Gundah

 Entah bagaimana aku harus mengubahnya menjadi kata-kata... Tapi biarkan aku mencobanya.


Sebentar lagi, kontrak kerjaku akan habis. Kurang lebih dua bulan lagi. Dan kini keadaanku sedang galau akan itu. Entah bagaimana status kedepannya. Jika sampai diputus, aku sendiri bingung karena mencari pekerjaan sekarang sulit. Dan juga, aku sudah mulai merasakan kenyamanan di tempatku bekerja. Berpindah lingkungan itu, tidak mudah.

Dan seperti kubilang tadi, mencari pekerjaan sekarang benar-benar susah. Di momen aku jatuh dalam pekerjaan, aku berusaha bangkit sambil meminta pertolongan ke tempatku bekerja. Dan ketika aku diberi kesempatan, aku kembali mencoba. Walaupun emosi negatif kadang mendominasi dan keinginan untuk menyudahi keluar, aku tetap berusaha untuk bertahan. Dan hingga kini berada dalam posisi yang baik. Namun, status masih tetap saja menghantui.

Aku memiliki banyak hal yang harus kubiayai. Selain hidupku sendiri, juga hidup orang tuaku perlu aku dukung pula. Jika pemasukanku berakhir, dan belum tentu segera, atau bahkan mendapatkan pelanjutnya, bagaimana keluargaku hidup?

Dan yang paling sesak, baru saja perusahaan tempatku bekerja membuka lowongan kerja untuk posisi yang serupa sepertiku. Walaupun entah bagaimana, ah sulit bagiku untuk mengucapkannya... Karena, pernah kubaca apabila perusahaan membuka lowongan serupa dengan karyawan kontrak yang akan habis masa kontraknya, maka itu adalah tanda bahwa kontrak tidak akan dilanjutkan.

Wallahu a'lam. Entahlah...

Dan gundah pun berlanjut.

Besok sabtu, bolehkah aku melupakan gundahku sejenak?

Hari Paling Cepat

Hari apa yang paling cepat? Bagiku, hari Sabtu.

Kemarin pun, rasanya hari begitu cepat berlalu. Di hari Sabtu, aku berusaha "sadar" dengan kehidupan yang sedang kujalani. Istilah bahasa Inggrisnya "living the life", benar-benar hadir dalam hidupku. Internet di sekitarku kumatikan (kecuali akses internet untuk keluarga; hanya yang pribadi saja yang dimatikan). Aku berusaha hidup apa yang ada di depan mata.

Selain ingin benar-benar "hidup", aku pun lelah dengan internet yang menjadi mata pencaharianku sehari-hari. Lelah. Aku pun hingga membuat kalimat ketika aku terkenang kehidupan masa lalu dan menghadapi apa yang kualami sekarang ini: "Dulu, terkoneksi dengan internet adalah barang mahal. Sekarang, terdiskoneksi dengan internet adalah barang mahal".

Intinya, aku sangat menikmati dan ingin menikmatinya. Jangan ganggu hari Sabtuku, satu-satunya hari dimana aku bisa benar-benar hidup. Hidup semau yang kuinginkan. Dan salah satunya, hidup tanpa internet.

Ah ya, terkait pekerjaan, aku pun ingin kerja di tempat yang bisa menghargai hari Sabtuku ini. Misalnya di pekerjaanku kali ini, aku bisa menggunakan hari Sabtuku untuk memulihkan diri. Dan tentu, karena ia telah memberikan Sabtu, aku berusaha setia dengannya. Karena aku bisa memeroleh kehidupan tanpa mengorbankan hari Sabtuku.

Jangan hubungi aku lewat media internet di hari Sabtu. Aku berusaha untuk selalu berkomitmen dengan ini. Aku hanya tersedia lewat telepon seluler biasa, dan dalam artian lain aku pun tersedia melalui SMS.

Dan sekarang Minggu. Welcome, Sunday Anxiety.

SIlaturahmi

Ada perlunya baru datang. Kemana saja?

