Tuhan telah mati
Pada hati yang mati
Mati karena sesak
Diselimuti kebencian

Tuhan tidaklah mati
Hati yang mati
Laksana daun tak bertemu cahaya matahari
Hati mati karena tak terpancar sinar Ilahi
Tertutup kebencian dan kebakhilan

Risalah Perkhidmatan (2): Pelangi

Skip dulu yang mahasiswa, kita lari dulu ke yang lain, nanti mungkin kita akan kembali lagi ke topik itu.

Ah, lanjut. Pernahkah kau terpikirkan kenapa kita ini hidup dengan orang-orang yang saling berbeda satu sama lainnya?

Perbedaan itu seperti pelangi yang indah. Tuhan telah menggariskannya pada setiap diri.

Tapi tergantung juga kita mau pilih sudut pandang yang mana, dunia ini selalu punya sisi ekstrim yang saling bertolakbelakang. Untuk urusan ini, aku lebih memilih berada di sisi yang menikmati keindahan, ketimbang mereka yang ngutruk kenapa pelangi harus berbeda warna.

Kenapa ngutruk dengan pilihan Tuhan? Kau selalu bilang untuk taat kepadaNya, tapi tak bisa menghargai keputusan Tuhan yang satu ini? Kau bilang orang yang beda pemahaman denganmu itu salah, dan kau halalkan darahnya. Sejak kapan kau jadi Tuhan?

Telahkah kau menjadi binatang? Atau lebih parah dari itu?

Maka, kau orang yang tak bersyukur.

Betul katanya, perbedaan adalah rahmat, bukti kasih sayang Tuhan. Kalau kau mensyukuri perbedaan, kemudian mengarungi samuderanya, akan kau temukan harta karun di dalamnya.

Harta karun itu adalah kearifan. Dengan kearifan itu kau akan bijaksana. Tak banyak manusia yang bisa bijaksana dalam hidupnya. Langkalah mereka yang bisa menyikapi perbedaan, sabar menghadapi segala persoalan.

Manusia yang penuh kearifan adalah manusia yang banyak dicintai. Oleh sesamanya, alam, Tuhan, dan para kekasihNya. Beruntung, bukan?

Lebih beruntung daripada mereka yang shalat tapi hatinya tetap ngutruk atas keputusan Tuhan. Yang shalat belum tentu sujud padaNya.

Maka, kejarlah harta karun itu. Kalau perlu, jadilah anak-anak lagi, anak-anak yang sehat. Mereka tak mengenal kebencian, kecuali jika orang tuanya terlalu abai, atau bahkan telah meracuninya dengan racun kebencian.

Risalah Perkhidmatan (1): Mahasiswa

Sekarang sudah jam 12 malam, saya baru pulang dari suatu majelis ilmu. Dan entah kenapa, saya susah tidur, sehingga saya memilih untuk menulis ini saja, yang cukup mengganjal di pikiran saya.

Aku ini mahasiswa. Maha, siswa. Maha itu bisa dimaknai sebagai yang tinggi, dan siswa itu gelaran bagi mereka yang sedang belajar. Kita dianggap lebih "tinggi" dari pelajar yang lainnya. Tentu, ketika kita dianggap lebih "tinggi", mereka yang menyematkan anggapan tersebut punya harapan lebih atas kita. Harapan lebih akan kemampuan membuat masyarakat ini lebih baik, itu salah satunya, kupikir.

Tidak untuk sombong, tapi menyandang gelar ini berat. Di pundakku ada kepercayaan yang cukup berat untuk dipikul. Jika aku melepas pikulan tersebut, baik karena sengaja atau lupa, maka aku ini tak lebih dari seorang pengkhianat. Dan aku tentu saja memilih untuk memikulnya saja, daripada menjadi seorang pengkhianat plus plus, pengkhianat + pecundang.

Apa yang kupikul? Kepercayaan mereka yang yakin aku bisa memperbaiki masyarakat.

Dan beberapa hari lalu, aku mengalami paradigm shift karena "ditonjok". Cara pandangku mengenai ini berubah.

Kuliah bukan hanya urusan target nilai besar dengan IP(K) bling-bling. Bukan, tak sesederhana itu. Bergunakah IP(K) bling-bling itu, kalau kamu tak berguna di masyarakat? Itu yang kurenungkan selama ini. Aku tak bersemangat untuk belajar. Buat apa IP(K) gede kalau aku cuma jadi sampah saja, nantinya? Tak berguna bagi kemanusiaan?

Lalu, apa yang kupikirkan? Perkhidmatan. Kuliah, menuntut ilmu, harus dalam rangka perkhidmatan.

Sebagai mahasiswa, anggaplah kuliahmu itu sebagai perkhidmatan. Pertama, perkhidmatan kepada sesama manusia. Buatlah ilmu yang telah kau kuasai bermanfaat, dan kembangkanlah ilmumu itu sehingga kau berkontribusi besar bagi banyak orang (lebih mantap untuk urusan kemanusiaan). Tujukanlah ilmumu itu untuk kebaikan.

