Bodoh

How stupid I am...

Teguran karena kebodohanku sekarang terasa. Betapa bodohnya aku. Betapa bodohnya aku di masa lalu yang mengabaikan perasaan orang lain. Aku yang hanya peduli akan nafsuku sendiri. Aku memainkan perasaan yang sama sekali bukan mainan. Perasaan yang orang menjadi hidup karenanya, aku permainkan.

Tak mampu menjaga hati, nafsu mengambil alih. Jadilah aku sosok yang hanya bisa mempermainkan perasaan. Walaupun ada satu perasaan yang serius, kecewa yang menyenggol sedikit mengubah arahku. Hampir aku memenuhi jalan menuju satu arah, satu senggolan kecil membuatku bergeser. Dan hingga akhirnya, aku tak pernah mencapai tujuan. Hanyalah bermain-main.  

Kalau kuingin menyalahkan, mengapa tak pernah ada yang memberitahuku? Kemana aku harus melangkah, yang mana harus kupilah? Namun, menyalahkan orang lain hanyalah untuk melindungi ego. Takkan pernah ia menyelesaikan masalah, yang ada menambah. Menambah suram hidup, karena siapa yang suka dengan orang yang berego tinggi? Kalaupun ada, mungkin hidup akan bertambah suram dengan dikelilinginya.

Kini, karma harus kuterima. Tak kurasakan lagi kenikmatan itu. Meski aku serius, namun keseriusanku hanya akan dianggap mempermainkan lagi. Baik oleh orang lain, terutama diriku sendiri. Yang ada dalam diriku kini hanyalah perasaan takut. Takut menyakiti. Dan aku melindungi diri dan berusaha menebus dosaku. Jika tidak benar-benar menyentuh hati, menjauhlah. Atau, akulah yang menjauh. Aku tak ingin mengulangi kesalahanku lagi. Aku tak ingin menjadi lagi aku yang dalam kebodohanku itu.

Maafkan aku, meski penyesalan sudah tidak akan bisa memperbaiki keadaan. Jalan yang kutinggalkan sudah roboh; tak bisa aku kembali dan melangkah ke sana. Lalu, kemana aku harus menuju?

Kecewa

Hasil harap yang tak sampai
Hasil ungkap yang tak berbalas
Hasil penantian yang menghunus balik...

Apa perasaan ini? Benarkah ini namanya perasaan kecewa?

Ketika orang yang telah kupercayai kata-kataku, dan ia simpan kata-kataku, tiba-tiba mengubahnya menjadi panah tajam yang menusuk. Hingga aku tak mampu berungkap, tak mampu kubertahan dalam kesadaranku. Tiba-tiba semua warna menjadi hitam, cahaya pun ditelannya.

Kumencari orang baru yang mau kutitipi kata-kata itu, walau hanya sekedar mendengarkan keluh-kesah. Kutemukan ia yang selama ini mau menemaniku, meskipun aku tahu belakangan ia mulai berubah. Kubuka hati ini untuk menitipkan kata itu. Namun, apa daya. Telah ia terima, segera pula ia lemparkan kata-kataku ke dalam sumur.

Apakah di dunia ini masih ada orang yang bisa kupercayai, walaupun hanya untuk tempat bercerita, melepaskan sesak dalam dada, menitipkan kata-kata yang mungkin tak ada manfaatnya baginya, meski kemudian ia menyimpannya di tempat lain di belakangku?

Mengapa dunia ini begitu menyakitkan? Di ramai hiruk pikuk keterhubungan, tak kutemukan kasih sejati. Yang ada hanyalah kasih yang diterjemahkan sebagai hasrat perut dan selangkangan. Hilanglah kasih, lenyaplah hubungan kemanusiaan. Orang hanya meninggikan egonya; alat menjadi manusia dan manusia menjadi alat. 

Manusia semakin terhubung, tapi tak kunjung kutemukan hubungan bermakna itu.

Hanyalah pengkhianatan. Pengabaian...

Apakah sudah waktunya aku pergi mencari tempat lain?
Atau,
Apakah tiba waktunya untuk aku menutup hati?

...

Waktu Sabtu kemarin, istirahatku tidak optimal. Aku terdistraksi bayanganku akan terjadi di hari Minggu dan seterusnya. Pengalaman pertama ke luar kota yang lebih jauh untuk urusan pekerjaan. Namun yang lebih jauh laginya adalah apa yang akan terjadi di hari setelah Minggu. Workshop ini adalah pengalaman pertamaku, project yang mengurus hal besar. Dan aku takut kalau aku yang berbicara, aku akan merusak acara. Walaupun hanya sebatas menyampaikan rekapitulasi pembahasan yang didengarkan telinga pada tubuh yang sedang tidak prima.


