Malam yang dingin pada hari itu...

Tanah masih basah sehabis disirami air hujan. Dingin, angin membuat dingin semakin menusuk. Malam yang gelap dan hening tiba-tiba disentakkan oleh tangis anak kecil yang memilukan. Aku yang sedang keluar rumah untuk memeriksa pompa air termenung, mendengarkan suara itu. Ada apakah gerangan? Aku menoleh, dan kulihat sekumpulan orang berjalan. Seorang ibu bersama keempat anaknya. Dan salah satunya adalah anak yang menangis itu. Ia merengek entah karena apa.

Pilu itu menghujam hati.

Tapi diri ini bingung apa yang bisa kubantu. Atau, mungkin, bukan karena bingung; tapi seperti lirik Broken Wings, cahaya dalam hatiku sudah semakin redup? Bisa jadi. Tangis mulai sulit mengalir dari mata. Seorang yang bijak pernah berkata padaku bahwa kehilangan kemampuan meneteskan air mata barang setetes saja menandakan hati mulai mengeras. Naudzubillahi min dzalik.

Di era informasi yang sudah begitu kencangnya, siapapun bisa menjadi apapun dan berkata bagaimanapun. Kebencian sudah bertebaran dengan beragam bentuknya. Sesuatu yang menggugah tangisan pun berujung pada kebencian. Turut berduka kemudian menggiring untuk membenci. Bagaimana tangis bisa membasahi dan melembutkan, jikalau mereka saja belum meresap sudah menguap duluan karena panasnya hati?

Aku seolah hidup di zaman yang kering tandus. Tapi, aku tetap harus bersyukur mengenal mereka yang mampu membuat hati ini setidaknya tidak membatu. Mereka yang ikhlas membantu, menangis atas pengakuan dosa diri yang menyebabkan musnahnya cinta, dan melukiskan senyum pada setiap mereka yang berpeluh maupun menitikkan air mata.

Selalu saja ada yang masih bisa disyukuri. Dan, sekarang, tetap saja aku masih bingung harus berbuat apa. Tuhanku, ampuni aku....

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top