Tanah masih basah sehabis disirami air hujan. Dingin, angin membuat dingin semakin menusuk. Malam yang gelap dan hening tiba-tiba disentakkan oleh tangis anak kecil yang memilukan. Aku yang sedang keluar rumah untuk memeriksa pompa air termenung, mendengarkan suara itu. Ada apakah gerangan? Aku menoleh, dan kulihat sekumpulan orang berjalan. Seorang ibu bersama keempat anaknya. Dan salah satunya adalah anak yang menangis itu. Ia merengek entah karena apa.
Pilu itu menghujam hati.
Tapi diri ini bingung apa yang bisa kubantu. Atau, mungkin, bukan karena bingung; tapi seperti lirik Broken Wings, cahaya dalam hatiku sudah semakin redup? Bisa jadi. Tangis mulai sulit mengalir dari mata. Seorang yang bijak pernah berkata padaku bahwa kehilangan kemampuan meneteskan air mata barang setetes saja menandakan hati mulai mengeras. Naudzubillahi min dzalik.
Di era informasi yang sudah begitu kencangnya, siapapun bisa menjadi apapun dan berkata bagaimanapun. Kebencian sudah bertebaran dengan beragam bentuknya. Sesuatu yang menggugah tangisan pun berujung pada kebencian. Turut berduka kemudian menggiring untuk membenci. Bagaimana tangis bisa membasahi dan melembutkan, jikalau mereka saja belum meresap sudah menguap duluan karena panasnya hati?
Aku seolah hidup di zaman yang kering tandus. Tapi, aku tetap harus bersyukur mengenal mereka yang mampu membuat hati ini setidaknya tidak membatu. Mereka yang ikhlas membantu, menangis atas pengakuan dosa diri yang menyebabkan musnahnya cinta, dan melukiskan senyum pada setiap mereka yang berpeluh maupun menitikkan air mata.
Selalu saja ada yang masih bisa disyukuri. Dan, sekarang, tetap saja aku masih bingung harus berbuat apa. Tuhanku, ampuni aku....
Memori, menulis, neuroplastisitas
Label: memori, menulis, neuroplasticity, Otak
Melihat memori-memori update status yang facebook ingatkan di timeline Facebook, mencerminkan saya yang sepertinya memburuk ini. Setidaknya dulu saya tak setumpul sekarang. Keadaan kurang lebih tiga tahun lalu lebih ringan tantangannya daripada sekarang ini, dan celakanya saya belum bersiap untuk menghadapinya. Sehingga bisa ditebak, saya terpuruk. Menjadi lebih tumpul daripada semuanya, karena tak mampu menghadapi objek irisan yang membikin bulat yang tajam.
Ya, ya. Kepala saya yang mulai gondrong ditumbuhi rambut tebal ini sepertinya makin overheat, celakanya saya juga sampai lupa mencukur rambut dan kalau ingat malah kesibukan tiada bisa dinego. Kalau dalam kehidupan microprocessor, overheat dapat memperlambat kinerja bahkan membuat prosesor itu terhenti total. Yang paling parah ya rusak. Hal sama yang terjadi pada otak saya. Kayaknya agak rusak sedikit karena mekanisme perlindungannya sempat saya skip sebentar.
Solusinya? Tidak ada yang lebih baik bagi yang rusak selain untuk diperbaiki.
Otak memiliki kemampuan yang disebut sebagai neuroplasticity, kemampuan otak untuk menjadi seperti plastik. Eh salah, maksudnya kemampuan otak untuk meregenerasi (membikin ulang) sel-sel yang menua, rusak, atau bunuh diri; dan menatanya kembali. Ya, bunuh diri. Sepanjang pengetahuan saya, sel-sel otak yang tak digunakan akan merasa tidak berguna, dan kemudian bunuh diri. Tidak hanya sel otak saja, sel-sel lainnya dalam tubuh pun demikian.
Membaca juga membangkitkan neuroplastisitas ini. Belakangan saya memang agak jarang baca, karena membaca dalam keadaan pikiran seruwet itu malah tak enak. Membaca itu harus dalam keadaan enak, ya toh? Bukan, bukan enak karena pantat hangat menduduki sofa, tapi dengan pikiran yang tenang. Nampaknya saya baru belajar untuk bisa tenang sekarang, selain setelah kena kopi asli beneran dari biji kopi. Awalnya saya orangnya gurunggusuh. Tak bisa kalem. Jadi ada kemungkinan nulis saya sekarang lebih bener walau sedikit. Dan percayalah, saya bukan perokok. Saya tak bohong.
Sekarang saya mulai membangkitkan kembali itu semua. Ingin memulai lagi membaca dan menulis, yang serius tapi asyik.
Ya, ya. Kepala saya yang mulai gondrong ditumbuhi rambut tebal ini sepertinya makin overheat, celakanya saya juga sampai lupa mencukur rambut dan kalau ingat malah kesibukan tiada bisa dinego. Kalau dalam kehidupan microprocessor, overheat dapat memperlambat kinerja bahkan membuat prosesor itu terhenti total. Yang paling parah ya rusak. Hal sama yang terjadi pada otak saya. Kayaknya agak rusak sedikit karena mekanisme perlindungannya sempat saya skip sebentar.
Solusinya? Tidak ada yang lebih baik bagi yang rusak selain untuk diperbaiki.
Otak memiliki kemampuan yang disebut sebagai neuroplasticity, kemampuan otak untuk menjadi seperti plastik. Eh salah, maksudnya kemampuan otak untuk meregenerasi (membikin ulang) sel-sel yang menua, rusak, atau bunuh diri; dan menatanya kembali. Ya, bunuh diri. Sepanjang pengetahuan saya, sel-sel otak yang tak digunakan akan merasa tidak berguna, dan kemudian bunuh diri. Tidak hanya sel otak saja, sel-sel lainnya dalam tubuh pun demikian.
Membaca juga membangkitkan neuroplastisitas ini. Belakangan saya memang agak jarang baca, karena membaca dalam keadaan pikiran seruwet itu malah tak enak. Membaca itu harus dalam keadaan enak, ya toh? Bukan, bukan enak karena pantat hangat menduduki sofa, tapi dengan pikiran yang tenang. Nampaknya saya baru belajar untuk bisa tenang sekarang, selain setelah kena kopi asli beneran dari biji kopi. Awalnya saya orangnya gurunggusuh. Tak bisa kalem. Jadi ada kemungkinan nulis saya sekarang lebih bener walau sedikit. Dan percayalah, saya bukan perokok. Saya tak bohong.
Sekarang saya mulai membangkitkan kembali itu semua. Ingin memulai lagi membaca dan menulis, yang serius tapi asyik.
Dulu, aku pernah amat tertarik kepada teman satu sekolah. Ia seorang wanita yang berparas memikat. Hingga aku berhasil berhubungan dengannya. Dan...
Tersiksa
Dada selalu dipenuhi tanya dan cemburu. Aku tak pernah mau kehilangan dirinya. Kugenggam ia begitu kerasnya dan kau tahu apa yang terjadi?
Lepas semuanya... Luruh... Luluh, cermin sudah menjadi retak.
Semenjak kehilangannya waktu terus mengajariku cinta. Amat bias memang di zaman sekarang ini, antara nafsu birahi dengan cinta.
Dan kau tahu, apa yang paling besar telah kudapat akan makna cinta?
Perkhidmatan.
Dan cinta akan menjadi surga amat nikmat...
Tapi itu hanya satu dari sekian banyak fragmen makna.
Tak perlu bahas aku dan kamu menjadi satu, ketika ego itu belum saja luntur. Kawan, coba terjemahkan apa itu ego?
Tapi aku masih saja belum mendapatkan kekasih. Perlahan saja.
Tersiksa
Dada selalu dipenuhi tanya dan cemburu. Aku tak pernah mau kehilangan dirinya. Kugenggam ia begitu kerasnya dan kau tahu apa yang terjadi?
Lepas semuanya... Luruh... Luluh, cermin sudah menjadi retak.
Semenjak kehilangannya waktu terus mengajariku cinta. Amat bias memang di zaman sekarang ini, antara nafsu birahi dengan cinta.
Dan kau tahu, apa yang paling besar telah kudapat akan makna cinta?
Perkhidmatan.
Dan cinta akan menjadi surga amat nikmat...
Tapi itu hanya satu dari sekian banyak fragmen makna.
Tak perlu bahas aku dan kamu menjadi satu, ketika ego itu belum saja luntur. Kawan, coba terjemahkan apa itu ego?
Tapi aku masih saja belum mendapatkan kekasih. Perlahan saja.
Malam terlalu sunyi untuk menjadi saksi bisu
Suara keroncongan dari perut mereka itu
Mungkin tuli telah menjadi predikat diri
Yang tergagah diatas tebing yang tinggi
Suara keroncongan dari perut mereka itu
Mungkin tuli telah menjadi predikat diri
Yang tergagah diatas tebing yang tinggi
Atau mungkin lebih menggelikan ketimbang sebuah bulu
Debu-debu yang berserakan berangin kemilau semu
Kamu ambil semua untuk menambah wujudmu
Hingga hancur semua harapan miskin dalam sendu.
Debu-debu yang berserakan berangin kemilau semu
Kamu ambil semua untuk menambah wujudmu
Hingga hancur semua harapan miskin dalam sendu.
Lalu, berkurban apa kau ini?
Aku ingin berterima kasih kepada Tuhan, aku masih tetap single sampai sekarang. Telah diajarkannya aku banyak hal karenanya.
Cinta, bukan karena wajah yang cantik. Bukan pula segenap pesona fisik yang akan lapur ditelan bumi, termasuk kekayaan. Bukan jilbab yang membalut kepala. Saya serius masalah ini, ada saja mereka yang berjilbab begitu indah tetapi perilakunya kontradiktif dengan perupaannya, ia tak menjilbab jiwanya. Ya, dunia ini terlalu banyak topeng.
Lalu apa itu cinta? Yaitu,... Aku tak bisa mengatakan apapun. Tapi selalu pertajam pendengaranmu terhadap hati. Ia anugerah Tuhan yang tak pernah bohong. Hanya, suaranya sayup terkalahkan oleh suara hingar bingar dunia. Seperti yang bisa kau duga, menurunkan volume dunia membuatmu bisa mendengarkan hati.
Dan dengan itu, kau temukan cinta. Bisik sang hati akan terdengar sejernih air, menyejukkan diri. Dan, cinta adalah urusan hati, bukan apa yang ada pada selangkanganmu.
Cinta, bukan karena wajah yang cantik. Bukan pula segenap pesona fisik yang akan lapur ditelan bumi, termasuk kekayaan. Bukan jilbab yang membalut kepala. Saya serius masalah ini, ada saja mereka yang berjilbab begitu indah tetapi perilakunya kontradiktif dengan perupaannya, ia tak menjilbab jiwanya. Ya, dunia ini terlalu banyak topeng.
Lalu apa itu cinta? Yaitu,... Aku tak bisa mengatakan apapun. Tapi selalu pertajam pendengaranmu terhadap hati. Ia anugerah Tuhan yang tak pernah bohong. Hanya, suaranya sayup terkalahkan oleh suara hingar bingar dunia. Seperti yang bisa kau duga, menurunkan volume dunia membuatmu bisa mendengarkan hati.
Dan dengan itu, kau temukan cinta. Bisik sang hati akan terdengar sejernih air, menyejukkan diri. Dan, cinta adalah urusan hati, bukan apa yang ada pada selangkanganmu.
Sayangku itu bernama waktu. Ia berjalan selalu saja dengan langkah yang tergesa-gesa. Tetapi meskipun begitu, keringatnya harum semerbak. Wewangian, seperti biasa, tak bisa dilukiskan kata tapi hanya bisa dinikmati saja. Berkata tak menjelaskan, tetapi mungkin gambar bisa meski tertatih-tatih.
Sialan, seringkali aku tak bisa mengimbangi langkahnya. Terkadang aku mampu bersamanya tetapi tetap saja lebih sering ketinggalan. Karena ngefly menikmati semerbak keringat, kadang menonton unicorn terbang. Ya, akulah manusia yang merugi seperti Firman Ilahi sebutkan. Ampuni dosaku Ya Ghafur, wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Sialan, seringkali aku tak bisa mengimbangi langkahnya. Terkadang aku mampu bersamanya tetapi tetap saja lebih sering ketinggalan. Karena ngefly menikmati semerbak keringat, kadang menonton unicorn terbang. Ya, akulah manusia yang merugi seperti Firman Ilahi sebutkan. Ampuni dosaku Ya Ghafur, wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Jiwa saya lagi gentayangan entah kemana, makanya agak sulit untuk menulis. Ini juga laporan untuk perkuliahan belum selesai. Dia sepertinya perlu piknik dan kehidupan yang sedang dihadapi sedang membuat warna jadi abu-abu, masih bersyukur bukan binary alias 1-bit.
Bener, pendamping itu perlu ya. Saatnya mencari yang bisa serius.
Bener, pendamping itu perlu ya. Saatnya mencari yang bisa serius.
