Fuyu no nai Karenda (Kalender tanpa musim dingin)



……どんなに心が寒いときも
ふたりはあたたかかった
過ぎた時間は
冬のないカレンダー……
Di kala hati terasa sedingin apapun 
Berdua ‘kan menjadikannya hangat
Waktu t’lah yang berlalu ‘kan menjadi
Satu kalender tanpa musim dingin

ほどけること知っていても
手をつなぎたかった
ひきとめても追いかけても
時は流れるね
Walau kutahu kelak akan terlepas
Kutetap menggandeng tanganmu
Sekuat apapun kumencegah, sejauh apapun kukejar
Waktu pun tetap bergulir...

今よりも素敵になって
出逢うために
ひとは別れてゆく
Dan kini ia terasa menjadi lebih indah
Demi perjumpaan pun orang rela berpisah

あの日のまなざし
風のゆくえ
かなわなかった約束
そっと
両手で胸に抱きよせる
Kala itu aku menilik
Dimanakah angin berada
Janji yang tak terpenuhi itu
Dengan lembut
Merangkul diriku dalam lubuk hati

どんなに心が寒いときも
ふたりはあたたかかった
過ぎた時間は
冬のないカレンダー
Di kala hati terasa sedingin apapun 
Berdua ‘kan menjadikannya hangat
Waktu t’lah yang berlalu ‘kan menjadi
Sebuah kalender tanpa musim dingin

白い空がこぼれ落ちて
肩に降りつもる
涙よりも笑い顔が
悲しいのはなぜ
Langit putih mulai gugur berjatuhan
Terus berjatuhan, bertumpuk di atas pundak
Mengapa melukiskan senyum di wajahku
Terasa lebih sedih daripada menangis?

今よりも素敵になって
生きるために
ふたり歩きだすよ
Dan kini ia terasa menjadi lebih indah
Untuk terus hidup,
Kita berdua harus mulai melangkah

愛するときめき
熱い想い
さがし続けている夢
いつか
両手できつく抱きしめる
Dalam mimpi pencarian terus menerus
Akan hasrat cinta yang kuat nan penuh sukacita ini
Kelak
Kedua tangan ini akan memeluk begitu erat

どんなに明日が遠いときも
おもいではあたたかいよ
心の部屋に
冬のないカレンダー
Dikala sejauh apa pun esok hari terasa
Kenangan ini akan tetap terasa hangat
Di dalam ruang hati
Kalender tanpa musim semi 

どんなに心が寒いときも
ふたりはあたたかかった
過ぎた時間は
冬のないカレンダー
Dikala hati terasa sedingin apapun 
Berdua ‘kan menjadikannya hangat
Waktu t’lah yang berlalu ‘kan menjadi
Satu kalender tanpa musim dingin

どんなに明日が遠いときも
おもいではあたたかいよ
心の部屋に
冬のないカレンダー
Dikala sejauh apa pun esok hari terasa
Kenangan ini akan tetap terasa hangat
Di dalam ruang hati
Kalender tanpa musim semi

Strike 2!

Belakangan saya ingin offline, karena hiruk pikuk media sosial dan instant messaging mulai membuat saya pening, bahkan pada tingkat tertentu mengganggu emosi. Tiga hari menggunakan lagi ponsel lipat, yang ada malah masalah. Ada kesalahpahaman. Mungkin memang karena manusia sekarang sudah begitu bergantung kepada teknologi.

Meski demikian, aku yang harus berdamai dengan penggunaan teknologi informasi, tetap masih belum bisa berdamai dengan media sosial, yang mulai membuat kacau banyak hal. Banyak aktor kurang ajar yang menggunakan media sosial untuk memenuhi keinginannya tanpa memperhatikan dampak yang mereka timbulkan. Gila kalau liat media sosial, sedang wabah seperti ini malah banyak orang (atau, orang dengan banyak akun) yang membuat narasi yang memecah belah, baik sesama rakyat maupun rakyat dengan Pemerintah dan menebeng agama. Saya tak masalah dengan orang yang mengeritik Pemerintah demi kemajuan bangsa, yang sebenarnya begitu kelihatan bedanya dengan menjatuhkan. Sederhananya, yang mengeritik akan memberikan solusi yang masuk akal dan tepat sasaran; berbeda dengan menjatuhkan yang argumennya melulu dengan kebencian, membajak emosi manusia dengan narasi yang memancing marah dan takut.

Suaraku kalah berisik dibandingkan mereka, karenanya aku lebih memilih melindungi orang yang sudah bisa mendengar suaraku; dan menjaga kewarasanku sendiri.

