Selamat Tinggal, hingga waktu yang tak ditentukan

Hati setiap orang berbeda-beda. Ada yang dengan mudahnya terluka, ada pula yang legowo. Tapi siapa yang tahu urusan hati? Ia hanyalah urusan personal dengan Tuhannya. Berhati-hatilah akan hati seseorang.

Siapapun yang hatinya sedang terluka bisa saja tetap tersenyum di depan muka orang. Dan pula tipe-tipe orang berbeda; ada yang menjeritkan suara kepedihan luka tersebut, ada pula yang cukup diam dan berdoa pada Tuhan akan sakit hatinya. Yang kedua lebih berbahaya dari manapun, karena Tuhan mengabulkan doa yang sedang sakit hatinya.

Kadang kita perlu merenung, apa sebab sakit hati tersebut, apakah karena diri sendiri atau memang karena orang lain. Jika yang pertama terjadi, tak perlu sakit hati apalagi hingga mengutuk orang lain. Itu salahmu! Tuhan pasti tahu, dan percuma saja kau mengadu. Terlebih jika kau sudah mengutuk orang, bersiaplah kutukan itu akan berbalik padamu. Karena yang kau kutuk pastilah sakit hati!

Jadilah penting apa yang namanya merenung itu. Ingatlah kesalahanmu yang telah lalu, mohonkan maaf secara tulus padanya. Dan jangan pernah memohon maaf dengan niatan buaya, karena setelahnya orang akan menjadi lebih sulit untuk memaafkanmu, dan orang yang peka hatinya sudah akan merasakan kebuayaannya ketika dari awal saja meminta maaf.

Selamat tinggal, aku akan meninggalkan semuanya, hingga waktu yang tak ditentukan.
"Kebakaran hutan di musim penghujan adalah ulah si penebar api. Sadarkah ia, bahwa dirinya dan manusia lainnya mendapatkan nyawa dari sekumpulan kebaikan itu? Tapi manusia tak berhati itu tetap saja membakarnya, melenyapkan jasa-jasa begitu saja dan mematahkan setiap hati yang memercayainya. Bahkan hewan pun sepanjang sejarahnya tak pernah membakar hutan!"

21-04-2016, agar aku belajar tak menjadi penyembah hawa nafsu

Menulislah, agar otakmu tak tumpul!

Rasanya sudah sangat lama saya tak menulis hal-hal yang rada serius di blog ini. Isinya paling hanya curhatan, puisi, dan kadang kata-kata yang tak jelas. Jujur, keadaan membikin semua rasanya jadi lumayan puyeng hingga akhirnya saya lupa kalau sebenarnya saya punya obat yang bisa dikatakan sebagai "parasetamol kecil-kecilan": Goblog. Ngeblog maksudnya, go-blog.

Dan pada akhirnya pada suatu hari saya harus ngarang karya sok ilmiah (makanya kelompokku gagal, yang kerja single core) yang ditujukan untuk ikut lomba M pangkat dua yang diadakan oleh HIMA Fikom UI (Himpunan Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, in case you need the long way). Brengsek, pusing, rasanya seperti baru makan racun tikus. Sudah lama tak menulis, kata-kata seolah beku begitu saja.

Kata orang yang bijak, tak ada kata terlambat (tentu saja sebelum mati) untuk memulai sesuatu. Aku ingin menulis lagi, meski hanya untuk bertulis tak karuan; karena itu mencairkan otak yang beku setitik demi setitik. Sedih jadi manusia yang otaknya beku tak terjamah keindahan kata, hidup garing luar biasa. Pandangan mata berubah menjadi kamera era 50'an. Warna itu-itu saja yang dilihat; kalau tak hitam, abu, ya putih.

Menulis pasti berpikir, dan menuntut penulis untuk membaca. Mau nulis apa kalau tak baca?

Proses berpikir itulah yang mencairkan pikiran dan membuat berpikir mengalir. Setidaklah itu yang pernah kubaca tentang otak; menulis menyegarkan pikiran, selain sarana untuk ekspresi diri. Jadi, mari menulis!

*saatnya ngasiin surat lamaran magang. see you next time!*
 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top