Aku telah sadar bahwa takut adalah gambaran yang berada pada pikiran manusia. Dan takut telah beberapa kali menenggelamkanku dalam kekacauan, baik sadar maupun bawah sadar. Ketika aku takut berbicara di depan orang, misalnya. Aku sudah "mengentaskan" ketakutanku. Aku mulai merasa pede untuk berbicara. Namun, pada akhirnya ketika aku berada di depan, kepalaku malah blank. Cara bicara yang sudah kupikirkan, jalan cerita yang telah kubayangkan, materi yang perlu kusampaikan; lenyap.


Takut sudah merasuk ke dalam alam bawah sadarku. Entah apa yang sebenarnya terjadi padaku. Sulit sekali memperbaikinya. Dan, aku lelah... Menangis dalam hatiku sendiri. Jika seperti ini terus... Apa yang akan terjadi padaku di masa depan nanti? Mampukah aku berkembang? Dengan... kata lain... Aku kecewa pada diriku sendiri. Namun, aku tak kuat untuk terus kecewa pada diriku sendiri. Sangat, sangat melelahkan.


Di saat seperti ini, aku ingin rehat barang sehari. Seringkali, dengan istirahat pikiran setidaknya menjadi lebih jernih, walaupun sedikit. Bukan istirahat dalam artian tidur. Namun, istirahat pikiran. "Kembali ke masa lalu" atau bahasa kerennya, nostalgia. Mungkin, Sabtu sekarang akan menjadi lebih dari sekedar mengistirahatkan pikiran dengan terputus dari dunia maya, namun juga hidup seperti di masa yang telah lalu. 

Sabtu

Di hari sabtu, aku kembali ke masa lalu. Kubuka kembali lembar-lembar hidup yang lalu dan bernostalgia dengannya. Seolah, aku hidup lagi di masa-masa menyenangkan itu. Sejenak melupakan masa kini yang penuh dengan hiruk-pikuk yang membuat hati ini sakit dan lelah dalam 6 hari lainnya.

Di hari sabtu, aku tak pernah ingin terkoneksi dengan internet. Dan sekalinya terkoneksi untuk melakukan apapun itu, void-lah hari sabtuku. Hilang hari sabtu itu, seperti hilangnya kesempatanku untuk berhari sabtu. Dan ini terjadi sabtu ini. Sehingga, kukirimkan saja kegelisahanku. Sudah tanggung sabtu-ku void.

Sabtu ini, aku kehilangan kesempatan ini. Tak bisa aku melaksanakan hari Sabtu seperti yang kuharapkan. Sedangkan, enam hari yang lalu sangat membuat hati ini sakit dan lelah. Tak kutemukan satu hari pun dalam enam hari itu yang membuatku senang. Dan, enam hari kedepan dipenuhi kecemasan. Terutama dari sisi pekerjaan.

Di hari Sabtu aku "kembali ke masa lalu". Jika tidak ada hari Sabtu seperti itu, aku hampir yakin enam hari kedepan akan menjadi neraka. Aku akan kehilangan semangatku. Kecemasan akan semakin mencekik. Aku tak sempat pulang ke masa menyenangkan itu.

Dadaku sesak. Enam hari kedepan, tekanan pekerjaan pun akan ikut juga naik. Aku tak tahu apakah aku akan sanggup menghadapinya, atau apakah jiwaku akan tumbang di tengah hari-hari itu?

Dan rasanya ingin kutemukan pekerjaan yang bisa membuatku bahagia. Bekerja di bidangku kini rasanya menyenangkan, namun menyisakan bolong besar dalam dadaku. Menumbuhkan kecemasan dalam hati dan pikiran. Dan, perasaan digantung mengenai kejelasan pekerjaanku pun hingga kini dipertanyakan. Aku tak tahu apa yang akan terjadi ke depan.

Ya... Aku sangat rindu masa lalu; masa aku kecil, masa aku remaja. Tak pernah aku merasakan kekhawatiran yang menyesakkan dada seperti ini. Semoga sabtu depan tak terganggu lagi, tidak lagi seperti sabtu ini.

