Coba pikirkan lagi, hidupmu untuk apa? Tanpa mengetahuinya, hidup hampa rasanya. Jadi sampah di tengah lautan; mengapung tak berarti, tanpa tujuan. Tak bisa apa-apa selain hanya meminum air asin dan melihat malam dan siang silih berganti. Menghasilkan, menghasilkan bencana matinya ikan-ikan laut karena berusaha membuatmu bermanfaat dengan memakanmu. Kau tidak lagi bermanfaat, tapi jadi bencana.
Itu terlalu mengerikan. Ah mengapa aku baru memikirkannya sekarang, kala pendidikanku mulai memasuki senja? Semua seperti salah saja rasanya. Deviasi yang terlalu ekstrim dari apa yang diidealkan dalam cita-cita. Pil pahit yang tak kuketahui manfaatnya harus kutenggak mau tak mau. Semoga saja bukan racun yang membunuh.
Dunia ini gelap. Dunia ini berkabut. Makanya diciptakan cahaya, supaya jalannya kelihatan. Ada tiga jenis manusia dalam kamus besar bahasa saya; yang nyaman dengan kegelapan, yang mengharapkan cahaya, dan yang terakhir tak tahu gelap terang. Yang terakhir ada dua, yang dibunuh ada yang diasah. It's the new born baby. Tak sadar pisau yang sedang kita asah malah hancur berkeping karena terlalu dipaksa.
Nak, tentukan hidupmu mau kemana, agar kau tak jadi styrofoam di tengah laut, agar kau tak jadi pelakunya.
Yah, jangan mengasah terlalu keras, agar ia menjadi pisau yang tajam bukan puing plat baja tak berguna.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar