Si Fakir Kebahagiaan

Aku ingin menuliskan perasaanku, ekspresi saja. Tidak berbentuk narasi yang indah, hanya sekumpulan kata-kata yang sedikit bercampur aduk...

Yah, seiring dengan bertambah usiaku, fitrah untuk mencari semakin kuat. Kini, aku mencari sesuatu yang orang di masa ini jarang memilikinya, kebahagiaan.

Kebahagiaan bukanlah harta. Ketika aku memiliki harta, aku merasakan kesenangan. Tetapi aku tidak pernah bahagia akan itu. Senang, yang akan hilang dan tergantikan oleh pedih.

Kebahagiaan bukanlah wanita. Hawa nafsu manusia begitu kuat, hasrat birahi tak tertahankan. Melayani hawa nafsu tidak akan pernah membuatmu bahagia, tetapi akan menjerumuskanmu. Percayalah.

Aku mencari kesana dan kemari. Aku bersenda gurau dengan temanku, dan ketika aku sendiri, semuanya lenyap. Tawa, canda, hahahihi. Lenyap. Hati ini tetap tidak bahagia.

Aku makan makanan yang enak dan bercita rasa tinggi, aku menikmatinya, dan aku makan hingga kenyang. Bahagiakah? Tidak.

Ketika sampai di rumah, orang tua hanya menanyakan kabar, setelah itu tidak pernah terjadi hubungan orang tua dan anak yang penuh kasih sayang. Mereka hanya memberi makan dan uang. Bahagia? Tidak.

Orang tuaku memberikan uang pas-pasan. Ketika aku memberikan uang kepada Ibu Tua yang membutuhkan, aku berikan dengan berat hati, itu awalnya. Setelahnya, aku merasakan hawa sejuk berhembus di hatiku. Inikah kebahagiaan?

Bulan lalu, ada acara asyuro, mengenang syahidnya Imam Husain as. Aku bekerja hingga malam hari tanpa dibayar, tapi aku bahagia bisa membantu untuk mengenang tragedi di padang Karbala tersebut. Eh, bahagia?

Kini, aku berusaha untuk terus menerus mencari kebahagian. Pelita mulai menampakkan dirinya melalui celah kecil daun pintu. Oh Rabbku, bimbinglah aku hingga aku menemukan pelita kebahagiaan yang kelak akan menyinari hidupku....

---

Ya Allah
Sampaikan shalawat serta salam kepada Muhammad dan keluarganya
Tutupi aku dengan kebahagiaanMu
Busanai aku dengan kebahagiaanMu
Bentengi aku dengan kebahagiaanMu
Muliakan aku dengan kebahagiaanMu
Cukupkan aku dengan kebahagiaanMu
Berikanlah aku kebahagiaanMu
Anugerahkan kepadaku kebahagiaanMu
Hamparkan untukku kebahagiaanMu
Baikkan bagiku kebahagiaanMu
Jangan pisahkan antaraku dengan kebahagiaanMu di dunia dan akhirat...


(Imam 'Ali Zainal Abidin as.)

Tahun depan...

Sebelum tidur, ingin sekali rasanya menumpahkan beberapa keinginan yang ingin kucapai di 2013 nanti di blog ini, sehingga banyak orang yang membaca lalu meng-amin-kan (Aamiin!)

  • Lulus SNMPTN dan diterima di FIKOM UNPAD
  • Mulai bisa mendapat penghasilan meskipun kecil-kecilan
  • Mendapat banyak kepercayaan dan mampu menjaganya
  • Pergi ke Iran, selain untuk berziarah juga untuk berekreasi
  • Penguasaan ilmu yang luas dan baik, disertai perbaikan di bagian-bagian otak yang bermasalah
  • Mampu memuliakan akhlak sendiri dan sesama
  • Sehat lahir batin
  • Memiliki pengetahuan yang luas akan sains modern, dan juga ilmu-ilmu agama
  • Kuat dalam rasionalitas dan rasa
  • Bertemu dengan wanita yang cocok menjadi pendamping hidupku
Dan masih banyak lainnya....

Perkhidmatan, pengubah jalan hidup (1)

Manusia makhluk sosial, semuanya saling membutuhkan satu sama lain. Tidak hanya pada sesama manusia, tetapi juga terhadap lingkungannya. Dan manusia membutuhkan Tuhan, tetapi Tuhan tidak pernah memerlukan manusia.

Ingin cerita sedikit, tentang perkhidmatan. Aku pertama kali benar-benar mengenal kata ini ketika bersekolah di SMA Plus Muthahhari, terutama di saat menjalani SWC (Spiritual Work Camp). Buat yang mengenal acara "Jika Aku Menjadi", SWC itu seperti acara itu. Mirip lah, karena sumber inspirasi keduanya sama.

Ketika SWC tersebut, aku bersama sobat-sobat seangkatan tinggal di sebuah kampung yang miskin (tetapi mereka tidak fakir) di daerah Ciwidey. Dan aku kebagian bersama Togar tinggal di sebuah rumah pemecah batu. Inilah awal mula aku merasakan kehidupan yang pedih. Aku ikut bapak tuan rumahku, ke sebuah ladang. Ngga ijo ladangnya, melainkan coklat. Penuh bebatuan dan becek.

"Tok, tok!", nyaring palu ketika menghantam batu yang keras. Setelah sekian belas kali bunyi tok-tok tersebut akhirnya batu yang besar itu terpecah belah, dan kemudian batu-batu yang telah jadi kecil tersebut diangkat ke sebuah kereta mini yang terbuat dari kayu, dan mirip kereta karena punya rel yang terbuat dari bambu.

Giliran saya dan sobat-sobat bekerja! Saya bersama sobat-sobat saya yang berjumlah tiga orang mendorong kereta tersebut agar bisa sampai di ujung yang merupakan tempat dimana batu-batu tersebut selanjutnya diproses. Satu, dua, tiga, empat kali berhasil, dan pada yang kelima kalinya kereta tersebut terguling dan menumpahkan isinya ke tanah. Untunglah tidak ada orang di sana yang bisa-bisa kakinya menjadi korban karena tertimpa batu. Kemudian kami menghampirinya dan mengambilnya satu per satu. Satu butir pun rasanya sudah sangat berat, sehingga ketika kami pulang dari ladang ini, badan rasanya sangat lelah.

Bagaimana mereka mengerjakan itu semua? Teman saya yang bertubuh kekar saja kelelahan. Tetapi para pekerja di sana, yang rata-rata sudah berkepala empat dan bertubuh kurus, masih saja sanggup bekerja hingga siang hari dimana matahari membakar kulit dengan teriknya.

Aku pun pulang ke rumah sementaraku. Di sana sudah disiapkan makanan. Jangan membayangkan makanan empat sehat lima sempurna yang enak-enak, minuman dingin yang melenyapkan dahaga, dan segudang hal mewah lainnya. Atau bakso yang enak. Di hadapan mata hanya ada beberapa bala-bala dan sebako nasi yang tidaklah banyak. Kami satu per satu mengambil makanan, dimulai dari yang paling tua hingga yang paling tua. Kemudian aku melihat sepasang suami istri yang sudah berusia renta tersebut makan dengan lahapnya, dan temanku makan sembari termenung.

Makan sesederhana ini, tetapi mereka masih sehat, dan bahkan lebih kuat dari aku. Mereka lebih tua dariku tetapi lebih mampu dariku. Oh Ya Allah, wahai Tuhanku, aku telah menyia-nyiakan masa muda dengan membuang waktunya.  

Engkau telah Berfirman: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian." Oh Tuhanku, yang diriku berada di dalam kuasaNya, jangan biarkan aku berada di dalam kerugian, selamatkanlah aku dengan kasih sayangMu, jangan abaikan aku. Duhai Tuhan yang segala kuasa berada di tanganNya, niscaya celakalah aku tanpa bimbinganmu. Ya Allah, sekiranya Engkau tidak mau membimbing hambamu yang lemah ini, pastilah aku menjadi orang yang teramat hina. Tetapi sungguh, demi kasih sayangMu yang tiada berhingga, Engkau tidak akan pernah membiarkan hambanya tersesat. Wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, berkenankah Engkau membimbingku dalam mengarungi samudera kehidupan yang ganas ini?

12

Dua belas, dua belas, (dua ribu) dua belas. 12-12-(20)12

"Lan, hari ini tanggalnya cantik, secantik dirimu. Rasanya sayang sekali jika tidak diabadikan bersamamu. Maukah kau memulai sejarah hidup baru bersamaku?"

Imajinasiku. Mata ini sedang menyaksikan orang yang memadu kasih lewat kata-kata. Status Facebook. Ya, Facebook. Hanya kata-kata, paling bagus dipadu dengan foto yang tidak bergerak. Rasanya tidak ada rasa, plain.

Atau kehambaran ini karena aku merasa iri? Entahlah.

Hm, 12-12-12 memang momentum yang tepat untuk menciptakan sebuah memori, memori kasih, memori indah, memori baru. Tanggal ini tidak akan pernah terulang kapan pun dalam kalender Masehi.

Memori apa yang dapat aku kenang di hari ini? Aku tidak tahu. Yang dicinta sudah dimiliki oleh yang lain, mungkin Tuhan akan memberi kejutan yang indah. Semoga.

Keilmuan dan toleransi

Ini benar-benar mengusik saya akhir-akhir ini. Banyak sekali orang yang seenaknya saja memberikan vonis bahwa suatu ajaran itu sesat. Gampang mengkafirkan. Padahal, mereka ketika ditanya mengenai hal yang disesatkannya itu, dia tidak tahu apa-apa, setelah mereka mengemukakan argumentasi yang mengandung data yang harus dibuktikan, argumen mereka sulit sekali untuk dibuktikan. Pada akhirnya, ketika otak sudah mentok, mereka main otot. Tak jarang mereka berani menghakimi seseorang dengan kekerasan fisik karena mereka tidak mau mengakui bahwa mereka kalah berargumentasi.

Saya pernah menjadi korbannya. Ada seseorang yang mengajak untuk diskusi lintas madzhab dalam Islam. Lalu dia mengkafirkan saya dan menyebut saya rafidi, hanya karena menggunakan akal dalam membahas sebuah dalil di salah satu kitab yang telah dianggap sahih. Padahal, dalam pengkajian hadits, ada sebuah ilmu yang bernama 'Ulumul Hadits, ilmu yang mengkaji mengenai hadits. Dalam ilmu ini, setiap hadits harus diperiksa, apakah autentik atau tidak. Dan dalam keilmuan, pengujian itu harus, agar mendapatkan hasil yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketika saya bertanya apakah dia mengetahui ilmu tersebut atau tidak, dia diam saja, dan kemudian dia memberikan balasan yang sama sekali tidak nyambung, yaitu kata "kamu Rafidi". Dan untung saja ini terjadi di Facebook, jadi tidak ada acara saling menyerang secara fisik.

Yah, itu memang yang saya rasa. Saya pun pernah menjadi mereka, mudah menyesatkan orang lain yang tidak semadzhab dengan saya, meskipun dia menyembah Allah, tuntunannya al-Qur'an, dan nabinya Muhammad (Shalawat serta salam terlimpah curah kepadanya dan keluarganya). Kakak saya menjadi salah satu korbannya. Saya menuduh kakak saya itu sesat. Kini, saya malah jadi sama seperti kakak saya, sepaham dengannya. Dan saya sadar, saya menuduh dan mengkafirkan kakak saya itu karena ketidaktahuan saya mengenai pemahaman kakak saya dan malah dengar "katanya" paham kakak saya itu sesat. Saya sekarang paham mengenai pemahaman kakak saya, dan memang benar-benar logis, lebih logis dari pemahaman yang saya anut sebelumnya. Jadilah sekarang saya sama seperti kakak saya, dan kini saya mulai mencoba memperluas khazanah keilmuan saya dari segala perspektif.