Entah ini hanya terjadi di Indonesia saja belakangan ini, atau di tempat lain pun banyak terjadi. Ya, ini belakangan sering terjadi padaku. Ada orang yang lama menghilang, tiba-tiba datang membuat repot. Setelahnya menghilang lagi. Memangnya aku ini hanya alat yang butuh dicari dan setelahnya dibuang? Aku sabar dan terus bersabar. Namun, lama-lama aku juga muak dengan hal seperti itu.

Lama menghilang, kemudian datang dengan niat untuk kembali menyambungkan silaturahmi, saya sangat-sangat senang dengan itu. Datang-datang untuk meminta tolong, kemudian setelahnya silaturahmi kembali terbentuk; aku senang juga dengan itu. Tapi setelah minta tolong kemudian menghilang begitu saja, aduh. Itulah yang aku paling tidak suka.

Dan ini bahkan terjadi pada orang yang sebenarnya (berkat orang tuanya) sangat saya hormati. Namun anaknya yang harusnya mengerti pun melakukan pola yang saya tak sukai itu. Ketika butuh minta tolong, ketika tidak dilupakan begitu saja. Tidak ada silaturahmi, tidak ada kata sapa sama sekali. Kalaupun aku bertemu di forum, sapa pun tidak terdengar. Bukannya ingin dihormati, tapi aku ingin silaturahmi. Aku hanya tak ingin dianggap sebagai alat.

Sudah saatnya mencari lingkungan baru. Saatnya mempersiapkan untuk migrasi.

Paradoks Keterhubungan

Kita saat ini lebih terhubung dari beberapa dekade yang lalu. Berbicara pengalaman tanpa data, akselerasi teknologi telekomunikasi begitu pesat belakangan ini. Kita begitu terhubung, sampai-sampai kita terdiskoneksi. Sebenarnya saya bingung mencari padanan kata yang enak untuk disconnected, sehingga saya buat sendiri istilah "diskoneksi" (walaupun entah sudah ada yang pakai duluan atau belum).

Mau hubungi orang, tanpa beranjak dari kasur pun tinggal kita kirimi pesan WhatsApp. Ingin tahu orang sedang apa, buka Instagram. Ingin tahu trend terbaru, buka Twitter. Dan demikian dan demikian. Begitu seringnya kita melakukan itu sehingga perlahan semuanya itu terasa seperti realita. Tersedot dalam hingga kita lupa bumi yang kita pijaki sebenarnya.

Dari kejadian yang paling sering kita lihat sekarang ini misalnya, seseorang yang asyik mengendari kendaraan sambil main media sosial. Hal ini bukan sekali dua kali saya lihat, sangat sering malah. Dan banyak kejadian kecelakaan karena hal itu. Orang begitu tersedot ke dunia lain hingga lupa di dunia nyata dia sedang apa.

Dia terdiskoneksi dari dunia realita.

Yang paling menyedihkan adalah; ketika keluarga, atau teman-teman, atau sebutlah nama hubungan lainnya, sedang membangun kehangatan di dunia nyata, kemudian ada satu orang yang tenggelam ke dunia lainnya tersebut. Mungkinkah kehangatan terbentuk?

Bukan berarti teknologi baik; semuanya akan baik jika digunakan pada porsinya. Kalau terlalu berlebihan, semuanya akan menjadi racun. Termasuk, teknologi telekomunikasi. Jika ia sampai membuat kecanduan, yang dihadirkan hanyalah distopia.

Sudah menyaksikan distopia akibat penggunaan teknologi telekomunikasi, terutama media sosial, yang terjadi seperti apa?

Saksikan dari narsisisme hingga terjadinya arogansi.

Hilangnya empati.

Dekat.

Namun jauh.

5 Juli

Genap 28 tahun kuhidup di dunia ini. Dan pula tepat di hari ini aku dilahirkan, Selasa. Dua puluh delapan tahun. Bagi banyak orang, ulang tahun adalah momen bahagia. Namun, rasanya di ulang tahunku kali ini, aku tak merasakannya. Malah sebaliknya.

