Watch your thoughts, they become words.
Watch your words, they become actions.
Watch your actions, they become habits.
Watch your habits, they become character.
Watch your character, it becomes your destiny.

-- Lao Tze

Temuan

"A two rak'at prayer that a married person establishes is worthier than when a bachelor keeps up prayers at nights and fasts during the days."

Man La Yahduruhul Faqih, vol. 3, p. 384

Gelegak jiwa menanti sendu
Hati bertanya kepada angin
Berharap ia membawakan pesan
Nun dari jauh sana

Pernah kau berucap
Dunia ini sempit
Demikian tak kurasa
Lahir kita berjauhan

Tapi,
Kalau kupanggil kau dari jauh
Melalui lirih panjat doa kerinduan
Kau datang tanpa kusangka akannya
Menyampaikan teka-teki dalam sapaan

Kurenungkan
Benar ucapanmu itu
Dunia ini sempit
Dunia yang baru kukenal
Yang tak mengenal kilometer

Kuharap
Rintihan lirih doa
Linangan air mata
Tangis menelan sunyi
Senantiasa menghangatkan jiwa

Kau adalah kita. Aku adalah kita. Hidup adalah kita. Tidak mungkin ada kehidupan tanpa kita.

Balada anak desa

Lihatlah makhluk kecil itu
Betapa periangnya mereka
Kala temannya melempari pasir
Tiada air wajah dendam

Keluh kesah tak dimilikinya
Terlontar tiada dari lidahnya
Kala musibah datang padanya
Tak kenal cerita derita

Kau terjatuh, terkapar
Pasti kau tangisi itu
Nak, tangismu redam sakitmu
Kini, berlarilah kejar mentari

Redam tangis itu
Kini berlari lagi
Tiada putus asa
Mentari harus kukejar

Rasa sejernih air
Jiwa seindah pelangi
Tekad selaksana gunung
Hati selembut sutra

Tuhan jagalah ia
Dari dosa mereka yang bernafsu panas
Dekatkanlah ia dengan mereka
Yang sayap malakutinya tampak pada manusia

Risalah perkhidmatan (3): Pasangan

Masih segar di pikiran ku, minggu pagi itu, kawan seperjuanganku menuju jenjang pernikahan. Suatu pernikahan yang tak saya sangka sebelumnya. Karena teman saya itu seolah tidak menampakkan "gejala" dia akan menikah.

Betul juga, jodoh itu seringkali tidak disangka. Saya tahu beberapa orang yang berusaha mendekatinya, dan saya sempat "iseng" kepada mereka berdua. Cie-cie. Dan ternyata kenyataan berkata lain.

Sudah selesai intermezzo nya. Kita lanjut.

Dan di akad pernikahan itu, ustadz Miftah, memberikan wejangan kepada kedua pengantin. Kepada mereka, beliau berkata janganlah menuntut hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Akan tetapi, niatkanlah pernikahan sebagai perkhidmatan. Perkhidmatan istri terhadap suami, suami terhadap istri. Jika nanti sudah punya anak nanti, perkhidmatan harus terbentuk antara anak dengan kedua orang tuanya, kedua orang tua kepada anak. Berlomba-lombalah dalam perkhidmatan.

Dengan niat sebagai perkhidmatan, kehidupan rumah tangga akan menjadi sakinah. Kemudian, dari sakinah itu Allah akan memberikan mawadddah, dan rahmah. Kedua yang terakhir itu tidak muncul tiba-tiba, keduanya harus diusahakan melalui jalan sakinah. Dan jalan sakinah itu bisa ditempuh dengan cara perkhidmatan.

Mungkin diantara kita tidak banyak yang mengetahui kata ini. Perkhidmatan, berasal dari kata khidmat. Saya mengartikan  perkhidmatan sebagai tindakan yang dilakukan semata-mata dorongan dari hati nurani, tanpa mengharap balasan atau pamrih. Dan dalam perkhidmatan ada pengorbanan, baik itu waktu, peluh, bahkan darah. Dan pengorbanan adalah tanda cinta.

Berbeda ketika menggunakan paradigma hak dan kewajiban. Ada yang menuntut, ada yang dituntut. Ketika ada kekhilafan, misalnya, maka keributan tak akan terelakkan. Dan tidak ada toleransi di dalamnya keluarga tersebut. Bukankah manusia biasa seperti kita itu tak luput dari kesalahan?

Jangan pernah meremehkan semut, karena bisa saja ia menaklukkan, bahkan menghancurkan gajah.

Tapi kita belum pernah melihat makhluk yang senang bekerja sama dan menolong sesama itu menghancurkan gajah, bukan?

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top