Perkhidmatan, pengubah jalan hidup (1)

Manusia makhluk sosial, semuanya saling membutuhkan satu sama lain. Tidak hanya pada sesama manusia, tetapi juga terhadap lingkungannya. Dan manusia membutuhkan Tuhan, tetapi Tuhan tidak pernah memerlukan manusia.

Ingin cerita sedikit, tentang perkhidmatan. Aku pertama kali benar-benar mengenal kata ini ketika bersekolah di SMA Plus Muthahhari, terutama di saat menjalani SWC (Spiritual Work Camp). Buat yang mengenal acara "Jika Aku Menjadi", SWC itu seperti acara itu. Mirip lah, karena sumber inspirasi keduanya sama.

Ketika SWC tersebut, aku bersama sobat-sobat seangkatan tinggal di sebuah kampung yang miskin (tetapi mereka tidak fakir) di daerah Ciwidey. Dan aku kebagian bersama Togar tinggal di sebuah rumah pemecah batu. Inilah awal mula aku merasakan kehidupan yang pedih. Aku ikut bapak tuan rumahku, ke sebuah ladang. Ngga ijo ladangnya, melainkan coklat. Penuh bebatuan dan becek.

"Tok, tok!", nyaring palu ketika menghantam batu yang keras. Setelah sekian belas kali bunyi tok-tok tersebut akhirnya batu yang besar itu terpecah belah, dan kemudian batu-batu yang telah jadi kecil tersebut diangkat ke sebuah kereta mini yang terbuat dari kayu, dan mirip kereta karena punya rel yang terbuat dari bambu.

Giliran saya dan sobat-sobat bekerja! Saya bersama sobat-sobat saya yang berjumlah tiga orang mendorong kereta tersebut agar bisa sampai di ujung yang merupakan tempat dimana batu-batu tersebut selanjutnya diproses. Satu, dua, tiga, empat kali berhasil, dan pada yang kelima kalinya kereta tersebut terguling dan menumpahkan isinya ke tanah. Untunglah tidak ada orang di sana yang bisa-bisa kakinya menjadi korban karena tertimpa batu. Kemudian kami menghampirinya dan mengambilnya satu per satu. Satu butir pun rasanya sudah sangat berat, sehingga ketika kami pulang dari ladang ini, badan rasanya sangat lelah.

Bagaimana mereka mengerjakan itu semua? Teman saya yang bertubuh kekar saja kelelahan. Tetapi para pekerja di sana, yang rata-rata sudah berkepala empat dan bertubuh kurus, masih saja sanggup bekerja hingga siang hari dimana matahari membakar kulit dengan teriknya.

Aku pun pulang ke rumah sementaraku. Di sana sudah disiapkan makanan. Jangan membayangkan makanan empat sehat lima sempurna yang enak-enak, minuman dingin yang melenyapkan dahaga, dan segudang hal mewah lainnya. Atau bakso yang enak. Di hadapan mata hanya ada beberapa bala-bala dan sebako nasi yang tidaklah banyak. Kami satu per satu mengambil makanan, dimulai dari yang paling tua hingga yang paling tua. Kemudian aku melihat sepasang suami istri yang sudah berusia renta tersebut makan dengan lahapnya, dan temanku makan sembari termenung.

Makan sesederhana ini, tetapi mereka masih sehat, dan bahkan lebih kuat dari aku. Mereka lebih tua dariku tetapi lebih mampu dariku. Oh Ya Allah, wahai Tuhanku, aku telah menyia-nyiakan masa muda dengan membuang waktunya.  

Engkau telah Berfirman: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian." Oh Tuhanku, yang diriku berada di dalam kuasaNya, jangan biarkan aku berada di dalam kerugian, selamatkanlah aku dengan kasih sayangMu, jangan abaikan aku. Duhai Tuhan yang segala kuasa berada di tanganNya, niscaya celakalah aku tanpa bimbinganmu. Ya Allah, sekiranya Engkau tidak mau membimbing hambamu yang lemah ini, pastilah aku menjadi orang yang teramat hina. Tetapi sungguh, demi kasih sayangMu yang tiada berhingga, Engkau tidak akan pernah membiarkan hambanya tersesat. Wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, berkenankah Engkau membimbingku dalam mengarungi samudera kehidupan yang ganas ini?

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top