About One Day a Post (Eh, one post)
One day one post. Saya memposting tidak melulu di blog, bisa jadi di Facebook, Instagram (@sudarhid), dan blog ini. Hanya tiga. Kalau menulis saya bisa di lebih dari tiga tempat, termasuk menulis di Broni si teman setia tas saya, di Google Keep, dan juga menulis di kepala orang. Serius, saya suka menulis di kepala orang saat secangkir kopi sedang bermain. Dan yang paling menyenangkan kalau orang yang saya tulisi kepalanya menorehkan juga kata-katanya dalam kepala saya.
Kadang saya menulis menggunakan perpaduan warna tanpa harus menggunakan kata. Saya akui kemampuan menulis saya menurun semenjak, mungkin, hampir dua tahun kurang banyak tidak menulis. Bukan malas, ombak menghilangkan pena saya. Saya terbawa mabuk air laut ketika saya sangka kota metropolitan sudah di depan saya, dan ternyata itu hanyalah fatamorgana. Goblok.
Tapi dari kegoblokan itu, terbuka sudah ilmu untuk mengetahui siapa yang sedang bermain dalam diri, hawa-nafsu atau jiwa. Kepada Tuhan sahaya berlindung dari kejahatan hawa nafsu yang menyesatkan. Dan sekarang saatnya saya membuang air laut dari perut dan kemudian berdiri lagi. Lagi.
Saya ingin bisa menulis lagi. ketika saya menemukan mereka yang bisa dijadikan inspirasi. Dari anak kecil yang bahagia, anak desain ITB sampai sekelas sastrawan besar Indonesia. Dan juga orang-orang luar lainnya seperti mereka orang-orang Maori. Mereka menulis dengan hati, dan aku pun ingin bisa. Perlahan-lahan mendobrak pintu besi berkarat yang sudah terlalu lama digembok.
Beberapa hari lalu, saya sempat pusing karena masalah tempat Job Training yang melempar saya seenak udhelnya ke tempat yang tak seharusnya saya berada. Mencari kesana kemari untuk PKL, semua tempat sudah menutup pintunya karena memang masa untuk job training pada umumnya sudah selesai. Dua hari kemudian saya dapat di bagian lain di rumahnya kota Bandung. Saya bersyukur pada akhirnya ada jalan keluarnya. Ah! Dan saya baru ingat ingin menulis tentang ini. Mungkin segera.
Dan selama pencarian untuk Job Training itu, saya berhenti menulis di salah satu harinya, pusing soalnya. Meski jangar, tapi jadi plus, saya punya bahan untuk dilaporkan, setidaknya. Dan juga pelajaran agar tak me(mper)mainkan orang.
Jadi, tidak seratus persen saya menulis setiap hari tapi saya selalu berusaha sebaik mungkin.
Dan saya juga ada keinginan menulis fiksi, tapi belum nemu temanya sampai sekarang. Ada yang mau memberi ide? Setiap ide pasti cemerlang cuma kadang otak saya yang rada butek.
Kadang saya menulis menggunakan perpaduan warna tanpa harus menggunakan kata. Saya akui kemampuan menulis saya menurun semenjak, mungkin, hampir dua tahun kurang banyak tidak menulis. Bukan malas, ombak menghilangkan pena saya. Saya terbawa mabuk air laut ketika saya sangka kota metropolitan sudah di depan saya, dan ternyata itu hanyalah fatamorgana. Goblok.
Tapi dari kegoblokan itu, terbuka sudah ilmu untuk mengetahui siapa yang sedang bermain dalam diri, hawa-nafsu atau jiwa. Kepada Tuhan sahaya berlindung dari kejahatan hawa nafsu yang menyesatkan. Dan sekarang saatnya saya membuang air laut dari perut dan kemudian berdiri lagi. Lagi.
Saya ingin bisa menulis lagi. ketika saya menemukan mereka yang bisa dijadikan inspirasi. Dari anak kecil yang bahagia, anak desain ITB sampai sekelas sastrawan besar Indonesia. Dan juga orang-orang luar lainnya seperti mereka orang-orang Maori. Mereka menulis dengan hati, dan aku pun ingin bisa. Perlahan-lahan mendobrak pintu besi berkarat yang sudah terlalu lama digembok.
Beberapa hari lalu, saya sempat pusing karena masalah tempat Job Training yang melempar saya seenak udhelnya ke tempat yang tak seharusnya saya berada. Mencari kesana kemari untuk PKL, semua tempat sudah menutup pintunya karena memang masa untuk job training pada umumnya sudah selesai. Dua hari kemudian saya dapat di bagian lain di rumahnya kota Bandung. Saya bersyukur pada akhirnya ada jalan keluarnya. Ah! Dan saya baru ingat ingin menulis tentang ini. Mungkin segera.
Dan selama pencarian untuk Job Training itu, saya berhenti menulis di salah satu harinya, pusing soalnya. Meski jangar, tapi jadi plus, saya punya bahan untuk dilaporkan, setidaknya. Dan juga pelajaran agar tak me(mper)mainkan orang.
Jadi, tidak seratus persen saya menulis setiap hari tapi saya selalu berusaha sebaik mungkin.
Dan saya juga ada keinginan menulis fiksi, tapi belum nemu temanya sampai sekarang. Ada yang mau memberi ide? Setiap ide pasti cemerlang cuma kadang otak saya yang rada butek.
The Hard Earned Water
Besok saya mulai Job Training (bahasa kerennya PKL) di salah satu radio dibawah naungan Diskominfo Kota Bandung. Pada awalnya saya akan PKL di Diskominfo, karena satu dua alasan saya dipindahkan ke Radio Sonata sebagai scriptwriter. Awalnya kecut dan ketus karena saya sudah senang bisa PKL di pemkot sambil ingin tahu tentang Bandung Command Center, dan saya bisa mengembangkan potensi saya di dunia IT digado-gado dengan ilmu humas, dan juga kesenangan-kesenangan lainnya tiba-tiba pupus; dan juga saya tak pernah diajarkan menulis untuk telinga, serius. Pada akhirnya saya bisa menerima dan malah bersyukur. Pertama, karena memang saya suka menulis, untung di scriptwriter. Selain bisa menulis untuk mata, juga bisa belajar menulis telinga. Yang kedua, mungkin bisa besok lusa saya tuliskan. Tapi yang jelas: saya deg-degan!