Yang kedua, jadikanlah perkhidmatanmu ini sebagai hadiah untuk orang yang kau cintai.

Dan mahasiswa sekarang tidak banyak yang paham, apa itu perkhidmatan. Mungkin saya akan melanjutkannya di tulisan selanjutnya, termasuk yang kedua itu.

Sekarang sudah jam 00.13, kelopak mata semakin berat, dan besok kuliah jam 6 pagi. Sampai nanti! :-)

Perasaan teraduk kencang
Tak tahu manis pahit
Gelap gulita buta arah
Terguncang terombang ambing
Kiri kanan tak menentu
Inikah kertas kosong itu?

Menangis, cengeng kah?

Setiap mata dianugrahi kemampuan untuk menangis, yang telah dimulai semenjak usia kecil. Menangis adalah benar-benar anugerah baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Secara lahiriah, menangis mampu membersihkan mata dari kotoran yang akan merusaknya, mengeluarkan zat-zal yang tidak penting bagi tubuh (atau bahkan mengganggu), dan mencegah timbulnya beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh keadaan jiwa, semisal penyakit liver dan jantung.

Lalu apa manfaatnya secara batiniah? Kita perlu membedakannya terlebih dahulu antara menangis dan cengeng. Cengeng adalah menangis untuk alasan yang sebetulnya tak perlu ditangisi, atau dengan kata lain, sedikit-sedikit menangis. Tapi bukan berarti banyak menangis itu tanda cengeng. Alasan menangis perlu reasonable, misalnya menangis karena meninggalnya seseorang yang dicintai, itu bukanlah tanda cengeng karena sudah cukup beralasan. Dengan kata lain, telah mencapai treshold. Bahasan treshold ini tidak akan masuk di sini karena nantinya tulisan ini jadi terlalu ilmiah. 

Ada beberapa alasan orang itu menangis. Bisa jadi karena tangis komunal (alias ikut-ikutan menangis), tangis kemunafikan, atau memang tangisan yang berasal dari hati. Kita tidak akan membahas bagaimana cara melihat termasuk yang mana tangisan seseorang itu, tapi kita akan membahas sedikit tentang tangis dari hati, dan tampaknya tidak akan ilmiah, karena memang bukan karya ilmiah. Iya kan? :)

Kata orang, menangis adalah tanda kelembutan hati. Memang benar, jika tangisan tersebut berasal dari dalam hati. Orang yang mudah menitikkan air kala dihadapkan hal-hal yang menyentuh hati, semisal melihat seorang ibu dengan baju compang-camping menggigil karena kehujanan, maka ia adalah seseorang yang berhati lembut.

Saya tidak akan mengutip apapun, tapi saya teringat akan Rasulullah. Dalam mindset saya, Rasulullah adalah panutan yang penuh kasih lagi lembut hatinya. Ia tidak pernah menyakiti siapa pun, dan ketika ia disakiti ia akan segera memaafkannya. Dan saya teringat akan kisah beliau menitikkan air mata. Diantaranya adalah ketika beliau memohonkan ampunan bagi orang yang menyakitinya, termasuk yang telah membunuh orang-orang yang dicintainya. (sekali lagi saya sedang tidak ingin memainkan dalil, sedang membuka ingatan saja secara ringan)

Bisa kau bayangkan, bagaimana memaafkan orang yang telah menyakiti diri kita? Bukanlah perkara mudah memaafkan kesalahan yang begitu fatal. Tapi Rasulullah adalah Kekasih Ilahi yang lembut hatinya dan indah tutur katanya. Dan dibalik lembutnya setiap hati yang tulus tersimpan kekuatan yang dahsyat, Bukankan memaafkan orang yang telah menyakiti hati kita begitu dalam itu luar biasa hebat?

Selain itu, tangisan juga meringankan beban psikologis. Orang yang menangis itu sedang meluapkan emosinya dan meledakannya, sehingga emosi tersebut tidak lagi membebaninya (secara berlebih). Orang yang menahan tangisan akan lebih rentan terhadap gangguan psikologis atau bagian neurologis. Pernah melihat balon atau ban meletus? Itu salah satu analogi terbaik untuk menggambarkannya. Udara adalah emosi dan balon itu jiwa (atau otak) kita. Jika sudah melebihi batas, ia akan merusak balon atau ban tersebut. Demikian pula dengan yang telah disebutkan sebelumnya.

Tebeci… Telor Bebek Cinta.
Eh salah, to be continued. Doakan agar aku tidak lupa melanjutkan tulisan ini.

