Sekitar tiga tahun sebelum posting pertama di blog ini, 3G merambah ke Indonesia. Waktu itu, video call melalui ponsel merupakan hal yang baru (setidaknya untuk saya). Saat itu saya beranjak remaja. Masih ingat betul saya satu-satunya orang di kelas yang bisa menonton TV melalui saluran 3G. Mungkin sebagian ada yang masih ingat waktu salah satu operator selular di Indonesia menawarkan menonton stasiun TV lokal, cukup dengan mem-video call short number tertentu dan gratis beberapa menit pertama.

Hal-hal seperti itu begitu menarik perhatian saya. Kecanggihan-kecanggihan teknologi di masa-masa 2000-2013an memikat minat saya. Bisa dibilang, teknologi terutama teknologi telekomunikasi sangat menarik di era itu. Di saat-saat itu juga, bagi saya adalah masa dimana interaksi manusia dengan teknologi masih cukup balance. Ini pendapatku saja, mungkin pendapat orang lain bisa berbeda.

Maju ke era 2015, saya mulai merasa jenuh. Ponsel tidak ada yang menarik, semuanya generik. Jejerkan semua ponsel, dan semuanya serasa sama, tak punya kepribadian seperti kebanyakan ponsel pra-2010. Dari semenjak itu, ketertarikan saya akan dunia teknologi selular menurun. Adanya 4G dan kini 5G tidak memercikan semangat apa-apa lagi. Walaupun dengan 5G, kemungkinan yang sepertinya menarik akan muncul; seperti IoT dan yang lagi ramai sekarang: metaverse; tetap tidak menarik bagi saya.

Dan 2021 ini, saya tak terlalu tertarik lagi untuk upgrade elektronik, pakai saja yang sudah ada. Dan sudah tak banyak eksplorasi lagi (mungkin kalau ada pemantik, bisa?)

Akankah ada pembaruan lagi setelah kejenuhan ini?

-----

Dan...

Maju lagi ke 2021, saya mulai merasakan interaksi ini problematik. Orang sudah menganggap manusia sebagai mesin, namun kadang pula memperlakukan mesin sebagai manusia. IYKWIM.


Rindu masa masih balance.

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top