Aku ingin berterima kasih kepada Tuhan, aku masih tetap single sampai sekarang. Telah diajarkannya aku banyak hal karenanya.
Cinta, bukan karena wajah yang cantik. Bukan pula segenap pesona fisik yang akan lapur ditelan bumi, termasuk kekayaan. Bukan jilbab yang membalut kepala. Saya serius masalah ini, ada saja mereka yang berjilbab begitu indah tetapi perilakunya kontradiktif dengan perupaannya, ia tak menjilbab jiwanya. Ya, dunia ini terlalu banyak topeng.
Lalu apa itu cinta? Yaitu,... Aku tak bisa mengatakan apapun. Tapi selalu pertajam pendengaranmu terhadap hati. Ia anugerah Tuhan yang tak pernah bohong. Hanya, suaranya sayup terkalahkan oleh suara hingar bingar dunia. Seperti yang bisa kau duga, menurunkan volume dunia membuatmu bisa mendengarkan hati.
Dan dengan itu, kau temukan cinta. Bisik sang hati akan terdengar sejernih air, menyejukkan diri. Dan, cinta adalah urusan hati, bukan apa yang ada pada selangkanganmu.
Sayangku itu bernama waktu. Ia berjalan selalu saja dengan langkah yang tergesa-gesa. Tetapi meskipun begitu, keringatnya harum semerbak. Wewangian, seperti biasa, tak bisa dilukiskan kata tapi hanya bisa dinikmati saja. Berkata tak menjelaskan, tetapi mungkin gambar bisa meski tertatih-tatih.
Sialan, seringkali aku tak bisa mengimbangi langkahnya. Terkadang aku mampu bersamanya tetapi tetap saja lebih sering ketinggalan. Karena ngefly menikmati semerbak keringat, kadang menonton unicorn terbang. Ya, akulah manusia yang merugi seperti Firman Ilahi sebutkan. Ampuni dosaku Ya Ghafur, wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Sialan, seringkali aku tak bisa mengimbangi langkahnya. Terkadang aku mampu bersamanya tetapi tetap saja lebih sering ketinggalan. Karena ngefly menikmati semerbak keringat, kadang menonton unicorn terbang. Ya, akulah manusia yang merugi seperti Firman Ilahi sebutkan. Ampuni dosaku Ya Ghafur, wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Jiwa saya lagi gentayangan entah kemana, makanya agak sulit untuk menulis. Ini juga laporan untuk perkuliahan belum selesai. Dia sepertinya perlu piknik dan kehidupan yang sedang dihadapi sedang membuat warna jadi abu-abu, masih bersyukur bukan binary alias 1-bit.
Bener, pendamping itu perlu ya. Saatnya mencari yang bisa serius.
Bener, pendamping itu perlu ya. Saatnya mencari yang bisa serius.
About One Day a Post (Eh, one post)
One day one post. Saya memposting tidak melulu di blog, bisa jadi di Facebook, Instagram (@sudarhid), dan blog ini. Hanya tiga. Kalau menulis saya bisa di lebih dari tiga tempat, termasuk menulis di Broni si teman setia tas saya, di Google Keep, dan juga menulis di kepala orang. Serius, saya suka menulis di kepala orang saat secangkir kopi sedang bermain. Dan yang paling menyenangkan kalau orang yang saya tulisi kepalanya menorehkan juga kata-katanya dalam kepala saya.
Kadang saya menulis menggunakan perpaduan warna tanpa harus menggunakan kata. Saya akui kemampuan menulis saya menurun semenjak, mungkin, hampir dua tahun kurang banyak tidak menulis. Bukan malas, ombak menghilangkan pena saya. Saya terbawa mabuk air laut ketika saya sangka kota metropolitan sudah di depan saya, dan ternyata itu hanyalah fatamorgana. Goblok.
Tapi dari kegoblokan itu, terbuka sudah ilmu untuk mengetahui siapa yang sedang bermain dalam diri, hawa-nafsu atau jiwa. Kepada Tuhan sahaya berlindung dari kejahatan hawa nafsu yang menyesatkan. Dan sekarang saatnya saya membuang air laut dari perut dan kemudian berdiri lagi. Lagi.
Saya ingin bisa menulis lagi. ketika saya menemukan mereka yang bisa dijadikan inspirasi. Dari anak kecil yang bahagia, anak desain ITB sampai sekelas sastrawan besar Indonesia. Dan juga orang-orang luar lainnya seperti mereka orang-orang Maori. Mereka menulis dengan hati, dan aku pun ingin bisa. Perlahan-lahan mendobrak pintu besi berkarat yang sudah terlalu lama digembok.
Beberapa hari lalu, saya sempat pusing karena masalah tempat Job Training yang melempar saya seenak udhelnya ke tempat yang tak seharusnya saya berada. Mencari kesana kemari untuk PKL, semua tempat sudah menutup pintunya karena memang masa untuk job training pada umumnya sudah selesai. Dua hari kemudian saya dapat di bagian lain di rumahnya kota Bandung. Saya bersyukur pada akhirnya ada jalan keluarnya. Ah! Dan saya baru ingat ingin menulis tentang ini. Mungkin segera.
Dan selama pencarian untuk Job Training itu, saya berhenti menulis di salah satu harinya, pusing soalnya. Meski jangar, tapi jadi plus, saya punya bahan untuk dilaporkan, setidaknya. Dan juga pelajaran agar tak me(mper)mainkan orang.
Jadi, tidak seratus persen saya menulis setiap hari tapi saya selalu berusaha sebaik mungkin.
Dan saya juga ada keinginan menulis fiksi, tapi belum nemu temanya sampai sekarang. Ada yang mau memberi ide? Setiap ide pasti cemerlang cuma kadang otak saya yang rada butek.
Kadang saya menulis menggunakan perpaduan warna tanpa harus menggunakan kata. Saya akui kemampuan menulis saya menurun semenjak, mungkin, hampir dua tahun kurang banyak tidak menulis. Bukan malas, ombak menghilangkan pena saya. Saya terbawa mabuk air laut ketika saya sangka kota metropolitan sudah di depan saya, dan ternyata itu hanyalah fatamorgana. Goblok.
Tapi dari kegoblokan itu, terbuka sudah ilmu untuk mengetahui siapa yang sedang bermain dalam diri, hawa-nafsu atau jiwa. Kepada Tuhan sahaya berlindung dari kejahatan hawa nafsu yang menyesatkan. Dan sekarang saatnya saya membuang air laut dari perut dan kemudian berdiri lagi. Lagi.
Saya ingin bisa menulis lagi. ketika saya menemukan mereka yang bisa dijadikan inspirasi. Dari anak kecil yang bahagia, anak desain ITB sampai sekelas sastrawan besar Indonesia. Dan juga orang-orang luar lainnya seperti mereka orang-orang Maori. Mereka menulis dengan hati, dan aku pun ingin bisa. Perlahan-lahan mendobrak pintu besi berkarat yang sudah terlalu lama digembok.
Beberapa hari lalu, saya sempat pusing karena masalah tempat Job Training yang melempar saya seenak udhelnya ke tempat yang tak seharusnya saya berada. Mencari kesana kemari untuk PKL, semua tempat sudah menutup pintunya karena memang masa untuk job training pada umumnya sudah selesai. Dua hari kemudian saya dapat di bagian lain di rumahnya kota Bandung. Saya bersyukur pada akhirnya ada jalan keluarnya. Ah! Dan saya baru ingat ingin menulis tentang ini. Mungkin segera.
Dan selama pencarian untuk Job Training itu, saya berhenti menulis di salah satu harinya, pusing soalnya. Meski jangar, tapi jadi plus, saya punya bahan untuk dilaporkan, setidaknya. Dan juga pelajaran agar tak me(mper)mainkan orang.
Jadi, tidak seratus persen saya menulis setiap hari tapi saya selalu berusaha sebaik mungkin.
Dan saya juga ada keinginan menulis fiksi, tapi belum nemu temanya sampai sekarang. Ada yang mau memberi ide? Setiap ide pasti cemerlang cuma kadang otak saya yang rada butek.
Langganan:
Komentar (Atom)
