Suatu malam yang dingin, dan selimut hanya ada satu. Ia berikan selimut itu untukmu yang sedang terlelap tidur. Hanya satu harapnya: kau terlelap dalam kehangatan. Tak peduli dengan dirinya yang diguncang kedinginan. Ada sepotong roti di atas meja. Dan kau sangat lapar. Kau tanya milik siapa itu dan kemudian memakannya setelah mendapat izinnya. Adakalanya tak bertanya dahulu. Sedangkan dia sangat lapar. Nyawamu dalam ancaman. Ia takkan ragu menjadikan nyawanya sebagai tebusan nyawamu. Ia rela meregang nyawa demi selamatnya dirimu. Itu telah terjadi, ketika ia melahirkan dirimu. Masihkah kau, dan aku, tak tahu terima kasih, berujar dengan nada yang tinggi, lisan yang menyakitkan, keakuan yang keterlaluan? Maafkan sahaya, Bunda.

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top