Malam ini saya tak bisa tidur larut malam seperti malam-malam sebelumnya, mengisi air di drum-drum dan bak mandi yang hanya mengocor dari sebuah perusahaan daerah di kota Bandung malam hari, karena besok hari pertama PKL. Tapi sungguh, bagi saya untuk mendapatkan air bersih merupakan sebuah perjuangan; karena selain harus menunggui air mengalir hingga memenuhi penampungan-penampungan, saya juga kadang harus mengangkutinya. Terbangun dari jam setengah satu malam kemudian punya kesempatan untuk tidur lagi jam dua atau jam setengah tiga. Tetap saya (belajar) syukuri karena saya menganggapnya sebagai sebuah perkhidmatan. Keluh kesah dan ketus hanya membuat penyakit jiwa dan jasad saja, sayangi waktumu yang malah dipakai untuk membunuh diri secara perlahan.
Dari situ saya teringat kepada orang tua "angkat" saya semasa SWC saat SMA. Mungkin di blog ini saya pernah menceritakan pengalaman saya SWC di Kumetir, Ciwidey. Dan mungkin itulah kali pertama saya belajar bersyukur dari seorang pemecah batu yang hidup teramat sangat sederhana. Sayang, karena usia mereka tidak ingat kepada saya, meski demikian mungkin saya akan main lagi ke sana. Dan juga ia mengajarkan apa itu perkhidmatan dari makanan yang disajikan kepada kami, amat sederhana tetapi nikmatnya luar biasa: nasi dan bala-bala.
Saya tak ingin mengetik panjang, saya dikejar waktu. Hanya ingin mengingatkan diri (dan semoga para pembaca juga) bahwa dengan bersyukur kita memiliki energi lebih. Bersyukur itu artinya ber-terima kasih. Bukan sekedar ucapan mulut, tapi juga ungkapan hati. Hanya ucapan mulut bisa jadi sebuah kemunafikan. Bersyukur itu berterima kasih, dan bukan hanya kepada Tuhan tapi juga kepada sesama kita. Memangnya kita bisa hidup tanpa sesama manusia?
Berterima kasihlah kepada setiap mereka yang hadir membuat hidupmu berwarna meskipun itu kelam (dengan gelap kau mengenal terang!), dan rasakanlah kebahagiaan dalam hati yang membuat hidup lebih bermakna.
Malam ini saya tak bisa tidur larut malam seperti malam-malam sebelumnya, mengisi air di drum-drum dan bak mandi yang hanya mengocor dari sebuah perusahaan daerah di kota Bandung malam hari, karena besok hari pertama PKL. Tapi sungguh, bagi saya untuk mendapatkan air bersih merupakan sebuah perjuangan; karena selain harus menunggui air mengalir hingga memenuhi penampungan-penampungan, saya juga kadang harus mengangkutinya. Terbangun dari jam setengah satu malam kemudian punya kesempatan untuk tidur lagi jam dua atau jam setengah tiga. Tetap saya (belajar) syukuri karena saya menganggapnya sebagai sebuah perkhidmatan. Keluh kesah dan ketus hanya membuat penyakit jiwa dan jasad saja, sayangi waktumu yang malah dipakai untuk membunuh diri secara perlahan.
Dari situ saya teringat kepada orang tua "angkat" saya semasa SWC saat SMA. Mungkin di blog ini saya pernah menceritakan pengalaman saya SWC di Kumetir, Ciwidey. Dan mungkin itulah kali pertama saya belajar bersyukur dari seorang pemecah batu yang hidup teramat sangat sederhana. Sayang, karena usia mereka tidak ingat kepada saya, meski demikian mungkin saya akan main lagi ke sana. Dan juga ia mengajarkan apa itu perkhidmatan dari makanan yang disajikan kepada kami, amat sederhana tetapi nikmatnya luar biasa: nasi dan bala-bala.
Saya tak ingin mengetik panjang, saya dikejar waktu. Hanya ingin mengingatkan diri (dan semoga para pembaca juga) bahwa dengan bersyukur kita memiliki energi lebih. Bersyukur itu artinya ber-terima kasih. Bukan sekedar ucapan mulut, tapi juga ungkapan hati. Hanya ucapan mulut bisa jadi sebuah kemunafikan. Bersyukur itu berterima kasih, dan bukan hanya kepada Tuhan tapi juga kepada sesama kita. Memangnya kita bisa hidup tanpa sesama manusia?
Berterima kasihlah kepada setiap mereka yang hadir membuat hidupmu berwarna meskipun itu kelam (dengan gelap kau mengenal terang!), dan rasakanlah kebahagiaan dalam hati yang membuat hidup lebih bermakna.
Mengapa kupilih DVD untuk archiving?
Hari ini kali pertama mencuci baju satu keranjang besar dengan mesin cuci yang kecil. Sela-sela kuku jari mulai terasa perih dan pergelangan tangan pegal. Ngantuk.
Dan saya baru ingat berniat untuk membuat tulisan tentang pencarian kemarin. Sip oke, mari tersenyum :)
Kemarin saya menghabiskan hampir tiga jam bukan cuma untuk berbelanja, tapi juga sambil berpikir. Awalnya saya datang ke BEC dengan niat mencari hard disk eksternal untuk archiving alias cuma mengarsipkan data.
Saya punya semacam "bekas pukulan" ketika hard disk komputer saya mati total pada tahun 2009-an dan datanya tak bisa dipulihkan, otomatis kenangan saya dari semenjak SD dan SMP lapur semua. Tapi saya jadi tahu tanda-tanda hard disk sangat sebentar lagi bakal pensiun: bunyi putaran yang kasar, suara cetrak-cetrak seperti logam berbenturan dengan logam lainnya (itu headnya!), data tiba-tiba corrupt tanpa power loss, bad sector banyak ketika diperiksa lewat disk check, dan akses aplikasi maupun berkas yang sangat lama, dan sering kali gagal. Saya tak pernah menerima peringatan dari fitur SMART yang lebih tahu kondisi hard disk, sehingga tindakan pencegahan jauh lebih baik. Pada tahun 2012 hard disk saya yang dibeli untuk menggantikan yang rusak tahun 2009 itu menunjukkan beberapa gejala itu, dan tak lama rusak. Untung sudah diback up ke Hard disk yang baru dibeli itu beberapa waktu sebelum Hard disk lama rusak. Alhamdulillah, experience is the best teacher.
Dan hard disk saya tahun ini sudah menunjukkan beberapa gejala kerusakan itu, sehingga saya meluangkan untuk membeli media buat pencadangan data. Saya lakukan quick research, Google is now your best friend.
Dan saya batal membeli hard disk eksternal itu, salah satu alasannya karena, mahal. Budget mahasiswa gitu loh. Akhirnya saya jatuhkan pilihan membeli optical disc drive tipe DVD dan puluhan keping dvd kualitas top. Saya memilih DVD burner internal saja, karena lebih murah hampir dua kali lipat daripada yang eksternal, dan membakar tiga kali lebih cepat, meskipun tetap saja saya ngeburn di 8x supaya datanya aman hehehe. Satu lagi kenapa lebih memilih internal: kalau rusak gak begitu nyesek, dan bisa saya bongkar untuk dijadikan mainan. Hahaha.
