Siapakah yang masuk surga?

Dulu, ketika saya masih kecil, saya sering diceritakan mengenai ‘Ibadilahis shalihin, orang-orang yang rajin beribadah. Dikatakan oleh orang yang bercerita itu, bahwa orang yang masuk surga itu orang yang rajin beribadah, seperti shalat, dzikir, shalat, dsb. Yang penting ahli ibadah.

Usia saya bertambah, kemudian mendengar lagi cerita tentang orang kafir yang dibakar di neraka. Mereka adalah orang yang tidak mau shalat, tetapi mereka bayar zakat, dan rajin berpuasa, tapi masih saja dibakar di neraka. Lalu diceritakan juga bahwa (maaf) non-muslim dibakar juga di neraka, karena mereka tidak beriman.

Dan menurut mereka, semua kafir, sebagaimana pun tingkatannya pasti akan dibakar di neraka dan wajib diperangi. Dan non-muslim termasuk kafir.

Di saat usia itu, saya berpikir. Lah, Tuhan itu jahat bener ya? Sedikit-sedikit bakar di neraka, lalu, karena mereka yang non-muslim dicap sebagai orang kafir wahid yang pantas dibakar di neraka, bahkan boleh dibunuh. Saya yang waktu itu masih remaja pertengahan ngeri memikirkannya. Bagaimana Tuhan yang namanya sering kita sebut sebagai ar-Rahman (Maha Pengasih) dan ar-Rahim (Maha Penyayang) dalam Bismillahi Rahmani Rahim bisa sekeji itu?

Saya bimbang, waktu itu saya terlintas untuk pindah agama saja. Tapi nanti saya pasti jadi bulan-bulanan keluarga.

Sampai saat itu, saat SMA, karena kebimbangan saya, saya berkelana, berusaha mencari kebenaran. Dan kemudian saya mengikuti sebuah ormas islam yang namanya persis akrab di telinga kita, tak akan saya sebutkan namanya. Di situ, bukannya ketenangan yang saya dapat. Tapi malah makin ngeri. Disebutkan bahwa ahlul bid’ah itu adalah penghuni neraka.

Dan kemudian keluarga saya yang mengadakan tahlilan disebut kafir, ahlul bid’ah, oleh mereka. Nggak boleh shalawatan di masjid, bid’ah. Cuma boleh baca al-Qur’an saja. Pakai sikat gigi, bid’ah, karena Rasulullah saja pake siwak. Apa-apa bid’ah. Gimana kaum muslimin mau maju, kalau sedikit-sedikit dibilang bid’ah, bahkan hal yang bukan berkaitan dengan amaliyah ibadah atau fiqh dibilang bid’ah?

Makin gilalah saya. Makin ragu akan ajaran islam. Pertama, ngeri. Yang keduanya, kontradiktif dengan al-Qur’an sendiri. FYI, ormas ini banyak peminatnya di Indonesia, tapi sepertinya hanya saya yang pening akan ajarannya. Pening saya, makin nggak kuat.

Ndilalah kersaning Allah, saya dipertemukan oleh sebuah buku yang pada akhirnya mengubah jalan hidup saya. Di dalam buku itu diceritakan mengenai keindahan akhlak Rasulullah saw. Rasulullah sungguh baik kepada ummatnya. Ketika beliau disakiti beliau tidak menuntut balasan. Ketika beliau memberikan kebaikan, tiada balasan yang diminta kepada ummat manusia selain kepada kecintaan yang dua. Tetapi Rasulullah keras terhadap munafiqin wa munafiqat, dan juga kepada mereka yang tidak mengerti bahasa manusia. Dalam buku itu, penulisnya mengutip dari Tafsir al-Furqan mengenai Q.S. al-Hadid: 25 bahwa setiap Rasul dibekali empat hal: al-Bayyinah (Bukti yang nyata, jelas), al-Kitab (Kitab suci), al-Mizan (keadilan, neraca) dan al-Hadid (besi, kekerasan). Al-Hadid selalu menjadi opsi terakhir, bukan opsi pertama. Al-Hadid adalah opsi yang dipilih ketika orang tersebut tidak mengenal bahasa manusia, yaitu al-Bayyinah, al-Kitab, dan al-Mizan.

Saya tidak akan membahasnya terlalu detail, silakan saja baca bukunya.

Mulai dari situlah, saya tertarik untuk membaca karya-karya penulis tersebut. Selidik punya selidik, beliau adalah pendiri SMA yang selama ini saya idam-idamkan untuk masuk ke sana. Klop sekali! Pada akhirnya saya pindah dari SMA lama saya ke SMA ini. Dan hidup saya berubah drastis.

Diri saya dipertemukan dengan “penghancur kebingungan”. Kebingungan tersebut menghilang setelah mendengar penjelasan dari ustadz-ustadz yang berada di sana. Mereka toleran, tidak mudah menuduh kafir, dan tidak sesat seperti yang disampaikan oleh orang-orang yang menuduh kafir di paragraf awal. Malah ustadz-ustadz ini lebih logis daripada si penuduh kafir.

