Mohon maaf sebelumnya saya lupa mencantumkan sumber cerita ini. Sekarang, link sumber cerita ada di bagian akhir tulisan ini.
"Bermula dari uang pendaftaran yang tidak ada, orang tua wanita tersebut
menjual sapi untuk mendapatkan uang pendaftaran. Setelah mendapatkan
uang, dia melakukan pendaftaran di bank mandiri yang jaraknya 22 km dari
tempat tinggal dan yang penuh sesak dengan pendaftar yang lain. Setelah
mendapatkan pin untuk login, ada satu masalah yang harus ditemui,
banyak warnet disekeliling bank, namun tidak ada yang bisa print. Dan
ada masalah lagi pada saat melakukan pengisian SPMA. Isi
form, tetapi saat di print menjadi dua lembar, begitu katanya walau saya
sedikit kurang tahu bagaimana karena jelas berbeda dengan tahun yang
lalu..."
Sebuah kisah nyata yang saya kutip dari situs Kompasiana, yang dikirimkan pada tanggal 7 Juli 2012, pada saat pengumuman SNMPTN dan 2 hari setelah saya ulang tahun. Dari awal hingga akhir tulisannya, penulis menceritakan perjuangan seorang gadis yang berjuang untuk masuk PTN. Gadis tersebut berasal dari golongan ekonomi yang kurang mampu. Seperti yang Anda lihat pada kutipan cerita, sampai orang tua gadis tersebut menjual sapi-nya untuk membayar uang pendaftaran SNMPTN, bahkan hanya untuk mengeprint formulir pun sulit karena memang keadaannya. Terbayangkan oleh Anda bagaimana keadaan ekonomi mereka? Kadang kita yang sudah diberikan kemudahan pun masih sempat mengeluh.
"Hingga hari yang ditunggu tiba, saya membukakan hasilnya dengan ijin
dari dia, karena disana jauh dari warnet. Saya pada waktu itu sungguh
berharap akan lolosnya dia, melihat bagaimana usahanya dari awal.
Bagaimana dia memaksimalkan ujian nasional, dan berhasil menjadi yang
terbaik di sekolahnya. Namun kenyataan berbicara lain, ada suatu rencana
lain yang mengharuskan dia untuk tidak kuliah di kampus impiannya.
Walau begitu, dia berkata tetap ikhlas akan semuanya dan berencana
mencoba ke kampus lain yang memiliki biaya murah atau bahkan jika bisa
tanpa biaya khusus untuk dia mengingat kondisi ekonomi dan cobaan yang
baru datang..."
Saya lewat beberapa bagiannya, Anda dapat membacanya di link yang akan saya berikan di bawah.
Sampai pada akhir kisah. Bagai halilintar yang menyambar di siang hari yang damai. Anda bisa membayangkan -atau bahkan pengalaman Anda sendiri- ketika Anda memiliki prestasi yang hebat, di bidang akademik misalnya, kemudian Anda mencoba mendaftar ke institusi yang selama ini telah Anda idamkan. Anda sudah berusaha keras selama sekian tahun, mengikuti ujian seleksi yang ketat, kemudian pada hari penentuan Anda diterima atau tidak, ternyata Anda tidak diterima. Bagi saya itu merupakan sebuah sambaran yang menyakitkan. Apakah demikian dengan Anda?
Dunia memang tidak pernah adil. Banyak sebenarnya orang yang cerdas, pintar, tapi terkalahkan oleh pelangi yang biasa menghiasi pundi-pundi. Pelangi itulah yang menghiasi pendidikan kita. Si kaya biasa-biasa saja (atau bahkan bodoh) mengalahkan si miskin (super) cerdas dalam persaingan masuk PTN favorit. Komersialisasi pendidikan jugalah yang mengakibatkan banyak bangunan sekolah-sekolah negeri ambruk. Pemerintah kita terkesan acuh mengenai fasilitas dan kualitas pendidikan, tetapi paling semangat ngurusin anggaran pendidikan yang membumbung tinggi, mencapai ratusan triliun pelangi.
Pendidikan kita, menurut saya, menyedihkan. Masih dapat dengan mudah disuap oleh pelangi. Contoh kasus lain adalah tetangga saya. Tetangga saya bermaksud memasukkan anaknya ke salah satu SMP Favorit di Kota Bandung. Anak tetangga saya memiliki prestasi di bidang olahraga dan juga memiliki hasil NEM yang tinggi. Kemudian, datang orang lain yang juga membawa anaknya yang memiliki prestasi biasa saja, dan tidak memiliki record prestasi non-akademik, tapi pundi-pundinya tebal. Dengan sekian juta pelangi, si anak yang kalah prestasinya ini bisa menggeser anak tetangga saya yang sudah terbukti berprestasi. Kalau saya boleh berkesimpulan, prestasi itu bukan ditinjau dari hebatnya si anak, tapi hebatnya pelangi dalam pundi-pundi.
Anak-anak Indonesia banyak yang cerdas, sebenarnya. Suharyo Sumowidagdo contohnya. Dialah fisikawan Indonesia dibalik penemuan partikel Higgs Boson (lengkapnya baca di Kompas). Dia bekerja sama dengan orang asing. Karena di Indonesia, orang yang intelektual sering kali tidak dihargai bahkan dilecehkan. Sehingga mereka lebih memilih kerja untuk negara lain dan dengan orang lain ketimbang mengabdi di negaranya sendiri, toh kerja sama orang lebih enak, lebih dihargai. Tapi semoga rasa cinta tanah airnya tidak hilang.
Tapi, meskipun pendidikan kita seperti ini, saya masih benar-benar salut kepada para pejuang sejati yang benar-benar bertekad untuk belajar. Contohnya, gadis yang diceritakan oleh Kompasianaer di atas. Sebenarnya masih banyak orang yang seperti itu, tetapi tidak tersoroti oleh kita.
Tetaplah belajar, dan jadilah yang mengeluarkan Indonesia dari dunia yang suram. Belajarlah, dan belajar, Semangat! :D
Sumber Cerita: Kompasiana
dunia tidak sebatas matematika dan fisika,, he..he..
BalasHapus