Besok saya mulai Job Training (bahasa kerennya PKL) di salah satu radio dibawah naungan Diskominfo Kota Bandung. Pada awalnya saya akan PKL di Diskominfo, karena satu dua alasan saya dipindahkan ke Radio Sonata sebagai scriptwriter. Awalnya kecut dan ketus karena saya sudah senang bisa PKL di pemkot sambil ingin tahu tentang Bandung Command Center, dan saya bisa mengembangkan potensi saya di dunia IT digado-gado dengan ilmu humas, dan juga kesenangan-kesenangan lainnya tiba-tiba pupus; dan juga saya tak pernah diajarkan menulis untuk telinga, serius. Pada akhirnya saya bisa menerima dan malah bersyukur. Pertama, karena memang saya suka menulis, untung di scriptwriter. Selain bisa menulis untuk mata, juga bisa belajar menulis telinga. Yang kedua, mungkin bisa besok lusa saya tuliskan. Tapi yang jelas: saya deg-degan!
Malam ini saya tak bisa tidur larut malam seperti malam-malam sebelumnya, mengisi air di drum-drum dan bak mandi yang hanya mengocor dari sebuah perusahaan daerah di kota Bandung malam hari, karena besok hari pertama PKL. Tapi sungguh, bagi saya untuk mendapatkan air bersih merupakan sebuah perjuangan; karena selain harus menunggui air mengalir hingga memenuhi penampungan-penampungan, saya juga kadang harus mengangkutinya. Terbangun dari jam setengah satu malam kemudian punya kesempatan untuk tidur lagi jam dua atau jam setengah tiga. Tetap saya (belajar) syukuri karena saya menganggapnya sebagai sebuah perkhidmatan. Keluh kesah dan ketus hanya membuat penyakit jiwa dan jasad saja, sayangi waktumu yang malah dipakai untuk membunuh diri secara perlahan.
Dari situ saya teringat kepada orang tua "angkat" saya semasa SWC saat SMA. Mungkin di blog ini saya pernah menceritakan pengalaman saya SWC di Kumetir, Ciwidey. Dan mungkin itulah kali pertama saya belajar bersyukur dari seorang pemecah batu yang hidup teramat sangat sederhana. Sayang, karena usia mereka tidak ingat kepada saya, meski demikian mungkin saya akan main lagi ke sana. Dan juga ia mengajarkan apa itu perkhidmatan dari makanan yang disajikan kepada kami, amat sederhana tetapi nikmatnya luar biasa: nasi dan bala-bala.
Saya tak ingin mengetik panjang, saya dikejar waktu. Hanya ingin mengingatkan diri (dan semoga para pembaca juga) bahwa dengan bersyukur kita memiliki energi lebih. Bersyukur itu artinya ber-terima kasih. Bukan sekedar ucapan mulut, tapi juga ungkapan hati. Hanya ucapan mulut bisa jadi sebuah kemunafikan. Bersyukur itu berterima kasih, dan bukan hanya kepada Tuhan tapi juga kepada sesama kita. Memangnya kita bisa hidup tanpa sesama manusia?
Berterima kasihlah kepada setiap mereka yang hadir membuat hidupmu berwarna meskipun itu kelam (dengan gelap kau mengenal terang!), dan rasakanlah kebahagiaan dalam hati yang membuat hidup lebih bermakna.
Mengapa kupilih DVD untuk archiving?
Hari ini kali pertama mencuci baju satu keranjang besar dengan mesin cuci yang kecil. Sela-sela kuku jari mulai terasa perih dan pergelangan tangan pegal. Ngantuk.
Dan saya baru ingat berniat untuk membuat tulisan tentang pencarian kemarin. Sip oke, mari tersenyum :)
Kemarin saya menghabiskan hampir tiga jam bukan cuma untuk berbelanja, tapi juga sambil berpikir. Awalnya saya datang ke BEC dengan niat mencari hard disk eksternal untuk archiving alias cuma mengarsipkan data.