Alhamdulillah logika saya masih berfungsi dengan baik.

Dari merekalah, saya mendapat penjelasan-penjelasan yang logis mengenai Islam, dan mendetail. Tetapi saya masih belum mendapat jawaban mengenai beberapa pertanyaan saya, seperti: “siapa yang masuk surga” dan “bagaimanakah nasib non-muslim, apakah dia masuk neraka”.

Ketika saya lulus SMA, saya malah jadi terikat untuk menuntut ilmu, baik mengenai agama, psikologi, neurosains, dsb, maupun bidang akademik yang kini saya tekuni di universitas, yaitu ilmu komunikasi. Dan, berbicara mengenai dua pertanyaan yang belum terjawab itu, saya menemukan jawabannya ketika sudah lulus SMA.

Tepatnya ketika di pengajian penulis sekaligus pendiri sekolah tersebut, saya menemukan jawabannya. Ternyata bersangkutan dengan Keadilan Ilahi. Keadilan adalah asas kedua dalam madzhab Ahlulbait (keluarga Nabi) setelah Tauhid. Allah tidak akan pernah mendzalimi hambaNya, paling hamba itu sendiri yang menzalimi dirinya dengan berbuat buruk (tentu saja berakhlak tidak baik) sehingga dirinya diazab di neraka, agar kembali bersih dari dosa. 
<untuk dalil-dalil, insyaallah akan saya cari, karena saya sendiri lupa dalilnya>

Dari sana, saya mendapat penjelasan bahwa setiap orang pada akhirnya akan masuk surga, meskipun dia masuk neraka terlebih dahulu. Tetapi segalanya selalu ada pengecualian. Ada orang yang kekal di neraka, dan mereka adalah yang termaktub di al-Qur’an. Dan ada yang langsung masuk surga, yaitu mereka orang-orang yang telah disucikan, yaitu Rasulullah beserta ahli baitnya.

Kemudian, ada pertanyaan, manakah yang lebih baik: “Siapa yang masuk surga duluan, yang ibadahnya sedikit tetapi amal shalehnya banyak” atau “yang ibadahnya banyak tetapi amal baiknya sedikit”? Yang lebih baik adalah yang ibadahnya sedikit tetapi amal baiknya banyak. Orang yang banyak amal baiknya akan sedikit amal buruknya, dan demikian sebaliknya. Dan amal baik itu akan meningkatkan kualitas ibadah. Allah lebih melihat kualitas ibadah seseorang dibandingkan kuantitas ibadahnya.

Banyak contoh di luar orang yang super rajin shalatnya, sampai dahinya hitam, tetapi tetap saja akhlaknya tidak baik, mudah mengkafirkan orang dengan menuduhnya pelaku bid’ah tanpa argumentasi yang baik, dan memberi julukan ke orang sebagai “si sesat” atau “musyrik” seenaknya, atau korupsi dengan mengatasnamakan islam, dan sebagainya. Hal itu bukannya memperkuat keyakinan akan kebenaran Islam, yang ada malah membuat stereotip bahwa islam itu agama radikal. Dan pada akhirnya merusak Islam itu sendiri. Yang merusak Islam meskipun hanya citranya akan Allah masukkan ke dalam neraka.

Lalu, mengenai non-muslim, beliau menjelaskan bahwa kafir itu dibagi menjadi beberapa jenis. Yaitu kafir Dzimmi, Mu’ahhad, Musta’man, dan Harbi. Kafir Harbi adalah kafir yang memerangi Islam, dan memang harus diperangi juga. Jika tidak maka Islam akan hancur. Perang terhadap Harbi ini cenderung pada niatan defensif. Sedangkan non-muslim yang tidak tahu tentang apa-apa mengenai islam dan hidayah belum sampai kepadanya disebut sebagai kafir Dzimmi, dan termasuk kafir yang tidak boleh diperangi. Kafir tidak hanya satu jenis.

Dari kesimpulan ini, karena ketidaktahuan non-muslim akan islam sehingga belum sampai kepadanya hidayah tidak akan menyebabkan mereka masuk neraka. Kecuali jika mereka telah mengetahui islam dan kebenarannya, tetapi mereka menapiknya, atau bahkan lebih memilih untuk memeranginya, pembaca akan tahu konsekuensinya apa.

Ah! Aku mendapat jawaban, pada akhirnya keadilan Allah Yang Maha Adil ini terlihat di sini, dan ini adalah ilmu Nabi dan Keluarganya…

Ya Allah, terima kasih telah memberikan petunjuk hidup…



Buku yang disebutkan di atas berjudul “The Road to Muhammad”, karya Jalaluddin Rakhmat. Diterbitkan oleh Mizan.

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top