adalah anak-anak, tetapi mengajarkan yang tidak seharusnya, seperti pacaran, berantem, individualisme, dan 2 paham itu, materialisme dan hedonisme.
Jika kau ingin menghancurkan suatu kalangan, pengaruhilah kaum mudanya. Saya rasa itu tepat, mengingat pemuda yang akan menjadi generasi selanjutnya yang meneruskan suatu kalangan. Jika generasi muda berhasil dicekoki, ketika generasi beralih, generasi muda selanjutnya juga akan dicekoki ajaran yang sama oleh generasi muda yang sudah menua itu, dan akan terus menerus berulang, dan mencekoki generasi selanjutnya akan lebih mudah daripada generasi-generasi awal.
Sebenarnya, saya ingin sekali bermunculan kembali tayangan-tayangan yang mendidik, yang memperindah akhlak kita, yang memperluas khazanah mengetahuan kita, dan tentu saja menghibur, bukan tayangan hiburan yang tidak berbobot atau bahkan mengajarkan hedonisme dan materialisme.
Tulisan saya ini berseri, sehingga insyaAllah di masa mendatang saya akan menulis kembali mengenai Filter bagi racun televisi ini. Semoga saya masih diberi kesempatan di masa mendatang. Aamiin. Semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi para pembaca. Stay tuned, dan salam sejahtera bagi para pembaca!
Lihat, lihat, lihat! Masih tidak bersyukur?
Label: cina, pengalaman, SLB, Syukur
Sudah lama saya tidak ngeblog, karena kesibukan di luar sana, mulai dari acara mentoring hingga yang paling umum saat bulan Ramadhan, buka puasa bersama alias bukber. Menjelang akhir bulan Ramadhan, kegiatan semakin berkurang, karena mungkin banyak juga yang pulang ke kampungnya masing-masing, jadi acara rame-rame yang biasa dilakukan bersama teman kini lebih banyak dilakukan bersama keluarga.
Yah, sudah lama sekali saya ingin menuliskan blog post ini. Dan Alhamdulillah kini saya mendapat kesempatan untuk ngeblog. Izinkan saya menulis beberapa rangkaian kata, yang semoga saja bermakna dan bahkan bermanfaat bagi para pembaca.
Beberapa waktu yang lalu, saya bersama kawan-kawan dari remaja mesjid mengunjungi sebuah SLB. Tujuannya adalah mengundang mereka ke acara talk show dan pentas seni remaja mesjid kami. SLB tersebut sepertinya berukuran standar rumah tipe 50, bahkan menurut saya lebih kecil. Terletak di perdalaman komplek saya, menjadikannya tidak banyak yang mengetahui mengenai keberadaannya.
Saya pun masuk ke dalam. Berbincang dengan kepala sekolah dan para guru. Guru-guru di sana merupakan manusia-manusia hebat, mereka mengabdi tanpa pamrih untuk mengajar puluhan anak yang memiliki keterbatasan, dan berhasil. Mengapa saya bilang hebat? Karena saya punya pengalaman. Saya sendiri pernah menjadi seorang pengajar untuk anak-anak seusia SMP, dan saya pun kewalahan untuk mengatur mereka. Padahal mereka semua normal! Bayangkan kalau saya mengajar anak-anak yang memiliki keterbatasan, apalagi tuna grahita. Saya tak tahu harus bagaimana...
Kembali lagi ke jalan yang lurus, yaitu jalan cerita ini. Saya kemudian diajak ke dalam ruangan kelas untuk melihat aktifitas KBM. Saya sendiri bingung dimana ruang kelasnya, kemudian saya ditunjukkan oleh salah seorang guru di sana. Sang guru menunjuk kepada sebuah ruangan kecil -lebih mirip ruang tamu, kalau di denah rumah standaran-, masuklah saya ke dalam.
Kaget, itu perasaan saya pertama kalinya. Melihat begitu banyak anak-anak yang memiliki kekurangan. Ada yang mengalami problem afektif, kognitif, psikomotorik, ada pula yang tunawicara bahkan tunagrahita. Beragam. Dan hebatnya semuanya disatukan dalam sebuah kelas! Tidak ada konflik, semuanya berjalan lancar. Sekali lagi, saya kaget, karena ini pemandangan yang pertama kali bagi saya dan membungkam saya.
Saya menghampiri seorang anak yang tunagrahita. Dia sedang belajar menghitung bersama gurunya. Umurnya kurang lebih 7 tahun, tetapi masih memiliki keterbatasan dalam membaca, menulis, dan berhitung, dan juga dalam kecerdasan emosionalnya. Saya tidak sendiri, tetapi bersama teman saya, karena saya juga kesulitan berkomunikasi dengan dia. Dan kebetulan teman saya ini ahli dalam menangani anak-anak. Alhamdulillah saya tertolong.
Ketika anak itu sedang berinteraksi dengan teman saya, saya meminjam bukunya, melihat isinya. Yah, apa ya, perasaannya bercampur aduk. Ada perasaan bahagia karena dia bisa -setidaknya- menulis angka dan menggambar, di sisi lain saya merasa sedih karena dia memiliki keterbatasan yang, sangat-sangat membuat dia menjadi terbatas.
Dan kemudian, tiba-tiba kepala sekolah meminta anak-anak untuk memperhatikan beliau. Kepala sekolah itu menempelkan kertas yang tertulis deretan angka -yang kalau saya tebak itu not angka- dengan judul Mars SLB, dan kemudian kepala sekolah itu meminta anak-anak untuk mengambil angklung yang ternyata tanpa saya sadari sudah disiapkan oleh para guru. Setiap anak sudah memiliki bagiannya masing-masing. Si A kebagian angklung nomor 7, si B kebagian nomor 3, dan seterusnya.
Dan saya kembali terperajat. Mereka memainkan angklung dengan baik, meskipun kacau-kacau dikit. Dan yang menjadi perhatian saya adalah seorang pria paruh baya sering salah membunyikan angklung, yang saya sangka guru. Ternyata dia juga seorang siswa di sana. Dan ketika saya bertanya kepada rekan saya yang sudah ngobrol-ngobrol dengan guru di sana, dia ternyata sudah kepala empat, dan keluarganya telah menitipkan ia sejak SLB ini didirikan.
Saya tutup dulu ceritanya sejenak. Mari kita berefleksi. Kita sudah melihat pada gambaran cerita singkat di atas, begitu banyak saudara kita yang mengalami kekurangan. Dan mereka tidak menyerah pada dunia, dunia yang bagi siapa berserah padanya, dia akan dizalimi. Mereka tahu, di balik keterbatasannya mereka memiliki kekuatan semangat bagai bom atom yang bisa meledak kapan saja. Mereka tidak menyerah, mereka tetap maju, melawan derasnya kehidupan.
Tetapi, saya berduka, kepada para tunagrahita. Saya tidak bisa menerjemahkan mereka. Apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka tujukan, tidak tahu. Abstrak. Oh Tuhan, setiap mendengar mereka berbicara, setiap melihat mereka beraktifitas, air mata ini selalu keluar. Bagaimana mereka menghadapi kehidupan di luar sana, kehidupan yang keras, sedangkan mereka seperti ini?
Oh Ya Allah, fisik ini yang Kau ciptakan dengan sempurna, tetapi malah kusia-siakan! Aku bermalas-malasan, aku membuang waktuku, aku tertidur, disaat yang lain sedang bekerja keras, disaat mereka yang kekurangan berusaha untuk bertahan hidup, dengan keadaan fisik yang serba kekurangan, mereka berusaha amat sangat keras, hanya untuk mendapatkan sesuap nasi, sedangkan aku membuangnya! Aku sudah lupa bersyukur padaMu! Aku lupa akan keberadaanMu..
Ya Allah, aku hanyalah seonggok kotoran di muka bumi ini, menodai dunia ini dengan ketiadagunaanku. Ya Allah, sekiranya Engkau tidak menutupi aibku, sudahlah pasti aku menjadi makhluk yang amat hina. Ya Allah, ampuni aku yang selalu saja tidak bisa mensyukuri segala nikmatMu. Ya Allah, tanpaMu, aku hanyalah ketiadaaan...
Yah, sudah lama sekali saya ingin menuliskan blog post ini. Dan Alhamdulillah kini saya mendapat kesempatan untuk ngeblog. Izinkan saya menulis beberapa rangkaian kata, yang semoga saja bermakna dan bahkan bermanfaat bagi para pembaca.
Beberapa waktu yang lalu, saya bersama kawan-kawan dari remaja mesjid mengunjungi sebuah SLB. Tujuannya adalah mengundang mereka ke acara talk show dan pentas seni remaja mesjid kami. SLB tersebut sepertinya berukuran standar rumah tipe 50, bahkan menurut saya lebih kecil. Terletak di perdalaman komplek saya, menjadikannya tidak banyak yang mengetahui mengenai keberadaannya.
Saya pun masuk ke dalam. Berbincang dengan kepala sekolah dan para guru. Guru-guru di sana merupakan manusia-manusia hebat, mereka mengabdi tanpa pamrih untuk mengajar puluhan anak yang memiliki keterbatasan, dan berhasil. Mengapa saya bilang hebat? Karena saya punya pengalaman. Saya sendiri pernah menjadi seorang pengajar untuk anak-anak seusia SMP, dan saya pun kewalahan untuk mengatur mereka. Padahal mereka semua normal! Bayangkan kalau saya mengajar anak-anak yang memiliki keterbatasan, apalagi tuna grahita. Saya tak tahu harus bagaimana...