Alasan kedua, pilihan teraman. Saya melakukan googling dan banyak orang memilih untuk menggunakan DVD daripada hard disk. Sifat hard disk yang magnetized membuat user harus merefresh datanya setidaknya setahun sekali, jika tidak maka data tersebut perlahan akan rusak dan saya tipe yang kadang lupa. Dan sebagaimana yang kita tahu, Hard disk sangat rentan terhadap guncangan, medan magnet, dan mungkin juga kualitas kabel yang menghubungkannya dengan komputer. Semua hal tersebut tak terjadi dengan DVD. Tapi tak ada gading yang tak retak: dvd rentan gores, panas, dan Kelembapan, untungnya saya bisa apik. Hard disk sebetulnya rentan terhadap yang dua terakhir juga sih. Tetapi selain itu juga saya harus mengakui mengarsipkan data menggunakan DVD lebih repot juga, tak seperti hard disk karena faktor DVD yang per kepingnya maksimal efektif 4.38 GB, sehingga harus membuat per folder yang besarnya sesuai kapasitas DVD.
Penutup, saya pernah dengar tentang M-Disc. Bukan merek elektronik, tapi sejenis keping DVD yang bisa bertahan sampai 100 tahun. Saya coba cari apakah ada yang jual di Indonesia tapi masih belum nemu. Barangkali ada yang tahu lebih detail tentang M-Disc, ngobrol pasti seru. Atau mungkin ada pendapat lainnya. Hayuk ah.
Dan saya baru ingat berniat untuk membuat tulisan tentang pencarian kemarin. Sip oke, mari tersenyum :)
Kemarin saya menghabiskan hampir tiga jam bukan cuma untuk berbelanja, tapi juga sambil berpikir. Awalnya saya datang ke BEC dengan niat mencari hard disk eksternal untuk archiving alias cuma mengarsipkan data.
Saya punya semacam "bekas pukulan" ketika hard disk komputer saya mati total pada tahun 2009-an dan datanya tak bisa dipulihkan, otomatis kenangan saya dari semenjak SD dan SMP lapur semua. Tapi saya jadi tahu tanda-tanda hard disk sangat sebentar lagi bakal pensiun: bunyi putaran yang kasar, suara cetrak-cetrak seperti logam berbenturan dengan logam lainnya (itu headnya!), data tiba-tiba corrupt tanpa power loss, bad sector banyak ketika diperiksa lewat disk check, dan akses aplikasi maupun berkas yang sangat lama, dan sering kali gagal. Saya tak pernah menerima peringatan dari fitur SMART yang lebih tahu kondisi hard disk, sehingga tindakan pencegahan jauh lebih baik. Pada tahun 2012 hard disk saya yang dibeli untuk menggantikan yang rusak tahun 2009 itu menunjukkan beberapa gejala itu, dan tak lama rusak. Untung sudah diback up ke Hard disk yang baru dibeli itu beberapa waktu sebelum Hard disk lama rusak. Alhamdulillah, experience is the best teacher.
Dan hard disk saya tahun ini sudah menunjukkan beberapa gejala kerusakan itu, sehingga saya meluangkan untuk membeli media buat pencadangan data. Saya lakukan quick research, Google is now your best friend.
Dan saya batal membeli hard disk eksternal itu, salah satu alasannya karena, mahal. Budget mahasiswa gitu loh. Akhirnya saya jatuhkan pilihan membeli optical disc drive tipe DVD dan puluhan keping dvd kualitas top. Saya memilih DVD burner internal saja, karena lebih murah hampir dua kali lipat daripada yang eksternal, dan membakar tiga kali lebih cepat, meskipun tetap saja saya ngeburn di 8x supaya datanya aman hehehe. Satu lagi kenapa lebih memilih internal: kalau rusak gak begitu nyesek, dan bisa saya bongkar untuk dijadikan mainan. Hahaha.
Alasan kedua, pilihan teraman. Saya melakukan googling dan banyak orang memilih untuk menggunakan DVD daripada hard disk. Sifat hard disk yang magnetized membuat user harus merefresh datanya setidaknya setahun sekali, jika tidak maka data tersebut perlahan akan rusak dan saya tipe yang kadang lupa. Dan sebagaimana yang kita tahu, Hard disk sangat rentan terhadap guncangan, medan magnet, dan mungkin juga kualitas kabel yang menghubungkannya dengan komputer. Semua hal tersebut tak terjadi dengan DVD. Tapi tak ada gading yang tak retak: dvd rentan gores, panas, dan Kelembapan, untungnya saya bisa apik. Hard disk sebetulnya rentan terhadap yang dua terakhir juga sih. Tetapi selain itu juga saya harus mengakui mengarsipkan data menggunakan DVD lebih repot juga, tak seperti hard disk karena faktor DVD yang per kepingnya maksimal efektif 4.38 GB, sehingga harus membuat per folder yang besarnya sesuai kapasitas DVD.
Penutup, saya pernah dengar tentang M-Disc. Bukan merek elektronik, tapi sejenis keping DVD yang bisa bertahan sampai 100 tahun. Saya coba cari apakah ada yang jual di Indonesia tapi masih belum nemu. Barangkali ada yang tahu lebih detail tentang M-Disc, ngobrol pasti seru. Atau mungkin ada pendapat lainnya. Hayuk ah.
Note menjelang tidur
Berhenti ayunkan pena, hentikan tarian jemari di atas keyboard. Jadilah debu di atas muka bumi yang diterbangkan angin, bahkan keberadaannya pun tak pernah diketahui.
Seorang anak bupati telah berhasil membuatku gelisah akan kewajiban menulis, terutama sebagai makhluk yang sering kali dianggap "terpelajar". Pak dosen semester kemarin mengingatkan agar tak pintar untuk diri sendiri. Bahasaku terlalu baku buku, interpretasi maknawi berdasarkan susunan kata yang disampaikan oleh komunikator itu.
Ah, kumakan buku-buku itu hingga pada akhirnya aku jenuh dan terhenti untuk kembali mengunyahnya. Buat apa semua ini? Yang kukunyah hanyalah buku-buku ilmiah teoritis. Gerah rasanya, lelah. Bosan. Setelah aku paham semua teori, lalu apa?
Dulu saya sempat skeptis. Buat apa baca novel? Toh tak ada manfaatnya. Itu semua hanya mengembangkan imaji dalam otak sampai-sampai kau tak bakal mampu berpikir logis. Untuk apa baca cerpen? Memang ada manfaatnya? Buat apa baca puisi? Mau belajar jadi cengeng? (Tapi anehnya saya masih saja senang mendengarkan musik saat itu, kadang yang melau galau.)
