Instantheisme

Instantheisme

Sebelumnya, saya berharap tidak ada yang menyalin tulisan saya tanpa izin. Sekarang, saya mulai agak militan karena beberapa tulisan saya disalin tanpa sepengetahuan saya. Harap beritahukan saya jika ingin menyalin tulisan saya, dan hargai si penulis dengan mencantumkan namanya. Ayo kita hentikan budaya plagiarisme.

Ayo kita mulai.

Kini kita hidup pada era yang serba instan. Transportasi instan, makan instan, kerja instan. Semua serba instan. Berbeda dengan orang-orang dulu membuat makanannya terlebih dahulu. Jika mereka ingin makan mie, mereka membuat adonan tepungnya dulu. Kemudian setelah adonan terbentuk mereka membentuk adonan tersebut menjadi mie. Tidak selesai di sana, mereka membuat bumbunya dari rempah-rempah yang masih alami. Setidaknya orang-orang dahulu ini meraih dua manfaat: terbebas dari kanker karena bahan kimia buatan, dan memiliki keahlian dalam memasak.

Sekarang? Lapar, tinggal rebus mie. Mereka kehilangan dua manfaat itu. Mereka tidak tahu cara membuat mie yang enak, dan mereka terkena kanker karena senyawa yang mengganggu tubuh mereka. 

Mereka tidak hanya kehilangan itu. Mereka juga kini kehilangan yang lainnya. Yaitu, menghargai proses. Dahulu, orang-orang lebih menghargai proses ketimbang hasil jadi. Kenapa? Karena proses akan mempengaruhi hasil secara mutlak. Tak percaya? Silakan Anda abaikan proses, kemudian lihat hasil akhirnya

Orang-orang mulai mendewakan keinstan-an. Instan adalah segalanya. Ingin kaya, mereka mencuri uang negara. Karena orang-orang yang bertuhankan instan itu tidak cuma satu-dua orang, dan sama-sama ingin kaya, mereka melakukan pencurian berjamaah. Jika yang bertuhankan Allah melakukan shalat berjamaah, maka yang bertuhankan instan melakukan korupsi berjamaah. Jangan pernah yakin kepada koruptor yang sedang shalat itu benar-benar beribadah kepada Allah (atau apapun itu, intinya Yang Maha Tunggal, Sang Pencipta).

Kita beranjak kepada penyembah instan madzhab lainnya. Lihatlah sekelompok orang yang mudah percaya itu. Ketika dia baca artikel di internet mengenai suatu kelompok, dan isinya itu yang jelek-jeleknya saja. Dia angguk-angguk tanda percaya. Dia mengiyakan apa yang dia lihat di depan matanya, tanpa mempertanyakan lebih lanjut tentang apa yang dia baca. Ketika di layarnya itu bilang orang ini kafir dan orang kafir itu halal darahnya, dia mengamininya, tetapi pada awalmua dia tidak berani membunuh. Tapi karena exposure yang terus menerus, dia akhirnya berani membunuh orang yang beda pemahamannya dengan dia. 

Hal ini menjadi masalah besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Bencana alam karena faktor manusia muncul dimana-mana. Mulai dari banjir hingga longsor. Tidak hanya bencana alam, tetapi juga bencana sosial. Dan bencana sosial lebih mencolok bagi saya ketimbang bencana alam, karena akar dari bencana alam yang disebabkan alam, dalam pandangan saya, adalah karena bencana sosial itu.

Ketika kita berbicara mengenai empati, manusia-manusia di zaman ini lebih miskin. Miskin akan kadar empati. Belakangan marak kasus orang tua yang menyiksa, memperkosa, bahkan membunuh anaknya sendiri. Yang lebih mengerikan, ada juga yang sebaliknya. Ini adalah salah satu contoh yang muncul karena kita menuhankan Instan itu. 

Merekalah orang-orang yang bertuhankan yang namanya instan itu. Mereka ingin segalanya serba cepat, sehingga dia tidak sadar bahwa dirinya sedang disetir pikirannya. Dan mereka secara tidak sadar menduakan Tuhannya (kafir terselubung?)
Kejahatan muncul karena menuhankan instan itu. Tuhan telah diduakan. Jika seseorang benar-benar menuhankan Tuhan (apapun sebutannya itu), saya yakin mereka tidak akan bernai melakukan kejahatan. Kenapa? Mereka takut kepada Tuhannya. Bisa jadi takut karena siksa-Nya, bisa juga takut kehilangan cinta-Nya. Bisa berbagai motif seseorang takut kepada Tuhan, dan motif itu akan menentukan seberapa besar kadar keimanannya kepada Tuhannya. 

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top