Kembali lagi ke jalan yang lurus, yaitu jalan cerita ini. Saya kemudian diajak ke dalam ruangan kelas untuk melihat aktifitas KBM. Saya sendiri bingung dimana ruang kelasnya, kemudian saya ditunjukkan oleh salah seorang guru di sana. Sang guru menunjuk kepada sebuah ruangan kecil -lebih mirip ruang tamu, kalau di denah rumah standaran-, masuklah saya ke dalam.
Kaget, itu perasaan saya pertama kalinya. Melihat begitu banyak anak-anak yang memiliki kekurangan. Ada yang mengalami problem afektif, kognitif, psikomotorik, ada pula yang tunawicara bahkan tunagrahita. Beragam. Dan hebatnya semuanya disatukan dalam sebuah kelas! Tidak ada konflik, semuanya berjalan lancar. Sekali lagi, saya kaget, karena ini pemandangan yang pertama kali bagi saya dan membungkam saya.
Saya menghampiri seorang anak yang tunagrahita. Dia sedang belajar menghitung bersama gurunya. Umurnya kurang lebih 7 tahun, tetapi masih memiliki keterbatasan dalam membaca, menulis, dan berhitung, dan juga dalam kecerdasan emosionalnya. Saya tidak sendiri, tetapi bersama teman saya, karena saya juga kesulitan berkomunikasi dengan dia. Dan kebetulan teman saya ini ahli dalam menangani anak-anak. Alhamdulillah saya tertolong.
Ketika anak itu sedang berinteraksi dengan teman saya, saya meminjam bukunya, melihat isinya. Yah, apa ya, perasaannya bercampur aduk. Ada perasaan bahagia karena dia bisa -setidaknya- menulis angka dan menggambar, di sisi lain saya merasa sedih karena dia memiliki keterbatasan yang, sangat-sangat membuat dia menjadi terbatas.
Dan kemudian, tiba-tiba kepala sekolah meminta anak-anak untuk memperhatikan beliau. Kepala sekolah itu menempelkan kertas yang tertulis deretan angka -yang kalau saya tebak itu not angka- dengan judul Mars SLB, dan kemudian kepala sekolah itu meminta anak-anak untuk mengambil angklung yang ternyata tanpa saya sadari sudah disiapkan oleh para guru. Setiap anak sudah memiliki bagiannya masing-masing. Si A kebagian angklung nomor 7, si B kebagian nomor 3, dan seterusnya.
Dan saya kembali terperajat. Mereka memainkan angklung dengan baik, meskipun kacau-kacau dikit. Dan yang menjadi perhatian saya adalah seorang pria paruh baya sering salah membunyikan angklung, yang saya sangka guru. Ternyata dia juga seorang siswa di sana. Dan ketika saya bertanya kepada rekan saya yang sudah ngobrol-ngobrol dengan guru di sana, dia ternyata sudah kepala empat, dan keluarganya telah menitipkan ia sejak SLB ini didirikan.
Saya tutup dulu ceritanya sejenak. Mari kita berefleksi. Kita sudah melihat pada gambaran cerita singkat di atas, begitu banyak saudara kita yang mengalami kekurangan. Dan mereka tidak menyerah pada dunia, dunia yang bagi siapa berserah padanya, dia akan dizalimi. Mereka tahu, di balik keterbatasannya mereka memiliki kekuatan semangat bagai bom atom yang bisa meledak kapan saja. Mereka tidak menyerah, mereka tetap maju, melawan derasnya kehidupan.
Tetapi, saya berduka, kepada para tunagrahita. Saya tidak bisa menerjemahkan mereka. Apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka tujukan, tidak tahu. Abstrak. Oh Tuhan, setiap mendengar mereka berbicara, setiap melihat mereka beraktifitas, air mata ini selalu keluar. Bagaimana mereka menghadapi kehidupan di luar sana, kehidupan yang keras, sedangkan mereka seperti ini?
Oh Ya Allah, fisik ini yang Kau ciptakan dengan sempurna, tetapi malah kusia-siakan! Aku bermalas-malasan, aku membuang waktuku, aku tertidur, disaat yang lain sedang bekerja keras, disaat mereka yang kekurangan berusaha untuk bertahan hidup, dengan keadaan fisik yang serba kekurangan, mereka berusaha amat sangat keras, hanya untuk mendapatkan sesuap nasi, sedangkan aku membuangnya! Aku sudah lupa bersyukur padaMu! Aku lupa akan keberadaanMu..
Ya Allah, aku hanyalah seonggok kotoran di muka bumi ini, menodai dunia ini dengan ketiadagunaanku. Ya Allah, sekiranya Engkau tidak menutupi aibku, sudahlah pasti aku menjadi makhluk yang amat hina. Ya Allah, ampuni aku yang selalu saja tidak bisa mensyukuri segala nikmatMu. Ya Allah, tanpaMu, aku hanyalah ketiadaaan...
