Selasa, 21 Agustus 2012, sekitar jam 10 pagi, saya baru keluar dari kamar ibu saya, sehabis ketiduran di sana (entah kenapa saya sekarang menjadi nokturnal), dibangunkan oleh kakak saya dengan cara yang khas, yaitu tidur di sebelah saya dan kemudian mendorong-dorong saya agar saya bergeser, memberinya spasi lebih agar dia bisa tidur. Lalu, karena sudah merasa kebanyakan tidur, saya keluar kamar yang langsung tembus ke ruang keluarga. Kebetulan di ruang keluarga sedang kosong dan TV menyala, orang tua saya sedang melayani tamu di depan. Yah karena pikiran masih baru sadar dari fantasinya, saya duduk sejenak sebelum mengambil teh untuk diminum (makan teh itu rasanya sesyuatu banget dah, kapok saya).
Kebetulan, saat itu TV sedang menampilkan sinetron remaja di salah satu TV swasta yang hurufnya konsonan semua. Saya kurang begitu tahu, apakah itu sebutannya sinetron remaja atau FTV, saya tidak berminat mencari tahu, kecuali jika ada yang memberi tahu.
Ciri khas sekali, dengan latar belakang scene yang indah, ada cewe dan cowo yang kejar-kejaran, kemudian latar belakang tersebut mengalami transisi menjadi sebuah rumah mewah dengan mobil yang sama-sama mewah pula. Kamera melakukan zoom kepada para pemain. Cewe pakai rok mini, dan baju ketat. Si cowo pun tak kalah dari segi penampilan. Rambut mohawk, wajah cantik putih seperti cewe.
Segalanya serba mahal, tapi muatan kebaikan saya rasa tidak ada. Film tersebut hanya mengajarkan hedonisme dan materialisme. Kesenangan dhohiriyah. Film-film seperti itu mengajak penontonnya untuk melupakan bahwa semua itu akan lenyap, dengan segmen remaja sebagai sasarannya. Pembaca tahu sendiri, bagaimana remaja dapat dengan mudahnya terpengaruh, apalagi oleh media dan mayoritas.
Remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak (childhood) menjadi dewasa (adulthood). Pada masa inilah, remaja mencari jati dirinya, meniru beberapa orang di sekitarnya, itulah proses sosialisasi pada remaja. Lingkungan remaja yang baik akan menghasilkan individu yang baik, demikian pula sebaliknya, lingkungan buruk akan menghasilkan individu yang buruk pula.
Dalam sosiologi, media sosialisasi yang pertama adalah keluarga. Bisa kita lihat sendiri, anak yang hidup dalam keluarga yang harmonis sangatlah berbeda dengan keluarga yang broken home. Anak yang hidup dalam keluarga yang harmonis sudah memiliki panutan yang baik, orang tuanya. Lalu bagaimana dengan yang broken home? Dia mencari sendiri. Dan sebagaimana remaja pada umumnya, mereka belum bisa menentukan mana yang baik dan buruk sebagaimana seharrusnya. Ada kalanya mereka menganggap sesuatu yang buruk, geng motor perusak misalnya, sebagai hal yang baik, karena mendengar dari temannya bahwa geng motor itu keren. Dan demikian pula sebaliknya. Itulah yang berbahaya.
Kembali lagi ke topik. Remaja merupakan sasaran empuk para pelancar hedonisme dan materialisme, karena remaja merupakan sosok pencari jati diri. Wajah yang bersih (padahal hasil dari obat-obatan, saya senang cantik yang alami), mobil dan rumah mewah, fisik yang menawan, semua yang nampak saja. Dan alam bawah sadar para remaja dicecoki pemikiran ini, secara tidak terasa. Sehingga patokan "kehebatan dan kesempurnaan" hanya terpatri pada sesuatu yang nampak. Padahal materi terikat oleh waktu, dan akan tergerus oleh waktu.
Berbeda dengan para pecinta yang tetap saling mecintai dengan ruhaninya. Contohnya adalah mereka kakek nenek yang tetap saling mencintai hingga akhir hayatnya. Romantis bukan? Cinta dengan fisik tidak akan bertahan lama. Seganteng-gantengnya (atau cantik), sekalinya menua, mereka akan menjadi jelek, keriput, dan buruk.
Saya merindukan tayangan-tayangan pada masa lalu, masa saya kanak-kanak. Saya sudah lama tidak menyaksikannya, sehingga lupa namanya. Ada sebuah tayangan, kartun, yang mendidik. Mengajarkan kepada saya kecil, mengenai sosok Nabi Muhammad saw.. Yah, acara-acara tersebut mengajarkan bagaimana menjadi anak-anak seharusnya, yang bahagia dengan dunia bermain, tetapi tidak melupakan agama. Kalau kita lihat sekarang, banyak acara yang target audience-nya adalah anak-anak, tetapi mengajarkan yang tidak seharusnya, seperti pacaran, berantem, individualisme, dan 2 paham itu, materialisme dan hedonisme.
Jika kau ingin menghancurkan suatu kalangan, pengaruhilah kaum mudanya. Saya rasa itu tepat, mengingat pemuda yang akan menjadi generasi selanjutnya yang meneruskan suatu kalangan. Jika generasi muda berhasil dicekoki, ketika generasi beralih, generasi muda selanjutnya juga akan dicekoki ajaran yang sama oleh generasi muda yang sudah menua itu, dan akan terus menerus berulang, dan mencekoki generasi selanjutnya akan lebih mudah daripada generasi-generasi awal.
Sebenarnya, saya ingin sekali bermunculan kembali tayangan-tayangan yang mendidik, yang memperindah akhlak kita, yang memperluas khazanah mengetahuan kita, dan tentu saja menghibur, bukan tayangan hiburan yang tidak berbobot atau bahkan mengajarkan hedonisme dan materialisme.
Tulisan saya ini berseri, sehingga insyaAllah di masa mendatang saya akan menulis kembali mengenai Filter bagi racun televisi ini. Semoga saya masih diberi kesempatan di masa mendatang. Aamiin. Semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi para pembaca. Stay tuned, dan salam sejahtera bagi para pembaca!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
sejak kapan teh di 'makan'.... (he..he..)
Posting Komentar