"Sekolah kita diambang kebangkrutan, jumlah siswa semakin sedikit, apa yang harus kita lakukan? Kita sudah gencar mempromosikan sekolah kita ini. Tetapi tetap tidak ada hasilnya. Haruskah kita gulung tikar?" kata-kata seorang pejabat di sebuah SMA kecil di pelosok Babakan Sari sembari mengerutkan dahinya dan menatap para pejabat sekolah yang lain tampak bingung. Tidak ada yang menjawab, semua terdiam. Hening.
Datanglah seorang pria paruh baya, yang merupakan pendiri sekolah itu. Dia memberikan sebuah solusi, "Sumbangkan saja semua uang yang dimiliki oleh sekolah ini kepada fuqara dan masakin."
Mulai terdengar riuh bisikan orang-orang yang semakin bingung.
"Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri, Pak? Uang kita sekarat, akan bangkrut kita Pak." timbal salah seorang dari kelompok orang yang bingung itu.
"Percayalah, jika kita berserah diri padaNya dengan menyerahkan harta kita di jalanNya, insyaallah Dia akan memberikan hal yang setimpal, bahkan lebih. Berniaga denganNya tidak akan pernah membuat kita rugi, malah untung. Kita beri satu yang kita dapat dariNya bisa seratus, bahkan lebih. Percayalah padaNya, dan Dia akan mengasihi kita." Tanggap pria paruh baya tersebut.
--
Begitulah sekelumit cerita ketika SMA ini sudah benar-benar di ambang kebangkrutan. Dan, hingga hari tulisan ini dibuat, SMA Plus Muthahhari, yang didirikan oleh Jalaluddin Rakhmat masih tegak berdiri. Sekiranya semua uang yang ada dipertahankan, mungkin saya tidak akan pernah menjadi almamater SMA yang hebat ini.
Cerita tersebut yang mengubah hidup saya, cerita keajaiban memberi kepada yang membutuhkan. Saya mempraktikkannya. Dan memang tidak ada sesuatu yang instan, saya tidak merasakan khasiat apa pun. Hingga suatu saat saya tidak punya uang dan tiba-tiba rejeki datang, baik melalui keluarga saya maupun diluar keluarga saya. Tidak hanya mengenai uang, melainkan juga jasa. Suatu ketika saya kelelahan di jalan, rasanya tubuh sudah remuk kesana kemari jalan kaki dan naik angkutan umum sembari membawa barang bawaan yang berat. Tak terduga, teman saya lewat dan menawarkan tumpangan, "Mau bareng?".
Sekarang saya merasakan manfaaat menderma. Setiap tindakan kita pastilah akan dibalas, kalau tidak di dunia pasti di akhirat. Kita menolong pasti kita akan ditolong kelak, baik di dunia maupun di akhirat. Dan memang benar, kita beri satu kembalinya bisa 100 atau lebih.
Menderma mengajarkan kita kecintaan kepada fuqara dan masakin. Keikhlasan kita menderma dapat menjadikan patokan seberapa jauh kecintaan kita terhadap mereka, bukan dari besarnya yang diberikan. Rasanya (dan memang) percuma jika kita menderma tanpa keikhlasan. Menderma tanpa keikhlasan dapat memuncukan riya' (bukan Ria, maaf yang namanya Ria, hehehe), dan Allah sangat tidak menyukai sifat itu.
"Carilah aku diantara kaum-kaum yang lemah", begitulah sabda Rasulullah SAW. Rasulullah begitu mencintai kaum fuqara dan masakin. Jika kita ingin mendekati seseorang, cintailah apa yang dia cintai. Dengan mencintai kaum fuqara dan masakin (tidak hanya simbolisasi cinta dengan hal yang bersifat materil seperti harta, melainkan juga dengan cinta beneran, yaitu sikap menghargai dan kasih sayang, dan ini yang lebih utama), maka Rasulullah akan mencintai kita, dan dengan dicintai Rasulullah, maka kita akan dicintai oleh Allah azza wa Jalla, karena Rasulullah adalah kekasih Rabbul 'Alamin.
"Di ufuk jauh keriduan hamba, Muhammad berdiri...."