Hidup kaku tak pernah ada warnanya. Itulah hidup tanpa sastra. Karena literasi tanpa sastra rasanya percuma saja; kau akan kebingungan menyampaikan apa yang telah kau ketahui dengan bahasa semua bangsa. Sastra memberikan pelajaran bagaimana menyampaikan dari hati, dan apa yang disampaikan dari hati akan sampai kepada hati pula. Tak peduli pakai bahasa manusia manapun, selama orang baik hati masih ada di dunia.
(Ini unek-unek mau tidur, jadi sepertinya perlu usaha ekstra untuk memahaminya. Selamat malam!)
Late night post.
Rasanya begitu banyak hal yang mulai hilang dari diriku ini, semenjak usia semakin bertambah (dan tambah tua). Salah satunya kebahagiaan, yang makin lama semakin (seolah) meluntur. Begitu banyak hal yang tiba-tiba menjadikan bahuku sebagai tumpuannya; banyak sekali hal yang tak terduga. Beban hidup makin banyak, makin cebol kebahagiaan diri. Ya, karena aku memang belum menemukan peringan bebanku itu.
Itu cuma curhat sana sini.
Seorang kawan mengirimkan pesan singkat mengenai keadaan nostalgia. Sekarang malam 19 Ramadhan, yang menurut beberapa kalangan sudah termasuk kedalam saatnya menyambut Lailatul Qadar, malam seribu bulan ingatan beberapa orang. Sebuah malam ketika Qadar seorang anak Adam ditentukan untuk setahun kedepan, dan beribadah tepat di malam itu maka seseorang akan mendapat pahala beribadah 100 bulan. Duka terasa menyambar, 19 hari masih juga belum berhasil menjadikan setiap langkah bermanfaat.
Tapi bahasannya bukan itu.
Melanjutkan cerita temanku itu, dia merindukan anak-anak yang bershalawat, melihatnya dari layar hanya membangkitkan kenangan dan semuanya di zaman ini sudah hilang. Ia tak sendiri dan berbicara kepada orang yang sama-sama merasakan hal yang sama. Dahulu di masa kecilku, ngabuburit hampir selalu diisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Mulai dari main petak umpet sampai mengajari anak kecil mengaji di masjid. Serius, aku pernah jadi mentor pesantren kilat tanpa pengalaman mengajar sama sekali sebelumnya.
Ah, aku rindu dengan itu semua. Persetan dengan peruncing konflik politik berlatar belakang agama.
Dulu aku suka berkelana dengan berbagai macam jenis kendaraan (dan sekarang pun masih suka, tetapi energi tak sebesar dulu). Sepeda, motor, mobil, dan buku. Semuanya membawaku pada warna baru dan tak banyak yang suka dengannya. Aku terlalu berkukuh dengan keputusanku yang sebenarnya karena kebodohanku sendiri. Beruntung sekarang sudah lebih lunak, meskipun dikata hanya sedirik.
Semuanya luntur karena orang yang memakan uang. Ah. Ah....
*gorengan gosong*
Itu cuma curhat sana sini.
Seorang kawan mengirimkan pesan singkat mengenai keadaan nostalgia. Sekarang malam 19 Ramadhan, yang menurut beberapa kalangan sudah termasuk kedalam saatnya menyambut Lailatul Qadar, malam seribu bulan ingatan beberapa orang. Sebuah malam ketika Qadar seorang anak Adam ditentukan untuk setahun kedepan, dan beribadah tepat di malam itu maka seseorang akan mendapat pahala beribadah 100 bulan. Duka terasa menyambar, 19 hari masih juga belum berhasil menjadikan setiap langkah bermanfaat.
Tapi bahasannya bukan itu.
Melanjutkan cerita temanku itu, dia merindukan anak-anak yang bershalawat, melihatnya dari layar hanya membangkitkan kenangan dan semuanya di zaman ini sudah hilang. Ia tak sendiri dan berbicara kepada orang yang sama-sama merasakan hal yang sama. Dahulu di masa kecilku, ngabuburit hampir selalu diisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Mulai dari main petak umpet sampai mengajari anak kecil mengaji di masjid. Serius, aku pernah jadi mentor pesantren kilat tanpa pengalaman mengajar sama sekali sebelumnya.
Ah, aku rindu dengan itu semua. Persetan dengan peruncing konflik politik berlatar belakang agama.
Dulu aku suka berkelana dengan berbagai macam jenis kendaraan (dan sekarang pun masih suka, tetapi energi tak sebesar dulu). Sepeda, motor, mobil, dan buku. Semuanya membawaku pada warna baru dan tak banyak yang suka dengannya. Aku terlalu berkukuh dengan keputusanku yang sebenarnya karena kebodohanku sendiri. Beruntung sekarang sudah lebih lunak, meskipun dikata hanya sedirik.
Semuanya luntur karena orang yang memakan uang. Ah. Ah....
*gorengan gosong*
Aku merindumu, berani bersumpah. Waktu terlalu lama berlalu tanpa ada hubungan tak terlihat. Entah, aku memang terlalu malu untuk berucap manis. Milyaran detik semenjak pertama aku mengenal kau, lewat situs plat biru pendaftar berbagai wajah yang saat itu masih sangat usang tapi begitu romantis dikenang. Aku mengenal kau yang seperti kanak-kanak lucu yang selorohnya menyunggingkan senyum, dan kau mungkin mengenalku sebagai sesosok lelaki yang pemalu dan tak terlalu indah dicerna mata. Mungkin. Sialnya aku terlalu percaya tanpa mulutku melontarkan kata kau bisa paham teriakan hati. Dan ingatlah pertemuan pertama yang mungkin juga pertemuan terakhir di air merah itu.
Dan kau menghilang meneduh di balik sebuah tirai kegagahan. Tapi kau bisa kembali sesukamu, atau mungkin takkan pernah kembali.
Dan kau menghilang meneduh di balik sebuah tirai kegagahan. Tapi kau bisa kembali sesukamu, atau mungkin takkan pernah kembali.
Label:
Facebook,
IFTTT
Suatu malam yang dingin, dan selimut hanya ada satu. Ia berikan selimut itu untukmu yang sedang terlelap tidur. Hanya satu harapnya: kau terlelap dalam kehangatan. Tak peduli dengan dirinya yang diguncang kedinginan. Ada sepotong roti di atas meja. Dan kau sangat lapar. Kau tanya milik siapa itu dan kemudian memakannya setelah mendapat izinnya. Adakalanya tak bertanya dahulu. Sedangkan dia sangat lapar. Nyawamu dalam ancaman. Ia takkan ragu menjadikan nyawanya sebagai tebusan nyawamu. Ia rela meregang nyawa demi selamatnya dirimu. Itu telah terjadi, ketika ia melahirkan dirimu. Masihkah kau, dan aku, tak tahu terima kasih, berujar dengan nada yang tinggi, lisan yang menyakitkan, keakuan yang keterlaluan? Maafkan sahaya, Bunda.