Khusus instant messaging, mungkin aku akan mempelajari lagi fitur-fiturnya, selain fitur blok. Karena keluar dari grup akan menimbulkan sentimen yang kurang baik. Dan juga, belajar untuk tidak terlalu mikir berlebihan, atau takut berlebihan. Atau, praduga yang tak terbuktikan, yang hanya lahir dari rasa takut.

Dan aku sedang berusaha berdamai dengan trauma sakit masa lalu. Aku punya sentimen negatif terhadap whatsapp berkat kejadian menyakitkan 5 tahun lalu, yang bekasnya kadang masih terasa, kalau tak perih ya ganjal. Itulah sebabnya kalau balas whatsapp pasti jauh lebih lama daripada misalnya pakai line atau sms; karena aku sebenarnya ogah pakai whatsapp. Tak nyaman.

Tapi apa boleh buat, aku harus berdamai, aku harus mengejar ketertinggalan. Mari saling menguatkan...

Rehat dulu ah!

Hari ini resmi off sementara dari hiruk pikuk media sosial. Jadi media ekspresiku hanya di blog. Mulai hari ini hp lipat samsung mulai beroperasi lagi, setelah sebelumnya sempat lama di lemari.

Ini bukan kali pertamanya aku off media sosial (atau, off smartphone). Sebelumnya pernah sebulan saya tidak aktif media sosial manapun, termasuk IM WhatsApp. Dan pada suatu hari aku harus kembali mengaktifkannya, dan betapa menyesalnya ada satu kesempatan kerja yang terlewat. Tapi aku dapat pola dan pelajarannya: setelah menerima email tentang satu kesempatan, aku harus tetap stand-by IM dan medsos, walau sekeras apapun terpaan anginnya. Dan, jangan overusage, aku harus sayang dengan diriku sendiri, baik jasmani maupun ruhani.

Di wabah COVID-19 sekarang ini, bagiku berinteraksi malah jadi lebih melelahkan. Alasannya, karena aku tak bisa bertemu langsung dengan orang yang berbicara denganku. Berbicara tentang diriku, aku dulu memang sangat malu untuk ketemu orang secara langsung dan lebih memilih komunikasi lewat teks. Tapi kini terbalik, aku lebih nyaman bertemu langsung daripada komunikasi lewat teks. Pesan moral: orang pasti senantiasa berubah, dinamis. Dan itu hal yang baik, jika dilalui dengan baik.

Kenapa lebih nyaman bertemu langsung? Berbicara komunikasi pasti akan ada yang namanya komunikasi verbal dan non-verbal. Verbal itu kata-kata, sekarang ini aku sedang berkomunikasi secara verbal dengan dirimu, dan ketika kau memberikan komen di artikel ini, komunikasi kita menjadi dua arah. Lebih sederhana memang, dan karena sederhananya, komunikasi verbal yang verbal saja sering salah diartikan. SAYA DIKIRA NGAMUK PADAHAL KELINGKING KETIDURAN DI TOMBOL SHIFT. Dan juga, belakangan sedang rame tentang perbedaan arti kata, ya toh?

Komunikasi non-verbal lah yang memberikan nuansa dalam komunikasi. Dan ketika komunikasi hanya verbal saja, aku sering kelelahan menerka non-verbal ini. Misalnya, di tengah percakapan lawan bicara berhenti membalas. Banyak kemungkinannya kan? Kalau bertemu langsung, akan ada cue dari komunikasi non-verbal yang memungkinkan kita membaca apa yang ada dalam hatinya. Oh dahinya kerung, mungkin ia kesal pada kita, maka kita perlu meminta maaf agar persahabatan tetap terpelihara. Btw ada toh, orang yang kesal tetapi memilih diam tak berkata; tetapi warna wajah tak akan pernah bisa berbohong.

Asli, melelahkan. Walaupun misalnya video call, tetap akan ada nuansa dari non-verbal yang hilang. Apalagi kalau sedang rindu. Tak ada emoticon yang bisa menggantikan rasanya dipeluk erat.

Loh jauh toh, kembali ke laptop off sejenak. Dan dengan off sejenak ini, aku juga bisa memulai banyak hal lain, misalnya merenung, membaca, lanjut belajar bahasa Jepang, terusin kursus Machine Learning, ngeblog lagi, banyak toh. Dan bukan berarti aku memutus silaturahmi. Bukan. Aku tetap menerima telepon, sms, dan email. Aku selalu berpendapat, sesuatu yang membutuhkan effort lebih, maka ia akan lebih menyentuh hati; walaupun ia hanya sanggup disajikan dalam sajian yang begitu sederhana. Aku cinta sama yang masih mau smsan sama diriku. Daisuki!

Semoga kita bisa segera saling bersilaturahmi dalam pertemuan!
 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top