Ramadhan

#Sebelumnya, penulis meminta kepada para pembaca agar melepas baju intelektualnya, sementara saja... Jangan anggap penulis sebagai pelaku Fallacy of Dramatic Instace, ataupun Other Fallacies...


Dua puluh sembilan hari bulan Jungjunan Besar kita, Rasulullah SAW. hampir terlewati. Kini kita akan masuk menuju bulan umat Beliau SAW., Bulan Ramadhan. Bulan yang tentu ditunggu oleh seluruh kaum Muslimin/at, apapun latar belakangnya. Bulan yang penuh dengan kasih sayang-Nya yang agung, tiada tara. Di bulan inilah, kita "dipoles" sedemikan rupa dengan ujian, sehingga ketika bulan ini usai, kita menjadi merpati putih yang mengintari Rahmat-Nya.

Tapi, tunggulah sebentar. Apakah aku pantas untuk memasuki bulan yang suci nan agung ini? Aku ini berlumuran dosa! Aku ini tidak pantas untuk menyentuh hal-hal yang suci milikMu... Aku hanyalah makhlukmu yang kerjanya berbuat dosa saja setiap hari! Aku selalu melupakanMu... Aku hanyalah cacing melata dari tumpukan kotoran di seberang sana. Aku tiada apa-apanya. Aku kotor! Aku Hina!

Ya Allah, jika sekiranya Engkau tidak menerimaku di bulanMu yang suci ini, pastilah aku menjadi makhluk terhina diantara seluruh makhlukMu. Jika sekiranya engkau tidak menerimaku di Bulan ini, pastilah Engkau tidak akan pernah menerimaku. Sekiranya Engkau tidak menerimaku sebagai hambaMu, entah kemana hamba harus bernaung... Jika Engkau mengabaikanku, siapa lagi yang akan membelaku...

Wahai Tuhan, ku tak layak ke surgaMu 
Namun tak pula aku sanggup ke nerakaMu 
Ampunkan dosaku, terimalah taubatku 
Sesungguhnya Engkaulah pengampun dosa-dosa besar...

Oh Allah... Ampuni aku... Engkaulah Sang Pengampun Tak Terbatas. Tuhanku, jika Engkau ampuni aku siapa lagi yang lebih pantas melakukannya selain-Mu.. Tuhanku, maafkan aku... Maafkan aku yang telah mengabaikanMu di saat Kau memperhatikan segala kebutuhanku... Maafkan aku yang selalu tidak mendengar akan perintahMu, padahal perintahMu itu demi keselamatanku... Tuhan, selain kepadaMu, kepada siapa lagi aku meminta ampunan dan naungan? Tuhan... Ampuni aku...

Ya Allah, Engkaulah Sang Maha Cinta. Kaulah Kekasih Abadi. Engkau selalu ingin agar hambamu menuju jalan yang benar. Segala ujian yang telah Kau berikan, adalah untuk kebaikan kami...

Ampuni aku Ya Allah... agar aku bisa menuju bulanMu yang suci ini...

#Haddad Alwi - Ilahi Lastu Lil

Mirisnya Pendidikan Indonesia

Mohon maaf sebelumnya saya lupa mencantumkan sumber cerita ini. Sekarang, link sumber cerita ada di bagian akhir tulisan ini.

"Bermula dari uang pendaftaran yang tidak ada, orang tua wanita tersebut menjual sapi untuk mendapatkan uang pendaftaran. Setelah mendapatkan uang, dia melakukan pendaftaran di bank mandiri yang jaraknya 22 km dari tempat tinggal dan yang penuh sesak dengan pendaftar yang lain. Setelah mendapatkan pin untuk login, ada satu masalah yang harus ditemui, banyak warnet disekeliling bank, namun tidak ada yang bisa print. Dan ada masalah lagi pada saat melakukan pengisian SPMA. Isi form, tetapi saat di print menjadi dua lembar, begitu katanya walau saya sedikit kurang tahu bagaimana karena jelas berbeda dengan tahun yang lalu..."

Sebuah kisah nyata yang saya kutip dari situs Kompasiana, yang dikirimkan pada tanggal 7 Juli 2012, pada saat pengumuman SNMPTN dan 2 hari setelah saya ulang tahun. Dari awal hingga akhir tulisannya, penulis menceritakan perjuangan seorang gadis yang berjuang untuk masuk PTN. Gadis tersebut berasal dari golongan ekonomi yang kurang mampu. Seperti yang Anda lihat pada kutipan cerita, sampai orang tua gadis tersebut menjual sapi-nya untuk membayar uang pendaftaran SNMPTN, bahkan hanya untuk mengeprint formulir pun sulit karena memang keadaannya. Terbayangkan oleh Anda bagaimana keadaan ekonomi mereka? Kadang kita yang sudah diberikan kemudahan pun masih sempat mengeluh.