Hidup, mau apa?
Coba pikirkan lagi, hidupmu untuk apa? Tanpa mengetahuinya, hidup hampa rasanya. Jadi sampah di tengah lautan; mengapung tak berarti, tanpa tujuan. Tak bisa apa-apa selain hanya meminum air asin dan melihat malam dan siang silih berganti. Menghasilkan, menghasilkan bencana matinya ikan-ikan laut karena berusaha membuatmu bermanfaat dengan memakanmu. Kau tidak lagi bermanfaat, tapi jadi bencana.
Itu terlalu mengerikan. Ah mengapa aku baru memikirkannya sekarang, kala pendidikanku mulai memasuki senja? Semua seperti salah saja rasanya. Deviasi yang terlalu ekstrim dari apa yang diidealkan dalam cita-cita. Pil pahit yang tak kuketahui manfaatnya harus kutenggak mau tak mau. Semoga saja bukan racun yang membunuh.
Dunia ini gelap. Dunia ini berkabut. Makanya diciptakan cahaya, supaya jalannya kelihatan. Ada tiga jenis manusia dalam kamus besar bahasa saya; yang nyaman dengan kegelapan, yang mengharapkan cahaya, dan yang terakhir tak tahu gelap terang. Yang terakhir ada dua, yang dibunuh ada yang diasah. It's the new born baby. Tak sadar pisau yang sedang kita asah malah hancur berkeping karena terlalu dipaksa.
Nak, tentukan hidupmu mau kemana, agar kau tak jadi styrofoam di tengah laut, agar kau tak jadi pelakunya.
Yah, jangan mengasah terlalu keras, agar ia menjadi pisau yang tajam bukan puing plat baja tak berguna.
Itu terlalu mengerikan. Ah mengapa aku baru memikirkannya sekarang, kala pendidikanku mulai memasuki senja? Semua seperti salah saja rasanya. Deviasi yang terlalu ekstrim dari apa yang diidealkan dalam cita-cita. Pil pahit yang tak kuketahui manfaatnya harus kutenggak mau tak mau. Semoga saja bukan racun yang membunuh.
Dunia ini gelap. Dunia ini berkabut. Makanya diciptakan cahaya, supaya jalannya kelihatan. Ada tiga jenis manusia dalam kamus besar bahasa saya; yang nyaman dengan kegelapan, yang mengharapkan cahaya, dan yang terakhir tak tahu gelap terang. Yang terakhir ada dua, yang dibunuh ada yang diasah. It's the new born baby. Tak sadar pisau yang sedang kita asah malah hancur berkeping karena terlalu dipaksa.
Nak, tentukan hidupmu mau kemana, agar kau tak jadi styrofoam di tengah laut, agar kau tak jadi pelakunya.
Yah, jangan mengasah terlalu keras, agar ia menjadi pisau yang tajam bukan puing plat baja tak berguna.
Label:
Facebook,
IFTTT
Pagi yang haus. Memang dasar pelupa, saya lupa bawa botol minum lagi dan hingga akhirnya harus berboros ria beli air minum dalam kemasan (A***). Memang tak mahal, tetapi bisa berhemat tentu jauh lebih baik, baik duit maupun waktu. Kadang manusia berkeluh kesah akan sesuatu yang terjadi diluar kehendak tanpa tahu ujungnya bagaimana. Saya mengeluh dalam hati karena hampir telat dan harus presentasi. Lucunya, itu karena sebenarnya saya mengemudikan si Jeni terlalu lambat, dengan alasan ingin menikmati jalan yang ditimpa aspal baru. Memang yang mulus-mulus halus menghipnotis kesadaran; makanya kadang jalan mulus itu membikin kecelakaan. Terlalu mirip bulan juga sama. Tibalah saya di salah satu mini market di sisi jalan besar bernama seorang Jenderal itu. Turun, simpan helm. Masuk. Dan tak seperti biasa, mbak kasir tidak membacakan mantra sambutan ciri khas yang rasanya seperti bel pintu otomatis. Sudahlah, tak penting. Entah mengapa kaki ini malah berjalan menuju chiller dan mengambil kopi mochachino. Dan hingga akhirnya lupa niat awal kalau saya ingin beli AMDK. The miraculous power of tunduh. Tiba-tiba terdengar sahutan itu, "A, upami kwaci di palih mana nya?" Seorang nenek bertanya padaku dimana letak produk yang bernama"kwaci" dalam kebingungannya setelah mencari tak ketemu. Seragamku tak warna warni, hanya kaos kerah yang sebenarnya sudah sedikit lusuh. Lima menit sebelum jadwal presentasi, tetapi aku tiba-tiba melihat sesosok ibuku dari wajahnya. Meski ibuku belum nenek-nenek, tapi semua akan tiba masanya. Kucari mana kwaci itu. Dengan kacamata yang ketebalannya bikin kagum orang, ditambah the miraculous power of tunduh, akhirnya bungkus bertulisan "KWACI" bertinta merah diatas kertas coklat itu berhasil ditemukan dalam waktu sekitar 5 menit. Padahal letaknya di dekat saya. Kutunjukkan kwaci yang tinggal satu bungkus lagi. Nenek itu kemudian bertanya "langkung hiji deui?", ia ingin membeli yang berukuran kecil tetapi hanya itu satu-satunya, saya jawab saja tinggal satu lagi nek. Sepertinya untuk cucunya tercinta. Singkatnya cerita setelah obrolan itu selesai, saya menghampiri mbak kasir itu yang akhirnya menagih saya seharga kopi kotak itu. Keluar. Saya sadari sebenarnya saya sudah terlambat presentasi. Akan tetapi, dalam hati ini merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang sambil menampar: karena segala sesuatu di dunia memiliki batas waktu, lihatlah yang terdekat denganmu. Masihkah kau tak berkhidmat dengannya padahal Tuhan tempatkan surga di atas telapak kakinya, bahwa Ridha Tuhan berada pada ridhanya?
Selamat Tinggal, hingga waktu yang tak ditentukan
Hati setiap orang berbeda-beda. Ada yang dengan mudahnya terluka, ada pula yang legowo. Tapi siapa yang tahu urusan hati? Ia hanyalah urusan personal dengan Tuhannya. Berhati-hatilah akan hati seseorang.