Banyak orang yang intoleran terhadap suatu hal. Misalnya perbedaan madzhab yang telah saya sebutkan di atas. Intoleransi tersebut, kalau saya boleh menyimpulkan, salah satunya karena kurangnya ilmu pengetahuan mengenai hal yang disesatkannya dan apa yang dia pahami sekarang. Orang yang berilmu dan berwawasan luas, dia akan mencari pembenaran diantara konflik-konflik, tetapi yang sebaliknya malah mencari kesalahan dan menumbuhkan konflik .Tetapi, toleransi memiliki batasnya juga. Misalnya, jika ada salah satu pihak yang menyatakan perang, kita tidak bisa diam saja, ngga mau nyerang karena kita shaleh dan tidak mau membalas serangan. Inilah toleransi yang berbahaya, yang malah merusak diri kita sendiri.

Yah inilah unek-unek saya akhir-akhir ini. Dan waktu sudah terlalu malam, mata saya saja ketika mengetik sudah 5 watt. Lanjut kapan-kapan ya.

Sejahtera atas kalian! :-)

Menderma, sebuah tulisan singkat

"Sekolah kita diambang kebangkrutan, jumlah siswa semakin sedikit, apa yang harus kita lakukan? Kita sudah gencar mempromosikan sekolah kita ini. Tetapi tetap tidak ada hasilnya. Haruskah kita gulung tikar?" kata-kata seorang pejabat di sebuah SMA kecil di pelosok Babakan Sari sembari mengerutkan dahinya dan menatap para pejabat sekolah yang lain tampak bingung. Tidak ada yang menjawab, semua terdiam. Hening.

Datanglah seorang pria paruh baya, yang merupakan pendiri sekolah itu. Dia memberikan sebuah solusi, "Sumbangkan saja semua uang yang dimiliki oleh sekolah ini kepada fuqara dan masakin."

Mulai terdengar riuh bisikan orang-orang yang semakin bingung.

"Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri, Pak? Uang kita sekarat, akan bangkrut kita Pak." timbal salah seorang dari kelompok orang yang bingung itu.

"Percayalah, jika kita berserah diri padaNya dengan menyerahkan harta kita di jalanNya, insyaallah Dia akan memberikan hal yang setimpal, bahkan lebih. Berniaga denganNya tidak akan pernah membuat kita rugi, malah untung. Kita beri satu yang kita dapat dariNya bisa seratus, bahkan lebih. Percayalah padaNya, dan Dia akan mengasihi kita." Tanggap pria paruh baya tersebut.

--

Begitulah sekelumit cerita ketika SMA ini sudah benar-benar di ambang kebangkrutan. Dan, hingga hari tulisan ini dibuat, SMA Plus Muthahhari, yang didirikan oleh Jalaluddin Rakhmat masih tegak berdiri. Sekiranya semua uang yang ada dipertahankan, mungkin saya tidak akan pernah menjadi almamater SMA yang hebat ini.

Cerita tersebut yang mengubah hidup saya, cerita keajaiban memberi kepada yang membutuhkan. Saya mempraktikkannya. Dan memang tidak ada sesuatu yang instan, saya tidak merasakan khasiat apa pun. Hingga suatu saat saya tidak punya uang dan tiba-tiba rejeki datang, baik melalui keluarga saya maupun diluar keluarga saya. Tidak hanya mengenai uang, melainkan juga jasa. Suatu ketika saya kelelahan di jalan, rasanya tubuh sudah remuk kesana kemari jalan kaki dan naik angkutan umum sembari membawa barang bawaan yang berat. Tak terduga, teman saya lewat dan menawarkan tumpangan, "Mau bareng?".

Sekarang saya merasakan manfaaat menderma. Setiap tindakan kita pastilah akan dibalas, kalau tidak di dunia pasti di akhirat. Kita menolong pasti kita akan ditolong kelak, baik di dunia maupun di akhirat. Dan memang benar, kita beri satu kembalinya bisa 100 atau lebih.

Menderma mengajarkan kita kecintaan kepada fuqara dan masakin. Keikhlasan kita menderma dapat menjadikan patokan seberapa jauh kecintaan kita terhadap mereka, bukan dari besarnya yang diberikan.  Rasanya (dan memang) percuma jika kita menderma tanpa keikhlasan. Menderma tanpa keikhlasan dapat memuncukan riya' (bukan Ria, maaf yang namanya Ria, hehehe), dan Allah sangat tidak menyukai sifat itu.

"Carilah aku diantara kaum-kaum yang lemah", begitulah sabda Rasulullah SAW. Rasulullah begitu mencintai kaum fuqara dan masakin. Jika kita ingin mendekati seseorang, cintailah apa yang dia cintai. Dengan mencintai kaum fuqara dan masakin (tidak hanya simbolisasi cinta dengan hal yang bersifat materil seperti harta, melainkan juga dengan cinta beneran, yaitu sikap menghargai dan kasih sayang, dan ini yang lebih utama), maka Rasulullah akan mencintai kita, dan dengan dicintai Rasulullah, maka kita akan dicintai oleh Allah azza wa Jalla, karena Rasulullah adalah kekasih Rabbul 'Alamin

"Di ufuk jauh keriduan hamba, Muhammad berdiri...."

Anak Jalanan

"A, coetnya... Kasian A, belum makan..."

Itulah yang aku dengar, suara yang mengiris hati. Seorang anak kecil yang berusaha merebut hatiku agar aku memberikan selembar uang ribuan kepadanya. Sayang, di saku saat itu hanya ada satu koin uang 100 rupiah. "Kalau dikasihin ngga enak, kalau ngga ngasih sama-sama ga enak, yaudah", tanpa pikir panjang aku langsung menolaknya, "maaf", dan mencari ATM terdekat untuk membayar infak, untuk mengalahkan rasa berdosa.

Sedih ya? Aku jadi teringat pengalamanku sewaktu Spiritual Work Camp SMA Plus Muthahhari. Aku dan kawan-kawan satu angkatan "dipaksa" tinggal di sebuah kampung "miskin", di sudut Ciwidey. Kampung tersebut bernama Kampung Kumetir. Aku masih ingat, betapa kuatnya perlawanan kami ketika kami akan tinggal di sana. Kalau aku alasannya malas meninggalkan komputer di rumah, karena aku waktu itu masih seorang "Computer Over-Addict". Yang lain alasannya sungguh warna-warni yang monokrom, ada yang alasannya malas, haro, hingga merasa bahwa kampung itu tidak "selevel" dengan dirinya.

Hasilnya, terbentuk ikatan batin yang begitu kuat diantara kami dan warga sekitar. Aku masih teringat ketika kami sudah habis "masa kontraknya" dan harus kembali ke Bandung, ada salah satu warga yang tidak ingin kami pergi, bahkan sampai ada yang menangis dan memeluk erat salah satu dari kami hingga tidak mau melepaskan dia.

Satu hal yang didapat, betapa perlunya kita berbakti kepada kaum mustadh'afin, mereka yang terlemahkan. Merekalah ladang pahala bagi yang memiliki kemampuan. Rasulullah saaw, yang merupakan panutan kaum muslimin, senantiasa dekat dengan kaum fuqara (para fakir) dan masakin (para miskin). Sampai beliau pernah bersabda, "Carilah aku ditengah kaum fuqara dan masakin". Aku tersadarkan, masih banyak yang makan saja susah, tapi aku sendiri kalau bersyukur suka susah...

Yah, kembali lagi ke judul, Anak Jalanan. Setiap kali aku menyusuri kota Bandung, bukannya tidak mungkin untuk menemukan mereka. Kondisinya memprihatinkan. Mereka lusuh, semerbak, dan terlihat sangat tidak terurus. Bahkan ada yang kelakuannya beringas (karena minim kasih sayang, sehingga ada bagian otaknya yang tidak berkembang sempurna, dan mempengaruhi faktor psikologis juga).

Apa kabar pemerintah? Anak jalanan dilindungi negara!, bukankah begitu? Iya! Harusnya pemerintah bertanggung jawab atas anak jalanan. Pemerintah ini bagaimana sih? Anak jalanan dibiarkan terlantar begitu saja. Mereka kelaparan, mereka butuh makan, kok pemerintah cuek banget  sama anak jalanan?

Ups, sebelum menyalahkan pemerintah, lihatlah diri kita sendiri. Sudahkah kita baik? Sudahkan kita mencintai mereka, kaum mustadh'afin termasuk anak jalanan di dalamnya? Aku yakin belum, termasuk diriku sendiri.

Banyak diantara kita yang kenyang sampai wareg teuing (terlalu kenyang -bahasa Sunda-), tapi mereka makan sesuap nasi saja susah, sampai mereka memulung nasi bekas dan mendaur ulang nasi tersebut menjadi makanan yang dikenal sebagai nasi aking.

Banyak diantara kita yang bolos sekolah, padahal di sisi lain banyak anak jalanan yang ingin sekali menikmati yang namanya sekolah, yang namanya belajar, tapi apa daya, mereka tidak mampu karena faktor finansial.

Banyak diantara kaum remaja yang ke tempat dia menempuh pendidikan menggunakan kendaraan mahal nan bising, tetapi sesampainya di sekolah... Belajar tidak bolos iya malah ngerumpi tidak bermanfaat. Apakah mereka tidak berpikir, ada dua sisi yang lain. Sisi yang pertama adalah orang tuanya yang susah payah membanting tulang untuk mencari rezeki, menyekolahkan anaknya di sekolah yang layak dan memberikannya kendaraan agar mobilitasnya lancar dan pendidikannya juga lancar, dan sisi yang lain ada anak-anak sebayanya yang harus jalan kaki berkilometer jauhnya, melalui medan ekstrim dan bersekolah di sekolah yang minim fasilitas, bahkan mereka berada didalam risiko kematian karena gedungnya yang sudah mau ambruk.

Apa yang harus kita lakukan?
Jangan dulu menyalahkan orang lain, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah bisa-bisa akan menambah panjang daftar masalah.
Menurut aku hanya ini: mengayomi, mencintai, dan memberdayakan kaum mustadha'fin. Memberdayai bukan berarti mengeksploitasi, tetapi menghilangkan status mustadh'afin dari mereka dengan memberinya pekerjaan yang layak, dan keterampilan, disertai dengan upah yang memadai.

Banyak diantara kita yang tidak mencintai kaum mustadh'afin, malah cenderung membencinya dan melecehkannya. Ada saja yang bilang kalau mereka "biang penyakit", tetapi sebenarnya merekalah yang suka rela membersihkan got agar tidak mampet dan tidak menjadi sumber penyakit. Belum tentu kita yang "bersih" mau melakukan itu, bukankah begitu?

Cintailah kaum mustadh'afin, maka kau akan dicintai Rasulullah, dan kelak kau akan meraih cinta Allah...

I've been down
Now I'm blessed
I felt a revelation coming around
I guess its right, it's so amazing
Everytime I see you I'm alive
You're all I've got
You lift me up
The sun and the moonlight
All my dreams are in your eyes

I wanna be inside your heaven
Take me to the place you cry from
Where the storm blows your way
I wanna be earth that holds you
Every bit of air you're breathin' in
A soothin' wind
I wanna be inside your heaven

When we touch, when we love
The stars light up
The wrong becomes undone
Naturally, my soul surrenders
The sun and the moonlight
All my dreams are in your eyes

And I wanna be inside your heaven
Take me to the place you cry from
Where the storm blows your way
And I wanna be the earth that holds you
Every bit of air you're breathing in
A soothing wind
I wanna be inside your heaven

When minutes turn to days and years
When mountains fall, I'll still be here
Holdin you until the day I die
And I wanna be inside your heaven
Take me to the place you cry from
Where the storm blows your way

I wanna be inside your heaven
Take me to the place you cry from
Where the storm blows your way
I wanna be earth that holds you
Every bit of air you're breathin' in
A soothin' wind
I wanna be inside your heaven
Oh yes I do
I wanna be inside your heaven


Masih ingin melihat yang lain menderita?
Masih ingin melihat yang lain meminta belas kasihan?
Masih ingin melihat mereka mati sia-sia karena kelaparan?

Jika iya, berarti Anda seorang psikopat.

"Every changes in this world begin from you, not from them. Don't blame others"

Song: Bo Bice - Inside your Heaven
Photo: http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/21/tolak-razia-dubur-anak-jalanan/

Ibu...