Saya punya semacam "bekas pukulan" ketika hard disk komputer saya mati total pada tahun 2009-an dan datanya tak bisa dipulihkan, otomatis kenangan saya dari semenjak SD dan SMP lapur semua. Tapi saya jadi tahu tanda-tanda hard disk sangat sebentar lagi bakal pensiun: bunyi putaran yang kasar, suara cetrak-cetrak seperti logam berbenturan dengan logam lainnya (itu headnya!), data tiba-tiba corrupt tanpa power loss, bad sector banyak ketika diperiksa lewat disk check, dan akses aplikasi maupun berkas yang sangat lama, dan sering kali gagal. Saya tak pernah menerima peringatan dari fitur SMART yang lebih tahu kondisi hard disk, sehingga tindakan pencegahan jauh lebih baik. Pada tahun 2012 hard disk saya yang dibeli untuk menggantikan yang rusak tahun 2009 itu menunjukkan beberapa gejala itu, dan tak lama rusak. Untung sudah diback up ke Hard disk yang baru dibeli itu beberapa waktu sebelum Hard disk lama rusak. Alhamdulillah, experience is the best teacher.
Dan hard disk saya tahun ini sudah menunjukkan beberapa gejala kerusakan itu, sehingga saya meluangkan untuk membeli media buat pencadangan data. Saya lakukan quick research, Google is now your best friend.
Dan saya batal membeli hard disk eksternal itu, salah satu alasannya karena, mahal. Budget mahasiswa gitu loh. Akhirnya saya jatuhkan pilihan membeli optical disc drive tipe DVD dan puluhan keping dvd kualitas top. Saya memilih DVD burner internal saja, karena lebih murah hampir dua kali lipat daripada yang eksternal, dan membakar tiga kali lebih cepat, meskipun tetap saja saya ngeburn di 8x supaya datanya aman hehehe. Satu lagi kenapa lebih memilih internal: kalau rusak gak begitu nyesek, dan bisa saya bongkar untuk dijadikan mainan. Hahaha.
Alasan kedua, pilihan teraman. Saya melakukan googling dan banyak orang memilih untuk menggunakan DVD daripada hard disk. Sifat hard disk yang magnetized membuat user harus merefresh datanya setidaknya setahun sekali, jika tidak maka data tersebut perlahan akan rusak dan saya tipe yang kadang lupa. Dan sebagaimana yang kita tahu, Hard disk sangat rentan terhadap guncangan, medan magnet, dan mungkin juga kualitas kabel yang menghubungkannya dengan komputer. Semua hal tersebut tak terjadi dengan DVD. Tapi tak ada gading yang tak retak: dvd rentan gores, panas, dan Kelembapan, untungnya saya bisa apik. Hard disk sebetulnya rentan terhadap yang dua terakhir juga sih. Tetapi selain itu juga saya harus mengakui mengarsipkan data menggunakan DVD lebih repot juga, tak seperti hard disk karena faktor DVD yang per kepingnya maksimal efektif 4.38 GB, sehingga harus membuat per folder yang besarnya sesuai kapasitas DVD.
Penutup, saya pernah dengar tentang M-Disc. Bukan merek elektronik, tapi sejenis keping DVD yang bisa bertahan sampai 100 tahun. Saya coba cari apakah ada yang jual di Indonesia tapi masih belum nemu. Barangkali ada yang tahu lebih detail tentang M-Disc, ngobrol pasti seru. Atau mungkin ada pendapat lainnya. Hayuk ah.
Dan saya baru ingat berniat untuk membuat tulisan tentang pencarian kemarin. Sip oke, mari tersenyum :)
Kemarin saya menghabiskan hampir tiga jam bukan cuma untuk berbelanja, tapi juga sambil berpikir. Awalnya saya datang ke BEC dengan niat mencari hard disk eksternal untuk archiving alias cuma mengarsipkan data.
Saya punya semacam "bekas pukulan" ketika hard disk komputer saya mati total pada tahun 2009-an dan datanya tak bisa dipulihkan, otomatis kenangan saya dari semenjak SD dan SMP lapur semua. Tapi saya jadi tahu tanda-tanda hard disk sangat sebentar lagi bakal pensiun: bunyi putaran yang kasar, suara cetrak-cetrak seperti logam berbenturan dengan logam lainnya (itu headnya!), data tiba-tiba corrupt tanpa power loss, bad sector banyak ketika diperiksa lewat disk check, dan akses aplikasi maupun berkas yang sangat lama, dan sering kali gagal. Saya tak pernah menerima peringatan dari fitur SMART yang lebih tahu kondisi hard disk, sehingga tindakan pencegahan jauh lebih baik. Pada tahun 2012 hard disk saya yang dibeli untuk menggantikan yang rusak tahun 2009 itu menunjukkan beberapa gejala itu, dan tak lama rusak. Untung sudah diback up ke Hard disk yang baru dibeli itu beberapa waktu sebelum Hard disk lama rusak. Alhamdulillah, experience is the best teacher.