Gundah

 Entah bagaimana aku harus mengubahnya menjadi kata-kata... Tapi biarkan aku mencobanya.


Sebentar lagi, kontrak kerjaku akan habis. Kurang lebih dua bulan lagi. Dan kini keadaanku sedang galau akan itu. Entah bagaimana status kedepannya. Jika sampai diputus, aku sendiri bingung karena mencari pekerjaan sekarang sulit. Dan juga, aku sudah mulai merasakan kenyamanan di tempatku bekerja. Berpindah lingkungan itu, tidak mudah.

Dan seperti kubilang tadi, mencari pekerjaan sekarang benar-benar susah. Di momen aku jatuh dalam pekerjaan, aku berusaha bangkit sambil meminta pertolongan ke tempatku bekerja. Dan ketika aku diberi kesempatan, aku kembali mencoba. Walaupun emosi negatif kadang mendominasi dan keinginan untuk menyudahi keluar, aku tetap berusaha untuk bertahan. Dan hingga kini berada dalam posisi yang baik. Namun, status masih tetap saja menghantui.

Aku memiliki banyak hal yang harus kubiayai. Selain hidupku sendiri, juga hidup orang tuaku perlu aku dukung pula. Jika pemasukanku berakhir, dan belum tentu segera, atau bahkan mendapatkan pelanjutnya, bagaimana keluargaku hidup?

Dan yang paling sesak, baru saja perusahaan tempatku bekerja membuka lowongan kerja untuk posisi yang serupa sepertiku. Walaupun entah bagaimana, ah sulit bagiku untuk mengucapkannya... Karena, pernah kubaca apabila perusahaan membuka lowongan serupa dengan karyawan kontrak yang akan habis masa kontraknya, maka itu adalah tanda bahwa kontrak tidak akan dilanjutkan.

Wallahu a'lam. Entahlah...

Dan gundah pun berlanjut.

Besok sabtu, bolehkah aku melupakan gundahku sejenak?

Hari Paling Cepat

Hari apa yang paling cepat? Bagiku, hari Sabtu.

Kemarin pun, rasanya hari begitu cepat berlalu. Di hari Sabtu, aku berusaha "sadar" dengan kehidupan yang sedang kujalani. Istilah bahasa Inggrisnya "living the life", benar-benar hadir dalam hidupku. Internet di sekitarku kumatikan (kecuali akses internet untuk keluarga; hanya yang pribadi saja yang dimatikan). Aku berusaha hidup apa yang ada di depan mata.

Selain ingin benar-benar "hidup", aku pun lelah dengan internet yang menjadi mata pencaharianku sehari-hari. Lelah. Aku pun hingga membuat kalimat ketika aku terkenang kehidupan masa lalu dan menghadapi apa yang kualami sekarang ini: "Dulu, terkoneksi dengan internet adalah barang mahal. Sekarang, terdiskoneksi dengan internet adalah barang mahal".

Intinya, aku sangat menikmati dan ingin menikmatinya. Jangan ganggu hari Sabtuku, satu-satunya hari dimana aku bisa benar-benar hidup. Hidup semau yang kuinginkan. Dan salah satunya, hidup tanpa internet.

Ah ya, terkait pekerjaan, aku pun ingin kerja di tempat yang bisa menghargai hari Sabtuku ini. Misalnya di pekerjaanku kali ini, aku bisa menggunakan hari Sabtuku untuk memulihkan diri. Dan tentu, karena ia telah memberikan Sabtu, aku berusaha setia dengannya. Karena aku bisa memeroleh kehidupan tanpa mengorbankan hari Sabtuku.

Jangan hubungi aku lewat media internet di hari Sabtu. Aku berusaha untuk selalu berkomitmen dengan ini. Aku hanya tersedia lewat telepon seluler biasa, dan dalam artian lain aku pun tersedia melalui SMS.

Dan sekarang Minggu. Welcome, Sunday Anxiety.

SIlaturahmi

Ada perlunya baru datang. Kemana saja?

Entah ini hanya terjadi di Indonesia saja belakangan ini, atau di tempat lain pun banyak terjadi. Ya, ini belakangan sering terjadi padaku. Ada orang yang lama menghilang, tiba-tiba datang membuat repot. Setelahnya menghilang lagi. Memangnya aku ini hanya alat yang butuh dicari dan setelahnya dibuang? Aku sabar dan terus bersabar. Namun, lama-lama aku juga muak dengan hal seperti itu.

Lama menghilang, kemudian datang dengan niat untuk kembali menyambungkan silaturahmi, saya sangat-sangat senang dengan itu. Datang-datang untuk meminta tolong, kemudian setelahnya silaturahmi kembali terbentuk; aku senang juga dengan itu. Tapi setelah minta tolong kemudian menghilang begitu saja, aduh. Itulah yang aku paling tidak suka.

Dan ini bahkan terjadi pada orang yang sebenarnya (berkat orang tuanya) sangat saya hormati. Namun anaknya yang harusnya mengerti pun melakukan pola yang saya tak sukai itu. Ketika butuh minta tolong, ketika tidak dilupakan begitu saja. Tidak ada silaturahmi, tidak ada kata sapa sama sekali. Kalaupun aku bertemu di forum, sapa pun tidak terdengar. Bukannya ingin dihormati, tapi aku ingin silaturahmi. Aku hanya tak ingin dianggap sebagai alat.

Sudah saatnya mencari lingkungan baru. Saatnya mempersiapkan untuk migrasi.

Paradoks Keterhubungan

Kita saat ini lebih terhubung dari beberapa dekade yang lalu. Berbicara pengalaman tanpa data, akselerasi teknologi telekomunikasi begitu pesat belakangan ini. Kita begitu terhubung, sampai-sampai kita terdiskoneksi. Sebenarnya saya bingung mencari padanan kata yang enak untuk disconnected, sehingga saya buat sendiri istilah "diskoneksi" (walaupun entah sudah ada yang pakai duluan atau belum).

Mau hubungi orang, tanpa beranjak dari kasur pun tinggal kita kirimi pesan WhatsApp. Ingin tahu orang sedang apa, buka Instagram. Ingin tahu trend terbaru, buka Twitter. Dan demikian dan demikian. Begitu seringnya kita melakukan itu sehingga perlahan semuanya itu terasa seperti realita. Tersedot dalam hingga kita lupa bumi yang kita pijaki sebenarnya.

Dari kejadian yang paling sering kita lihat sekarang ini misalnya, seseorang yang asyik mengendari kendaraan sambil main media sosial. Hal ini bukan sekali dua kali saya lihat, sangat sering malah. Dan banyak kejadian kecelakaan karena hal itu. Orang begitu tersedot ke dunia lain hingga lupa di dunia nyata dia sedang apa.

Dia terdiskoneksi dari dunia realita.

Yang paling menyedihkan adalah; ketika keluarga, atau teman-teman, atau sebutlah nama hubungan lainnya, sedang membangun kehangatan di dunia nyata, kemudian ada satu orang yang tenggelam ke dunia lainnya tersebut. Mungkinkah kehangatan terbentuk?

Bukan berarti teknologi baik; semuanya akan baik jika digunakan pada porsinya. Kalau terlalu berlebihan, semuanya akan menjadi racun. Termasuk, teknologi telekomunikasi. Jika ia sampai membuat kecanduan, yang dihadirkan hanyalah distopia.

Sudah menyaksikan distopia akibat penggunaan teknologi telekomunikasi, terutama media sosial, yang terjadi seperti apa?

Saksikan dari narsisisme hingga terjadinya arogansi.

Hilangnya empati.

Dekat.

Namun jauh.

5 Juli

Genap 28 tahun kuhidup di dunia ini. Dan pula tepat di hari ini aku dilahirkan, Selasa. Dua puluh delapan tahun. Bagi banyak orang, ulang tahun adalah momen bahagia. Namun, rasanya di ulang tahunku kali ini, aku tak merasakannya. Malah sebaliknya.

Orang menyebut perasaanku ini sebagai Quarter Life Crisis. Namun, setelah kupelajari, rasanya tidak sepenuhnya demikian. Ya, aku memang merasakan gundah akan masa depan; semuanya terasa blank. Tapi tidak hanya itu saja. Aku merasakan kerinduan yang amat berat kepada masa lalu, dan rasa-rasanya aku ingin kembali, ingin hidup di sana saja selamanya.

Kenyataan bagiku kini rasanya begitu berat untuk dibawa di bahuku. Bersyukur aku kini memiliki kerjaan. Namun dari pekerjaanku ini mulai muncul berbagai kekhawatiran, termasuk "ketidakstabilan" yang merupakan sifat alamiah dari pekerjaan kontrak. Kontrakku berakhir sebentar lagi, entah akan diperpanjang atau tidak. Dan belum tentu aku akan mendapatkan lagi pekerjaan jika kontrakku tidak diperpanjang. Dan masih banyak yang perlu dibiayai. Tak hanya aku saja. Orang tuaku pun banyak kebutuhan yang perlu aku penuhi dan kewajiban mereka yang kutunaikan. Dan ada beberapa orang yang hidupnya bergantung denganku, dan diriku bergantung pada seutas tali tipis ini...

