Menangis, cengeng kah?

Setiap mata dianugrahi kemampuan untuk menangis, yang telah dimulai semenjak usia kecil. Menangis adalah benar-benar anugerah baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Secara lahiriah, menangis mampu membersihkan mata dari kotoran yang akan merusaknya, mengeluarkan zat-zal yang tidak penting bagi tubuh (atau bahkan mengganggu), dan mencegah timbulnya beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh keadaan jiwa, semisal penyakit liver dan jantung.

Lalu apa manfaatnya secara batiniah? Kita perlu membedakannya terlebih dahulu antara menangis dan cengeng. Cengeng adalah menangis untuk alasan yang sebetulnya tak perlu ditangisi, atau dengan kata lain, sedikit-sedikit menangis. Tapi bukan berarti banyak menangis itu tanda cengeng. Alasan menangis perlu reasonable, misalnya menangis karena meninggalnya seseorang yang dicintai, itu bukanlah tanda cengeng karena sudah cukup beralasan. Dengan kata lain, telah mencapai treshold. Bahasan treshold ini tidak akan masuk di sini karena nantinya tulisan ini jadi terlalu ilmiah. 

Ada beberapa alasan orang itu menangis. Bisa jadi karena tangis komunal (alias ikut-ikutan menangis), tangis kemunafikan, atau memang tangisan yang berasal dari hati. Kita tidak akan membahas bagaimana cara melihat termasuk yang mana tangisan seseorang itu, tapi kita akan membahas sedikit tentang tangis dari hati, dan tampaknya tidak akan ilmiah, karena memang bukan karya ilmiah. Iya kan? :)

Kata orang, menangis adalah tanda kelembutan hati. Memang benar, jika tangisan tersebut berasal dari dalam hati. Orang yang mudah menitikkan air kala dihadapkan hal-hal yang menyentuh hati, semisal melihat seorang ibu dengan baju compang-camping menggigil karena kehujanan, maka ia adalah seseorang yang berhati lembut.

Saya tidak akan mengutip apapun, tapi saya teringat akan Rasulullah. Dalam mindset saya, Rasulullah adalah panutan yang penuh kasih lagi lembut hatinya. Ia tidak pernah menyakiti siapa pun, dan ketika ia disakiti ia akan segera memaafkannya. Dan saya teringat akan kisah beliau menitikkan air mata. Diantaranya adalah ketika beliau memohonkan ampunan bagi orang yang menyakitinya, termasuk yang telah membunuh orang-orang yang dicintainya. (sekali lagi saya sedang tidak ingin memainkan dalil, sedang membuka ingatan saja secara ringan)

Bisa kau bayangkan, bagaimana memaafkan orang yang telah menyakiti diri kita? Bukanlah perkara mudah memaafkan kesalahan yang begitu fatal. Tapi Rasulullah adalah Kekasih Ilahi yang lembut hatinya dan indah tutur katanya. Dan dibalik lembutnya setiap hati yang tulus tersimpan kekuatan yang dahsyat, Bukankan memaafkan orang yang telah menyakiti hati kita begitu dalam itu luar biasa hebat?

Selain itu, tangisan juga meringankan beban psikologis. Orang yang menangis itu sedang meluapkan emosinya dan meledakannya, sehingga emosi tersebut tidak lagi membebaninya (secara berlebih). Orang yang menahan tangisan akan lebih rentan terhadap gangguan psikologis atau bagian neurologis. Pernah melihat balon atau ban meletus? Itu salah satu analogi terbaik untuk menggambarkannya. Udara adalah emosi dan balon itu jiwa (atau otak) kita. Jika sudah melebihi batas, ia akan merusak balon atau ban tersebut. Demikian pula dengan yang telah disebutkan sebelumnya.

Tebeci… Telor Bebek Cinta.
Eh salah, to be continued. Doakan agar aku tidak lupa melanjutkan tulisan ini.

Ngroook zzzz

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top