Hasil harap yang tak sampai
Hasil ungkap yang tak berbalas
Hasil penantian yang menghunus balik...
Apa perasaan ini? Benarkah ini namanya perasaan kecewa?
Ketika orang yang telah kupercayai kata-kataku, dan ia simpan kata-kataku, tiba-tiba mengubahnya menjadi panah tajam yang menusuk. Hingga aku tak mampu berungkap, tak mampu kubertahan dalam kesadaranku. Tiba-tiba semua warna menjadi hitam, cahaya pun ditelannya.
Kumencari orang baru yang mau kutitipi kata-kata itu, walau hanya sekedar mendengarkan keluh-kesah. Kutemukan ia yang selama ini mau menemaniku, meskipun aku tahu belakangan ia mulai berubah. Kubuka hati ini untuk menitipkan kata itu. Namun, apa daya. Telah ia terima, segera pula ia lemparkan kata-kataku ke dalam sumur.
Apakah di dunia ini masih ada orang yang bisa kupercayai, walaupun hanya untuk tempat bercerita, melepaskan sesak dalam dada, menitipkan kata-kata yang mungkin tak ada manfaatnya baginya, meski kemudian ia menyimpannya di tempat lain di belakangku?
Mengapa dunia ini begitu menyakitkan? Di ramai hiruk pikuk keterhubungan, tak kutemukan kasih sejati. Yang ada hanyalah kasih yang diterjemahkan sebagai hasrat perut dan selangkangan. Hilanglah kasih, lenyaplah hubungan kemanusiaan. Orang hanya meninggikan egonya; alat menjadi manusia dan manusia menjadi alat.
Manusia semakin terhubung, tapi tak kunjung kutemukan hubungan bermakna itu.
Hanyalah pengkhianatan. Pengabaian...
Apakah sudah waktunya aku pergi mencari tempat lain?
Atau,
Apakah tiba waktunya untuk aku menutup hati?

0 komentar:
Posting Komentar