Dan hard disk saya tahun ini sudah menunjukkan beberapa gejala kerusakan itu, sehingga saya meluangkan untuk membeli media buat pencadangan data. Saya lakukan quick research, Google is now your best friend.
Dan saya batal membeli hard disk eksternal itu, salah satu alasannya karena, mahal. Budget mahasiswa gitu loh. Akhirnya saya jatuhkan pilihan membeli optical disc drive tipe DVD dan puluhan keping dvd kualitas top. Saya memilih DVD burner internal saja, karena lebih murah hampir dua kali lipat daripada yang eksternal, dan membakar tiga kali lebih cepat, meskipun tetap saja saya ngeburn di 8x supaya datanya aman hehehe. Satu lagi kenapa lebih memilih internal: kalau rusak gak begitu nyesek, dan bisa saya bongkar untuk dijadikan mainan. Hahaha.
Alasan kedua, pilihan teraman. Saya melakukan googling dan banyak orang memilih untuk menggunakan DVD daripada hard disk. Sifat hard disk yang magnetized membuat user harus merefresh datanya setidaknya setahun sekali, jika tidak maka data tersebut perlahan akan rusak dan saya tipe yang kadang lupa. Dan sebagaimana yang kita tahu, Hard disk sangat rentan terhadap guncangan, medan magnet, dan mungkin juga kualitas kabel yang menghubungkannya dengan komputer. Semua hal tersebut tak terjadi dengan DVD. Tapi tak ada gading yang tak retak: dvd rentan gores, panas, dan Kelembapan, untungnya saya bisa apik. Hard disk sebetulnya rentan terhadap yang dua terakhir juga sih. Tetapi selain itu juga saya harus mengakui mengarsipkan data menggunakan DVD lebih repot juga, tak seperti hard disk karena faktor DVD yang per kepingnya maksimal efektif 4.38 GB, sehingga harus membuat per folder yang besarnya sesuai kapasitas DVD.
Penutup, saya pernah dengar tentang M-Disc. Bukan merek elektronik, tapi sejenis keping DVD yang bisa bertahan sampai 100 tahun. Saya coba cari apakah ada yang jual di Indonesia tapi masih belum nemu. Barangkali ada yang tahu lebih detail tentang M-Disc, ngobrol pasti seru. Atau mungkin ada pendapat lainnya. Hayuk ah.
Note menjelang tidur
Berhenti ayunkan pena, hentikan tarian jemari di atas keyboard. Jadilah debu di atas muka bumi yang diterbangkan angin, bahkan keberadaannya pun tak pernah diketahui.
Seorang anak bupati telah berhasil membuatku gelisah akan kewajiban menulis, terutama sebagai makhluk yang sering kali dianggap "terpelajar". Pak dosen semester kemarin mengingatkan agar tak pintar untuk diri sendiri. Bahasaku terlalu baku buku, interpretasi maknawi berdasarkan susunan kata yang disampaikan oleh komunikator itu.
Ah, kumakan buku-buku itu hingga pada akhirnya aku jenuh dan terhenti untuk kembali mengunyahnya. Buat apa semua ini? Yang kukunyah hanyalah buku-buku ilmiah teoritis. Gerah rasanya, lelah. Bosan. Setelah aku paham semua teori, lalu apa?
Dulu saya sempat skeptis. Buat apa baca novel? Toh tak ada manfaatnya. Itu semua hanya mengembangkan imaji dalam otak sampai-sampai kau tak bakal mampu berpikir logis. Untuk apa baca cerpen? Memang ada manfaatnya? Buat apa baca puisi? Mau belajar jadi cengeng? (Tapi anehnya saya masih saja senang mendengarkan musik saat itu, kadang yang melau galau.)
Hidup kaku tak pernah ada warnanya. Itulah hidup tanpa sastra. Karena literasi tanpa sastra rasanya percuma saja; kau akan kebingungan menyampaikan apa yang telah kau ketahui dengan bahasa semua bangsa. Sastra memberikan pelajaran bagaimana menyampaikan dari hati, dan apa yang disampaikan dari hati akan sampai kepada hati pula. Tak peduli pakai bahasa manusia manapun, selama orang baik hati masih ada di dunia.
(Ini unek-unek mau tidur, jadi sepertinya perlu usaha ekstra untuk memahaminya. Selamat malam!)
Langganan:
Komentar (Atom)
