Sesal

Dinginnya malam ini menusuk hingga tulangku. Tetes demi tetes air kiriman langit membasahi bumi. Kupinggirkan gerobak yang berisi penghidupanku. Duduk, mengambil sebungkus nasi yang kubeli dari warteg. Kusantap makanan ala kadarnya itu. Mungkin bagi banyak orang, makanan ini hina. Tapi, bagiku inilah anugerah Tuhan. Nasi dan kuah sop itu, tak mudah bagiku mendapatkannya.

Kala itu siang yang panas, tarik mentari membakar ubun-ubun. Kuhitung uang yang baru saja dikirim oleh orang tuaku. Dua puluh lembar seratus ribuan. Kata orang tuaku, uang itu untuk membayarkan kuliahku yang kini telah menuntaskan empat semester. Ayahku seorang petani, sedangkan ibuku tidak memiliki penghasilan. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Tak banyak memang pemasukan ayahku itu. Duapuluh lembar itu hasil dari bantingan keras tulang ayahku.

Aku adalah satu-satunya anak dalam keluarga yang menempuh pendidikan tinggi di kota. Adik-adikku tak melanjutkan jenjang pendidikannya selepas SD, karena tidak ada dana. Aku berangkat ke kota untuk melanjutkan pendidikanku. Mereka percaya kepadaku suatu saat kelak aku akan mampu memperbaiki keadaan. Aku memikul beban yang tak sederhana pada kedua bahuku. Aku harus berjuang demi mereka.

Tahun pertama; semester satu, semester dua, semua berjalan lancar. Kuliah mendapatkan tempat yang spesial. Tak pernah nilaiku kurang dari 4.0. Pergaulanku mulus. Aku menjadi bintang yang bersinar di kampus ku.

Tapi bersinarnya tak lama kemudian meredup.

Semester tiga semua berubah. Kuingat seorang temanku mengajak ke satu tempat yang begitu asing bagiku. Gemerlap cahaya memancar dari bola kristal yang berputar itu. Tak perlukan aku cerita kisah menyakitkan itu. Kuberitahu saja apa yang akhirnya terjadi padaku: aku menjadi seorang hedonis yang larut dalam candu buaian dunia.
Tak sampai dua puluh lembar seratus ribu rupiah kiriman itu kepada yang dimaksud pengirimnya. Aku drop-out karena tak bayar uang kuliah.

Kau akan mengerti mengapa.

Tak satupun beasiswa kucari. Di kelas, akulah biang merah padamnya wajah dosen. Tak pernah aku patuh padanya. Tiada buah karya tanganku yang memperbaiki hidup siapapun, termasuk diriku.

Orang tuaku menangis sedih, pupus harapannya yang telah diperjuangkan dengan tetesan peluh, cucuran darah, dan gelegak air mata. Mereka menghembuskan napas terakhirnya dalam kekecewaan yang amat luar biasa pada anaknya.

Sesalku menggelagak. Tak ada bekal yang kuambil karena gelapnya keadaan. Gelap, karena kututupi semua jendela hati, sehingga aku tak mendapatkan pancaran sinarNya. Aku lebih memilih berdansa dalam kegelapan. Tanpa kusadari, begitu banyak bekal yang mampu kuperjuangkan, berada di sekelilingku.

Tak ada guna menyalahkan masa lalu. Kuharap kau belajar dari sesalku ini. Biarkan gemintang menemaniku di tengah dinginnya malam. Selamat malam. Sehabis makananku ini, aku akan mencari bumi yang menerima pembaringan diri ini.

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top