Lonceng sudah berbunyi tujuh kali, udara mulai mendingin. Tanda sudah jam 7 malam, saatnya aku kembali ke rumah. Kukemas minyak-minyak itu, dan kusimpan serapinya, semampuku. Kotak merah itu selalu setia menemaniku. Dengannya aku jemput rezeki.
Kulangkahkan diriku menyusuri jalan. Gelapnya keadaan ditemani sempoi dinginnya angin sering kali membuatku menabrak apa yang ada di depanku. Tak jarang pula aku terperosok ke dalam lubang. Tak ada penerangan yang mampu meneranginya karena tak ada hubungan menuju sumber energinya. Kugunakanlah satu-satunya sumber cahaya yang kumiliki, sumber cahaya tak perlu energi.
Beginilah keseharianku. Mencari rejeki Tuhan yang tersemai di dunia. Setiap derap perjuangannya kunikmati, kuyakin langkah demi langkah mencari nikmat dariNya merupakan langkah yang mendekatkanku padaNya. Sepuluh-duapuluh ribu hasil memijat kuperjuangkan untuk anak dan istriku. Titik-titik peluh tertumpah diatas bumi, merintih lirih demi apa yang kuperjuangkan.
“Tak terkira bahagianya ketika melihat mereka lahap memakan makanan dari nikmatNya yang kuyakin halal.”
Tiba-tiba aku diberhentikan seseorang. Ia memintaku menanti dirinya membuatkan sesuatu bagiku. Kemudian ia memberikan bungkusan yang berisi makanan dan minuman, yang tak kutahu apa itu jenisnya. Dia selalu seperti itu, memberhentikanku untuk memberikan aku sesuatu yang amat berharga itu. Kutahu ia seorang yang hatinya memancarkan kebaikan dan ketulusan.
Rejeki Tuhan datang melalui berbagai arah, tanpa terduga.
Siang dan malam tidak ada bedanya bagiku, semua selalu gelap. Aku teringat kala aku pertama kali memasuki dunia yang gelap itu. Sekitar sepuluh tahun lalu, aku berkendara dengan kecepatan tinggi untuk mengejar ketertinggalanku dalam tes CPNS. Hampir-hampir aku terlambat. Alih-alih sampai ke tujuan, aku mengalami kecelakaan. Aku terpental dari motorku karena menabrak mobil yang sedang menggunakan hak lampu hijaunya. Aku memang melanggar lampu lalu lintas.
Aku terkapar tak sadarkan diri. Kata orang, aku berlumuran darah. Motorku hancur hampir tak berbentuk. Kala kumulai sadarkan diri, aku merasakan tulang kaki kananku patah. Kucoba buka mata, semuanya gelap!
Aku hanya mampu menangis, betapa teledor diriku. Kini kusesali, aku terlalu sering mengabaikan pemberian Tuhan padaku. Waktu, tubuh, jiwa. Kini aku kehilangan penglihatanku. Tuhan mengambil sebagian nikmat yang telah Ia berikan.
Kini tongkatku yang menjadi mataku, menjadi sumber cahaya yang tak perlu energi. Ia menemani keseharianku, melindungi aku dari terperosoknya diriku ke dalam lubang dan menabrak apa yang ada di depanku.
Meski demikian, aku masih punya alasan untuk bersyukur: aku masih bisa bernapas.
Dan Dia mengambil nikmat itu sebagai bukti cintaNya. Ia ingin aku kembali dekat pada-Nya melalui dimensi yang tak mampu ditarjamah manusia biasa.
Bukankah itu indah? Semua bergantung bagaimana kita melihat sesuatu. Bahagia bisa menjadi derita, derita bisa menjadi bahagia.
Oh nak, sekiranya kau menganggap apa yang kau hadapi kini sebagai derita, maka renungkanlah apa yang terjadi padaku. Kau berkeluh kesah akan kuliahmu yang sulit. Kau bersedih karena tak mampu membeli apa yang kau mau. Kau berduka akan kehilangan seseorang yang mengkhianatimu.
Nak, deritamu itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan deritaku. Tapi deritaku belum ada apa-apanya dibandingkan derita cucu Nabi Tercinta. Mungkin, aku hanya tidak bisa melihat dunia dengan mataku, tapi aku masih mampu melihat dengan mata hatiku.
Akan tetapi, tahukah apa yang terjadi pada sang cucu nabi? Nak, ingatlah Husain: bukan simbol perjuangan suatu kelompok tertentu, melainkan simbol perjuangan kemanusiaan. Ingatlah peristiwa di salah satu tempat di Irak yang pernah kakekmu ceritakan di surau kala itu, kala acara Tabuik itu. Bukankah kau juga pernah baca juga di perpustakaan pesantren waktu dulu kan? Ratusan orang ikut dengan beliau melawan ribuan pasukan yang diperintahkan oleh orang yang mengaku mengikuti agama kakeknya.
Di tengah-tengah perjalanannya, satu per satu orang meninggalkannya. Meninggalkannya karena lebih memilih dunia ketimbang ikut bersama Sang kekasih yang mengantarkan kepada Telaga Abadi. Dikhianati; sahabat-sahabat setianya dibunuh, keluarga tercintanya ditembus anak panah mereka ditengah kehausan karena ditutupnya sumber air ke perkemahan mereka. Sang bayi dari keluarga itu, yang tak berdosa, pun tak luput dari anak panah mereka. Oh duhai! Apa pasal kerongkongan anak kecil kecintaan Husain harus tertembus panah itu? Apa dosanya?
Nak, semoga kau masih ingat cerita itu. Tak kuat aku menahan gelagak air mata duka, terlalu menyakitkan, lebih menyakitkan daripada yang aku alami. Maka, saksikanlah, ada yang lebih menderita darimu. Masihkah pantas apa yang kau alami itu kau sebut sebagai derita?
Sahabat kenanglah derita berat
Yang kini menyesakkan ruang batinmu
Meremuk redam hancurkan mimpi
Meniti asa yang tak pasti
Keluh terdengar rintihan semakin menjadi
Seolah diri berat diuji
Menelan kelam peluh tak berperi
Lupa akan nikmat Ilahi
Kenanglah…Al Husain…
Derita sebagai tanda cinta
Ya Husain…Ya Husain…
Mengenangmu bangkitkan asa
Bahwa hidup adalah cinta suci
Kau persembahkan untuk Ilahi
Gemuruh dada menghentak gelisah mengisi
Kehilangan kawan sejati
Cintamu padam hatimu sunyi
Hilang semua harga diri
Sahabat masihkah batinmu meronta sepi
Setelah Al-Husain kau tangisi
Wajahmu muram merenung diri
Adakah cinta yang kau beri?
Kenanglah…Al Husain…
Derita sebagai tanda cinta
Ya Husain…Ya Husain…
Mengenangmu bangkitkan asa
Bahwa hidup adalah cinta suci
Kau persembahkan untuk Ilahi
Syair: Miftah Fauzi Rakhmat

0 komentar:
Posting Komentar