Pendidikan (1)

Ing ngarso sung tulodo 
Ing madyo mangun karso
Tut wuri handayani.

Kau tahu apa arti dari kata-kata berbahasa Jawa tersebut? Biarkanlah kuterjemahkan.

"Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan."

Itulah kurang lebih terjemahannya. Mungkin hanya kalimat akhirnya saja yang kau kenal, Tut wuri handayani, semboyan yang paling sering kita lihat di lambang Diknas. Yuk kawan, kita lihat ke dunia sekeliling kita, sambil beristirahat dari kepenatan jiwa ini.

Eh kawan, lihatlah koran hari ini. Banyak sekali sekolah yang fasilitasnya minim, ruangan rusak, sampai ada yang roboh karena memang sudah habis umurnya. Padahal anggaran dana yang dialokasikan untuk pendidikan sudah cukup besar, 20 persen. Tapi apa yang terjadi di lapangan? Tetap saja banyak fasilitas pendidikan yang tidak layak! Kemanakah dana tersebut melayang? Ke kantong "mereka"?

Haah, sepertinya anggaran dana 20 persen yang digembor-gemborkan hanyalah demi kepentingan politik semata. Selain fasilitas pendidikan yang buruk, pendidikan juga semakin mahal! Biaya masuk ke salah satu institut negeri yang terkenal di Bandung "hanya" 50 juta rupiah. Pendidikan semakin tidak ramah kantong. Bagaimana mau terwujud sebuah negeri yang maju jika pendidikannya saja sudah tidak baik? Pendidikan merupakan fondasi sebuah negara. Dan al-Qur'an telah dengan indah menyatakan pentingnya menuntut ilmu.

"Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." (QS. 21:7)

Bukan hanya ayat ini saja yang menyatakan pentingnya menuntut ilmu. Masih banyak ayat-ayat al-Qur'an mengenai keutamaan menuntut ilmu. Jika kau mengeksplorasinya, pasti kau akan menemukannya, kawan.

Masih segar di pikiran kita kan, kawan? Beberapa waktu lalu kita mengikuti Ujian Nasional sebagai salah satu syarat kelulusan dari sekolah. Di ujian nasional, semua orang kemampuannya dianggap sama rata. Padahal, pembangunan pendidikan di Indonesia benar-benar tidak merata. Ada satu wilayah yang sekolahnya bagus-bagus, ada pula wilayah yang terpencil, yang tidak mendapat perhatian pemerintah, tetapi dipaksa ikut UN. Tidak aneh jika kemudian banyak siswa-siswi yang stres, bahkan sampai masuk rumah sakit. Betapa mengerikannya, bukan? 

Meskipun pemerintah mengklaim tidak ada masalah pada UN, terutama mengenai kebocoran kunci jawaban, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di lapangan. Kunci jawaban beredar dengan bebas, lewat SMS, lewat BBM, lewat media yang bisa "dirahasiakan". Selain itu, pada beberapa sekolah Lembar Jawaban Komputer (LJK) memiliki kualitas yang kurang baik. Tinta yang meleber, kertas yang rusak dan tinta yang menipis ketika dihapus menjadi kendala tersendiri bagi siswa yang menghadapi UN. Bisa jadi, jawaban mereka banyak yang benar, tetapi mereka tidak lulus karena faktor apapun yang berkaitan dengan LJK.


....

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top