Pages

Rabu, 15 Agustus 2012

Lihat, lihat, lihat! Masih tidak bersyukur?

Sudah lama saya tidak ngeblog, karena kesibukan di luar sana, mulai dari acara mentoring hingga yang paling umum saat bulan Ramadhan, buka puasa bersama alias bukber. Menjelang akhir bulan Ramadhan, kegiatan semakin berkurang, karena mungkin banyak juga yang pulang ke kampungnya masing-masing, jadi acara rame-rame yang biasa dilakukan bersama teman kini lebih banyak dilakukan bersama keluarga.

Yah, sudah lama sekali saya ingin menuliskan blog post ini. Dan Alhamdulillah kini saya mendapat kesempatan untuk ngeblog. Izinkan saya menulis beberapa rangkaian kata, yang semoga saja bermakna dan bahkan bermanfaat bagi para pembaca.

Beberapa waktu yang lalu, saya bersama kawan-kawan dari remaja mesjid mengunjungi sebuah SLB. Tujuannya adalah mengundang mereka ke acara talk show dan pentas seni remaja mesjid kami. SLB tersebut sepertinya berukuran standar rumah tipe 50, bahkan menurut saya lebih kecil. Terletak di perdalaman komplek saya, menjadikannya tidak banyak yang mengetahui mengenai keberadaannya.

Saya pun masuk ke dalam. Berbincang dengan kepala sekolah dan para guru. Guru-guru di sana merupakan manusia-manusia hebat, mereka mengabdi tanpa pamrih untuk mengajar puluhan anak yang memiliki keterbatasan, dan berhasil. Mengapa saya bilang hebat? Karena saya punya pengalaman. Saya sendiri pernah menjadi seorang pengajar untuk anak-anak seusia SMP, dan saya pun kewalahan untuk mengatur mereka. Padahal mereka semua normal! Bayangkan kalau saya mengajar anak-anak yang memiliki keterbatasan, apalagi tuna grahita. Saya tak tahu harus bagaimana...

Kembali lagi ke jalan yang lurus, yaitu jalan cerita ini. Saya kemudian diajak ke dalam ruangan kelas untuk melihat aktifitas KBM. Saya sendiri bingung dimana ruang kelasnya, kemudian saya ditunjukkan oleh salah seorang guru di sana. Sang guru menunjuk kepada sebuah ruangan kecil -lebih mirip ruang tamu, kalau di denah rumah standaran-, masuklah saya ke dalam.

Kaget, itu perasaan saya pertama kalinya. Melihat begitu banyak anak-anak yang memiliki kekurangan. Ada yang mengalami problem afektif, kognitif, psikomotorik, ada pula yang tunawicara bahkan tunagrahita. Beragam. Dan hebatnya semuanya disatukan dalam sebuah kelas! Tidak ada konflik, semuanya berjalan lancar. Sekali lagi, saya kaget, karena ini pemandangan yang pertama kali bagi saya dan membungkam saya.

Saya menghampiri seorang anak yang tunagrahita. Dia sedang belajar menghitung bersama gurunya. Umurnya kurang lebih 7 tahun, tetapi masih memiliki keterbatasan dalam membaca, menulis, dan berhitung, dan juga dalam kecerdasan emosionalnya. Saya tidak sendiri, tetapi bersama teman saya, karena saya juga kesulitan berkomunikasi dengan dia. Dan kebetulan teman saya ini ahli dalam menangani anak-anak. Alhamdulillah saya tertolong.

Ketika anak itu sedang berinteraksi dengan teman saya, saya meminjam bukunya, melihat isinya. Yah, apa ya, perasaannya bercampur aduk. Ada perasaan bahagia karena dia bisa -setidaknya- menulis angka dan menggambar, di sisi lain saya merasa sedih karena dia memiliki keterbatasan yang, sangat-sangat membuat dia menjadi terbatas.

Dan kemudian, tiba-tiba kepala sekolah meminta anak-anak untuk memperhatikan beliau. Kepala sekolah itu menempelkan kertas yang tertulis deretan angka -yang kalau saya tebak itu not angka- dengan judul Mars SLB, dan kemudian kepala sekolah itu meminta anak-anak untuk mengambil angklung yang ternyata tanpa saya sadari sudah disiapkan oleh para guru. Setiap anak sudah memiliki bagiannya masing-masing. Si A kebagian angklung nomor 7, si B kebagian nomor 3, dan seterusnya.

Dan saya kembali terperajat. Mereka memainkan angklung dengan baik, meskipun kacau-kacau dikit. Dan yang menjadi perhatian saya adalah seorang pria paruh baya sering salah membunyikan angklung, yang saya sangka guru. Ternyata dia juga seorang siswa di sana. Dan ketika saya bertanya kepada rekan saya yang sudah ngobrol-ngobrol dengan guru di sana, dia ternyata sudah kepala empat, dan keluarganya telah menitipkan ia sejak SLB ini didirikan.

Saya tutup dulu ceritanya sejenak. Mari kita berefleksi. Kita sudah melihat pada gambaran cerita singkat di atas, begitu banyak saudara kita yang mengalami kekurangan. Dan mereka tidak menyerah pada dunia, dunia yang bagi siapa berserah padanya, dia akan dizalimi. Mereka tahu, di balik keterbatasannya mereka memiliki kekuatan semangat bagai bom atom yang bisa meledak kapan saja. Mereka tidak menyerah, mereka tetap maju, melawan derasnya kehidupan.

Tetapi, saya berduka, kepada para tunagrahita. Saya tidak bisa menerjemahkan mereka. Apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka tujukan, tidak tahu. Abstrak. Oh Tuhan, setiap mendengar mereka berbicara, setiap melihat mereka beraktifitas, air mata ini selalu keluar. Bagaimana mereka menghadapi kehidupan di luar sana, kehidupan yang keras, sedangkan mereka seperti ini?

Oh Ya Allah, fisik ini yang Kau ciptakan dengan sempurna, tetapi malah kusia-siakan! Aku bermalas-malasan, aku membuang waktuku, aku tertidur, disaat yang lain sedang bekerja keras, disaat mereka yang kekurangan berusaha untuk bertahan hidup, dengan keadaan fisik yang serba kekurangan, mereka berusaha amat sangat keras, hanya untuk mendapatkan sesuap nasi, sedangkan aku membuangnya! Aku sudah lupa bersyukur padaMu! Aku lupa akan keberadaanMu..

Ya Allah, aku hanyalah seonggok kotoran di muka bumi ini, menodai dunia ini dengan ketiadagunaanku. Ya Allah, sekiranya Engkau tidak menutupi aibku, sudahlah pasti aku menjadi makhluk yang amat hina. Ya Allah, ampuni aku yang selalu saja tidak bisa mensyukuri segala nikmatMu. Ya Allah, tanpaMu, aku hanyalah ketiadaaan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar