Teringat lebaran-lebaran yang lalu, terutama ketika masih jaman SMS. Rasanya rame sekali inbox SMS di saat menjelang lebaran. Satu demi satu orang mengirimkan pesan "Mohon maaf lahir batin" dengan segala variasinya. Percaya atau tidak, meski kita tidak tahu apakah itu SMS broadcast atau bukan, menerima SMS seperti itu menyenangkan, dan membalasnya menghubungkan kembali tali silaturahmi. Padahal, SMS itu berbayar dengan limitasi 160 karakter. Kadang pesan lebaran itu bisa lebih, sehingga masuk biaya 2 SMS.

Maju kini ke era media sosial. Perpesanan semakin kaya dan juga murah. Bermodalkan internet yang bisa dari kuota milik sendiri atau nebeng milik orang lain. Namun, yang menjadi kontradiksi (atau bahkan ironi?) adalah lebih sulit menghubungkan tali silaturahmi. Tak ada lagi pesan-pesan seperti di SMS itu. Jarang (atau bahkan tidak ada?) niat tulus untuk saling memaafkan dan juga membangun lagi silaturahmi 1:1. Apa-apa lewat grup chat. Tidak ada spesialnya.

Di satu sisi teknologi memudahkan, namun karena mudahnya orang lupa akan esensi dari teknologi itu: keterhubungan manusiawi.

Dan pada sisi lainnya, bisa jadi aku sendiri memutuskan tali silaturahmi. Terutama di saat-saat ego-ku sedang tinggi-tingginya. Tentang apapun; agama, teknologi, dsb. Namun kiranya, dengan tulus, maafkan aku atas keakuan ku itu. Mari kita kembali menghubungkan tali silaturahmi.

Mohon maaf lahir batin.

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top