Akiko Hisama ~the first light part 3

Ya kini dia telah menduduki bangku SMP.

SMP kelas 1 (kalau di Indonesia biasanya kita menyebutnya kelas 7)
Dia mulai masuk ke lingkungan baru, lingkungan yang benar-benar berbeda dengan sekolah asalnya. Kurang kebersihan, kurang kerapian, kurang kebahagiaan. Inilah keadaan sekolahnya sekarang.
Dia masuk seperti orang yang tertindas. Cupu lah, biasa orang mengatakannya. Kebiasaan pemakaian celananya yang seperti Jojon (anda tahu Jojon kan? Maaf kalau ada orangnya), menjadi ejekan tersendiri bagi teman-teman barunya, sekaligus ciri khasnya.

"Apakah dia yang namanya Akiko?" Tanya salah seorang temannya yang belum mengenalnya.
"Ya, lihatlah dari caranya memakai celana." Jawab Tanaka, teman sekelas Akiko.
"Ternyata dia amat mudah dikenali ya.."
"Begitulah". Tanaka mengakhiri percakapan

Itu hanya contoh "bagaimana Akiko dikenali" melalui ciri khasnya, "celana Jojon"

Teringat, Ketika masa orientasi sekolah, ada sebuah games (baca: Flying fox). Akiko disuruh naik ke atas, ke tempat biasa orang "dilemparkan" dari satu ujung kawat flying fox menuju ujung lainnya.

Karena saking takutnya, kakinya begitu gemetaran. Dan naiknya juga sangat lama...

Akhirnya sampai juga di puncak. Sang instruktur pun memasangkan safety belt yang mengikat bagaikan ular. Tapi tak separah ular.

"Kaak, jangan terlalu kencang mengikatnya. Sakiit nih.."
Kakak instruktur melonggarkan ikatannya
"Memang seperti ini Dik.. Untuk keamananmu juga. Ayolah. Lebih baik mana, jatuh atau aman tapi seperti ini?" Kakak instruktur kembali mengencangkan ikatannya seperti sebelumnya tanpa lupa tersenyum.
"Iya deh, kayak gini aja.." Jawab Akiko sambil senyum setengah niat.

Setelah safety belt selesai diikat dengan aman, kakak instruktur memberikan aba-aba sebelum Akiko dilempar

"Siap-siap ya! 1, 2.."
"Aaah.. Aku belum siap!" Hitungan terhenti di dua.
"Tiga!" Lengan kakak instruktur melemparkan Akiko.

Akiko meluncur cepat di bawah rel flying fox. Sungguh cepat. Dia berteriak sekencang-kencangnya.

Beberapa detik selanjutnya, Akiko sampai di tempat yang merupakan "dewa penyelamat"nya, tempat pemberhentian. Di sanalah tempat dimana ujung perjalanan flying fox. Dengan pipi yang basah dan celana yang "sama" pula, dia menenangkan diri sambil menunggu ikatan safety belt dilepas oleh kakak pembimbing yang satu lagi.

"Kenapa dik? Sampai ngompol seperti ini?"
"Aku benar-benar takut kak. Kakak yang disana benar-benar jahat! Melemparku begitu saja. Padahal aku belum siap!" Balasnya sambil terisak isak.
"Cobalah ngobrol dengan kakak instruktur itu, kenapa dia melemparmu begitu saja." Jawab kakak instruktur yang menempati pos terakhir dengan bijak.
"Oke kak, makasih." Akiko membalasnya dengan wajah yang nampak "masih menahan beban"

Akiko pun pergi.

"Jangan lupa ganti celana!" Teriak dari belakang.
"Iyaaa!"

Akiko pun menghampiri kakak instruktur yang pertama. Dengan perasaan yang masih kesal, dia pun bertanya,

"Kak, kenapa kakak melemparku begitu saja? Padahal aku belum siap?"
"Dik, waktu itu berjalan, mau tidak mau adik harus menjalani apa yang seharusnya adik lakukan. Jadi, kalau adik nggak maju, ntar adik bakal ditindas sama yang lainnya, jangan menyia-nyiakan waktu."
Pembicaraan terhenti sejenak.
"Ini pelajaran, kita harus siap menghadapi segala macam kejadian yang tidak terduga. Ketika.."
"Cukup!! Aku mau pergi saja!! Kakak tidak mengerti aku!" Bentak Akiko kepada kakak instruktur.
"Ya Tuhan. Tenangkan dirimu!"

Akiko pergi begitu saja, dingin.

"Suatu saat kamu akan mengerti Dik!"

Akiko pergi dengan mata yang berkaca-kaca, dan pipi yang basah. "Kenapa semua orang seperti ini padaku! Tidak ada yang sayang, semua membenciku! Tidak adaa!" Gejolaknya dalam hati.

-- cerita belum berakhir.

-------

Powered by Telkomsel BlackBerry®

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top