Suatu malam yang dingin, dan selimut hanya ada satu. Ia berikan selimut itu untukmu yang sedang terlelap tidur. Hanya satu harapnya: kau terlelap dalam kehangatan. Tak peduli dengan dirinya yang diguncang kedinginan. Ada sepotong roti di atas meja. Dan kau sangat lapar. Kau tanya milik siapa itu dan kemudian memakannya setelah mendapat izinnya. Adakalanya tak bertanya dahulu. Sedangkan dia sangat lapar. Nyawamu dalam ancaman. Ia takkan ragu menjadikan nyawanya sebagai tebusan nyawamu. Ia rela meregang nyawa demi selamatnya dirimu. Itu telah terjadi, ketika ia melahirkan dirimu. Masihkah kau, dan aku, tak tahu terima kasih, berujar dengan nada yang tinggi, lisan yang menyakitkan, keakuan yang keterlaluan? Maafkan sahaya, Bunda.
Hidup, mau apa?
Coba pikirkan lagi, hidupmu untuk apa? Tanpa mengetahuinya, hidup hampa rasanya. Jadi sampah di tengah lautan; mengapung tak berarti, tanpa tujuan. Tak bisa apa-apa selain hanya meminum air asin dan melihat malam dan siang silih berganti. Menghasilkan, menghasilkan bencana matinya ikan-ikan laut karena berusaha membuatmu bermanfaat dengan memakanmu. Kau tidak lagi bermanfaat, tapi jadi bencana.
Itu terlalu mengerikan. Ah mengapa aku baru memikirkannya sekarang, kala pendidikanku mulai memasuki senja? Semua seperti salah saja rasanya. Deviasi yang terlalu ekstrim dari apa yang diidealkan dalam cita-cita. Pil pahit yang tak kuketahui manfaatnya harus kutenggak mau tak mau. Semoga saja bukan racun yang membunuh.
Dunia ini gelap. Dunia ini berkabut. Makanya diciptakan cahaya, supaya jalannya kelihatan. Ada tiga jenis manusia dalam kamus besar bahasa saya; yang nyaman dengan kegelapan, yang mengharapkan cahaya, dan yang terakhir tak tahu gelap terang. Yang terakhir ada dua, yang dibunuh ada yang diasah. It's the new born baby. Tak sadar pisau yang sedang kita asah malah hancur berkeping karena terlalu dipaksa.
Nak, tentukan hidupmu mau kemana, agar kau tak jadi styrofoam di tengah laut, agar kau tak jadi pelakunya.
Yah, jangan mengasah terlalu keras, agar ia menjadi pisau yang tajam bukan puing plat baja tak berguna.
Itu terlalu mengerikan. Ah mengapa aku baru memikirkannya sekarang, kala pendidikanku mulai memasuki senja? Semua seperti salah saja rasanya. Deviasi yang terlalu ekstrim dari apa yang diidealkan dalam cita-cita. Pil pahit yang tak kuketahui manfaatnya harus kutenggak mau tak mau. Semoga saja bukan racun yang membunuh.
Dunia ini gelap. Dunia ini berkabut. Makanya diciptakan cahaya, supaya jalannya kelihatan. Ada tiga jenis manusia dalam kamus besar bahasa saya; yang nyaman dengan kegelapan, yang mengharapkan cahaya, dan yang terakhir tak tahu gelap terang. Yang terakhir ada dua, yang dibunuh ada yang diasah. It's the new born baby. Tak sadar pisau yang sedang kita asah malah hancur berkeping karena terlalu dipaksa.
Nak, tentukan hidupmu mau kemana, agar kau tak jadi styrofoam di tengah laut, agar kau tak jadi pelakunya.
Yah, jangan mengasah terlalu keras, agar ia menjadi pisau yang tajam bukan puing plat baja tak berguna.
Label:
Facebook,
IFTTT
Pagi yang haus. Memang dasar pelupa, saya lupa bawa botol minum lagi dan hingga akhirnya harus berboros ria beli air minum dalam kemasan (A***). Memang tak mahal, tetapi bisa berhemat tentu jauh lebih baik, baik duit maupun waktu. Kadang manusia berkeluh kesah akan sesuatu yang terjadi diluar kehendak tanpa tahu ujungnya bagaimana. Saya mengeluh dalam hati karena hampir telat dan harus presentasi. Lucunya, itu karena sebenarnya saya mengemudikan si Jeni terlalu lambat, dengan alasan ingin menikmati jalan yang ditimpa aspal baru. Memang yang mulus-mulus halus menghipnotis kesadaran; makanya kadang jalan mulus itu membikin kecelakaan. Terlalu mirip bulan juga sama. Tibalah saya di salah satu mini market di sisi jalan besar bernama seorang Jenderal itu. Turun, simpan helm. Masuk. Dan tak seperti biasa, mbak kasir tidak membacakan mantra sambutan ciri khas yang rasanya seperti bel pintu otomatis. Sudahlah, tak penting. Entah mengapa kaki ini malah berjalan menuju chiller dan mengambil kopi mochachino. Dan hingga akhirnya lupa niat awal kalau saya ingin beli AMDK. The miraculous power of tunduh. Tiba-tiba terdengar sahutan itu, "A, upami kwaci di palih mana nya?" Seorang nenek bertanya padaku dimana letak produk yang bernama"kwaci" dalam kebingungannya setelah mencari tak ketemu. Seragamku tak warna warni, hanya kaos kerah yang sebenarnya sudah sedikit lusuh. Lima menit sebelum jadwal presentasi, tetapi aku tiba-tiba melihat sesosok ibuku dari wajahnya. Meski ibuku belum nenek-nenek, tapi semua akan tiba masanya. Kucari mana kwaci itu. Dengan kacamata yang ketebalannya bikin kagum orang, ditambah the miraculous power of tunduh, akhirnya bungkus bertulisan "KWACI" bertinta merah diatas kertas coklat itu berhasil ditemukan dalam waktu sekitar 5 menit. Padahal letaknya di dekat saya. Kutunjukkan kwaci yang tinggal satu bungkus lagi. Nenek itu kemudian bertanya "langkung hiji deui?", ia ingin membeli yang berukuran kecil tetapi hanya itu satu-satunya, saya jawab saja tinggal satu lagi nek. Sepertinya untuk cucunya tercinta. Singkatnya cerita setelah obrolan itu selesai, saya menghampiri mbak kasir itu yang akhirnya menagih saya seharga kopi kotak itu. Keluar. Saya sadari sebenarnya saya sudah terlambat presentasi. Akan tetapi, dalam hati ini merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang sambil menampar: karena segala sesuatu di dunia memiliki batas waktu, lihatlah yang terdekat denganmu. Masihkah kau tak berkhidmat dengannya padahal Tuhan tempatkan surga di atas telapak kakinya, bahwa Ridha Tuhan berada pada ridhanya?
Langganan:
Komentar (Atom)