Ngroook zzzz

Tak guna aku mengeluh
Dunia tak akan bergerak karena keluh kesahku
Suara keluh termakan masa
Yang tak terdengar kan diabaikan

Lebih baik kubangkit
Daripada harus menderita
Dalam keluh kesah
Yang meletihkan hati

Syukur padamu Ya Allah
Kau telah memasukkan dalam hatiku
Hasrat untuk mengubah diri
Menumbuhkannya dengan kasih sayangMu

Kini kutumpahkan peluh dan darahku
Berbenah memperbaiki memantaskan diri
Untuk yang mencintai
Dan yang dicintai

Instantheisme

Instantheisme

Sebelumnya, saya berharap tidak ada yang menyalin tulisan saya tanpa izin. Sekarang, saya mulai agak militan karena beberapa tulisan saya disalin tanpa sepengetahuan saya. Harap beritahukan saya jika ingin menyalin tulisan saya, dan hargai si penulis dengan mencantumkan namanya. Ayo kita hentikan budaya plagiarisme.

Ayo kita mulai.

Kini kita hidup pada era yang serba instan. Transportasi instan, makan instan, kerja instan. Semua serba instan. Berbeda dengan orang-orang dulu membuat makanannya terlebih dahulu. Jika mereka ingin makan mie, mereka membuat adonan tepungnya dulu. Kemudian setelah adonan terbentuk mereka membentuk adonan tersebut menjadi mie. Tidak selesai di sana, mereka membuat bumbunya dari rempah-rempah yang masih alami. Setidaknya orang-orang dahulu ini meraih dua manfaat: terbebas dari kanker karena bahan kimia buatan, dan memiliki keahlian dalam memasak.

Sekarang? Lapar, tinggal rebus mie. Mereka kehilangan dua manfaat itu. Mereka tidak tahu cara membuat mie yang enak, dan mereka terkena kanker karena senyawa yang mengganggu tubuh mereka. 

Mereka tidak hanya kehilangan itu. Mereka juga kini kehilangan yang lainnya. Yaitu, menghargai proses. Dahulu, orang-orang lebih menghargai proses ketimbang hasil jadi. Kenapa? Karena proses akan mempengaruhi hasil secara mutlak. Tak percaya? Silakan Anda abaikan proses, kemudian lihat hasil akhirnya

Orang-orang mulai mendewakan keinstan-an. Instan adalah segalanya. Ingin kaya, mereka mencuri uang negara. Karena orang-orang yang bertuhankan instan itu tidak cuma satu-dua orang, dan sama-sama ingin kaya, mereka melakukan pencurian berjamaah. Jika yang bertuhankan Allah melakukan shalat berjamaah, maka yang bertuhankan instan melakukan korupsi berjamaah. Jangan pernah yakin kepada koruptor yang sedang shalat itu benar-benar beribadah kepada Allah (atau apapun itu, intinya Yang Maha Tunggal, Sang Pencipta).

Kita beranjak kepada penyembah instan madzhab lainnya. Lihatlah sekelompok orang yang mudah percaya itu. Ketika dia baca artikel di internet mengenai suatu kelompok, dan isinya itu yang jelek-jeleknya saja. Dia angguk-angguk tanda percaya. Dia mengiyakan apa yang dia lihat di depan matanya, tanpa mempertanyakan lebih lanjut tentang apa yang dia baca. Ketika di layarnya itu bilang orang ini kafir dan orang kafir itu halal darahnya, dia mengamininya, tetapi pada awalmua dia tidak berani membunuh. Tapi karena exposure yang terus menerus, dia akhirnya berani membunuh orang yang beda pemahamannya dengan dia. 

Hal ini menjadi masalah besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Bencana alam karena faktor manusia muncul dimana-mana. Mulai dari banjir hingga longsor. Tidak hanya bencana alam, tetapi juga bencana sosial. Dan bencana sosial lebih mencolok bagi saya ketimbang bencana alam, karena akar dari bencana alam yang disebabkan alam, dalam pandangan saya, adalah karena bencana sosial itu.

Ketika kita berbicara mengenai empati, manusia-manusia di zaman ini lebih miskin. Miskin akan kadar empati. Belakangan marak kasus orang tua yang menyiksa, memperkosa, bahkan membunuh anaknya sendiri. Yang lebih mengerikan, ada juga yang sebaliknya. Ini adalah salah satu contoh yang muncul karena kita menuhankan Instan itu. 

Merekalah orang-orang yang bertuhankan yang namanya instan itu. Mereka ingin segalanya serba cepat, sehingga dia tidak sadar bahwa dirinya sedang disetir pikirannya. Dan mereka secara tidak sadar menduakan Tuhannya (kafir terselubung?)
Kejahatan muncul karena menuhankan instan itu. Tuhan telah diduakan. Jika seseorang benar-benar menuhankan Tuhan (apapun sebutannya itu), saya yakin mereka tidak akan bernai melakukan kejahatan. Kenapa? Mereka takut kepada Tuhannya. Bisa jadi takut karena siksa-Nya, bisa juga takut kehilangan cinta-Nya. Bisa berbagai motif seseorang takut kepada Tuhan, dan motif itu akan menentukan seberapa besar kadar keimanannya kepada Tuhannya. 

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top