small paper from heart

Aku kadang ingin bercerita. Tetapi bingung mau bercerita lewat media apa. Kucoba lewat status facebook, yang ada malah kontroversi. Ya sudah, aku  pindah saja ke blog.

Aku jadi berpikir, "Sahabat yang sebenarnya itu seperti apa sih?". Tanda tanya besar dalam benakku. Ketika aku begitu perhatian kepada sahabatku, dibilang berlebihan. Kurang perhatian dianggap cuek. Lantas, apa yang pas? Aku bingung. Sebenarnya, bagiku yang kata orang "berlebihan" itu normal bagiku. Saling memberikan perhatian. Memang seharusnya seperti itu kan?

Dan, sahabat itu yang bisa saling memaafkan, saling mengingatkan, dan ketika salah satu sahabatnya sedang sedih, menghibur. Saling mengulurkan tangan, Ya kan? 

Euh... Astagfirullah...

Berharap, ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan rasa galau ini, sahabat sejati..

Best Friend

もう大丈夫心配ないと 泣きそうな私の側で
いつも変わらない笑顔で ささやいてくれた
まだ まだ まだ やれるよ","だっていつでも輝いてる"
時には急ぎすぎて 見失う事もあるよ","仕方ない"
ずっと見守っているからって笑顔で
いつものように抱きしめた
あなたの笑顔に 何度助けられただろう
ありがとう ありがとう Best Friend

こんなにたくさんの幸せ感じる時間は 瞬間で
ここにいるすべての仲間から 最高のプレゼント
まだ まだ まだ やれるよ","だっていつでも みんな側にいる"
きっと今ここで やりとげられること","どんなことも力に変わる"
ずっと見守っているからって笑顔で
いつものように抱きしめた
みんなの笑顔に 何度助けられただろう
ありがとう ありがとう Best Friend

時には急ぎすぎて 見失う事もあるよ 仕方ない
ずっと見守っているからって笑顔で
いつものように抱きしめた
あなたの笑顔に 何度助けられただろう
ありがとう ありがとう Best Friend

ずっと ずっと ずっと Best Friend
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Akiko Hisama ~the first light part 4

Langah demi langkah, menjauhi sang kakak instruktur. Semakin jauh, semakin melambat dan semakin mendekati bus yang mengantar rombongan Akiko dan kawan-kawan SMA. Akiko pun duduk di sebuah batu besar.

Melamun..
Melamun..

Dan tidak lama, datanglah seorang guru yang dikenal sebagai guru yang paling hebat di sekolah itu. Guru itu duduk disamping Akiko dan mengajaknya ngobrol.

"Kenapa, Akiko-chan?" Tanya guru dengan lembut.

"Nggak ada apa-apa kok.."

"Aku tahu masalahmu."

Akiko pun terdiam seribu bahasa.

"Kenapa kamu sesensitif itu?"

"Begini Kak, aku merasa, begitu banyak orang yang membenciku. Mereka mengejekku, menindasku. Padahal aku ga pernah jahat kepada mereka."

"Iya. Aku mengerti Akiko-chan. Kenapa kamu tidak mencoba mendekati mereka?"

"Mereka kan udah jahat padaku. Kenapa harus mendekati orang yang udah jahat padaku?"

"Jangan balas kejahatan dengan kejahatan. Itu malah akan memperburuk keadaan. Lawanlah api dengan air, jangan dengan api lagi. Ketika kamu membalas kejahatan orang dengan kejahatan, orang akan semakin jahat padamu. Cobalah balas keisengan mereka dengan senyuman yang tulus. Maka keakraban akan tercipta. Begitu banyak orang yang awalnya saling iseng-isengan seperti ini, selanjutnya menjadi sahabat yang begitu akrab. "

Akiko pun terdiam lagi.

"Mulailah tersenyum kepada orang yang telah iseng kepada kamu."

"Tapi itu sulit." Pengakuan Akiko.