Siapapun yang hatinya sedang terluka bisa saja tetap tersenyum di depan muka orang. Dan pula tipe-tipe orang berbeda; ada yang menjeritkan suara kepedihan luka tersebut, ada pula yang cukup diam dan berdoa pada Tuhan akan sakit hatinya. Yang kedua lebih berbahaya dari manapun, karena Tuhan mengabulkan doa yang sedang sakit hatinya.
Kadang kita perlu merenung, apa sebab sakit hati tersebut, apakah karena diri sendiri atau memang karena orang lain. Jika yang pertama terjadi, tak perlu sakit hati apalagi hingga mengutuk orang lain. Itu salahmu! Tuhan pasti tahu, dan percuma saja kau mengadu. Terlebih jika kau sudah mengutuk orang, bersiaplah kutukan itu akan berbalik padamu. Karena yang kau kutuk pastilah sakit hati!
Jadilah penting apa yang namanya merenung itu. Ingatlah kesalahanmu yang telah lalu, mohonkan maaf secara tulus padanya. Dan jangan pernah memohon maaf dengan niatan buaya, karena setelahnya orang akan menjadi lebih sulit untuk memaafkanmu, dan orang yang peka hatinya sudah akan merasakan kebuayaannya ketika dari awal saja meminta maaf.
Selamat tinggal, aku akan meninggalkan semuanya, hingga waktu yang tak ditentukan.
Siapapun yang hatinya sedang terluka bisa saja tetap tersenyum di depan muka orang. Dan pula tipe-tipe orang berbeda; ada yang menjeritkan suara kepedihan luka tersebut, ada pula yang cukup diam dan berdoa pada Tuhan akan sakit hatinya. Yang kedua lebih berbahaya dari manapun, karena Tuhan mengabulkan doa yang sedang sakit hatinya.
Kadang kita perlu merenung, apa sebab sakit hati tersebut, apakah karena diri sendiri atau memang karena orang lain. Jika yang pertama terjadi, tak perlu sakit hati apalagi hingga mengutuk orang lain. Itu salahmu! Tuhan pasti tahu, dan percuma saja kau mengadu. Terlebih jika kau sudah mengutuk orang, bersiaplah kutukan itu akan berbalik padamu. Karena yang kau kutuk pastilah sakit hati!
Jadilah penting apa yang namanya merenung itu. Ingatlah kesalahanmu yang telah lalu, mohonkan maaf secara tulus padanya. Dan jangan pernah memohon maaf dengan niatan buaya, karena setelahnya orang akan menjadi lebih sulit untuk memaafkanmu, dan orang yang peka hatinya sudah akan merasakan kebuayaannya ketika dari awal saja meminta maaf.
Selamat tinggal, aku akan meninggalkan semuanya, hingga waktu yang tak ditentukan.
"Kebakaran hutan di musim penghujan adalah ulah si penebar api. Sadarkah ia, bahwa dirinya dan manusia lainnya mendapatkan nyawa dari sekumpulan kebaikan itu? Tapi manusia tak berhati itu tetap saja membakarnya, melenyapkan jasa-jasa begitu saja dan mematahkan setiap hati yang memercayainya. Bahkan hewan pun sepanjang sejarahnya tak pernah membakar hutan!"
21-04-2016, agar aku belajar tak menjadi penyembah hawa nafsu
21-04-2016, agar aku belajar tak menjadi penyembah hawa nafsu
Menulislah, agar otakmu tak tumpul!
Rasanya sudah sangat lama saya tak menulis hal-hal yang rada serius di blog ini. Isinya paling hanya curhatan, puisi, dan kadang kata-kata yang tak jelas. Jujur, keadaan membikin semua rasanya jadi lumayan puyeng hingga akhirnya saya lupa kalau sebenarnya saya punya obat yang bisa dikatakan sebagai "parasetamol kecil-kecilan": Goblog. Ngeblog maksudnya, go-blog.
Dan pada akhirnya pada suatu hari saya harus ngarang karya sok ilmiah (makanya kelompokku gagal, yang kerja single core) yang ditujukan untuk ikut lomba M pangkat dua yang diadakan oleh HIMA Fikom UI (Himpunan Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, in case you need the long way). Brengsek, pusing, rasanya seperti baru makan racun tikus. Sudah lama tak menulis, kata-kata seolah beku begitu saja.
Kata orang yang bijak, tak ada kata terlambat (tentu saja sebelum mati) untuk memulai sesuatu. Aku ingin menulis lagi, meski hanya untuk bertulis tak karuan; karena itu mencairkan otak yang beku setitik demi setitik. Sedih jadi manusia yang otaknya beku tak terjamah keindahan kata, hidup garing luar biasa. Pandangan mata berubah menjadi kamera era 50'an. Warna itu-itu saja yang dilihat; kalau tak hitam, abu, ya putih.
Menulis pasti berpikir, dan menuntut penulis untuk membaca. Mau nulis apa kalau tak baca?
Proses berpikir itulah yang mencairkan pikiran dan membuat berpikir mengalir. Setidaklah itu yang pernah kubaca tentang otak; menulis menyegarkan pikiran, selain sarana untuk ekspresi diri. Jadi, mari menulis!
*saatnya ngasiin surat lamaran magang. see you next time!*
Dan pada akhirnya pada suatu hari saya harus ngarang karya sok ilmiah (makanya kelompokku gagal, yang kerja single core) yang ditujukan untuk ikut lomba M pangkat dua yang diadakan oleh HIMA Fikom UI (Himpunan Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, in case you need the long way). Brengsek, pusing, rasanya seperti baru makan racun tikus. Sudah lama tak menulis, kata-kata seolah beku begitu saja.
Kata orang yang bijak, tak ada kata terlambat (tentu saja sebelum mati) untuk memulai sesuatu. Aku ingin menulis lagi, meski hanya untuk bertulis tak karuan; karena itu mencairkan otak yang beku setitik demi setitik. Sedih jadi manusia yang otaknya beku tak terjamah keindahan kata, hidup garing luar biasa. Pandangan mata berubah menjadi kamera era 50'an. Warna itu-itu saja yang dilihat; kalau tak hitam, abu, ya putih.
Menulis pasti berpikir, dan menuntut penulis untuk membaca. Mau nulis apa kalau tak baca?
Proses berpikir itulah yang mencairkan pikiran dan membuat berpikir mengalir. Setidaklah itu yang pernah kubaca tentang otak; menulis menyegarkan pikiran, selain sarana untuk ekspresi diri. Jadi, mari menulis!
*saatnya ngasiin surat lamaran magang. see you next time!*
Langganan:
Komentar (Atom)