"Hingga hari yang ditunggu tiba, saya membukakan hasilnya dengan ijin dari dia, karena disana jauh dari warnet. Saya pada waktu itu sungguh berharap akan lolosnya dia, melihat bagaimana usahanya dari awal. Bagaimana dia memaksimalkan ujian nasional, dan berhasil menjadi yang terbaik di sekolahnya. Namun kenyataan berbicara lain, ada suatu rencana lain yang mengharuskan dia untuk tidak kuliah di kampus impiannya. Walau begitu, dia berkata tetap ikhlas akan semuanya dan berencana mencoba ke kampus lain yang memiliki biaya murah atau bahkan jika bisa tanpa biaya khusus untuk dia mengingat kondisi ekonomi dan cobaan yang baru datang..."

Saya lewat beberapa bagiannya, Anda dapat membacanya di link yang akan saya berikan di bawah.

Sampai pada akhir kisah. Bagai halilintar yang menyambar di siang hari yang damai. Anda bisa membayangkan -atau bahkan pengalaman Anda sendiri- ketika Anda memiliki prestasi yang hebat, di bidang akademik misalnya, kemudian Anda mencoba mendaftar ke institusi yang selama ini telah Anda idamkan. Anda sudah berusaha keras selama sekian tahun, mengikuti ujian seleksi yang ketat, kemudian pada hari penentuan Anda diterima atau tidak, ternyata Anda tidak diterima. Bagi saya itu merupakan sebuah sambaran yang menyakitkan. Apakah demikian dengan Anda?

Dunia memang tidak pernah adil. Banyak sebenarnya orang yang cerdas, pintar, tapi terkalahkan oleh pelangi yang biasa menghiasi pundi-pundi. Pelangi itulah yang menghiasi pendidikan kita. Si kaya biasa-biasa saja (atau bahkan bodoh) mengalahkan si miskin (super) cerdas dalam persaingan masuk PTN favorit. Komersialisasi pendidikan jugalah yang mengakibatkan banyak bangunan sekolah-sekolah negeri ambruk. Pemerintah kita terkesan acuh mengenai fasilitas dan kualitas pendidikan, tetapi paling semangat ngurusin anggaran pendidikan yang membumbung tinggi, mencapai ratusan triliun pelangi.

Pendidikan kita, menurut saya, menyedihkan. Masih dapat dengan mudah disuap oleh pelangi. Contoh kasus lain adalah tetangga saya. Tetangga saya bermaksud memasukkan anaknya ke salah satu SMP Favorit di Kota Bandung. Anak tetangga saya memiliki prestasi di bidang olahraga dan juga memiliki hasil NEM yang tinggi. Kemudian, datang orang lain yang juga membawa anaknya yang memiliki prestasi biasa saja, dan tidak memiliki record prestasi non-akademik, tapi pundi-pundinya tebal. Dengan sekian juta pelangi, si anak yang kalah prestasinya ini bisa menggeser anak tetangga saya yang sudah terbukti berprestasi. Kalau saya boleh berkesimpulan, prestasi itu bukan ditinjau dari hebatnya si anak, tapi hebatnya pelangi dalam pundi-pundi.

Anak-anak Indonesia banyak yang cerdas, sebenarnya. Suharyo Sumowidagdo contohnya. Dialah fisikawan Indonesia dibalik penemuan partikel Higgs Boson (lengkapnya baca di Kompas). Dia bekerja sama dengan orang asing. Karena di Indonesia, orang yang intelektual sering kali tidak dihargai bahkan dilecehkan. Sehingga mereka lebih memilih kerja untuk negara lain dan dengan orang lain ketimbang mengabdi di negaranya sendiri, toh kerja sama orang lebih enak, lebih dihargai. Tapi semoga rasa cinta tanah airnya tidak hilang.

Tapi, meskipun pendidikan kita seperti ini, saya masih benar-benar salut kepada para pejuang sejati yang benar-benar bertekad untuk belajar. Contohnya, gadis yang diceritakan oleh Kompasianaer di atas. Sebenarnya masih banyak orang yang seperti itu, tetapi tidak tersoroti oleh kita.

Tetaplah belajar, dan jadilah yang mengeluarkan Indonesia dari dunia yang suram. Belajarlah, dan belajar, Semangat! :D

Sumber Cerita: Kompasiana

The Way of Love

The Prophet’s Path, the Way of Love 
Only by this Love you’ll rise above 
Like a dove that’s been set free 
Love with longing is the key 
This love with longing is the key


Di sebuah pagi yang sejuk -meskipun bau asap pembakaran sampah-, langit yang bergradasi dihiasi oleh rembulan yang masih berseri dan segerombolan burung yang hijrah dari utara menuju selatan. Jarang sekali saya keluar pada subuh menuju pagi di teras. Ditemani si Mac yang memutar lagu "The Way of Love" karya Haddad Alwi.

Saya jadi teringat, tadi malam saya berdo'a pada malam nishfu sya'ban, suatu malam yang menurut banyak orang, merupakan malam tutup buku amalan manusia. Sebelum benar-benar "tutup buku", manusia memohonkan ampun kepada Rabb-nya, dan juga agar dosanya dihapuskan, sehingga ketika tutup buku, record akhlak buruk manusia dihapuskan, karena telah diampuni oleh Sang Maha Pengampun.

