Lagu ini terus bermain indah melalui speaker komputer. Aku yang pada awalnya berfokus pada tugasku mulai luluh oleh lagu ini. Iringan pianonya menusuk perasaan tanpa bisa dijelaskan kata. Aku tak tahu perasaan apa ini. Tapi aku tiba-tiba teringat percakapanku dengan temanku, membahas tentang pernikahan.

Usiaku sudah menjelang 21 tahun, tiga belas hari lagi aku akan memasukinya. Sudah dua dekade aku hidup. Dan rata-rata orang yang kukenal menikah pada usia 23-27 tahun. Ada juga yang menikah pada usia 21 tahun, tapi tak banyak. Mengejar umumnya, dua tahun lagi. Atau bisa jadi, segera. Aku tak tahu.

Membayangkan itu, senang pada awal mulanya. Aku punya seorang istri (meski belum ada calonnya sampai sekarang). Punya anak dan sebagai macamnya. Hidup bahagia. Kemudian datang perasaan lainnya. Sedih, ceria, takut, berharap... Aku tak bisa menjelaskannya satu per satu. Tapi perasaan itu bercampur aduk.

Pernikahan adalah urusan yang besar, ia tanggung jawab terbesar yang harus diemban sepasang manusia. Ia adalah komitmen yang menjalankannya mendapat pahala, dan melanggarnya adalah dosa. Yang haram menjadi halal dengan pernikahan. Suami akan menjadi nahkoda bahtera rumah tangga, yang menentukan keselamatan orang-orang di dalamnya. Dan akulah calon suami.

Aku tahu, bukan saatnya memikirkan yang seperti itu. Tugasku adalah fokus kuliah. Tapi pernikahan adalah hal yang pasti akan aku lalui jika usiaku mencapainya. Lautan kehidupan seperti lautan biru di bumi ini, ada kalanya ia tenang dan damai, ada saatnya ia akan bergejolak dengan kemelut awan hitam dan angin yang mengamuk. Karenanya, pernikahan adalah pemenuhan sebagian iman. Ia tak mudah, ia adalah hal besar.

Aku tak paham kegelisahanku sendiri. Perasaan ini bercampur aduk. Hingga kata pun tak mampu lagi melukiskannya...

Menyusun lagi yang porak poranda diterpa angin tak mudah dan tak sebentar, tapi bukan tak mungkin.

Note bangun tidur

Manusia sering kali terjebak berpikir menggunakan perut dan selangkangannya, bukan dengan otak yang secara khusus hanya diberikan kepada manusia. Sehingga lihatlah apa yang terjadi.

Manusia punya dua dimensi, nafsu dan akal. Jika akal manusia ditundukkan oleh nafsunya, maka dia akan menjadi lebih bejat dari pada hewan. Hewan tak bernafsu dan berakal. Dia hanya menjalankan instingnya. Kalau pun hewan bertindak lebih bejat daripada seharusnya, itu pun ulah manusia. Kenapa? Manusia merampas haknya dan insting berfungsi untuk mempertahankan hidup.

Konsekuensi kehidupan sering kita anggap sebagai kezaliman alam. Padahal alam di dalam kasus ini hanya menjalankan fungsinya sebagai cermin, yang mengingatkan manusia apa yang telah mereka perbuat. Jadi, yang zalim siapa?

When house is no longer home. Aku hanya berharap semua ini berhenti di sini dan tak terjadi pada keluarga yang akan kunahkodai nanti. Biarkan semua yang terjadi kini maupun sebelumnya menjadi petunjuk, yang menjadi pelajaran indah bagiku.

Bahasa apa yang paling indah?
Bahasa kesunyian.

Sayangnya manusia modern tak mengenalnya, takut akannya. Sehingga ia tak bersahabat dengan Tuhannya.

Nampaknya sudah beberapa kali Tuhan menurunkan tanganNya untuk membimbing aku, tapi seringkali aku tak sadar, kalau tak terlupa.

Yap, aku terpuruk kini. Tak perlu kujelaskan mengapa aku terpuruk. Tetapi yang jelas keterpurukan ini membawaku bagai angin berhembus di khatulistiwa, ia bisa tak menentu. Aku hanya sehelai kertas di garis ini.

Tamparan keras ini belum kunjung hilang bekasnya, ia masih meninggalkan perih. Karenanya ia menambah apa yang ada dipunggungku, sembari ribuan langkah menanti.

Masih banyak lagi.

Tapi, setelah badai pastilah ada pelangi. Tuhan selalu punya rencana indah setelah bala menerkam, mengoyakkan jiwa. Percayalah, maka semua akan terjadi.

Kalau kau mencintai seseorang yang Tuhan ridhai bagimu
Maka kau harus bersiap menerima segala bala ujian
Bukan, itu bukan tanda Tuhan ingin menyakitimu
Itu tanda Ridha-Nya
Dengan kepedihan Tuhan gugurkan dosa-dosa dari jendela hatimu sehingga kau mampu melihat dengan jernih
Dengan penderitaan cintamu akan semakin mengakar bumi
Dengan ujian semua akan kuat teruji
Cintailah dalam rasa syukur
Cintamu diiringi sedemikian ujian
Karena cintamu akan membawa keduanya kepada Cinta Hakiki.

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top