Dulu, aku pernah amat tertarik kepada teman satu sekolah. Ia seorang wanita yang berparas memikat. Hingga aku berhasil berhubungan dengannya. Dan...
Tersiksa
Dada selalu dipenuhi tanya dan cemburu. Aku tak pernah mau kehilangan dirinya. Kugenggam ia begitu kerasnya dan kau tahu apa yang terjadi?
Lepas semuanya... Luruh... Luluh, cermin sudah menjadi retak.
Semenjak kehilangannya waktu terus mengajariku cinta. Amat bias memang di zaman sekarang ini, antara nafsu birahi dengan cinta.
Dan kau tahu, apa yang paling besar telah kudapat akan makna cinta?
Perkhidmatan.
Dan cinta akan menjadi surga amat nikmat...
Tapi itu hanya satu dari sekian banyak fragmen makna.
Tak perlu bahas aku dan kamu menjadi satu, ketika ego itu belum saja luntur. Kawan, coba terjemahkan apa itu ego?
Tapi aku masih saja belum mendapatkan kekasih. Perlahan saja.
Malam terlalu sunyi untuk menjadi saksi bisu
Suara keroncongan dari perut mereka itu
Mungkin tuli telah menjadi predikat diri
Yang tergagah diatas tebing yang tinggi
Suara keroncongan dari perut mereka itu
Mungkin tuli telah menjadi predikat diri
Yang tergagah diatas tebing yang tinggi
Atau mungkin lebih menggelikan ketimbang sebuah bulu
Debu-debu yang berserakan berangin kemilau semu
Kamu ambil semua untuk menambah wujudmu
Hingga hancur semua harapan miskin dalam sendu.
Debu-debu yang berserakan berangin kemilau semu
Kamu ambil semua untuk menambah wujudmu
Hingga hancur semua harapan miskin dalam sendu.
Lalu, berkurban apa kau ini?
Langganan:
Komentar (Atom)