Terlepas dari hal-hal yang berbau fiqh, saya ingin mengutarakan perasaan saya mengenai malam nishfu sya'ban ini. Sekali lagi, mohon lepas baju fiqh Anda.

--

"Sya'ban adalah bulanku", begitulah sabda Baginda Rasulullah saw. Karena ini adalah bulan kekasih Allah swt., maka Allah pun membuka pintu pengampunan seluas langit dan bumi, seluas-luasnya. Sudah menjadi rahasia umum, permintaan sang kekasih kepada yang dicintainya pasti akan dijabah. Sama pula dengan Allah dan kekasih-Nya, Rasulullah. Setiap permintaan Rasulullah kepada Allah pasti akan dijabah.

Honey, nectar, sweetness and cream 
Orchids blooming by a mountain stream 
Star lit skies and waves on the sand 
Next to love they can't stand 
Next to this love they can not stand


Rasulullah semanis madu, bahkan jauh lebih manis lagi, manis yang sempurna. Karena Beliaulah alam semesta diciptakan. Beliaulah yang menyebarkan kasih sayang ke seluruh alam semesta. Dialah Rahmatan lil 'alamin. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Beliau dan Keluarganya.

Malam Nishfu Sya'ban, merupakan salah satu keberkahan dari Rasulullah. Kalau saya boleh berandai-andai, mungkin pengampunan Nishfu Sya'ban itu ada karena permohonan Rasulullah kepada Allah agar Allah mengampuni umat-umat beliau yang berlumuran dosa -seperti saya- di saat bulan beliau. Kalau dari sini, saya bisa membayangkan, betapa manisnya cinta Rasulullah kepada umat-nya. Meskipun kita -termasuk saya juga- "suka" menyakiti Rasulullah karena kelakuan kita, Rasulullah tetap mencintai kita, dengan harapan agar kita berumah menjadi manusia yang lebih baik, yang dekat dengan  Allah, Rasulullah, dan keluarganya.

Kalau saya bicara cinta, ini merupakan tingkat cinta tertinggi, cinta ruhaniah. Biasanya kita, terutama yang masih remaja, cinta kita mengarah kepada cinta jasmaniah. Cantik/tampan, bodinya aduhai, dan sebagai macamnya. Cinta ini akan dengan mudah musnah dan tak akan berlangsung lama. Berbeda dengan cinta ruhaniah. Cinta ini bertahan lama, makin sempurna makin tahan lama. Cinta Rasulullah yang agung merupakan cinta yang tertinggi, yang tak lekang oleh waktu.


Bahkan, Rasulullah menyebut kita (kaum sesudahnya) sebagai ikhwani, saudara-saudaraku. Mungkin kita bisa membayangkan, betapa Rasulullah mencintai kita, sampai dengan romantisnya menyebut kita sebagai Ikhwani. Padahal, Rasulullah sendiri menyebut yang sezaman denganya sebagai Sahabat. Sekali lagi, terbayang kan betapa cintanya Rasulullah kepada kita?

Pada malam Nishfu Sya'ban, saya membaca do'a-do'a yang romantis dan mengharukan semua isinya. Misalnya do'a kumail. Dalam do'a kumail kita mengakui betapa rendahnya kita, kita tidak ada apa-apa tanpa-Nya dan betapa Tingginya Allah swt. Karena derajat Allah Yang Maha Tinggi, kita sebagai makhluk yang rendah memohon perlindunganNya, dan kasih sayangNya. Percayalah, jika kita memohon perlindungan kepada yang lebih tinggi derajatnya, kita akan aman. Apalagi yang derajatnya Tertinggi?

Tidak hanya itu, saya pun membaca ziarah kepada cucu Nabi, al-Husain as. yang syahid di padang Karbala, yang wafat secara tragis, kepalanya yang suci dipotong oleh penguasa zalim yang kotor. Dan masih banyak peribadahan yang dilakukan pada malam ini, seperti shalat tasbih, dzikir, dan masih banyak lagi.

How can I find a way to express
Something that cannot be thought or guesses 
Something more than just words? 
This love is neither seen nor heard 
This love is neither seen nor heard

Cintanya tak dapat dilukiskan oleh kata-kata. Cintanya terlalu indah untuk dinyatakan. Cintanya terlalu tinggi untuk dijamah. Itulah cinta Rasulullah. Tidak seperti kita, cinta kita yang bisa diterjemahkan sebagai "kamu cantik" atau "kamu cakep". Cinta yang tinggi tak dapat dideskripsikan oleh kumpulan huruf. Cinta dari hati, bukan nafsu. Dialah sang kekasih.

Love is the rope given by Allah 
It will save you from every flaw 
Grasp it then He will draw you near...


#Haddad Alwi ft. Debu - The Way of Love

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top