Jatuh, tanggah, terpuruk.
Aku kini ingin bercerita mengenai kisah kegagalanku. Kegagalan yang berulang, hingga aku sadar dan menyesal kini. Mungkin, Tuhan menegurku karena keponggahanku, yang di dalam hati, menganggap orang lain tak lebih hebat dariku, atau paling sama denganku. Keponggahan intelektual, yang membuat telingaku tuli akan nasihat mereka yang berpengalaman, yang membuatku buta akan kenyataan. Indra hatiku tertutup. Aku merasa tinggi, meskipun aku merendahkan kepalaku dalam setiap sujud, tetapi aku tidak merendahkan diriku di hadapanNya, Dia yang telah menciptakanku, Dia yang telah memberikan aku segala nikmat tak terhitung, Dia yang segalanya, malah aku lupakan. Ketika aku memohon padaNya, hatiku tidak tulus, selalu terpancing hal duniawi. Oh Wahai Engkau Sang Pemilik Semesta Alam, akankah engkau mengampuniku? Akankah Engkau mengampuni aku yang kerjanya hanya malas-malasan, dan mengaku lebih hebat dari orang lain? Ya Allah, rendahkan hatiku ini...
Tanpa Engkau, aku tak lebih dari seonggok kotoran kecil di muka bumi yang mengganggu lingkungan di sekitarnya. Tapi, aku selalu saja lupa kepadaMu yang telah membesarkan aku dan menyelamatkanku dari segala kehinaan, Kau yang selalu menutupi aibku, Kau yang memberiku segalanya. Dan kini Kau menegurku dengan teguran yang mengguncangkan diriku, setelah beberapa kali menegurku melalui sesamaku.
Mungkin, karena niatku yang tidak sepenuhnya tulus untukMu, yang menjadikan aku gagal dalam setiap langkahku. Kadang, terbesit niat di dalam hati untuk belajar dengan niat Riya', ingin terlihat hebat. Dan aku lupa padaMu. Kesalahanku yang fatal.
Diriku yang selalu lalai akan waktu, seakan aku akan hidup selamanya di dunia ini, melupakan bahwa aku akan kembali ke kampung halamanku kelak, pada waktu yang tidak ada seorang pun yang mengira. Apakah aku sudah siap? Apa yang telah kutinggalkan, sesuatu yang bermanfaat, untuk sesamaku? Bagaimana aku bisa meninggalkan sesuatu yang bermanfaat, jika aku saja masih seperti ini?
Ya Allah, sekiranya engkau tidak memaafkanku, kemanakah hamba harus mencari harapan? Jika Engkau melaknatku, kepada siapa lagi hamba harus bernaung? Jika Engkau mencampakkanku, kepada siapa lagi aku memohon perlindungan? Tetapi, Ya Allah, aku tidak putus harapan akan Kemurahan-Mu. Ampuni aku Ya Allah, bimbinglah aku menjadi orang yang berguna...
Tanpa Engkau, aku tak lebih dari seonggok kotoran kecil di muka bumi yang mengganggu lingkungan di sekitarnya. Tapi, aku selalu saja lupa kepadaMu yang telah membesarkan aku dan menyelamatkanku dari segala kehinaan, Kau yang selalu menutupi aibku, Kau yang memberiku segalanya. Dan kini Kau menegurku dengan teguran yang mengguncangkan diriku, setelah beberapa kali menegurku melalui sesamaku.
Mungkin, karena niatku yang tidak sepenuhnya tulus untukMu, yang menjadikan aku gagal dalam setiap langkahku. Kadang, terbesit niat di dalam hati untuk belajar dengan niat Riya', ingin terlihat hebat. Dan aku lupa padaMu. Kesalahanku yang fatal.
Diriku yang selalu lalai akan waktu, seakan aku akan hidup selamanya di dunia ini, melupakan bahwa aku akan kembali ke kampung halamanku kelak, pada waktu yang tidak ada seorang pun yang mengira. Apakah aku sudah siap? Apa yang telah kutinggalkan, sesuatu yang bermanfaat, untuk sesamaku? Bagaimana aku bisa meninggalkan sesuatu yang bermanfaat, jika aku saja masih seperti ini?
Ya Allah, sekiranya engkau tidak memaafkanku, kemanakah hamba harus mencari harapan? Jika Engkau melaknatku, kepada siapa lagi hamba harus bernaung? Jika Engkau mencampakkanku, kepada siapa lagi aku memohon perlindungan? Tetapi, Ya Allah, aku tidak putus harapan akan Kemurahan-Mu. Ampuni aku Ya Allah, bimbinglah aku menjadi orang yang berguna...
WebRep
currentVote
noRating
noWeight
Langganan:
Komentar (Atom)

