Aku kini ingin bercerita mengenai kisah kegagalanku. Kegagalan yang berulang, hingga aku sadar dan menyesal kini. Mungkin, Tuhan menegurku karena keponggahanku, yang di dalam hati, menganggap orang lain tak lebih hebat dariku, atau paling sama denganku. Keponggahan intelektual, yang membuat telingaku tuli akan nasihat mereka yang berpengalaman, yang membuatku buta akan kenyataan. Indra hatiku tertutup. Aku merasa tinggi, meskipun aku merendahkan kepalaku dalam setiap sujud, tetapi aku tidak merendahkan diriku di hadapanNya, Dia yang telah menciptakanku, Dia yang telah memberikan aku segala nikmat tak terhitung, Dia yang segalanya, malah aku lupakan. Ketika aku memohon padaNya, hatiku tidak tulus, selalu terpancing hal duniawi. Oh Wahai Engkau Sang Pemilik Semesta Alam, akankah engkau mengampuniku? Akankah Engkau mengampuni aku yang kerjanya hanya malas-malasan, dan mengaku lebih hebat dari orang lain? Ya Allah, rendahkan hatiku ini...
Tanpa Engkau, aku tak lebih dari seonggok kotoran kecil di muka bumi yang mengganggu lingkungan di sekitarnya. Tapi, aku selalu saja lupa kepadaMu yang telah membesarkan aku dan menyelamatkanku dari segala kehinaan, Kau yang selalu menutupi aibku, Kau yang memberiku segalanya. Dan kini Kau menegurku dengan teguran yang mengguncangkan diriku, setelah beberapa kali menegurku melalui sesamaku.
Mungkin, karena niatku yang tidak sepenuhnya tulus untukMu, yang menjadikan aku gagal dalam setiap langkahku. Kadang, terbesit niat di dalam hati untuk belajar dengan niat Riya', ingin terlihat hebat. Dan aku lupa padaMu. Kesalahanku yang fatal.
Diriku yang selalu lalai akan waktu, seakan aku akan hidup selamanya di dunia ini, melupakan bahwa aku akan kembali ke kampung halamanku kelak, pada waktu yang tidak ada seorang pun yang mengira. Apakah aku sudah siap? Apa yang telah kutinggalkan, sesuatu yang bermanfaat, untuk sesamaku? Bagaimana aku bisa meninggalkan sesuatu yang bermanfaat, jika aku saja masih seperti ini?
Ya Allah, sekiranya engkau tidak memaafkanku, kemanakah hamba harus mencari harapan? Jika Engkau melaknatku, kepada siapa lagi hamba harus bernaung? Jika Engkau mencampakkanku, kepada siapa lagi aku memohon perlindungan? Tetapi, Ya Allah, aku tidak putus harapan akan Kemurahan-Mu. Ampuni aku Ya Allah, bimbinglah aku menjadi orang yang berguna...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar