Saya sering menemukan di masyarakat, jangan jauh-jauh, dari kalangan rekan-rekan saya. Yang orangnya cerdas, selalu ranking, tapi mereka memiliki beberapa masalah sosial, pada umumnya dari rasa empati; merasakan perasaan orang lain. Banyak orang yang memiliki kendala berkomunikasi dengannya. Kendalanya tidak akan saya jelaskan di sini.
Tetapi di sisi lain, ada juga mereka yang hidupnya sangat sosial, dengan nilai akademis yang bisa dibilang, sederhana. Tetapi dia mampu membuat orang yang baru dia kenal, di warteg misalnya, menjadi teman yang akrab. Bahkan kawannya itu langsung curhat kepadanya, meskipun baru dia kenal.
Secara subyektif, saya cenderung lebih memilih kasus kedua. Pada orang yang di kasus kedua, dia memiliki kecerdasan emosional yang baik, tetapi tidak mengabaikan kecerdasan intelektualnya, meskipun nilai kecerdasan emosionalnya lebih tinggi dibandingkan kecersasan intelektual.
Tetapi, ada yang lebih hebat lagi, ini yang ketiga. Dia adalah seseorang yang mempunyai prestasi intelektual tinggi, tetapi dia tetap hebat dalam bersosialisasi dengan sesamanya. Dia disegani oleh rekan-rekannya. Dia adalah seorang orator ulung, ilmuan sains dan teknologi, dan juga seorang filantropi.
Dan, saya ingin menjadi yang ke tiga! Jujur, dia orang yang hebat (meskipun saya ngga tahu itu siapa, karena dia munculnya dari imajinasi saya), dia mampu menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan sosial. Inilah (yang nampaknya) dibutuhkan oleh dunia sekarang.
Tetapi sayang, kini banyak orang yang hanya menganggap kecerdasan intelektual (IQ, Intelligence Quotient, kecerdasan intelektual) sebagai satu-satunya tolok ukur kecerdasan seseorang. EQ (Emotional Quotient, kecerdasan emosional), dan yang tak kalah penting, SQ (Spiritual Quotient, kecerdasan spiritual), malah dianak-tirikan. Orang yang tidak memiliki IQ tinggi, sangat sering dibilang sebagai orang bodoh, atau tulul; menurut istilah Om Mario Teguh, meskipun EQ-nya hebat dan SQ-nya superior. Entah siapa yang membuat pandangan seperti ini, tapi saya punya tebakan.
Padahal, perpaduan seimbang antara ketiga kecerdasan ini dapat melahirkan insan yang hebat, yang kelak akan memecahkan masalah kehidupan yang semakin rumit ini. EQ akan membantu kita dalam memahami kehidupan secara luas dan kehidupan horizontal, hablum minannâs. Dan SQ akan membantu kita berkomunikasi vertikal dengan Sang Khalik, hablum minallah. EQ dan SQ memiliki keterikatan yang kuat, yang mungkin akan saya bahas pada tulisan EQ ft. SQ, insyaallah.
-------
Sekian dari tulisan saya yang super singkat ini. Saya baru saja pulang dari sebuah kampung yang amazing, sehingga saya merasa lelah, tapi ingin sekali jari saya mengetik sepatah dua patah kata. Insyaallah ketika saya ada waktu saya akan menceritakannya di blog ini.
Kawan, silaturahmi itu sangat penting, Saya akan merasa sangat bahagia jika ada yang bersilaturahmi dengan saya. Ditunggu ya di FB atau di email saya di takumi_aoki@mail.goo.ne.jp
Salam Cinta Bagi Semua Penghuni Bumi!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar