Don't know what to say now
Don't know where to start
I don't know how to handle
A complicated heart

You tell me, you are leaving
But I just have to say
Before you throw it all away

Even if you want to go alone
I will be waiting when you're coming home
And if you need someone to ease the pain
You can lean on me, my love will still remain

Don't know what you're thinking
To me it seems quite tough
To hold a conversation
When words are not enough

So this is your decision
And there's nothing I can do
I can only say to you

Even if you want to go alone
I will be waiting when you're coming home
If you need someone to ease the pain
You can lean on me, my love will still remain

If this is your decision
And there's nothing I can do
I can only say to you

Even if you want to go alone
I will be waiting when you're coming home
If you need someone to ease the pain
You can lean on me, my love will still remain

Even if you want to go alone
I will still love you when tomorrow comes
When you need someone to ease the pain
You can lean on me, my love will still remain

MLTR - Complicated Heart

Makin dihempas, makin dalam mengakar
Pada awalnya ia akan goyah
Seiring waktu menjadi kokoh
Karena yakinnya yang kuat

Meski rindu itu tidak semenyakitkan dulu
Karena aku mulai belajar bagaimana merindu
Ia tetap mengoyak dada yang merindukan

Kehadiran sang kekasih senantiasa dirindukan
Yang nampak di tengah ufuk kerinduan
Gelegak ombak desiran dalam perindu itu
Senantiasa mengarungi samudra jiwa.

Dingin di sini
Hujan baru saja usai bertemu bumi
Rintik-rintiknya membasahi tanah yang kering
Menumbuhkan kembali hijau yang menguning

Tanah ditumbuk jutaan titik air
Langit gelap angin menghempas
Guntur menggelegar getarkan jendela
Langit biru sekejap hitam mencekam

Tak lama hujan reda
Mentari menunjukkan senyumnya
Pelangi gemilang bersinar
Seolah menunjukkan indahnya perbedaan

Biarlah corak pelangi menghiasi ujung pandangmu
Senyum sang mentari melahirkan adanya
Saksikan warna-warninya yang indah itu
Masihkah ingat badai tadi?

Itulah yang kuyakini
Badai itu harus kuhadapi
Untuk menuju kebahagiaan
Selamanya, bersamamu

Badai itu bernama penempaan diri

Kupu-kupu itu ulat yang ditempa
Berbagai rintangan
Duka, sakit, perih…
Sepi, rindu…

Demikian pula dengan urusan hati

Tak hanya diri
Ia harus ditempa
Agar berbentuk indah

Bukan hanya manis dan senyum
Ia hambar tanpa pahit dan pedas
Ia tak bermakna tanpa torehan

Seperti lautan
Tanpa gejolak ia takkan indah
Tiada gemerlap karena gelombang
Ia hanya akan menjadi hamparan biru yang datar.

Kapan-kapan kita ke pantai yuk? :)

Merindu
Satu kata yang tak cukup menggambar semua
Ia tak begitu menyakitkan lagi seperti dulu
Kini ia melukiskan keindahan
Di tengah sepi penantian

Tak hanya mewarnai
Setelahnya ia menerangi
Memperjelas semuanya
Kuharap kau bisa melihatnya :)

Suara denting harmoni
Kala genta dipertemukan angin
Logam dihantam pasangannya
Tanpanya senandung indah itu hanya semu

Masalah menghantam itu
Untuk menghadirkan senandung cinta
Dengannya dua hati terbentuk indah
Tersambung mencipta simfoni

Bukankah cinta itu beragam rasa?
Tak hanya senang tak selalu duka
Untaian rasa itu mencipta pelangi
Yang indah melukis seribu kisah.

Terima kasih untuk ujianmu
Aku paham maksudmu
Akan kuhadapi seluruh itu
Samudra bergulung ombak
Lembah yang berliku
Gunung yang terjal

Untukmu
Agar aku mampu bersamamu, selamanya.

Akan tetapi,
Kala aku lelah
Izinkan aku beristirahat di bahumu
Menceritakan semua kisah
Yang memberatkan hatiku
Yang menyesakkan dadaku
Yang mencipta air mataku
Selalu kuharapkan dirimu, selalu

...

Tunggu aku di sana, di ufuk kerinduan itu :)

Life is full of lots of up and downs
And the distance feels further
When you're headed for the ground
And there is nothing more painful than to let your feelings take you down
It's so hard to know the way you feel inside
When there's many thoughts and feelings that you hide
But you might feel better if you let me walk with you
By your side

And when you need a shoulder to cry on
When you need a friend to rely on
When the whole world is gone
You won't be alone, cause I'll be there
I'll be your shoulder to cry on
I'll be there
I'll be a friend to rely on
When the whole world is gone
You won't be alone, cause I'll be there

All of the times when everything is wrong
And you're feeling like
There's no use going on
You can't give it up
I hope you work it out and carry on
Side by side,
With you till the end
I'll always be the one to firmly hold your hand
No matter what is said or done
Our love will always continue on

Everyone needs a shoulder to cry on
Everyone needs a friend to rely on
When the whole world is gone
You won't be alone cause I'll be there
I'll be your shoulder to cry on
I'll be there
I'll be the one you rely on
When the whole world's gone
You won't be alone
'Cause I'll be there

And when the whole world is gone
You'll always have my shoulder to cry on.

----
Maaf, baru kusadari hembus bisikmu
Yang merasuk sukma
Dahulu kubertanya, apa ini?

Pertanyaanku terjawab sudah



Hei kau, ini aku. Tunggulah. 
Aku sedang mendaki gunung yang terjal dan lembah yang berliku
Tapi yakin aku akan sampai
Tunggulah :)

Ebiet G. Ade - Apakah Ada Bedanya

Apakah ada bedanya
Hanya diam menunggu
Dengan memburu bayang-bayang?
Sama-sama kosong

Kucoba tuang ke dalam kanvas
Dengan garis dan warna-warni
Yang aku rindui

Apakah ada bedanya
Bila mata terpejam?
Fikiran jauh mengembara
Menembus batas langit

Cintamu telah membakar jiwaku
Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala
Dan fikiranku

Di bumi yang berputar, pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit, halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran

Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli
Aku tak peduli, aku tak peduli

Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
Dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
Di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
Dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka

...

Tunggulah di sana, aku akan segera datang.
Janganlah kemana-mana ya :)

Waktu itu.. Hingga kini

Derita

Lonceng sudah berbunyi tujuh kali, udara mulai mendingin. Tanda sudah jam 7 malam, saatnya aku kembali ke rumah. Kukemas minyak-minyak itu, dan kusimpan serapinya, semampuku. Kotak merah itu selalu setia menemaniku. Dengannya aku jemput rezeki.

Kulangkahkan diriku menyusuri jalan. Gelapnya keadaan ditemani sempoi dinginnya angin sering kali membuatku menabrak apa yang ada di depanku. Tak jarang pula aku terperosok ke dalam lubang. Tak ada penerangan yang mampu meneranginya karena tak ada hubungan menuju sumber energinya. Kugunakanlah satu-satunya sumber cahaya yang kumiliki, sumber cahaya tak perlu energi.

Beginilah keseharianku. Mencari rejeki Tuhan yang tersemai di dunia. Setiap derap perjuangannya kunikmati, kuyakin langkah demi langkah mencari nikmat dariNya merupakan langkah yang mendekatkanku padaNya. Sepuluh-duapuluh ribu hasil memijat kuperjuangkan untuk anak dan istriku. Titik-titik peluh tertumpah diatas bumi, merintih lirih demi apa yang kuperjuangkan.

“Tak terkira bahagianya ketika melihat mereka lahap memakan makanan dari nikmatNya yang kuyakin halal.”

Tiba-tiba aku diberhentikan seseorang. Ia memintaku menanti dirinya membuatkan sesuatu bagiku. Kemudian ia memberikan bungkusan yang berisi makanan dan minuman, yang tak kutahu apa itu jenisnya. Dia selalu seperti itu, memberhentikanku untuk memberikan aku sesuatu yang amat berharga itu. Kutahu ia seorang yang hatinya memancarkan kebaikan dan ketulusan.

Rejeki Tuhan datang melalui berbagai arah, tanpa terduga.

Siang dan malam tidak ada bedanya bagiku, semua selalu gelap. Aku teringat kala aku pertama kali memasuki dunia yang gelap itu. Sekitar sepuluh tahun lalu, aku berkendara dengan kecepatan tinggi untuk mengejar ketertinggalanku dalam tes CPNS. Hampir-hampir aku terlambat.  Alih-alih sampai ke tujuan, aku mengalami kecelakaan. Aku terpental dari motorku karena menabrak mobil yang sedang menggunakan hak lampu hijaunya. Aku memang melanggar lampu lalu lintas.

Aku terkapar tak sadarkan diri. Kata orang, aku berlumuran darah. Motorku hancur hampir tak berbentuk. Kala kumulai sadarkan diri, aku merasakan tulang kaki kananku patah. Kucoba buka mata, semuanya gelap! 

Aku hanya mampu menangis, betapa teledor diriku. Kini kusesali, aku terlalu sering mengabaikan pemberian Tuhan padaku. Waktu, tubuh, jiwa. Kini aku kehilangan penglihatanku. Tuhan mengambil sebagian nikmat yang telah Ia berikan.

Kini tongkatku yang menjadi mataku, menjadi sumber cahaya yang tak perlu energi. Ia menemani keseharianku, melindungi aku dari terperosoknya diriku ke dalam lubang dan menabrak apa yang ada di depanku. 

Meski demikian, aku masih punya alasan untuk bersyukur: aku masih bisa bernapas.

Dan Dia mengambil nikmat itu sebagai bukti cintaNya. Ia ingin aku kembali dekat pada-Nya melalui dimensi yang tak mampu ditarjamah manusia biasa.

Bukankah itu indah? Semua bergantung bagaimana kita melihat sesuatu. Bahagia bisa menjadi derita, derita bisa menjadi bahagia.

Oh nak, sekiranya kau menganggap apa yang kau hadapi kini sebagai derita, maka renungkanlah apa yang terjadi padaku. Kau berkeluh kesah akan kuliahmu yang sulit. Kau bersedih karena tak mampu membeli apa yang kau mau. Kau berduka akan kehilangan seseorang yang mengkhianatimu.

Nak, deritamu itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan deritaku. Tapi deritaku belum ada apa-apanya dibandingkan derita cucu Nabi Tercinta. Mungkin, aku hanya tidak bisa melihat dunia dengan mataku, tapi aku masih mampu melihat dengan mata hatiku.

Akan tetapi, tahukah apa yang terjadi pada sang cucu nabi? Nak, ingatlah Husain: bukan simbol perjuangan suatu kelompok tertentu, melainkan simbol perjuangan kemanusiaan. Ingatlah peristiwa di salah satu tempat di Irak yang pernah kakekmu ceritakan di surau kala itu, kala acara Tabuik itu. Bukankah kau juga pernah baca juga di perpustakaan pesantren waktu dulu kan? Ratusan orang ikut dengan beliau melawan ribuan pasukan yang diperintahkan oleh orang yang mengaku mengikuti agama kakeknya. 

Di tengah-tengah perjalanannya, satu per satu orang meninggalkannya. Meninggalkannya karena lebih memilih dunia ketimbang ikut bersama Sang kekasih yang mengantarkan kepada Telaga Abadi. Dikhianati; sahabat-sahabat setianya dibunuh, keluarga tercintanya ditembus anak panah mereka ditengah kehausan karena ditutupnya sumber air ke perkemahan mereka. Sang bayi dari keluarga itu, yang tak berdosa, pun tak luput dari anak panah mereka. Oh duhai! Apa pasal kerongkongan anak kecil kecintaan Husain harus tertembus panah itu? Apa dosanya?

Nak, semoga kau masih ingat cerita itu. Tak kuat aku menahan gelagak air mata duka, terlalu menyakitkan, lebih menyakitkan daripada yang aku alami. Maka, saksikanlah, ada yang lebih menderita darimu. Masihkah pantas apa yang kau alami itu kau sebut sebagai derita?

Sahabat kenanglah derita berat
Yang kini menyesakkan ruang batinmu
Meremuk redam hancurkan mimpi
Meniti asa yang tak pasti

Keluh terdengar rintihan semakin menjadi
Seolah diri berat diuji
Menelan kelam peluh tak berperi
Lupa akan nikmat Ilahi

Kenanglah…Al Husain…
Derita sebagai tanda cinta
Ya Husain…Ya Husain…
Mengenangmu bangkitkan asa
Bahwa hidup adalah cinta suci
Kau persembahkan untuk Ilahi

Gemuruh dada menghentak gelisah mengisi
Kehilangan kawan sejati
Cintamu padam hatimu sunyi
Hilang semua harga diri

Sahabat masihkah batinmu meronta sepi
Setelah Al-Husain kau tangisi
Wajahmu muram merenung diri
Adakah cinta yang kau beri?

Kenanglah…Al Husain…
Derita sebagai tanda cinta
Ya Husain…Ya Husain…
Mengenangmu bangkitkan asa
Bahwa hidup adalah cinta suci
Kau persembahkan untuk Ilahi

Syair: Miftah Fauzi Rakhmat
Maaf
Kala itu
Kau duduk di sebelahku
Tak kudengar bisikanmu
Tak kusaksikan gerakmu
Sehingga kau memilih
Menatap langit yang lain

Aku sadari
Semuanya

Maaf...
Semoga detak detik masih berpihak
Pada api baru yang menerangi sekeliling lilin

Lihatlah aku lagi!
Tatap aku lagi!
Jangan tinggalkan aku
Aku akan kembali
Segera, setelah tali temali penghalang itu
Mampu teratasi
Meski tak mudah
Tapi bukanlah tak mungkin

Karena kelak akan ada masanya
Aku tak lagi aku
Kamu tak lagi kamu
Tapi
Aku dan kamu adalah kita

Kita

Selamanya

Aku berjanji

Tunggulah di sana ya :)

Ah, aku merindukan saat-saat itu
Melantunkan shalawat barengan, bersama-sama itu
Di masjid dekat sekolah itu
Dengan shalawat yang asing di telinga itu
Yang kini mengantarkan aku kepada agama cinta.

Muhammad Nizami, Ahmad Zaki Ghifari, Kasyfurrahman, Adam Aulia Rahmadi.

Sesal

Dinginnya malam ini menusuk hingga tulangku. Tetes demi tetes air kiriman langit membasahi bumi. Kupinggirkan gerobak yang berisi penghidupanku. Duduk, mengambil sebungkus nasi yang kubeli dari warteg. Kusantap makanan ala kadarnya itu. Mungkin bagi banyak orang, makanan ini hina. Tapi, bagiku inilah anugerah Tuhan. Nasi dan kuah sop itu, tak mudah bagiku mendapatkannya.

Kala itu siang yang panas, tarik mentari membakar ubun-ubun. Kuhitung uang yang baru saja dikirim oleh orang tuaku. Dua puluh lembar seratus ribuan. Kata orang tuaku, uang itu untuk membayarkan kuliahku yang kini telah menuntaskan empat semester. Ayahku seorang petani, sedangkan ibuku tidak memiliki penghasilan. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Tak banyak memang pemasukan ayahku itu. Duapuluh lembar itu hasil dari bantingan keras tulang ayahku.

Aku adalah satu-satunya anak dalam keluarga yang menempuh pendidikan tinggi di kota. Adik-adikku tak melanjutkan jenjang pendidikannya selepas SD, karena tidak ada dana. Aku berangkat ke kota untuk melanjutkan pendidikanku. Mereka percaya kepadaku suatu saat kelak aku akan mampu memperbaiki keadaan. Aku memikul beban yang tak sederhana pada kedua bahuku. Aku harus berjuang demi mereka.

Tahun pertama; semester satu, semester dua, semua berjalan lancar. Kuliah mendapatkan tempat yang spesial. Tak pernah nilaiku kurang dari 4.0. Pergaulanku mulus. Aku menjadi bintang yang bersinar di kampus ku.

Tapi bersinarnya tak lama kemudian meredup.

Semester tiga semua berubah. Kuingat seorang temanku mengajak ke satu tempat yang begitu asing bagiku. Gemerlap cahaya memancar dari bola kristal yang berputar itu. Tak perlukan aku cerita kisah menyakitkan itu. Kuberitahu saja apa yang akhirnya terjadi padaku: aku menjadi seorang hedonis yang larut dalam candu buaian dunia.
Tak sampai dua puluh lembar seratus ribu rupiah kiriman itu kepada yang dimaksud pengirimnya. Aku drop-out karena tak bayar uang kuliah.

Kau akan mengerti mengapa.

Tak satupun beasiswa kucari. Di kelas, akulah biang merah padamnya wajah dosen. Tak pernah aku patuh padanya. Tiada buah karya tanganku yang memperbaiki hidup siapapun, termasuk diriku.

Orang tuaku menangis sedih, pupus harapannya yang telah diperjuangkan dengan tetesan peluh, cucuran darah, dan gelegak air mata. Mereka menghembuskan napas terakhirnya dalam kekecewaan yang amat luar biasa pada anaknya.

Sesalku menggelagak. Tak ada bekal yang kuambil karena gelapnya keadaan. Gelap, karena kututupi semua jendela hati, sehingga aku tak mendapatkan pancaran sinarNya. Aku lebih memilih berdansa dalam kegelapan. Tanpa kusadari, begitu banyak bekal yang mampu kuperjuangkan, berada di sekelilingku.

Tak ada guna menyalahkan masa lalu. Kuharap kau belajar dari sesalku ini. Biarkan gemintang menemaniku di tengah dinginnya malam. Selamat malam. Sehabis makananku ini, aku akan mencari bumi yang menerima pembaringan diri ini.

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top