"Memang. Segala sesuatu yang kita lakukan akan terasa sulit untuk dikerjakan, ketika kita belum terbiasa. Maka, biasakanlah."

"Iya. Makasih banyak ya kak."

"Sama-sama. Apakah ada hal lain yang ingin kamu ceritakan? Siapa tahu aku bisa membantu memecahkan masalahmu."

"Kayaknya untuk sekarang-sekarang ini cuma itu Kak."

"OK. Ketika kamu punya hal ingin yang dicurhatkan, temuilah aku di Ruang BK."

"Iya kak. Makasih. Aku tinggal ya Kak?"

"Ok. Jangan lupakan biasakan apa yang aku bilang ya."

"Iya kak."

Akiko pun pergi meninggalkan guru dan masuk ke kamar mandi untuk mengganti celananya yang basah sambil membersihkan bekas ngompolnya. Setelah selesai, dia masuk ke bus dan duduk sendiri.

Merenung..


---- end of part 4
To be continued.

------------


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Akiko Hisama ~the first light part 3

Ya kini dia telah menduduki bangku SMP.

SMP kelas 1 (kalau di Indonesia biasanya kita menyebutnya kelas 7)
Dia mulai masuk ke lingkungan baru, lingkungan yang benar-benar berbeda dengan sekolah asalnya. Kurang kebersihan, kurang kerapian, kurang kebahagiaan. Inilah keadaan sekolahnya sekarang.
Dia masuk seperti orang yang tertindas. Cupu lah, biasa orang mengatakannya. Kebiasaan pemakaian celananya yang seperti Jojon (anda tahu Jojon kan? Maaf kalau ada orangnya), menjadi ejekan tersendiri bagi teman-teman barunya, sekaligus ciri khasnya.

"Apakah dia yang namanya Akiko?" Tanya salah seorang temannya yang belum mengenalnya.
"Ya, lihatlah dari caranya memakai celana." Jawab Tanaka, teman sekelas Akiko.
"Ternyata dia amat mudah dikenali ya.."
"Begitulah". Tanaka mengakhiri percakapan

Itu hanya contoh "bagaimana Akiko dikenali" melalui ciri khasnya, "celana Jojon"

Teringat, Ketika masa orientasi sekolah, ada sebuah games (baca: Flying fox). Akiko disuruh naik ke atas, ke tempat biasa orang "dilemparkan" dari satu ujung kawat flying fox menuju ujung lainnya.

Karena saking takutnya, kakinya begitu gemetaran. Dan naiknya juga sangat lama...

Akhirnya sampai juga di puncak. Sang instruktur pun memasangkan safety belt yang mengikat bagaikan ular. Tapi tak separah ular.

"Kaak, jangan terlalu kencang mengikatnya. Sakiit nih.."
Kakak instruktur melonggarkan ikatannya
"Memang seperti ini Dik.. Untuk keamananmu juga. Ayolah. Lebih baik mana, jatuh atau aman tapi seperti ini?" Kakak instruktur kembali mengencangkan ikatannya seperti sebelumnya tanpa lupa tersenyum.
"Iya deh, kayak gini aja.." Jawab Akiko sambil senyum setengah niat.

Setelah safety belt selesai diikat dengan aman, kakak instruktur memberikan aba-aba sebelum Akiko dilempar

"Siap-siap ya! 1, 2.."
"Aaah.. Aku belum siap!" Hitungan terhenti di dua.
"Tiga!" Lengan kakak instruktur melemparkan Akiko.

Akiko meluncur cepat di bawah rel flying fox. Sungguh cepat. Dia berteriak sekencang-kencangnya.

Beberapa detik selanjutnya, Akiko sampai di tempat yang merupakan "dewa penyelamat"nya, tempat pemberhentian. Di sanalah tempat dimana ujung perjalanan flying fox. Dengan pipi yang basah dan celana yang "sama" pula, dia menenangkan diri sambil menunggu ikatan safety belt dilepas oleh kakak pembimbing yang satu lagi.

