Paradoks Keterhubungan

Kita saat ini lebih terhubung dari beberapa dekade yang lalu. Berbicara pengalaman tanpa data, akselerasi teknologi telekomunikasi begitu pesat belakangan ini. Kita begitu terhubung, sampai-sampai kita terdiskoneksi. Sebenarnya saya bingung mencari padanan kata yang enak untuk disconnected, sehingga saya buat sendiri istilah "diskoneksi" (walaupun entah sudah ada yang pakai duluan atau belum).

Mau hubungi orang, tanpa beranjak dari kasur pun tinggal kita kirimi pesan WhatsApp. Ingin tahu orang sedang apa, buka Instagram. Ingin tahu trend terbaru, buka Twitter. Dan demikian dan demikian. Begitu seringnya kita melakukan itu sehingga perlahan semuanya itu terasa seperti realita. Tersedot dalam hingga kita lupa bumi yang kita pijaki sebenarnya.

Dari kejadian yang paling sering kita lihat sekarang ini misalnya, seseorang yang asyik mengendari kendaraan sambil main media sosial. Hal ini bukan sekali dua kali saya lihat, sangat sering malah. Dan banyak kejadian kecelakaan karena hal itu. Orang begitu tersedot ke dunia lain hingga lupa di dunia nyata dia sedang apa.

Dia terdiskoneksi dari dunia realita.

Yang paling menyedihkan adalah; ketika keluarga, atau teman-teman, atau sebutlah nama hubungan lainnya, sedang membangun kehangatan di dunia nyata, kemudian ada satu orang yang tenggelam ke dunia lainnya tersebut. Mungkinkah kehangatan terbentuk?

Bukan berarti teknologi baik; semuanya akan baik jika digunakan pada porsinya. Kalau terlalu berlebihan, semuanya akan menjadi racun. Termasuk, teknologi telekomunikasi. Jika ia sampai membuat kecanduan, yang dihadirkan hanyalah distopia.

Sudah menyaksikan distopia akibat penggunaan teknologi telekomunikasi, terutama media sosial, yang terjadi seperti apa?

Saksikan dari narsisisme hingga terjadinya arogansi.

Hilangnya empati.

Dekat.

Namun jauh.

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top