Genap 28 tahun kuhidup di dunia ini. Dan pula tepat di hari ini aku dilahirkan, Selasa. Dua puluh delapan tahun. Bagi banyak orang, ulang tahun adalah momen bahagia. Namun, rasanya di ulang tahunku kali ini, aku tak merasakannya. Malah sebaliknya.
Orang menyebut perasaanku ini sebagai Quarter Life Crisis. Namun, setelah kupelajari, rasanya tidak sepenuhnya demikian. Ya, aku memang merasakan gundah akan masa depan; semuanya terasa blank. Tapi tidak hanya itu saja. Aku merasakan kerinduan yang amat berat kepada masa lalu, dan rasa-rasanya aku ingin kembali, ingin hidup di sana saja selamanya.
Kenyataan bagiku kini rasanya begitu berat untuk dibawa di bahuku. Bersyukur aku kini memiliki kerjaan. Namun dari pekerjaanku ini mulai muncul berbagai kekhawatiran, termasuk "ketidakstabilan" yang merupakan sifat alamiah dari pekerjaan kontrak. Kontrakku berakhir sebentar lagi, entah akan diperpanjang atau tidak. Dan belum tentu aku akan mendapatkan lagi pekerjaan jika kontrakku tidak diperpanjang. Dan masih banyak yang perlu dibiayai. Tak hanya aku saja. Orang tuaku pun banyak kebutuhan yang perlu aku penuhi dan kewajiban mereka yang kutunaikan. Dan ada beberapa orang yang hidupnya bergantung denganku, dan diriku bergantung pada seutas tali tipis ini...
Ah Gusti, beratnya hidup kini. Aku, di ulang tahunku hari ini, punya keinginan yang aku sendiri tahu itu tak mungkin: kembali ke masa lalu. Selalu terngiang akan indahnya masa lalu. Semuanya masih lebih melegakan dari yang terjadi kini. Walaupun teknologi tak secanggih sekarang (dan rasanya, teknologi yang canggih malah membuat hidup makin kompleks), hidup lebih mudah dan sederhana.
Dan, hidup tak terasa sendiri. Walaupun kini aku memiliki teman, aku merasa kesepian. Entah mengapa. Dahulu, aku pun memiliki teman. Tapi tak merasa kesepian seperti ini. Perasaan ini mulai mengganggu setahun setelah aku lulus SMA, sekitar 2013an. Dan mungkin salah satu pencetus rusaknya komunikasiku dengan teman-teman adalah ketika "perang" di tahun 2014.
Kita tahu sendiri tahun 2014 panasnya dunia politik juga merambah ke keseharian kita, Banyak orang yang putus silaturahminya akibat preferensi politik. Dan banyak dari kawanku yang berbeda haluan dan kemudian menjaga jarak denganku dan memutuskan hubungannya denganku. Mungkin, ini bodohnya aku juga yang terlalu bersemangat dengan preferensi politikku sendiri dan terlalu menampakkan diri.
Dan kini kusesali; aku kini tak akan pernah menampakkan preferensi politik dan agamaku. Biarkan itu hanya menjadi pemikiranku yang kutulis untuk diriku sendiri, atau diskusi yang tertutup.
Aku rindu masa lalu. Ketika aku lihat cadangan perpesananku dari era 2006-2011an, selalu menggelitik dan membuat rindu. Betapa menyenangkannya komunikasi waktu itu, meski aku jauh lebih kikuk dulu ketimbang sekarang. HP itu menjadi selalu yang senang kupegang, berbeda jauh dari yang terjadi sekarang. HP menjadi momok yang menakutkan kini, yang aku takut ketika kubuka isinya yang lain-lain. Yang memarahi, yang menghakimi...
Dan, dulu aku tak punya beban seberat ini. Kalaupun ada, tidak seberat sekarang ini, dan ada selalu mereka yang meringankan bebanku, walau setidaknya hanya membuat lupa. Yang dulu kulakukan hanya main, dan tak punya tanggung jawab berat. Tanggung jawab hanyalah belajar saja...
Tuhan...
Tuhan...
Kurindu...
Dan kalaupun kuakhiri tulisan ini karena waktu menjelang, yang kuhadapi kembali adalah kelam... Akankah ada di masa depan waktu ketika aku berhenti menulis, kemilau warna yang menyambut?