"Kenapa dik? Sampai ngompol seperti ini?"
"Aku benar-benar takut kak. Kakak yang disana benar-benar jahat! Melemparku begitu saja. Padahal aku belum siap!" Balasnya sambil terisak isak.
"Cobalah ngobrol dengan kakak instruktur itu, kenapa dia melemparmu begitu saja." Jawab kakak instruktur yang menempati pos terakhir dengan bijak.
"Oke kak, makasih." Akiko membalasnya dengan wajah yang nampak "masih menahan beban"

Akiko pun pergi.

"Jangan lupa ganti celana!" Teriak dari belakang.
"Iyaaa!"

Akiko pun menghampiri kakak instruktur yang pertama. Dengan perasaan yang masih kesal, dia pun bertanya,

"Kak, kenapa kakak melemparku begitu saja? Padahal aku belum siap?"
"Dik, waktu itu berjalan, mau tidak mau adik harus menjalani apa yang seharusnya adik lakukan. Jadi, kalau adik nggak maju, ntar adik bakal ditindas sama yang lainnya, jangan menyia-nyiakan waktu."
Pembicaraan terhenti sejenak.
"Ini pelajaran, kita harus siap menghadapi segala macam kejadian yang tidak terduga. Ketika.."
"Cukup!! Aku mau pergi saja!! Kakak tidak mengerti aku!" Bentak Akiko kepada kakak instruktur.
"Ya Tuhan. Tenangkan dirimu!"

Akiko pergi begitu saja, dingin.

"Suatu saat kamu akan mengerti Dik!"

Akiko pergi dengan mata yang berkaca-kaca, dan pipi yang basah. "Kenapa semua orang seperti ini padaku! Tidak ada yang sayang, semua membenciku! Tidak adaa!" Gejolaknya dalam hati.

-- cerita belum berakhir.

-------

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Inikah sahabat?

Ketika kita mempunyai seorang sahabat
Yang begitu dekat, sudah lama bersahabat
Tiba- tiba dia berubah, berubah dan menjauh
Menjadi hanyalah teman biasa
Teman asal sapa.
Apa rasanya?

Tak jelas akibatnya kenapa sahabatku itu berubah
Tak ada angin tak ada hujan
Berubah begitu saja.

Sampai sekarang aku masih mencari sebabnya
Kenapa
Kenapa dia berubah
Menjadi seperti itu.

Padahal kalau aku perhatikan
Dia bersahabat, seperti layaknya sahabat
"Kepada orang lain."

Bahkan lebih dari seorang sahabat!
Duduk berdua saat ujian
Di lain kesempatan, menuliskan nama mereka berdua
"XXXXXX <3 YYYYYY"
Aku memergoki tulisan itu

Aku jadi teringat, perasaan yang menyakitkan itu
Yang saat itu tak terasa menyakitkan
"Kita jadi sahabat aja ya"
Aku memplong disitu
Tapi lihatlah kini

Tapi kenapa dia berubah
Menjadi "bukan layaknya" sahabat
Tidak saling menanyakan kabar
Padahal dulu kita saling menanyakan kabar masing-masing

Tiap aku tanya
"Kenapa kamu berubah?"
Dia selalu mejawab "Gapapa"
Tapi
Aku tahu ada yang dia sembunyikan

Semakin kesini aku makin merasakan ketidakberesan
Semakin kesini dia semakin menjauh
Tali silaturahmi terasa semakin longgar..

Astagfirullah, Aku makin heran, apa salahku?
Apa mungkin karena "yang disembunyikan" itu
Dia menjadi berubah?
Atau perilakuku, yang selalu "lebih" dari sahabat?
Padahal sahabatku yang lain biasa saja.
Biasa saja aku perlakukan seperti itu
Karena aku ingin persahabatan yang TULUS

Padahal.. aku sudah begitu baik kepada dia.
Hm.. Pikiranku buntu

Ya Allah, beri aku petunjuk.
 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top