Ini benar-benar mengusik saya akhir-akhir ini. Banyak sekali orang yang seenaknya saja memberikan vonis bahwa suatu ajaran itu sesat. Gampang mengkafirkan. Padahal, mereka ketika ditanya mengenai hal yang disesatkannya itu, dia tidak tahu apa-apa, setelah mereka mengemukakan argumentasi yang mengandung data yang harus dibuktikan, argumen mereka sulit sekali untuk dibuktikan. Pada akhirnya, ketika otak sudah mentok, mereka main otot. Tak jarang mereka berani menghakimi seseorang dengan kekerasan fisik karena mereka tidak mau mengakui bahwa mereka kalah berargumentasi.
Saya pernah menjadi korbannya. Ada seseorang yang mengajak untuk diskusi lintas madzhab dalam Islam. Lalu dia mengkafirkan saya dan menyebut saya rafidi, hanya karena menggunakan akal dalam membahas sebuah dalil di salah satu kitab yang telah dianggap sahih. Padahal, dalam pengkajian hadits, ada sebuah ilmu yang bernama 'Ulumul Hadits, ilmu yang mengkaji mengenai hadits. Dalam ilmu ini, setiap hadits harus diperiksa, apakah autentik atau tidak. Dan dalam keilmuan, pengujian itu harus, agar mendapatkan hasil yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketika saya bertanya apakah dia mengetahui ilmu tersebut atau tidak, dia diam saja, dan kemudian dia memberikan balasan yang sama sekali tidak nyambung, yaitu kata "kamu Rafidi". Dan untung saja ini terjadi di Facebook, jadi tidak ada acara saling menyerang secara fisik.
Yah, itu memang yang saya rasa. Saya pun pernah menjadi mereka, mudah menyesatkan orang lain yang tidak semadzhab dengan saya, meskipun dia menyembah Allah, tuntunannya al-Qur'an, dan nabinya Muhammad (Shalawat serta salam terlimpah curah kepadanya dan keluarganya). Kakak saya menjadi salah satu korbannya. Saya menuduh kakak saya itu sesat. Kini, saya malah jadi sama seperti kakak saya, sepaham dengannya. Dan saya sadar, saya menuduh dan mengkafirkan kakak saya itu karena ketidaktahuan saya mengenai pemahaman kakak saya dan malah dengar "katanya" paham kakak saya itu sesat. Saya sekarang paham mengenai pemahaman kakak saya, dan memang benar-benar logis, lebih logis dari pemahaman yang saya anut sebelumnya. Jadilah sekarang saya sama seperti kakak saya, dan kini saya mulai mencoba memperluas khazanah keilmuan saya dari segala perspektif.
Banyak orang yang intoleran terhadap suatu hal. Misalnya perbedaan madzhab yang telah saya sebutkan di atas. Intoleransi tersebut, kalau saya boleh menyimpulkan, salah satunya karena kurangnya ilmu pengetahuan mengenai hal yang disesatkannya dan apa yang dia pahami sekarang. Orang yang berilmu dan berwawasan luas, dia akan mencari pembenaran diantara konflik-konflik, tetapi yang sebaliknya malah mencari kesalahan dan menumbuhkan konflik .Tetapi, toleransi memiliki batasnya juga. Misalnya, jika ada salah satu pihak yang menyatakan perang, kita tidak bisa diam saja, ngga mau nyerang karena kita shaleh dan tidak mau membalas serangan. Inilah toleransi yang berbahaya, yang malah merusak diri kita sendiri.
Yah inilah unek-unek saya akhir-akhir ini. Dan waktu sudah terlalu malam, mata saya saja ketika mengetik sudah 5 watt. Lanjut kapan-kapan ya.
Sejahtera atas kalian! :-)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.