Ah Gusti, beratnya hidup kini. Aku, di ulang tahunku hari ini, punya keinginan yang aku sendiri tahu itu tak mungkin: kembali ke masa lalu. Selalu terngiang akan indahnya masa lalu. Semuanya masih lebih melegakan dari yang terjadi kini. Walaupun teknologi tak secanggih sekarang (dan rasanya, teknologi yang canggih malah membuat hidup makin kompleks), hidup lebih mudah dan sederhana.

Dan, hidup tak terasa sendiri. Walaupun kini aku memiliki teman, aku merasa kesepian. Entah mengapa. Dahulu, aku pun memiliki teman. Tapi tak merasa kesepian seperti ini. Perasaan ini mulai mengganggu setahun setelah aku lulus SMA, sekitar 2013an. Dan mungkin salah satu pencetus rusaknya komunikasiku dengan teman-teman adalah ketika "perang" di tahun 2014. 

Kita tahu sendiri tahun 2014 panasnya dunia politik juga merambah ke keseharian kita, Banyak orang yang putus silaturahminya akibat preferensi politik. Dan banyak dari kawanku yang berbeda haluan dan kemudian menjaga jarak denganku dan memutuskan hubungannya denganku. Mungkin, ini bodohnya aku juga yang terlalu bersemangat dengan preferensi politikku sendiri dan terlalu menampakkan diri.

Dan kini kusesali; aku kini tak akan pernah menampakkan preferensi politik dan agamaku. Biarkan itu hanya menjadi pemikiranku yang kutulis untuk diriku sendiri, atau diskusi yang tertutup.

Aku rindu masa lalu. Ketika aku lihat cadangan perpesananku dari era 2006-2011an, selalu menggelitik dan membuat rindu. Betapa menyenangkannya komunikasi waktu itu, meski aku jauh lebih kikuk dulu ketimbang sekarang. HP itu menjadi selalu yang senang kupegang, berbeda jauh dari yang terjadi sekarang. HP menjadi momok yang menakutkan kini, yang aku takut ketika kubuka isinya yang lain-lain. Yang memarahi, yang menghakimi...

Dan, dulu aku tak punya beban seberat ini. Kalaupun ada, tidak seberat sekarang ini, dan ada selalu mereka yang meringankan bebanku, walau setidaknya hanya membuat lupa. Yang dulu kulakukan hanya main, dan tak punya tanggung jawab berat. Tanggung jawab hanyalah belajar saja...

Tuhan...
Tuhan...
Kurindu...

Dan kalaupun kuakhiri tulisan ini karena waktu menjelang, yang kuhadapi kembali adalah kelam... Akankah ada di masa depan waktu ketika aku berhenti menulis, kemilau warna yang menyambut?

Waktu

Tidak terasa usiaku sudah 27 tahun. Rasanya, seolah baru kemarin aku sekolah. Masuk SMP, lalu masuk SMA. Dan waktu bergulir tanpa kusadari, hingga usiaku 27.

Entah, rasanya hampa sekali. Apa yang kulakukan selepas aku sekolah? Kuliah? Tak kurasakan momennya, seperti aku merasakan masa-masa sekolah.

Sepertinya, aku autopilot, selepas sekolah itu. Menjalani hidup tanpa benar-benar menjalaninya, dengan menikmatinya. Jika aku lulus pada usia 18 tahun, hampir 9 tahun kubuang hidupku. Dengan kehidupan yang tidak bermakna, tiada berteman.

Yang kuingat selama 9 tahun itu aku hanya mengejar keegoisan diri, alibinya adalah untuk perjalanan intelektual; yang sebenarnya kebohongan untuk menutup kekosongan diri belaka.

Dan baru kusadari belakangan ini, akan waktu yang telah kuhabiskan. Dan betapa menyesalnya aku membuang waktu untuk mengejar yang tidak penting. Mengejar yang tidak bermakna.


Dan membuang yang sekiranya tak aku buang, hidupku tak akan segelap hari ini; hari-hari tanpa warna yang merindukan warna masa lalu.

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top