Sayangku itu bernama waktu. Ia berjalan selalu saja dengan langkah yang tergesa-gesa. Tetapi meskipun begitu, keringatnya harum semerbak. Wewangian, seperti biasa, tak bisa dilukiskan kata tapi hanya bisa dinikmati saja. Berkata tak menjelaskan, tetapi mungkin gambar bisa meski tertatih-tatih.
Sialan, seringkali aku tak bisa mengimbangi langkahnya. Terkadang aku mampu bersamanya tetapi tetap saja lebih sering ketinggalan. Karena ngefly menikmati semerbak keringat, kadang menonton unicorn terbang. Ya, akulah manusia yang merugi seperti Firman Ilahi sebutkan. Ampuni dosaku Ya Ghafur, wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar