Aku pun manusia. Punya perasaan, punya emosi.
Dan aku benci dipermainkan.
Meski aku pernah mempermainkan, dan aku baru tahu kalau mempermainkan seperti
itu. Karma? Mungkin.
Namun tetap saja
aku benci dipermainkan. Tak peduli dikata egois atau apa.
Dan dipermainkan
di lingkungan yang sudah kau percaya tak beda jauh menyakitkannya ketimbang
dipermainkan di dunia percintaan. Dan, kau tahu? Mempermainkan sama saja meluluhlatakkan
kepercayaan. Merusak kepercayaan, yang sering kali tak terasa pentingnya
apa. Atau memang tak penting karena aku tak punya power.
Siapa yang tak senang mendapatkan kesempatan berkembang yang
jelas? Rasanya seperti disayang. Dan
kemudian oleh alasan yang konyol, kamu ditendang dan kesempatan itu
dihilangkan. Seperti anak yang memeroleh kasih sayang dan di satu waktu ditendang
keluar dari rumah yang alasannya... Ada adik baru.
Demikian, apa yang terjadi padaku. Aku menangkap kursiku digeser menjadi di ujung
dekat pintu. Tak elok ada kursi di ujung pintu. Tendang, クソヤロ.
Dan jangan tanya,
dalam konteks itu saya memang sentimen ke salah satu identitas tertentu. Dan
untuk urusan serius, saya memang sudah tak memercayai pemegang identitas
tersebut. Tak perlu diceritakan
seperti apa identitasnya. Silakan berspekulasi, selamat menguras energi.
Kalau kau
menyangka aku seperti malaikat yang pemaaf, salah besar. Aku pun manusia, bukan
malaikat yang begitu pemaaf. Dan aku tak akan pernah menjadi seorang malaikat.
Karena apa? Orang yang kupanuti seperti malaikat pun ternyata
membuatku kecewa dengan omongan malaikat dan perilaku iblis.
