My dream home:

Rumah yang tak terlalu besar, rapi dan hangat. Yang menjalani fungsinya sebagai tempat berlindung. Di dalamnya ada puluhan ribu judul buku dan karpet berlapiskan permadani tanpa kursi kecuali satu kursi di ruang kerja yang akustiknya sudah tertata dan ada piano dan teknologi informasi canggih di dalamnya.

Kemudian keluarga yang hangat. Yang komunikasi berkualitas selalu terjalin di dalamnya. Penuh senyum dan cinta. Ketika ada yang bermasalah, bersama mencari solusinya, bersama pula memahaminya. Yang saling menopang, bahkan ketika ada yang terjatuh. Yang penuh kesabaran. Setiap anggota keluarga mendengarkan yang satu dengan baik. Yang bisa menjadi tegas tanpa kemurkaan. Keluarga yang menjadikan hati nurani di belakangnya, bukan hawa nafsu. Kemudian beribadah bersama, suami menjadi imam yang mampu membimbing baik secara ilmu maupun spiritual. Bersama menuju para kekasih dan ar Rahim. Bergerak bersama menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Selanjutnya? Terserah istriku yang mengatur. Tapi aku belum tahu siapa dia :)

Apa yang paling dirindukan di tengah kelelahan menghadapi perputaran bumi?
Tempat bersandar.
Segala sesuatu akan hancur, lapuk, binasa.
Kecuali jiwa
Dia kekal sepanjang masa, karena ia bagian dari yang abadi
Terwujud dalam berbagai bentuk yang indah.
Tulisan, suara, cinta.

Bapa
Sudah dua kali aku memimpikanmu
Pertama, aku bermimpi ketika engkau tiba-tiba terjatuh setelah memberikan ceramah.
Hanya putramu dan aku yang menolongmu, merebahkanmu.

Kedua, baru saja.
Kulihat wajahku tiba-tiba menjadi mirip dirimu sewaktu berusia 30 tahun.
Pertanda apa ini?

Seputih-putihnya manusia memiliki hitam
Sehitam-hitamnya manusia memiliki putih
Manusia yang tak diangkat Tuhan tidaklah suci

Mungkin racun itu sudah mengenai kulitku walau sedikit
Aku mulai sempoyongan menghadapi jalannya dunia
Aku butuh penawar racun ini.

Apa penawar paling ampuh?
Wujud kasih sayangmu: Doamu.

Makin dahsyat ujianMu, Tuhanku...
Bimbinglah aku agar aku tak terjerumus...

Tuhanku, lindungi aku. Lindungi cintaku
Iblis selalu punya seribu jebakan untuk menghancurkan kebahagiaan.

Tahukah betapa aku merindumu?
Angin semakin hari semakin membuat yang kokoh pasrah pada tanah
Tapi aku tidak akan!
Aku mencintaimu, aku mencintaimu!

Sebesar apapun badainya, akan aku lalui
Karena kau telah menguatkanku, menghadapi semuanya.
Aku ingin bersamamu, selamanya. Selamanya.
Meski jarak memisahkan jasmani, tetapi tidak secara ruhani

Canda tawa senda gurau
Linangan air mata kerinduan
Perih cambukan angin badai
Bahagia.....

Itulah cinta, berjuta rasa yang tak tertulis pena

Hai hujan
Saksikan aku yang tak bergeming di mihrab ini
Dalam penantian akan kembalinya sang kekasih yang jauh di suatu negeri
Dan setiap kisah itu hanya mampu kuisi dengan rintihan senandung kerinduan
Dengan setiap tetesan air mata yang diharapkan tanah yang tandus
Karena kata-kata tak mampu melukiskan bahasa hati seutuhnya

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top