Cobaan itu rahmat-Nya!

"Bahan-bahan yang digunakan ‘tuk menyamak kulit
Adalah cobaan baginya
Agar dengan itu dihasilkan kulit yang halus
Kalau kulit itu tidak direndam dalam bahan-bahan yang pahit
Dan tajam niscaya ia tetap keras dan berlendir..."

Begitulah kutipan sebagian rangkaian kata-kata yang indah dari Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri, atau yang kita sebagai Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi.

Kawan, aku ingin melanjutkan perkataan Jalaluddin Rumi yang hebat ini, supaya kau lebih mengerti lagi maknanya...

"... Bandingkan manusia dengan kulit tersebut
Sebelumnya ia berlumuran noda dan menjadi berat
Karena itu harus dituangkan kepadanya
Kepahitan dan penderitaan
Agar ia menjadi bersih, lembut dan cemerlang
Kalau engkau tidak bisa
Meningkatkan dirimu, wahai orang yang berakal,
Serahkan saja urusanmu kepada Allah
Agar dia terangkan kehidupan pahit kepadamu
Tanpa engkau usahakan sendiri
Cobaan dari Sang Kekasih,
Bagimu adalah pensucian
Dan ilmu-Nya berada di luar jangkauanmu."

Apakah kau sudah mendapatkan maknanya, kawan? Bagaikan sebuah baju putih yang bau dan kotor. Agar baju tersebut bersih putih seperti sedia kala, harus dicuci menggunakan pemutih. Dan apakah kau tahu, sekeras apa pemutih itu? Pemutih, jika lama kontak dengan kulit, akan membuat kulit menjadi gatal, bahkan melepuh. Dan jika terkena besi, besi itu akan mengalami korosi.

Dan kau tahu apa yang terjadi ketika baju tersebut keluar dari rendaman tersebut? Baju akan menjadi putih bersih. Tetapi, baju itu mengalami "siksaan" yang dilakukan oleh pemutih yang keras.

Itulah mengapa Tuhan menciptakan "ujian", kawan. Bukan untuk melakukan tes kepada makhluk-Nya, seperti yang dilakukan manusia kepada sesamanya. Tuhan menciptakan "ujian" sebagai sarana penyucian diri bagi manusia. Ujian adalah wujud kasih sayangNya kepada makhluknya.

Dan kawan, hidup ini tidak akan indah tanpa cobaan. Kau tidak akan pernah tahu mana yang indah jika kau tidak mengetahui cobaan itu seperti apa. Sekali lagi, cobaan merupakan manifestasi dari namaNya, ar-Rahim.

-------

"Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."

Kau tahu kalimat itu kan, kawan? Itu adalah kalimat Tuhan yang menentramkan hati. Tuhan menjamin bahwa  kesulitan akan datang bersamaan dengan kemudahan. Banyak orang yang beranggapan, bahwa kemudahan datang setelah kesulitan, habis gelap terbitlah terang. Sebenarnya, jika kita merenung lebih jauh, benar adanya bahwa kesulitan datang bersama kemudahan. Sebuah kesulitan tidak akan pernah menjadi lebih mudah dan kemudian menjadi mudah, dan akan tetap pada keadaan sulit, jika tidak dibarengi dengan kemudahan. Kalau kita analogikan sebuah baut berkarat sebagai kesulitan dengan pelumas sebagai kemudahan. Tentu saja, baut yang berkarat tersebut akan sulit untuk diputar. Dan jika kita beri pelumas, memutar baut tersebut akan menjadi lebih mudah. Itulah, "bersama kesulitan ada kemudahan."

Kawan, jangan terjebak. Kadang, dan sering sekali, sebuah nikmat yang amat sangat besar terbungkus oleh cobaan yang pedih. Kau tahu durian kan? Luarnya sangat berduri, tak sedap dipandang. Tetapi dalamnya -bagi penikmat durian- rasanya sangatlah enak.

Dan ada juga siksaan yang amat pedih terbungkus oleh kenikmatan dan keindahan. Buah Mahkota Dewa, penampakan luarnya indah, tetapi dalamnya amat beracun jika kau konsumsi begitu saja.

---

Eh kawan, ada salam cinta dari Tuhan untuk kita semua :D

---

Syair Jalaluddin Rumi dikutip dari: http://filsafatislam.net/al-adalah-for-teens-bukti-11c-faedah-keburukan-4-sarana-edukasi/

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top