Aku kini berada di sebuah rumah sakit bersalin di Jalan Sumatera, Bandung. Aku pertama kali ada di sini sejak pukul 1:30 pagi. Ketika 10 menit sebelumnya, kakakku yang sedang hamil merasakan "mules", yang, menurut kepercayaan kami, sebagai tanda sebentar lagi akan melahirkan. Ketika diberitahu demikian, aku langsung melek, hilang rasa kantuknya, dan tancap gas dari rumah ke rumah sakit ini.

Kakakku hingga tulisan ini dibuat belum melahirkan, tetapi sudah mulai pembukaan kedelapan. Kedelapan dari sepuluh. Rasa mules mulai beralih menjadi rasa sakit yang membuat orang di sekitarnya ikut pilu juga. Yah, karena mendengar pilu itu, aku menjadi termotivasi untuk menulis ini.

Ibu, siapa sih yang tidak mengenalnya? Dialah wakil Tuhan yang Pengasih lagi Penyayang di muka bumi ini. Dialah yang melahirkan kita, mengurus kita, membesarkan kita. Yah, meskipun kadang menurut kita, ibu kita itu "bawel", "jahat" dan sebagainya, hatinya tidak berniat demikian. Mungkin karena kelepasan, tidak sengaja. Menjadi ibu bukanlah sebuah pekerjaan yang ringan, apalagi yang juga mencari nafkah. Lelah, letih, lesu. Tapi tahukah kalian? Dengan senyum kalian yang menyambutnya, itu sudah cukup untuk menghilangkan 3Lnya.

Ah, dahulu aku hanya mendengarkan "katanya", katanya melahirkan itu sakit, katanya melahirkan itu adalah menantang maut, katanya, dan katanya. Sehingga aku sering kali menyepelekannya. Aku adalah orang yang tipikalnya cenderung kurang percayaan kalau belum merasakan dan menyaksikannya. Kini, aku menyaksikan dengan mata, kepala, dan perasaanku sendiri.

Di dalam ruang HCU (High Care Unit), begitu banyak selang yang menempel kepada kakakku. Selang oksigen, selang infus, semuanya selang penyambung kehidupan. Ia mengeluh, "sakit!", berulang kali, menggenggam lengan ibuku dengan kuat sekali. Terbayang sakitnya. Ada yang bilang, skala sakitnya orang yang melahirkan itu 15 dari 10. Mungkin jauh lebih gila lagi dari yang kubayangkan. Dan mungkin inilah yang dimaksud dengan “menantang maut”

Mungkin, ibuku dahulu seperti itu. Betapa repotnya mengandungku dan sakitnya melahirkanku. Perjuangannya yang hebat selama 9 bulan, hanya demi aku terlahir ke dunia ini dengan selamat, sehat, tanpa memedulikan dirinya sendiri yang menantang maut. Pasti, seorang perempuan ketika melahirkan diantara hidup dan mati, dan condong kepada kematian. Sakitnya, hebat, mungkin tak ada obat bius yang secara 100% menghilangkan rasa sakit ini. Kalaupun ada pastilah bisa menyebabkan keburukan bahkan kematian.

Alhamdulillah, ibuku selamat ketika melahirkanku, dan kini ia mengurusku hingga aku sebesar ini. Tetapi aku kini sadar, aku memperlakukan ibuku dengan tidak baik. Aku kadang memarahi ibuku, padahal ibuku tidak tahu apa-apa, atau bukan maksud berbuat buruk. Kadang aku mengabaikan ibuku, tetapi ibuku memperhatikanku dengan penuh kasih sayang, hingga ketika aku sakit ia rela tidak tidur berhari-hari, hanya untuk menungguiku, dengan harapan aku cepat sehat.

Ya Allah, aku sadar kini, betapa hebatnya perjuangan sang ibu. Ibu tidak mengharapkan balasan apapun dari anaknya kecuali keberhasilan anaknya dalam kehidupan. Aku harus mulai semakin menghargainya, menyayanginya, ya, berbalas budi! Meskipun budi sang ibu tak akan pernah terbalas hingga kapan pun, aku tetap akan memberikan yang terbaik yang kubisa, kuharap ia bahagia dengan apa yang kuberi.

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa...
Hanya memberi

Tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia...

image taken from http://srhelena.blogspot.com/2012/05/mothers-love.html

Racun Televisi bagi Remaja

Selasa, 21 Agustus 2012, sekitar jam 10 pagi, saya baru keluar dari kamar ibu saya, sehabis ketiduran di sana (entah kenapa saya sekarang menjadi nokturnal), dibangunkan oleh kakak saya dengan cara yang khas, yaitu tidur di sebelah saya dan kemudian mendorong-dorong saya agar saya bergeser, memberinya spasi lebih agar dia bisa tidur. Lalu, karena sudah merasa kebanyakan tidur, saya keluar kamar yang langsung tembus ke ruang keluarga. Kebetulan di ruang keluarga sedang kosong dan TV menyala, orang tua saya sedang melayani tamu di depan. Yah karena pikiran masih baru sadar dari fantasinya, saya duduk sejenak sebelum mengambil teh untuk diminum (makan teh itu rasanya sesyuatu banget dah, kapok saya).

Kebetulan, saat itu TV sedang menampilkan sinetron remaja di salah satu TV swasta yang hurufnya konsonan semua. Saya kurang begitu tahu, apakah itu sebutannya sinetron remaja atau FTV, saya tidak berminat mencari tahu, kecuali jika ada yang memberi tahu.

Ciri khas sekali, dengan latar belakang scene yang indah, ada cewe dan cowo yang kejar-kejaran, kemudian latar belakang tersebut mengalami transisi menjadi sebuah rumah mewah dengan mobil yang sama-sama mewah pula. Kamera melakukan zoom kepada para pemain. Cewe pakai rok mini, dan baju ketat. Si cowo pun tak kalah dari segi penampilan. Rambut mohawk, wajah cantik putih seperti cewe.

Segalanya serba mahal, tapi muatan kebaikan saya rasa tidak ada. Film tersebut hanya mengajarkan hedonisme dan materialisme. Kesenangan dhohiriyah. Film-film seperti itu mengajak penontonnya untuk melupakan bahwa semua itu akan lenyap, dengan segmen remaja sebagai sasarannya. Pembaca tahu sendiri, bagaimana remaja dapat dengan mudahnya terpengaruh, apalagi oleh media dan mayoritas.

Remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak (childhood) menjadi dewasa (adulthood). Pada masa inilah, remaja mencari jati dirinya, meniru beberapa orang di sekitarnya, itulah proses sosialisasi pada remaja. Lingkungan remaja yang baik akan menghasilkan individu yang baik, demikian pula sebaliknya, lingkungan buruk akan menghasilkan individu yang buruk pula.

Dalam sosiologi, media sosialisasi yang pertama adalah keluarga. Bisa kita lihat sendiri, anak yang hidup dalam keluarga yang harmonis sangatlah berbeda dengan keluarga yang broken home. Anak yang hidup dalam keluarga yang harmonis sudah memiliki panutan yang baik, orang tuanya. Lalu bagaimana dengan yang broken home? Dia mencari sendiri. Dan sebagaimana remaja pada umumnya, mereka belum bisa menentukan mana yang baik dan buruk sebagaimana seharrusnya. Ada kalanya mereka menganggap sesuatu yang buruk, geng motor perusak misalnya, sebagai hal yang baik, karena mendengar dari temannya bahwa geng motor itu keren. Dan demikian pula sebaliknya. Itulah yang berbahaya.

Kembali lagi ke topik. Remaja merupakan sasaran empuk para pelancar hedonisme dan materialisme, karena remaja merupakan sosok pencari jati diri. Wajah yang bersih (padahal hasil dari obat-obatan, saya senang cantik yang alami), mobil dan rumah mewah, fisik yang menawan, semua yang nampak saja. Dan alam bawah sadar para remaja dicecoki pemikiran ini, secara tidak terasa. Sehingga patokan "kehebatan dan kesempurnaan" hanya terpatri pada sesuatu yang nampak. Padahal materi terikat oleh waktu, dan akan tergerus oleh waktu.

Berbeda dengan para pecinta yang tetap saling mecintai dengan ruhaninya. Contohnya adalah mereka kakek nenek yang tetap saling mencintai hingga akhir hayatnya. Romantis bukan? Cinta dengan fisik tidak akan bertahan lama. Seganteng-gantengnya (atau cantik), sekalinya menua, mereka akan menjadi jelek, keriput, dan buruk.

Saya merindukan tayangan-tayangan pada masa lalu, masa saya kanak-kanak. Saya sudah lama tidak menyaksikannya, sehingga lupa namanya. Ada sebuah tayangan, kartun, yang mendidik. Mengajarkan kepada saya kecil, mengenai sosok Nabi Muhammad saw.. Yah, acara-acara tersebut mengajarkan bagaimana menjadi anak-anak seharusnya, yang bahagia dengan dunia bermain, tetapi tidak melupakan agama. Kalau kita lihat sekarang, banyak acara yang target audience-nya adalah anak-anak, tetapi mengajarkan yang tidak seharusnya, seperti pacaran, berantem, individualisme, dan 2 paham itu, materialisme dan hedonisme.

Jika kau ingin menghancurkan suatu kalangan, pengaruhilah kaum mudanya. Saya rasa itu tepat, mengingat pemuda yang akan menjadi generasi selanjutnya yang meneruskan suatu kalangan. Jika generasi muda berhasil dicekoki, ketika generasi beralih, generasi muda selanjutnya juga akan dicekoki ajaran yang sama oleh generasi muda yang sudah menua itu, dan akan terus menerus berulang, dan mencekoki generasi selanjutnya akan lebih mudah daripada generasi-generasi awal.

Sebenarnya, saya ingin sekali bermunculan kembali tayangan-tayangan yang mendidik, yang memperindah akhlak kita, yang memperluas khazanah mengetahuan kita, dan tentu saja menghibur, bukan tayangan hiburan yang tidak berbobot atau bahkan mengajarkan hedonisme dan materialisme.

Tulisan saya ini berseri, sehingga insyaAllah di masa mendatang saya akan menulis kembali mengenai Filter bagi racun televisi ini. Semoga saya masih diberi kesempatan di masa mendatang. Aamiin. Semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi para pembaca. Stay tuned, dan salam sejahtera bagi para pembaca!

Lihat, lihat, lihat! Masih tidak bersyukur?

Sudah lama saya tidak ngeblog, karena kesibukan di luar sana, mulai dari acara mentoring hingga yang paling umum saat bulan Ramadhan, buka puasa bersama alias bukber. Menjelang akhir bulan Ramadhan, kegiatan semakin berkurang, karena mungkin banyak juga yang pulang ke kampungnya masing-masing, jadi acara rame-rame yang biasa dilakukan bersama teman kini lebih banyak dilakukan bersama keluarga.

Yah, sudah lama sekali saya ingin menuliskan blog post ini. Dan Alhamdulillah kini saya mendapat kesempatan untuk ngeblog. Izinkan saya menulis beberapa rangkaian kata, yang semoga saja bermakna dan bahkan bermanfaat bagi para pembaca.

Beberapa waktu yang lalu, saya bersama kawan-kawan dari remaja mesjid mengunjungi sebuah SLB. Tujuannya adalah mengundang mereka ke acara talk show dan pentas seni remaja mesjid kami. SLB tersebut sepertinya berukuran standar rumah tipe 50, bahkan menurut saya lebih kecil. Terletak di perdalaman komplek saya, menjadikannya tidak banyak yang mengetahui mengenai keberadaannya.

Saya pun masuk ke dalam. Berbincang dengan kepala sekolah dan para guru. Guru-guru di sana merupakan manusia-manusia hebat, mereka mengabdi tanpa pamrih untuk mengajar puluhan anak yang memiliki keterbatasan, dan berhasil. Mengapa saya bilang hebat? Karena saya punya pengalaman. Saya sendiri pernah menjadi seorang pengajar untuk anak-anak seusia SMP, dan saya pun kewalahan untuk mengatur mereka. Padahal mereka semua normal! Bayangkan kalau saya mengajar anak-anak yang memiliki keterbatasan, apalagi tuna grahita. Saya tak tahu harus bagaimana...

Kembali lagi ke jalan yang lurus, yaitu jalan cerita ini. Saya kemudian diajak ke dalam ruangan kelas untuk melihat aktifitas KBM. Saya sendiri bingung dimana ruang kelasnya, kemudian saya ditunjukkan oleh salah seorang guru di sana. Sang guru menunjuk kepada sebuah ruangan kecil -lebih mirip ruang tamu, kalau di denah rumah standaran-, masuklah saya ke dalam.

Kaget, itu perasaan saya pertama kalinya. Melihat begitu banyak anak-anak yang memiliki kekurangan. Ada yang mengalami problem afektif, kognitif, psikomotorik, ada pula yang tunawicara bahkan tunagrahita. Beragam. Dan hebatnya semuanya disatukan dalam sebuah kelas! Tidak ada konflik, semuanya berjalan lancar. Sekali lagi, saya kaget, karena ini pemandangan yang pertama kali bagi saya dan membungkam saya.

Saya menghampiri seorang anak yang tunagrahita. Dia sedang belajar menghitung bersama gurunya. Umurnya kurang lebih 7 tahun, tetapi masih memiliki keterbatasan dalam membaca, menulis, dan berhitung, dan juga dalam kecerdasan emosionalnya. Saya tidak sendiri, tetapi bersama teman saya, karena saya juga kesulitan berkomunikasi dengan dia. Dan kebetulan teman saya ini ahli dalam menangani anak-anak. Alhamdulillah saya tertolong.

Ketika anak itu sedang berinteraksi dengan teman saya, saya meminjam bukunya, melihat isinya. Yah, apa ya, perasaannya bercampur aduk. Ada perasaan bahagia karena dia bisa -setidaknya- menulis angka dan menggambar, di sisi lain saya merasa sedih karena dia memiliki keterbatasan yang, sangat-sangat membuat dia menjadi terbatas.

Dan kemudian, tiba-tiba kepala sekolah meminta anak-anak untuk memperhatikan beliau. Kepala sekolah itu menempelkan kertas yang tertulis deretan angka -yang kalau saya tebak itu not angka- dengan judul Mars SLB, dan kemudian kepala sekolah itu meminta anak-anak untuk mengambil angklung yang ternyata tanpa saya sadari sudah disiapkan oleh para guru. Setiap anak sudah memiliki bagiannya masing-masing. Si A kebagian angklung nomor 7, si B kebagian nomor 3, dan seterusnya.

Dan saya kembali terperajat. Mereka memainkan angklung dengan baik, meskipun kacau-kacau dikit. Dan yang menjadi perhatian saya adalah seorang pria paruh baya sering salah membunyikan angklung, yang saya sangka guru. Ternyata dia juga seorang siswa di sana. Dan ketika saya bertanya kepada rekan saya yang sudah ngobrol-ngobrol dengan guru di sana, dia ternyata sudah kepala empat, dan keluarganya telah menitipkan ia sejak SLB ini didirikan.

Saya tutup dulu ceritanya sejenak. Mari kita berefleksi. Kita sudah melihat pada gambaran cerita singkat di atas, begitu banyak saudara kita yang mengalami kekurangan. Dan mereka tidak menyerah pada dunia, dunia yang bagi siapa berserah padanya, dia akan dizalimi. Mereka tahu, di balik keterbatasannya mereka memiliki kekuatan semangat bagai bom atom yang bisa meledak kapan saja. Mereka tidak menyerah, mereka tetap maju, melawan derasnya kehidupan.

Tetapi, saya berduka, kepada para tunagrahita. Saya tidak bisa menerjemahkan mereka. Apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka tujukan, tidak tahu. Abstrak. Oh Tuhan, setiap mendengar mereka berbicara, setiap melihat mereka beraktifitas, air mata ini selalu keluar. Bagaimana mereka menghadapi kehidupan di luar sana, kehidupan yang keras, sedangkan mereka seperti ini?

Oh Ya Allah, fisik ini yang Kau ciptakan dengan sempurna, tetapi malah kusia-siakan! Aku bermalas-malasan, aku membuang waktuku, aku tertidur, disaat yang lain sedang bekerja keras, disaat mereka yang kekurangan berusaha untuk bertahan hidup, dengan keadaan fisik yang serba kekurangan, mereka berusaha amat sangat keras, hanya untuk mendapatkan sesuap nasi, sedangkan aku membuangnya! Aku sudah lupa bersyukur padaMu! Aku lupa akan keberadaanMu..

Ya Allah, aku hanyalah seonggok kotoran di muka bumi ini, menodai dunia ini dengan ketiadagunaanku. Ya Allah, sekiranya Engkau tidak menutupi aibku, sudahlah pasti aku menjadi makhluk yang amat hina. Ya Allah, ampuni aku yang selalu saja tidak bisa mensyukuri segala nikmatMu. Ya Allah, tanpaMu, aku hanyalah ketiadaaan...

Jatuh, tanggah, terpuruk.

Aku kini ingin bercerita mengenai kisah kegagalanku. Kegagalan yang berulang, hingga aku sadar dan menyesal kini. Mungkin, Tuhan menegurku karena keponggahanku, yang di dalam hati, menganggap orang lain tak lebih hebat dariku, atau paling sama denganku. Keponggahan intelektual, yang membuat telingaku tuli akan nasihat mereka yang berpengalaman, yang membuatku buta akan kenyataan. Indra hatiku tertutup. Aku merasa tinggi, meskipun aku merendahkan kepalaku dalam setiap sujud, tetapi aku tidak merendahkan diriku di hadapanNya, Dia yang telah menciptakanku, Dia yang telah memberikan aku segala nikmat tak terhitung, Dia yang segalanya, malah aku lupakan. Ketika aku memohon padaNya, hatiku tidak tulus, selalu terpancing hal duniawi. Oh Wahai Engkau Sang Pemilik Semesta Alam, akankah engkau mengampuniku? Akankah Engkau mengampuni aku yang kerjanya hanya malas-malasan, dan mengaku lebih hebat dari orang lain? Ya Allah, rendahkan hatiku ini...

Tanpa Engkau, aku tak lebih dari seonggok kotoran kecil di muka bumi yang mengganggu lingkungan di sekitarnya. Tapi, aku selalu saja lupa kepadaMu yang telah membesarkan aku dan menyelamatkanku dari segala kehinaan, Kau yang selalu menutupi aibku, Kau yang memberiku segalanya. Dan kini Kau menegurku dengan teguran yang mengguncangkan diriku, setelah beberapa kali menegurku melalui sesamaku.

Mungkin, karena niatku yang tidak sepenuhnya tulus untukMu, yang menjadikan aku gagal dalam setiap langkahku. Kadang, terbesit niat di dalam hati untuk belajar dengan niat Riya', ingin terlihat hebat. Dan aku lupa padaMu. Kesalahanku yang fatal.

Diriku yang selalu lalai akan waktu, seakan aku akan hidup selamanya di dunia ini, melupakan bahwa aku akan kembali ke kampung halamanku kelak, pada waktu yang tidak ada seorang pun yang mengira. Apakah aku sudah siap? Apa yang telah kutinggalkan, sesuatu yang bermanfaat, untuk sesamaku? Bagaimana aku bisa meninggalkan sesuatu yang bermanfaat, jika aku saja masih seperti ini?

Ya Allah, sekiranya engkau tidak memaafkanku, kemanakah hamba harus mencari harapan? Jika Engkau melaknatku, kepada siapa lagi hamba harus bernaung? Jika Engkau mencampakkanku, kepada siapa lagi aku memohon perlindungan? Tetapi, Ya Allah, aku tidak putus harapan akan Kemurahan-Mu. Ampuni aku Ya Allah, bimbinglah aku menjadi orang yang berguna...

Ramadhan

#Sebelumnya, penulis meminta kepada para pembaca agar melepas baju intelektualnya, sementara saja... Jangan anggap penulis sebagai pelaku Fallacy of Dramatic Instace, ataupun Other Fallacies...


Dua puluh sembilan hari bulan Jungjunan Besar kita, Rasulullah SAW. hampir terlewati. Kini kita akan masuk menuju bulan umat Beliau SAW., Bulan Ramadhan. Bulan yang tentu ditunggu oleh seluruh kaum Muslimin/at, apapun latar belakangnya. Bulan yang penuh dengan kasih sayang-Nya yang agung, tiada tara. Di bulan inilah, kita "dipoles" sedemikan rupa dengan ujian, sehingga ketika bulan ini usai, kita menjadi merpati putih yang mengintari Rahmat-Nya.

Tapi, tunggulah sebentar. Apakah aku pantas untuk memasuki bulan yang suci nan agung ini? Aku ini berlumuran dosa! Aku ini tidak pantas untuk menyentuh hal-hal yang suci milikMu... Aku hanyalah makhlukmu yang kerjanya berbuat dosa saja setiap hari! Aku selalu melupakanMu... Aku hanyalah cacing melata dari tumpukan kotoran di seberang sana. Aku tiada apa-apanya. Aku kotor! Aku Hina!

Ya Allah, jika sekiranya Engkau tidak menerimaku di bulanMu yang suci ini, pastilah aku menjadi makhluk terhina diantara seluruh makhlukMu. Jika sekiranya engkau tidak menerimaku di Bulan ini, pastilah Engkau tidak akan pernah menerimaku. Sekiranya Engkau tidak menerimaku sebagai hambaMu, entah kemana hamba harus bernaung... Jika Engkau mengabaikanku, siapa lagi yang akan membelaku...

Wahai Tuhan, ku tak layak ke surgaMu 
Namun tak pula aku sanggup ke nerakaMu 
Ampunkan dosaku, terimalah taubatku 
Sesungguhnya Engkaulah pengampun dosa-dosa besar...

Oh Allah... Ampuni aku... Engkaulah Sang Pengampun Tak Terbatas. Tuhanku, jika Engkau ampuni aku siapa lagi yang lebih pantas melakukannya selain-Mu.. Tuhanku, maafkan aku... Maafkan aku yang telah mengabaikanMu di saat Kau memperhatikan segala kebutuhanku... Maafkan aku yang selalu tidak mendengar akan perintahMu, padahal perintahMu itu demi keselamatanku... Tuhan, selain kepadaMu, kepada siapa lagi aku meminta ampunan dan naungan? Tuhan... Ampuni aku...

Ya Allah, Engkaulah Sang Maha Cinta. Kaulah Kekasih Abadi. Engkau selalu ingin agar hambamu menuju jalan yang benar. Segala ujian yang telah Kau berikan, adalah untuk kebaikan kami...

Ampuni aku Ya Allah... agar aku bisa menuju bulanMu yang suci ini...

#Haddad Alwi - Ilahi Lastu Lil

Mirisnya Pendidikan Indonesia

Mohon maaf sebelumnya saya lupa mencantumkan sumber cerita ini. Sekarang, link sumber cerita ada di bagian akhir tulisan ini.

"Bermula dari uang pendaftaran yang tidak ada, orang tua wanita tersebut menjual sapi untuk mendapatkan uang pendaftaran. Setelah mendapatkan uang, dia melakukan pendaftaran di bank mandiri yang jaraknya 22 km dari tempat tinggal dan yang penuh sesak dengan pendaftar yang lain. Setelah mendapatkan pin untuk login, ada satu masalah yang harus ditemui, banyak warnet disekeliling bank, namun tidak ada yang bisa print. Dan ada masalah lagi pada saat melakukan pengisian SPMA. Isi form, tetapi saat di print menjadi dua lembar, begitu katanya walau saya sedikit kurang tahu bagaimana karena jelas berbeda dengan tahun yang lalu..."

Sebuah kisah nyata yang saya kutip dari situs Kompasiana, yang dikirimkan pada tanggal 7 Juli 2012, pada saat pengumuman SNMPTN dan 2 hari setelah saya ulang tahun. Dari awal hingga akhir tulisannya, penulis menceritakan perjuangan seorang gadis yang berjuang untuk masuk PTN. Gadis tersebut berasal dari golongan ekonomi yang kurang mampu. Seperti yang Anda lihat pada kutipan cerita, sampai orang tua gadis tersebut menjual sapi-nya untuk membayar uang pendaftaran SNMPTN, bahkan hanya untuk mengeprint formulir pun sulit karena memang keadaannya. Terbayangkan oleh Anda bagaimana keadaan ekonomi mereka? Kadang kita yang sudah diberikan kemudahan pun masih sempat mengeluh.

"Hingga hari yang ditunggu tiba, saya membukakan hasilnya dengan ijin dari dia, karena disana jauh dari warnet. Saya pada waktu itu sungguh berharap akan lolosnya dia, melihat bagaimana usahanya dari awal. Bagaimana dia memaksimalkan ujian nasional, dan berhasil menjadi yang terbaik di sekolahnya. Namun kenyataan berbicara lain, ada suatu rencana lain yang mengharuskan dia untuk tidak kuliah di kampus impiannya. Walau begitu, dia berkata tetap ikhlas akan semuanya dan berencana mencoba ke kampus lain yang memiliki biaya murah atau bahkan jika bisa tanpa biaya khusus untuk dia mengingat kondisi ekonomi dan cobaan yang baru datang..."

Saya lewat beberapa bagiannya, Anda dapat membacanya di link yang akan saya berikan di bawah.

Sampai pada akhir kisah. Bagai halilintar yang menyambar di siang hari yang damai. Anda bisa membayangkan -atau bahkan pengalaman Anda sendiri- ketika Anda memiliki prestasi yang hebat, di bidang akademik misalnya, kemudian Anda mencoba mendaftar ke institusi yang selama ini telah Anda idamkan. Anda sudah berusaha keras selama sekian tahun, mengikuti ujian seleksi yang ketat, kemudian pada hari penentuan Anda diterima atau tidak, ternyata Anda tidak diterima. Bagi saya itu merupakan sebuah sambaran yang menyakitkan. Apakah demikian dengan Anda?

Dunia memang tidak pernah adil. Banyak sebenarnya orang yang cerdas, pintar, tapi terkalahkan oleh pelangi yang biasa menghiasi pundi-pundi. Pelangi itulah yang menghiasi pendidikan kita. Si kaya biasa-biasa saja (atau bahkan bodoh) mengalahkan si miskin (super) cerdas dalam persaingan masuk PTN favorit. Komersialisasi pendidikan jugalah yang mengakibatkan banyak bangunan sekolah-sekolah negeri ambruk. Pemerintah kita terkesan acuh mengenai fasilitas dan kualitas pendidikan, tetapi paling semangat ngurusin anggaran pendidikan yang membumbung tinggi, mencapai ratusan triliun pelangi.

Pendidikan kita, menurut saya, menyedihkan. Masih dapat dengan mudah disuap oleh pelangi. Contoh kasus lain adalah tetangga saya. Tetangga saya bermaksud memasukkan anaknya ke salah satu SMP Favorit di Kota Bandung. Anak tetangga saya memiliki prestasi di bidang olahraga dan juga memiliki hasil NEM yang tinggi. Kemudian, datang orang lain yang juga membawa anaknya yang memiliki prestasi biasa saja, dan tidak memiliki record prestasi non-akademik, tapi pundi-pundinya tebal. Dengan sekian juta pelangi, si anak yang kalah prestasinya ini bisa menggeser anak tetangga saya yang sudah terbukti berprestasi. Kalau saya boleh berkesimpulan, prestasi itu bukan ditinjau dari hebatnya si anak, tapi hebatnya pelangi dalam pundi-pundi.

Anak-anak Indonesia banyak yang cerdas, sebenarnya. Suharyo Sumowidagdo contohnya. Dialah fisikawan Indonesia dibalik penemuan partikel Higgs Boson (lengkapnya baca di Kompas). Dia bekerja sama dengan orang asing. Karena di Indonesia, orang yang intelektual sering kali tidak dihargai bahkan dilecehkan. Sehingga mereka lebih memilih kerja untuk negara lain dan dengan orang lain ketimbang mengabdi di negaranya sendiri, toh kerja sama orang lebih enak, lebih dihargai. Tapi semoga rasa cinta tanah airnya tidak hilang.

Tapi, meskipun pendidikan kita seperti ini, saya masih benar-benar salut kepada para pejuang sejati yang benar-benar bertekad untuk belajar. Contohnya, gadis yang diceritakan oleh Kompasianaer di atas. Sebenarnya masih banyak orang yang seperti itu, tetapi tidak tersoroti oleh kita.

Tetaplah belajar, dan jadilah yang mengeluarkan Indonesia dari dunia yang suram. Belajarlah, dan belajar, Semangat! :D

Sumber Cerita: Kompasiana

The Way of Love

The Prophet’s Path, the Way of Love 
Only by this Love you’ll rise above 
Like a dove that’s been set free 
Love with longing is the key 
This love with longing is the key


Di sebuah pagi yang sejuk -meskipun bau asap pembakaran sampah-, langit yang bergradasi dihiasi oleh rembulan yang masih berseri dan segerombolan burung yang hijrah dari utara menuju selatan. Jarang sekali saya keluar pada subuh menuju pagi di teras. Ditemani si Mac yang memutar lagu "The Way of Love" karya Haddad Alwi.

Saya jadi teringat, tadi malam saya berdo'a pada malam nishfu sya'ban, suatu malam yang menurut banyak orang, merupakan malam tutup buku amalan manusia. Sebelum benar-benar "tutup buku", manusia memohonkan ampun kepada Rabb-nya, dan juga agar dosanya dihapuskan, sehingga ketika tutup buku, record akhlak buruk manusia dihapuskan, karena telah diampuni oleh Sang Maha Pengampun.

Terlepas dari hal-hal yang berbau fiqh, saya ingin mengutarakan perasaan saya mengenai malam nishfu sya'ban ini. Sekali lagi, mohon lepas baju fiqh Anda.

--

"Sya'ban adalah bulanku", begitulah sabda Baginda Rasulullah saw. Karena ini adalah bulan kekasih Allah swt., maka Allah pun membuka pintu pengampunan seluas langit dan bumi, seluas-luasnya. Sudah menjadi rahasia umum, permintaan sang kekasih kepada yang dicintainya pasti akan dijabah. Sama pula dengan Allah dan kekasih-Nya, Rasulullah. Setiap permintaan Rasulullah kepada Allah pasti akan dijabah.

Honey, nectar, sweetness and cream 
Orchids blooming by a mountain stream 
Star lit skies and waves on the sand 
Next to love they can't stand 
Next to this love they can not stand


Rasulullah semanis madu, bahkan jauh lebih manis lagi, manis yang sempurna. Karena Beliaulah alam semesta diciptakan. Beliaulah yang menyebarkan kasih sayang ke seluruh alam semesta. Dialah Rahmatan lil 'alamin. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Beliau dan Keluarganya.

Malam Nishfu Sya'ban, merupakan salah satu keberkahan dari Rasulullah. Kalau saya boleh berandai-andai, mungkin pengampunan Nishfu Sya'ban itu ada karena permohonan Rasulullah kepada Allah agar Allah mengampuni umat-umat beliau yang berlumuran dosa -seperti saya- di saat bulan beliau. Kalau dari sini, saya bisa membayangkan, betapa manisnya cinta Rasulullah kepada umat-nya. Meskipun kita -termasuk saya juga- "suka" menyakiti Rasulullah karena kelakuan kita, Rasulullah tetap mencintai kita, dengan harapan agar kita berumah menjadi manusia yang lebih baik, yang dekat dengan  Allah, Rasulullah, dan keluarganya.

Kalau saya bicara cinta, ini merupakan tingkat cinta tertinggi, cinta ruhaniah. Biasanya kita, terutama yang masih remaja, cinta kita mengarah kepada cinta jasmaniah. Cantik/tampan, bodinya aduhai, dan sebagai macamnya. Cinta ini akan dengan mudah musnah dan tak akan berlangsung lama. Berbeda dengan cinta ruhaniah. Cinta ini bertahan lama, makin sempurna makin tahan lama. Cinta Rasulullah yang agung merupakan cinta yang tertinggi, yang tak lekang oleh waktu.


Bahkan, Rasulullah menyebut kita (kaum sesudahnya) sebagai ikhwani, saudara-saudaraku. Mungkin kita bisa membayangkan, betapa Rasulullah mencintai kita, sampai dengan romantisnya menyebut kita sebagai Ikhwani. Padahal, Rasulullah sendiri menyebut yang sezaman denganya sebagai Sahabat. Sekali lagi, terbayang kan betapa cintanya Rasulullah kepada kita?

Pada malam Nishfu Sya'ban, saya membaca do'a-do'a yang romantis dan mengharukan semua isinya. Misalnya do'a kumail. Dalam do'a kumail kita mengakui betapa rendahnya kita, kita tidak ada apa-apa tanpa-Nya dan betapa Tingginya Allah swt. Karena derajat Allah Yang Maha Tinggi, kita sebagai makhluk yang rendah memohon perlindunganNya, dan kasih sayangNya. Percayalah, jika kita memohon perlindungan kepada yang lebih tinggi derajatnya, kita akan aman. Apalagi yang derajatnya Tertinggi?

Tidak hanya itu, saya pun membaca ziarah kepada cucu Nabi, al-Husain as. yang syahid di padang Karbala, yang wafat secara tragis, kepalanya yang suci dipotong oleh penguasa zalim yang kotor. Dan masih banyak peribadahan yang dilakukan pada malam ini, seperti shalat tasbih, dzikir, dan masih banyak lagi.

How can I find a way to express
Something that cannot be thought or guesses 
Something more than just words? 
This love is neither seen nor heard 
This love is neither seen nor heard

Cintanya tak dapat dilukiskan oleh kata-kata. Cintanya terlalu indah untuk dinyatakan. Cintanya terlalu tinggi untuk dijamah. Itulah cinta Rasulullah. Tidak seperti kita, cinta kita yang bisa diterjemahkan sebagai "kamu cantik" atau "kamu cakep". Cinta yang tinggi tak dapat dideskripsikan oleh kumpulan huruf. Cinta dari hati, bukan nafsu. Dialah sang kekasih.

Love is the rope given by Allah 
It will save you from every flaw 
Grasp it then He will draw you near...


#Haddad Alwi ft. Debu - The Way of Love

IQ vs EQ

Saya sering menemukan di masyarakat, jangan jauh-jauh, dari kalangan rekan-rekan saya. Yang orangnya cerdas, selalu ranking, tapi mereka memiliki beberapa masalah sosial, pada umumnya dari rasa empati; merasakan perasaan orang lain. Banyak orang yang memiliki kendala berkomunikasi dengannya. Kendalanya tidak akan saya jelaskan di sini.

Tetapi di sisi lain, ada juga mereka yang hidupnya sangat sosial, dengan nilai akademis yang bisa dibilang, sederhana. Tetapi dia mampu membuat orang yang baru dia kenal, di warteg misalnya, menjadi teman yang akrab. Bahkan kawannya itu langsung curhat kepadanya, meskipun baru dia kenal.

Secara subyektif, saya cenderung lebih memilih kasus kedua. Pada orang yang di kasus kedua, dia memiliki kecerdasan emosional yang baik, tetapi tidak mengabaikan kecerdasan intelektualnya, meskipun nilai kecerdasan emosionalnya lebih tinggi dibandingkan kecersasan intelektual.

Tetapi, ada yang lebih hebat lagi, ini yang ketiga. Dia adalah seseorang yang mempunyai prestasi intelektual tinggi, tetapi dia tetap hebat dalam bersosialisasi dengan sesamanya. Dia disegani oleh rekan-rekannya. Dia adalah seorang orator ulung, ilmuan sains dan teknologi, dan juga seorang filantropi.

Dan, saya ingin menjadi yang ke tiga! Jujur, dia orang yang hebat (meskipun saya ngga tahu itu siapa, karena dia munculnya dari imajinasi saya), dia mampu menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan sosial. Inilah (yang nampaknya) dibutuhkan oleh dunia sekarang.

Tetapi sayang, kini banyak orang yang hanya menganggap kecerdasan intelektual (IQ, Intelligence Quotient, kecerdasan intelektual) sebagai satu-satunya tolok ukur kecerdasan seseorang. EQ (Emotional Quotient, kecerdasan emosional), dan yang tak kalah penting, SQ (Spiritual Quotient, kecerdasan spiritual), malah dianak-tirikan. Orang yang tidak memiliki IQ tinggi, sangat sering dibilang sebagai orang bodoh, atau tulul; menurut istilah Om Mario Teguh, meskipun EQ-nya hebat dan SQ-nya superior. Entah siapa yang membuat pandangan seperti ini, tapi saya punya tebakan.

Padahal, perpaduan seimbang antara ketiga kecerdasan ini dapat melahirkan insan yang hebat, yang kelak akan memecahkan masalah kehidupan yang semakin rumit ini. EQ akan membantu kita dalam memahami kehidupan secara luas dan kehidupan horizontal, hablum minannâs. Dan SQ akan membantu kita berkomunikasi vertikal dengan Sang Khalik, hablum minallah. EQ dan SQ memiliki keterikatan yang kuat, yang mungkin akan saya bahas pada tulisan EQ ft. SQ, insyaallah.

-------

Sekian dari tulisan saya yang super singkat ini. Saya baru saja pulang dari sebuah kampung yang amazing, sehingga saya merasa lelah, tapi ingin sekali jari saya mengetik sepatah dua patah kata. Insyaallah ketika saya ada waktu saya akan menceritakannya di blog ini.

Kawan, silaturahmi itu sangat penting, Saya akan merasa sangat bahagia jika ada yang bersilaturahmi dengan saya. Ditunggu ya di FB atau di email saya di takumi_aoki@mail.goo.ne.jp

Salam Cinta Bagi Semua Penghuni Bumi!


Sesat

"Kenapa kamu ngga begini? Kan harusnya seperti ini! Dasar sesat."
"Kamu beda dari kita! Kamu sesat! Pergi!"
"Aku tak peduli dengan itu! Kau memiliki pemikiran yang beda dari kita, kau membawa ajaran baru, ajaran sesat!"
 "Akidah kita harus sama, yang sama benar yang beda yang sesat"
"Merekalah yang selalu benar! Merekalah yang dekat dengan wakilNya!"

"Kamu tahu mana yang benar? Apakah kau Tuhan?"
"Apakah setiap manusia harus sama? Apakah kau mau menandingi Tuhan?"


"Untuk apa Tuhan membekali kita dengan akal?"

Kuliah, cari ilmu atau cari kerja?

"Kamu harus kuliah di jurusan yang prospek kerjanya bagus, kayak informatika! Apaan tuh sastra jepang? Bisa cari duit gitu dengan sastra jepang?"


Kuliah, oh kuliah. Dilema bagi saya, yang sedang mencari dimanakah tempat kuliah yang "baik" bagi saya. Di satu sisi, saya ingin banget kuliah di hal yang berkaitan dengan animasi-animasi terutama 3D, atau nggak di hal yang berhubungan dengan jepang. Di sisi yang lain, kemampuan saya untuk tes gambar agar masuk DKV yang ada animasinya masih dibilang biasa saja dan orang tua saya nampaknya keberatan kalau saya masuk sastra jepang.

Oh... Salah satu dilema terhebat dalam hidup saya. Mau masuk kuliah bingungnya setengah mati. Ingin masuk sini, ada yang keberatan. Ingin masuk sana, kemampuan gambar belum bagus. Padahal menurut saya saat ini untuk membuat sebuah animasi 2D modern atau 3D, skill komputer lebih banyak dibutuhkan daripada skill menggambar, dan cita rasa seni plus komunikasi-lah yang paling utama (Sebuah animasi yang gambarnya biasa saja tetapi komunikasi dan seninya dapet pasti bakal banyak yang seneng). Okelah, skill menggambar diperlukan untuk membuat karakter, tapi kenapa pas testing gambarnya harus bagus? T.T

Kembali lagi ke topik yang ingin saya bicarakan. Banyak sekali orang yang kuliah yang orientasinya kepada kerja. Ah, menurut saya untuk hal seperti ini lebih baik kursus saja! Selain lebih menghemat biaya, kita juga bisa lebih profesional, karena di kursus lebih banyak praktek dibandingkan teori-teori. Toh di lapangan kerja, skill mempraktekkan ilmu lebih penting dibandingkan memiliki banyak ilmu.

Oh, mungkin karena tidak dapat gelar ya kalau tidak kuliah atau ngambil kursus? Jaman sekarang, nampak sekali gelar adalah lebih penting daripada pendidikan. Dengan gelar, kita mudah diterima kerja dan memiliki gengsi tersendiri. Contoh, Prof. DR. K.H. Udin Suganteng S.Ars, M.Eng.Sc., Ph.D. (tambah satu gelar deh, Alm., semua gelarnya akan menjadi omong kosong tanpa ilmu dan dedikasi kepada masyarakat)  Percuma kalau gelar tanpa ilmu! Sayang duit dipake mahal-mahal untuk cari gelar doang. Apalagi tu gelar dipake buat gengsi doang tanpa dedikasi pada masyarakat.

Mengapa kuliah tidak diniatkan mencari ilmu saja? Dengan niat mencari ilmu, kita akan mendapat banyak sekali manfaat! Ilmu yang didapat akan sempurna, dedikasi kepada masyarakat semakin bulat, penawaran kerja akan berebut untuk mendapatkan kita! Meskipun kita hanya memiliki satu saja gelar, S.S. misalnya, jika kita dengan serius mempelajari ilmu yang berkaitan dengan gelar tersebut, kesejahtraan akan menghampirimu.

Jangan takut tidak kebagian rezeki kawan! Nikmat dan rezekiNya terbentang amat luas di jagad kehidupan ini. Jemputlah satu rezeki yang datang kepada kita dengan ilmu, maka rezeki-rezeki yang lain akan tertarik dengan kita karena kita  telah menjemput salah satu "kawan" mereka dengan ilmu. Bandingkan dengan menjemput rezeki dengan gelar, satu rezeki datang menghampiri kita, tetapi rezeki-rezeki lain tak akan tertarik dengan kita, dan pada akhirnya kita sendiri yang harus mencari rezeki-rezeki itu, sendirian. Enakan yang mana?

So, carilah ilmu yang bermanfaat dengan niat sepenuh hati untuk mencari ilmu. Tinggalkanlah gengsi, karena kuliah adalah ajang mencari ilmu, bukan mencari gengsi apalagi gelar. Kuliahlah pada PT jurusan yang "sreg" dengan hatimu, agar kelak kau bahagia dengan hidupmu dan ilmu-mu, jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Satu lagi! Wirausaha! Saat ini, di Indonesia hanya memiliki 1,56% (Menteri Koperasi dan UKM) dari total penduduknya, dan idealnya 2%. Mengapa tidak jadi wirausahawan saja? Selain rezeki yang datang akan lebih banyak, kita juga bisa mendapat banyak pahala dari membiayai kehidupan orang banyakan karena kita telah mendirikan sebuah lapangan kerja bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan, dan juga mengurangi pengangguran :). Gunakan ilmu yang kau dapat untuk mendirikan usaha. Kawan, 9 dari 10 pintu rezeki adalah melalui perniagaan. Percayalah.

"Jika kau mencintai suatu pekerjaan, apapun itu, uang akan menghampirimu."

Semangat kawan!

Sulenian English


What am I going to do?
But I can’t do anything


Saha cing anu teu terang Sule? (Siapa coba yang tidak kenal Sule?), pria kelahiran Cimahi, 15 November 1976 yang merupakan seorang artis kocak (bisa juga disebut pelawak) yang namanya melejit pada sebuah TV Show Opera van Java.

Yang saya suka dari seorang Entis Sutisna, nama asli Sule, adalah gaya leluconnya yang kreatif, spontan, dan ekspresif. Selain menjadi seorang komedian, dia juga menjadi seorang "penyanyi". Liriknya yang nyeleneh tapi kreatif, itulah yang saya sukai dari lagu-lagunya Sule.

Sebentar! Coba dengarkan lagu-lagu Sule yang berbahasa Inggris, seperti "Smile U Don't Cry'. Ini liriknya:

You want to say goodbye
I want to holiday
I give you food capcay
After don’t cry


Try to look at the sky
Nothing to puyunghay
I want to you cingcay
Don’t finish I ngacay


I want you and me always together
Always together I want you and me
You dont running, me and the cry


For you, I and the sky
Nothing the wind of change, because I love you so
Oh my love oh my darling
I never stop loving you baby because I love you
Smile you don’t cry huuu...
Smile you don’t cry

"Try to look at the sky, Nothing to puyunghay, I want to you cingcay, Don’t finish I ngacay"


Haha! Bodor pisan liriknya. Semuanya berujung dengan huruf Y. Tapi saya nggak tahu apa artinya cingcay, jadi saya belum bisa memahami isi dari 2 pasang lirik itu. Kalau ada yang tahu artinya, kasih tahu yaa! :)

Dan. Kalau diperhatikan, Inggrisnya sudah cukup melenceng dari Tata Bahasa Inggris (Grammar). Tapi ini yang saya suka. Kejenakaan lagu ini ditampakkan oleh Grammar yang acak-adut.

Ya, ini dia yang kusebut Sulenian English! Tata Bahasa untuk Inggris Sule, haha. Sulenian English cocok untuk para komedian yang ingin menyuarakan lawakannya dengan bahasa inggris, dan juga selipan dalam presentasi bagi para presenter ketika para audiens sudah mulai menguap.

Inilah salah satu perilaku kreatif orang Indonesia. Jujur, sepanjang pengalaman hidup saya, orang Indonesia banyak yang kreatif, tidak hanya Sule saja. Ada yang mengubah bayam yang tidak tahan lama menjadi kripik yang lezat dan tahan lama. Itu salah dua (biasanya salah satu kan? Soalnya ini ada dua contoh, hehe.) dari jutaan bukti kreatifitas anak negeri.

So, show your creativity, Indonesians! ;)

---

Photo is courtesy of tribunnews.com


Mimpi (1)


Mimpi adalah kunci 
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya


Kawan, sudahkah kau tahu kekuatan dari mimpi? Mimpilah yang membuat segalanya ada, yang membuat semangat hidup muncul, yang membuat kreasi terus ada. Kawan, indahnya bermimpi. Mimpi adalah rahmat Tuhan yang amat sangat besar.

Kau tahu Wright Brothers? Merekalah sang pemimpi besar, yang mimpinya membuat kehidupan di dunia berubah drastis, yang membuat dunia lebih seru. Ruang, waktu, bukanlah halangan besar, berkat mereka. Antar negara dapat ditempuh dari yang semula berbulan-bulan menjadi beberapa jam saja. Ya, merekalah pencipta pesawat yang paling awal.


Laskar pelangi takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
Warna bintang di jiwa


Bermimpilah setinggi-tingginya kawan! Gantungkan mimpimu di atas langit, bersama bintang-bintang. Meskipun kata orang itu tidak mungkin, tapi percayalah kawan, "tak ada yang tak mungkin!" Tuhan telah menciptakan sebuah langit, dimana langit itu terdiri dari bintang-bintang harapan manusia.  Dan bintang itu akan tetap bersinar terang jika kau percaya akan mimpi, terus bersinar, hingga kelak kau akan merasakan indahnya sinar bintang itu.


Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada Yang Kuasa
Cinta kita di dunia selamanya

Kawan, meskipun kau memiliki keterbatasan, bukan berarti kau tidak bisa. Tuhan Maha Adil, kawan. Setiap orang diberikan nilai kemampuan yang sama. Di satu sisi lemah, di satu sisi kuat. Kau memiliki kekurangan, kawan. Tapi, kau punya yang belum tentu setiap orang punya. Kau bisa memahami apa yang orang lain tidak paham.

Tetaplah tersenyum kawan, kita akan selalu bersama, peganglah erat tanganku, saling melengkapi, bersyukurlah kepada Sang Pemilik Cinta.


Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita


Tetaplah optimis dalam kehidupan, kawan! Carilah terus apa makna kehidupan itu. Jika kau telah menemukannya, aku yakin kau akan merasakan kebahagiaan yang tulus. Jangan lelah, bangkit, dan teruslah berjalan kawan!


Laskar pelangi takkan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai
Jutaan mimpi di bumi


(to be continued)




Cobaan itu rahmat-Nya!

"Bahan-bahan yang digunakan ‘tuk menyamak kulit
Adalah cobaan baginya
Agar dengan itu dihasilkan kulit yang halus
Kalau kulit itu tidak direndam dalam bahan-bahan yang pahit
Dan tajam niscaya ia tetap keras dan berlendir..."

Begitulah kutipan sebagian rangkaian kata-kata yang indah dari Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri, atau yang kita sebagai Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi.

Kawan, aku ingin melanjutkan perkataan Jalaluddin Rumi yang hebat ini, supaya kau lebih mengerti lagi maknanya...

"... Bandingkan manusia dengan kulit tersebut
Sebelumnya ia berlumuran noda dan menjadi berat
Karena itu harus dituangkan kepadanya
Kepahitan dan penderitaan
Agar ia menjadi bersih, lembut dan cemerlang
Kalau engkau tidak bisa
Meningkatkan dirimu, wahai orang yang berakal,
Serahkan saja urusanmu kepada Allah
Agar dia terangkan kehidupan pahit kepadamu
Tanpa engkau usahakan sendiri
Cobaan dari Sang Kekasih,
Bagimu adalah pensucian
Dan ilmu-Nya berada di luar jangkauanmu."

Apakah kau sudah mendapatkan maknanya, kawan? Bagaikan sebuah baju putih yang bau dan kotor. Agar baju tersebut bersih putih seperti sedia kala, harus dicuci menggunakan pemutih. Dan apakah kau tahu, sekeras apa pemutih itu? Pemutih, jika lama kontak dengan kulit, akan membuat kulit menjadi gatal, bahkan melepuh. Dan jika terkena besi, besi itu akan mengalami korosi.

Dan kau tahu apa yang terjadi ketika baju tersebut keluar dari rendaman tersebut? Baju akan menjadi putih bersih. Tetapi, baju itu mengalami "siksaan" yang dilakukan oleh pemutih yang keras.

Itulah mengapa Tuhan menciptakan "ujian", kawan. Bukan untuk melakukan tes kepada makhluk-Nya, seperti yang dilakukan manusia kepada sesamanya. Tuhan menciptakan "ujian" sebagai sarana penyucian diri bagi manusia. Ujian adalah wujud kasih sayangNya kepada makhluknya.

Dan kawan, hidup ini tidak akan indah tanpa cobaan. Kau tidak akan pernah tahu mana yang indah jika kau tidak mengetahui cobaan itu seperti apa. Sekali lagi, cobaan merupakan manifestasi dari namaNya, ar-Rahim.

-------

"Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."

Kau tahu kalimat itu kan, kawan? Itu adalah kalimat Tuhan yang menentramkan hati. Tuhan menjamin bahwa  kesulitan akan datang bersamaan dengan kemudahan. Banyak orang yang beranggapan, bahwa kemudahan datang setelah kesulitan, habis gelap terbitlah terang. Sebenarnya, jika kita merenung lebih jauh, benar adanya bahwa kesulitan datang bersama kemudahan. Sebuah kesulitan tidak akan pernah menjadi lebih mudah dan kemudian menjadi mudah, dan akan tetap pada keadaan sulit, jika tidak dibarengi dengan kemudahan. Kalau kita analogikan sebuah baut berkarat sebagai kesulitan dengan pelumas sebagai kemudahan. Tentu saja, baut yang berkarat tersebut akan sulit untuk diputar. Dan jika kita beri pelumas, memutar baut tersebut akan menjadi lebih mudah. Itulah, "bersama kesulitan ada kemudahan."

Kawan, jangan terjebak. Kadang, dan sering sekali, sebuah nikmat yang amat sangat besar terbungkus oleh cobaan yang pedih. Kau tahu durian kan? Luarnya sangat berduri, tak sedap dipandang. Tetapi dalamnya -bagi penikmat durian- rasanya sangatlah enak.

Dan ada juga siksaan yang amat pedih terbungkus oleh kenikmatan dan keindahan. Buah Mahkota Dewa, penampakan luarnya indah, tetapi dalamnya amat beracun jika kau konsumsi begitu saja.

---

Eh kawan, ada salam cinta dari Tuhan untuk kita semua :D

---

Syair Jalaluddin Rumi dikutip dari: http://filsafatislam.net/al-adalah-for-teens-bukti-11c-faedah-keburukan-4-sarana-edukasi/

Pendidikan (2)

Maaf! Aku tertidur kawan! Kemarin rasanya tubuh ini sangat letih... Mungkin karena kemarin aku terlalu sibuk, sehingga aku pun baru punya kesempatan untuk bercerita denganmu di saat malam hari yang suntuk. Kita lanjutkan ya?

Kawan, di pagi yang dingin ini, aku baca surat kabar hari ini. Kulihat pada bagian bawah ada foto seorang gadis kecil imut berkerudung, dengan latar belakang penuh sampah bersama kawan-kawannya. Kulihat sekumpulan huruf tebal yang menyusun sebuah judul "Dari Mengais Sampah Sampai Seribu Cinta".

Ah!

Dialah Nurdiansih, seorang gadis cilik berumur 11 tahun, yang merupakan siswi kelas 3 di sebuah sekolah dasar negeri di daerah Cadas-Ngampar. Dia mengais kumpulan-kumpulan sampah yang dia temukan di tempat pembuangan sampah akhir, menyimpannya ke dalam sebuah kantong plastik, dan kemudian memberikannya kepada ibunya.

Tak kuasa kubayangkan, di sebuah tempat yang penuh sampah, bau yang sangat menyengat, matahari yang terik membakar kulit, dia masih kuat untuk mengais rezeki dari Tuhan. Diriku tak yakin, kawan, jika diriku menjadi dia, diriku masih kuat untuk menghadapi hidup ini...

...

Sebuah potret buram masa kecil. Anak kecil seharusnya bermain dengan riang, bahagia bersama kawan-kawannya. Mengenyam pendidikan agar kelak dirinya menjadi seorang pemulia bangsa, negara, dan orang tuanya. Tetapi... Si kecil ini harus berjuang keras agar dapat bertahan hidup dengan mengorbankan masa kecilnya yang seharusnya indah.

Kawan... Masih banyak yang kekurangan di luar sana. Boro-boro sekolah, makan pun sulit...

Maka, bersyukurlah kita masih hidup dalam kecukupan. Mau makan bisa, sekolah pun bisa, bahkan ketika kita perlu sesuatu yang harganya cukup mahal, orang tua masih bisa berusaha untuk memenuhinya. 

"Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?" 

Tuhan mengulanginya 31 kali. Kawan, janganlah kita sia-siakan nikmat dan rahmat Tuhan yang begitu luas. Bersyukurlah. Bersyukurlah dengan cara tidak menyia-nyiakan segala nikmat dan rahmatNya. Waktu, uang, kesempatan, dan masih banyak nikmatNya yang sangat sering sekali kita lupakan.

Ah kawan! Sudah hampir jam 10 pagi. Saatnya beraktifitas! Nanti kalau kita ada kesempatan, kita lanjutkan lagi pembicaraannya ya? Tentu saja di tempat yang sama :)

Semangat pagi!

----

The picture above is courtesy of http://yusnoktaviani.blogspot.com/

Pendidikan (1)

Ing ngarso sung tulodo 
Ing madyo mangun karso
Tut wuri handayani.

Kau tahu apa arti dari kata-kata berbahasa Jawa tersebut? Biarkanlah kuterjemahkan.

"Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan."

Itulah kurang lebih terjemahannya. Mungkin hanya kalimat akhirnya saja yang kau kenal, Tut wuri handayani, semboyan yang paling sering kita lihat di lambang Diknas. Yuk kawan, kita lihat ke dunia sekeliling kita, sambil beristirahat dari kepenatan jiwa ini.

Eh kawan, lihatlah koran hari ini. Banyak sekali sekolah yang fasilitasnya minim, ruangan rusak, sampai ada yang roboh karena memang sudah habis umurnya. Padahal anggaran dana yang dialokasikan untuk pendidikan sudah cukup besar, 20 persen. Tapi apa yang terjadi di lapangan? Tetap saja banyak fasilitas pendidikan yang tidak layak! Kemanakah dana tersebut melayang? Ke kantong "mereka"?

Haah, sepertinya anggaran dana 20 persen yang digembor-gemborkan hanyalah demi kepentingan politik semata. Selain fasilitas pendidikan yang buruk, pendidikan juga semakin mahal! Biaya masuk ke salah satu institut negeri yang terkenal di Bandung "hanya" 50 juta rupiah. Pendidikan semakin tidak ramah kantong. Bagaimana mau terwujud sebuah negeri yang maju jika pendidikannya saja sudah tidak baik? Pendidikan merupakan fondasi sebuah negara. Dan al-Qur'an telah dengan indah menyatakan pentingnya menuntut ilmu.

"Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." (QS. 21:7)

Bukan hanya ayat ini saja yang menyatakan pentingnya menuntut ilmu. Masih banyak ayat-ayat al-Qur'an mengenai keutamaan menuntut ilmu. Jika kau mengeksplorasinya, pasti kau akan menemukannya, kawan.

Masih segar di pikiran kita kan, kawan? Beberapa waktu lalu kita mengikuti Ujian Nasional sebagai salah satu syarat kelulusan dari sekolah. Di ujian nasional, semua orang kemampuannya dianggap sama rata. Padahal, pembangunan pendidikan di Indonesia benar-benar tidak merata. Ada satu wilayah yang sekolahnya bagus-bagus, ada pula wilayah yang terpencil, yang tidak mendapat perhatian pemerintah, tetapi dipaksa ikut UN. Tidak aneh jika kemudian banyak siswa-siswi yang stres, bahkan sampai masuk rumah sakit. Betapa mengerikannya, bukan? 

Meskipun pemerintah mengklaim tidak ada masalah pada UN, terutama mengenai kebocoran kunci jawaban, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di lapangan. Kunci jawaban beredar dengan bebas, lewat SMS, lewat BBM, lewat media yang bisa "dirahasiakan". Selain itu, pada beberapa sekolah Lembar Jawaban Komputer (LJK) memiliki kualitas yang kurang baik. Tinta yang meleber, kertas yang rusak dan tinta yang menipis ketika dihapus menjadi kendala tersendiri bagi siswa yang menghadapi UN. Bisa jadi, jawaban mereka banyak yang benar, tetapi mereka tidak lulus karena faktor apapun yang berkaitan dengan LJK.


....

Pemimpin


“Hingga tatakala mereka (bala tentara Sulaiman) sampai ke lembah semut, lalu berkatalah seekor diantara mereka (Ratu Semut): Hai sekalian semut masuklah ke dalam sarangmu, agar kamu tidak dihancurkan oleh Sulaiman dan bala Tentaranya, sedangkan mereka (Sulaiman dan bala tentaranya) tidak mengetahui akan sarangmu.”

Bacalah, kawan. Tuhan ingin menjadikan ratu semut sebagai contoh pemimpin. Ketika rakyat-rakyat semut nyawanya sedang dalam ancaman akan terinjak oleh bala tentara Sulaiman yang tidak mengetahui keberadaan mereka (semut-semut), sang ratu semut memerintahkan kepada rakyatnya agar masuk ke dalam sarang-sarangnya. Ratu semut ingin agar rakyat-rakyatnya aman.

Kau tahu kawan? Indonesia, dahulu dikenal sebagai negeri yang hijau makmur, paru-paru dunia. Batang tumbuhan yang ditancapkan di bumi Indonesia akan tumbuh menjadi tanaman yang subur, air mengalir di sungai begitu jernihnya dan bisa langsung diminum.

Pemimpin Indonesia dahulu sangatlah amanah. Lihatlah ketika mereka memimpin, negeri subur ini mampu membuat rakyat makmur bahagia.

Kini, Indonesia berubah, menjadi seperti sebuah bangsa yang terbuang.

Bandingkan pemimpin-pemimpin kita dulu dengan pemimpin-pemimpin kita kini. Mereka kini hanyalah mementingkan perut mereka. Tak peduli apa yang mereka lakukan –meskipun hal itu akan membakar perutnya sendiri-, entah itu korupsi, suap, dan tindakan kotor lainnya, mereka lakukan demi memenuhi hawa nafsu raja-nya.

Negeri yang subur ini berubah menjadi negeri yang tandus, kering. Sawah-sawah yang hijau dan menyejukkan mata diubah menjadi mall megah -yang hanyalah memenuhi nafsu para kaum materialis-. Karena dibaliknya para pemimpin kita tergiur oleh uang dari para pengelola mall. Akibatnya? Banyak! Salah satunya adalah iklim menjadi tidak karuan, dan kehidupan menjadi tidak seimbang.

Kau tahu Tomcat? Kumbang yang kini mengganas hingga ke kota. Menyebabkan kulit manusia melepuh  jika kita mengalami kontak dengan bisanya. Janganlah menyalahkan Tomcat. Tomcat tidak akan mewabah jika habitatnya, sawah, tidak dirusak oleh manusia. Kau tahu? Jika kita merusak alam, alam akan marah pada kita. Dan mungkin kumbang Tomcat ini ingin menyampaikan pesan kemarahan alam terhadap manusia.

Alkisah sebuah negeri di jaman prasasti
Yang dulu hijau makmur gemah ripah loh jinawi
Namun tiba-tiba datang raksasa sakti
Menghancurkan negeri adu domba sana sini

Mungkin di pikiran kita masih segar, mengenai kasus Wisma Atlet yang melibatkan Nazarrudin cs. Jika kita flashback lebih jauh lagi, kita menemukan fakta, betapa arogannya para pemimpin kita. Mereka ingin mendirikan sebuah gedung baru, yang harganya triliunan. Bagaimana rakyat tidak marah, kawan? Kau masih ingat sewaktu kita berjalan-jalan saat ngabuburit ramadhan kemarin? Masih banyak orang yang telanjang, kelaparan, tanpa papan, kepanasan. Sedangkan para  pemimpin kita? Gedung mewah yang masih begitu nyaman tetapi miring sedikit saja sudah ribut.

Hai para pemimpin! Bukalah mata kalian! Lihatlah di bawah kalian! Tataplah dengan mata hatimu kaum yang lemah, yang kepanasan, yang kelaparan! Sedangkan kalian, yang notabene sebagai pemimpin yang seharusnya membuat rakyat bahagia, malah meminta fasilitas super mewah sedangkan rakyat yang kau pimpin masih meratapi nasib. Pantaskah itu? Kalian adalah pemimpin, bukan raja! Berhentilah mengeluarkan air mata buaya! Hentikan segala tipu dustamu!

Kita mundur lagi beberapa waktu. Ketika sidang paripurna terbuka dimulai, April 2011 yang lalu,  seorang anggota DPR yang bernama Arifinto, dipergoki sedang menonton video yang tidak senonoh. Ah, kawan, betapa mirisnya. Seseorang yang berasal dari “dewan terhormat” melakukan sesuatu yang tidak terhormat. Bagaimana rakyat mau menghormati kalian, wahai “dewan terhormat”? Berperilakulah terhormat, maka kau pun akan dihormati. Itulah hukum alam.

Kini, kembalilah ke masa kita saat ini menginjakkan kaki, kawan. Saksikanlah berita. Lihat, terjadi demo dimana-mana. Puluhan orang terluka dalam demo itu. Mereka menyuarakan aspirasi mereka dengan anarki. Sifat anarkis itu bukanlah hal yang tidak wajar. Itulah wujud ledakan dari akumulasi kemarahan mereka terhadap para pemimpin kita. Cobalah tengok ke atas, kawan. Para pemimpin kita menutup telinganya, membutakan matanya. Mereka seolah tidak ingin menyaksikan apa yang rakyat katakan. Mereka lebih melayani hawa nafsu hewaninya.

Raksasa tertawa
Hahahahahaha
Gembira karena membuat orang-orang menjadi sengsara
Rakyat pun menangis
Hihihihihi
Ksatria bertikai membela diri dan golongannya sendiri...

BBM belum juga naik, harga-harga kebutuhan pokok sudah naik terlebih dahulu. Ah, kasihan mereka, yang untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang ketika harganya belum naik saja sudah sulit, bagaimana nanti jika harga-harga sembako semakin merangkak naik? Sungguh mataku terbasahi oleh air mata mereka. Nanti mereka mau makan apa? Tidaklah mungkin mereka memakan kerikil dan batu. Janganlah mereka menjadi “kanibal”!

Ah iya kawan, aku jadi teringat Gayus, si buncit nakal yang telah memakan mentah-mentah uang rakyat. Dia bagaikan sedang memakan daging babi busuk yang tak pernah dicuci. Pajak yang seharusnya dipakai pembangunan struktural malah dipakai untuk membangun rumah pribadi dan membeli rumah yang keduanya sama-sama super mewah. Dia membiarkan sesamanya kelaparan, sedangkan dia sendiri kenyang dari hasil mencuri uang-uang sesamanya hingga dia kelaparan.

Bibit-bibit Gayus pun bertumbuhan dengan subur di tanah yang subur (makmur) ini. Tikus-tikus ulung lahir begitu banyak. PNS dengan eselon rendah bisa membeli sebuah mobil  mewah. Sebuah keajaiban yang hanya ada di Indonesia.

Satu kata: “Miris”

Nafsu serakah raksasa semakin menjadi
Tiga hari sekali dia minta upeti...

Rasanya kupingku lelah mendengar hal-hal yang seperti ini! Ah, daripada diriku membiarkan telinga ini terbakar karena ulah para “pejabat”, lebih baik aku berdoa untuk sesamaku...

Tuhan, dengarlah do’aku. Janganlah Engkau menambah derita mereka yang sudah amat pedih, tetapi, bahagiakanlah mereka, Wahai Yang Maha Membahagiakan. Kaulah berita terindah bagi mereka. Julurkan tangan-Mu untuk menyayangi mereka.

Tuhan, wujudkanlah sebuah negeri impian yang ada di dalam mimpiku ini. Aku ingin ada satu negeri yang hijau dan subur, rakyatnya hidup dengan makmur dan sejahtera, pemimpinnya disegani. Negeri yang selalu mendapatkan berkah dari-Mu, tak ada yang kelaparan, tak ada yang tidak memakai sehelai pakaian pun, tak ada yang kehilangan akalnya. Negeri yang bersahabat dengan negeri-negeri lainnya. Negeri yang rakyatnya senantiasa tersenyum bahagia, mencintai sesamanya, tak ada perang, tak ada kejahatan. Dan kelak, negeri itu bernama “Indonesia”.

Adakah negeri impian, negeri khayalan, idaman semua orang
Disana tak ada perang, dan kejahatan, rakyatnya aman dan tentram
Adakah negeri impian, negeri khayalan, idaman semua orang
Semua cukup sandang pangan, bergandengan tangan, menjunjung persaudaraan...
Menyenangkan, mengasyikan... wouwouwou....
Menyenangkan, mengasyikan... wouwouwou....

#Project Pop - Negeri Impian

photograph is courtesy of http://hirangputihhabang.wordpress.com/

Hold My Hand



Matahari yang terik menyinari Kota Bandung, 5 Agustus 2011, tepat pada tanggal 5 Ramadhan 1432H. "Kau tahu kawan, seluruh umat muslim di penjuru dunia melaksanakan ibadah puasa. Seperangkat ibadah yang mengontrol hawa nafsu kita, mendidik agar kita senantiasa berbagi kepada sesama, dan menumbuhkan cinta."

Tetapi, masih banyak orang yang belum mengerti apa arti puasa, kawan. Mereka hanya tahu kalau puasa hanyalah sebatas menahan lapar dan haus. Tetapi, mereka tetap melakukan keburukan, bertengkar, bahkan menghilangkan nyawa sesamanya.

I hear the flower’s kinda crying loud
The breeze’s sound in sad
Oh no....

Hatinya masih sangat hampa, kosong akan Asma-Asma Tuhannya yang mulia. Kau tahu kawan? Bahwa hati seseorang yang hampa akan diisi oleh kejahatan nafsu yang ditimbulkan oleh dirinya sendiri. Semakin penuh, semakin mengeraslah hatinya. Ketika pada akhirnya, hati tersebut bagaikan sebuah batu yang siap menghancurkan hati lainnya yang selembut sutra. Dan kau pasti mengetahui, apa yang terjadi jika batu menghantam batu. Mereka akan saling menghancurkan.

So cold and empty inside
Lost a way long time ago
Did we really turn out blind
We don’t see that we keep hurting each other
All we do is just fight

Pernahkah kau merasakan indahnya cinta kepada sesama? Cinta ialah berbagi, berbagi rasa bahagia yang kita miliki kepada orang yang disekitar kita. Bukankah Manusia Yang Mulia (Muhammad saw) telah mengajarkan kita akan cinta?

"Cintailah anak yatim", begitulah yang diajarkan oleh beliau, Sang Cahaya Ilahi. Bayangkanlah senyum-senyum anak yatim, yang senang ketika kita berada diantara mereka, berbagi pengetahuan, berbagi kebahagiaan, bersama. Kita telah membahagiakan Rasulullah saw.! Dapatkah kau membayangkan keindahannya, kawan?

Now we share the same bright sun
The same round moon
Why don’t we share the same love
Tell me why not
Life is shorter than most have thought

Tetaplah bersamaku! Masihkah kau ingat ketika kita berjuang bersama? Di saat sulit, di saat senang, kita selalu bersama. Kita saling membantu sama lain. Itulah cinta, kawan. Cinta tidaklah selamanya untuk lawan jenis, cinta adalah untuk seluruh umat manusia! Karena cintalah, dunia ini ada, dan diciptakan.

Hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what we have left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And let’s pray for a beautiful world
A beautiful world I share with you

Ah, kawan. Cobalah tengok ke luar, aku ingin kita merenung bersama. Kau pasti pernah melewati jalanan di kota kan? Lihatlah, banyak anak-anak (di)terlantar(kan). Mereka seharusnya bermain dengan riang, bahagia, dan penuh canda tawa, layaknya ketika kita sewaktu kecil dahulu.

Tetapi, kau telah menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri, kawan. Banyak anak-anak jalanan yang hujan-hujanan sembari kelaparan, menanti akan rerecehan yang diberikan oleh pengendara kendaraan bermotor, yang belum tentu semuanya memberikan.

Kita makan tiga kali sehari, kawan, lengkap dengan lauk pauknya. Tetapi, apakah demikian dengan anak-anak jalanan? Jika kau memperhatikan lebih jauh, mereka boro-boro membeli lauk pauk sebagai pelengkap nasi, nasi pun mereka tidak sanggup untuk membelinya!

Coba, bertanyalah kepada diri kita masing-masing, kawan. "Apakah kita masih mau membuang makanan, dan pelit kepada fakir miskin, sedangkan saudara-saudara kita kelaparan?"

Children seem like they’ve lost their smile
On the new blooded playgrounds
Oh no...

How could we ignore, heartbreaking crying sounds
And we’re still going on
Like nobody really cares
And we just stopped feeling all the pain because
Like it’s a daily basic affair

Dunia ini tidak memiliki batasan, kawan. Tuhan menciptakan bumi ini bulat, dengan maksud bahwa kita semuanya bertetangga. Tiadalah penting perbedaan warna kulit, ras, bahasa, apalagi kedudukan. Di mata Tuhan, seluruh manusia adalah sama. Ya, itulah mengapa Tuham menciptakan dunia ini bulat, kawan.

Kita semuanya bertetangga. "Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing." Kita hidup untuk saling membantu satu sama lainnya. Dan, kau tahu? Bahwa Tuhan memerintahkan kita agar menunaikan zakat dan mengeluarkan shadaqah jika kita memiliki harta lebih. Tuhan telah mengatur sedemikian rupa sistematika zakat dan shadaqah, kembali kepada bumi itu bulat, seluruh hak manusia adalah sama. Kita semua adalah tetangga.

No matter how far I might be
I’m always gonne be your neighbor
There’s only one small planet where to be
So I’m always gonna be your neighbor
We cannot hide, we can’t deny
That we’re always gonna be neighbors
You’re neighbor, my neighbor
We’re neighbors

Bangunlah dari perenungan ini, kawan. Rangkul aku, pegang tanganku. Kita berdo'a dengan menebarkan bibit cinta ke seluruh alam semesta. Kelak, kita akan melihat indahnya bunga-bunga cinta bertebaran di semesta ciptaan Yang Maha Cinta ini!

So hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what we have left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And let’s pray for a beautiful world
A beautiful world I share with you...

--Maher Zain - Hold My Hand
 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top