Orang menyebut perasaanku ini sebagai Quarter Life Crisis. Namun, setelah kupelajari, rasanya tidak sepenuhnya demikian. Ya, aku memang merasakan gundah akan masa depan; semuanya terasa blank. Tapi tidak hanya itu saja. Aku merasakan kerinduan yang amat berat kepada masa lalu, dan rasa-rasanya aku ingin kembali, ingin hidup di sana saja selamanya.

Kenyataan bagiku kini rasanya begitu berat untuk dibawa di bahuku. Bersyukur aku kini memiliki kerjaan. Namun dari pekerjaanku ini mulai muncul berbagai kekhawatiran, termasuk "ketidakstabilan" yang merupakan sifat alamiah dari pekerjaan kontrak. Kontrakku berakhir sebentar lagi, entah akan diperpanjang atau tidak. Dan belum tentu aku akan mendapatkan lagi pekerjaan jika kontrakku tidak diperpanjang. Dan masih banyak yang perlu dibiayai. Tak hanya aku saja. Orang tuaku pun banyak kebutuhan yang perlu aku penuhi dan kewajiban mereka yang kutunaikan. Dan ada beberapa orang yang hidupnya bergantung denganku, dan diriku bergantung pada seutas tali tipis ini...

Ah Gusti, beratnya hidup kini. Aku, di ulang tahunku hari ini, punya keinginan yang aku sendiri tahu itu tak mungkin: kembali ke masa lalu. Selalu terngiang akan indahnya masa lalu. Semuanya masih lebih melegakan dari yang terjadi kini. Walaupun teknologi tak secanggih sekarang (dan rasanya, teknologi yang canggih malah membuat hidup makin kompleks), hidup lebih mudah dan sederhana.

Dan, hidup tak terasa sendiri. Walaupun kini aku memiliki teman, aku merasa kesepian. Entah mengapa. Dahulu, aku pun memiliki teman. Tapi tak merasa kesepian seperti ini. Perasaan ini mulai mengganggu setahun setelah aku lulus SMA, sekitar 2013an. Dan mungkin salah satu pencetus rusaknya komunikasiku dengan teman-teman adalah ketika "perang" di tahun 2014. 

Kita tahu sendiri tahun 2014 panasnya dunia politik juga merambah ke keseharian kita, Banyak orang yang putus silaturahminya akibat preferensi politik. Dan banyak dari kawanku yang berbeda haluan dan kemudian menjaga jarak denganku dan memutuskan hubungannya denganku. Mungkin, ini bodohnya aku juga yang terlalu bersemangat dengan preferensi politikku sendiri dan terlalu menampakkan diri.

Dan kini kusesali; aku kini tak akan pernah menampakkan preferensi politik dan agamaku. Biarkan itu hanya menjadi pemikiranku yang kutulis untuk diriku sendiri, atau diskusi yang tertutup.

Aku rindu masa lalu. Ketika aku lihat cadangan perpesananku dari era 2006-2011an, selalu menggelitik dan membuat rindu. Betapa menyenangkannya komunikasi waktu itu, meski aku jauh lebih kikuk dulu ketimbang sekarang. HP itu menjadi selalu yang senang kupegang, berbeda jauh dari yang terjadi sekarang. HP menjadi momok yang menakutkan kini, yang aku takut ketika kubuka isinya yang lain-lain. Yang memarahi, yang menghakimi...

Dan, dulu aku tak punya beban seberat ini. Kalaupun ada, tidak seberat sekarang ini, dan ada selalu mereka yang meringankan bebanku, walau setidaknya hanya membuat lupa. Yang dulu kulakukan hanya main, dan tak punya tanggung jawab berat. Tanggung jawab hanyalah belajar saja...

Tuhan...
Tuhan...
Kurindu...

Dan kalaupun kuakhiri tulisan ini karena waktu menjelang, yang kuhadapi kembali adalah kelam... Akankah ada di masa depan waktu ketika aku berhenti menulis, kemilau warna yang menyambut?

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top