Lelah dengan kehidupan modern sekarang ini. Tak kutemukan lagi kehidupan yang disebut "fulfilling" itu. Hidup dimana setiap detiknya terasa berharga, penuh rasa. Sekarang aku tak merasakan apa-apa. Hari demi hari hanya lewat begitu saja.
Sudah berapa tahun aku seperti ini ya? Mungkin, setelah aku lulus sekolah dan menjadi mahasiswa. Mulai kurasa hidup ini mulai jadi abu-abu. Tidak ada warnanya. Tak ada kenangan yang bisa kukenang yang bisa setidaknya memberikan semangat di hari-hari yang hampa, dan penuh tekanan, di hari-hari itu. Rasanya, semenjak aku lulus sekolah, jarum jam sudah berhenti berputar, dan warna-warna pudar.
Ingin rasanya bisa kembali lagi ke masa-masa penuh warna itu, meski aku tahu itu tidak akan pernah mungkin lagi. Hanya bisa menangisi. Atau kembali hidup seperti masa itu.
Tak semua orang ingin tahu betapa bencinya aku pada bagaimana ponsel cerdas modern bekerja membebani mental. Aku mencintai teknologi, tapi membenci bagaimana ia "menghubungkan" dengan sesama manusia. Cara kerja benda itu untuk menghubungkan hubungan manusia itu kini membuat diriku, perasaanku sakit, sesungguhnya. Ketika aku bisa berhenti menggunakannya, di saat itulah hatiku mulai lega, di saat itulah aku mulai bisa tenang. Aku mencintai teknologinya, namun aku benci bagaimana "keterhubungan manusia" akibatnya.
Walaupun seolah kontradiksi dengan keinginanku yang ingin membangun hubungan yang humanis dengan mereka yang mau, tapi demikian tidaklah kontradiksi. Aku ingin terhubung, namun bukan keterhubungan yang kopong dari chat-chat WhatsApp.
Dan bagiku, WhatsApp adalah stressor berat dalam hari-hariku. Dari aplikasi itulah mulai pertama traumaku, dan sampai sekarang jantungku pasti berdebar kalau menerima notifikasi WhatsApp. Semua stresku bermuara darinya. Aku ingin mencoba aplikasi lain, tapi siapa yang menggunakan? Dan kelak apakah efeknya akan sama saja?
Aku merindukan masa-masa SMS. Walau sama-sama teks dan bahkan memerlukan receh yang cukup banyak untuk mengirimkan 160 huruf, ia memiliki rasa yang beda. Keterhubungannya masih sangat terasa.
Apakah ini kutukan dunia modern?

0 komentar:
Posting Komentar