Among the fields of barley?

Ah malam minggu yang dingin sehabis hujan. Kehujanan sudah sedikit memberikan sensasi lelah, tapi aku belum ingin beranjak ke alam mimpi. Aku masih ingin duduk di sini. Menikmati harmoni.

Malam ini sendiri. Nada mengalun menyampaikan rasa sang seniman. Sepertinya sedang mengenang suasana cinta. Yap. Upon the fields of barley. Kau akan mengerti rasanya kalau kau paham apa yang di balik kata.

Mendengar alunan harmoni itu, aku iri. Kapan aku merasakannya? Bahagia yang kuharap sering menjadi racun yang menyakitiku. Hingga pada suatu waktu racun itu menjadi begitu kuat, hingga lama waktunya aku merasa diriku makin merusak. Ah.

Kasih sayang Tuhan? Harapanku. Aku tak akan kuat, aku tak akan paham tanpa sakit-pedih itu. Perih yang kuat memunculkan kebahagiaan yang kuat pula. Ah Tuhanku, tunjukkanlah bidadari cinta itu yang akan membahagiakan setiap bingkai kehidupan. Semoga. Dalam detik.

"kenapa kamu gak masuk ITB aja?"
"Kok masuk UIN sih kenapa gak masuk IF ITB aja?"
"kamu kayak anak ITB."

Salahku, minder. Minder sama matematika yang kini kuterima sepenuh hati.
Minder dengan derivasinya pula.

Ah seandainya minderku itu tiada
Apa sih yang masuk akal tapi tak bisa?

Pertanyaan itu hampir selalu ada setiap bulan dari orang yang random.
Ah biarkan aku unggul dengan keanehanku.

ANAK KOMUNIKASI UIN BERJIWA INFORMATIKA.
HIDUP MALAWEUNG!
AAAAAAAHHHAAHHAHAAA

Aku hanya sebuah pohon yang tersambar halilintar lelaki awan yang mengaku ksatria langit.
Di atas pertiwi yang memberiku nyawa sekali lagi.

Lagu ini terus bermain indah melalui speaker komputer. Aku yang pada awalnya berfokus pada tugasku mulai luluh oleh lagu ini. Iringan pianonya menusuk perasaan tanpa bisa dijelaskan kata. Aku tak tahu perasaan apa ini. Tapi aku tiba-tiba teringat percakapanku dengan temanku, membahas tentang pernikahan.

Usiaku sudah menjelang 21 tahun, tiga belas hari lagi aku akan memasukinya. Sudah dua dekade aku hidup. Dan rata-rata orang yang kukenal menikah pada usia 23-27 tahun. Ada juga yang menikah pada usia 21 tahun, tapi tak banyak. Mengejar umumnya, dua tahun lagi. Atau bisa jadi, segera. Aku tak tahu.

Membayangkan itu, senang pada awal mulanya. Aku punya seorang istri (meski belum ada calonnya sampai sekarang). Punya anak dan sebagai macamnya. Hidup bahagia. Kemudian datang perasaan lainnya. Sedih, ceria, takut, berharap... Aku tak bisa menjelaskannya satu per satu. Tapi perasaan itu bercampur aduk.

Pernikahan adalah urusan yang besar, ia tanggung jawab terbesar yang harus diemban sepasang manusia. Ia adalah komitmen yang menjalankannya mendapat pahala, dan melanggarnya adalah dosa. Yang haram menjadi halal dengan pernikahan. Suami akan menjadi nahkoda bahtera rumah tangga, yang menentukan keselamatan orang-orang di dalamnya. Dan akulah calon suami.

Aku tahu, bukan saatnya memikirkan yang seperti itu. Tugasku adalah fokus kuliah. Tapi pernikahan adalah hal yang pasti akan aku lalui jika usiaku mencapainya. Lautan kehidupan seperti lautan biru di bumi ini, ada kalanya ia tenang dan damai, ada saatnya ia akan bergejolak dengan kemelut awan hitam dan angin yang mengamuk. Karenanya, pernikahan adalah pemenuhan sebagian iman. Ia tak mudah, ia adalah hal besar.

Aku tak paham kegelisahanku sendiri. Perasaan ini bercampur aduk. Hingga kata pun tak mampu lagi melukiskannya...

Menyusun lagi yang porak poranda diterpa angin tak mudah dan tak sebentar, tapi bukan tak mungkin.

Note bangun tidur

Manusia sering kali terjebak berpikir menggunakan perut dan selangkangannya, bukan dengan otak yang secara khusus hanya diberikan kepada manusia. Sehingga lihatlah apa yang terjadi.

Manusia punya dua dimensi, nafsu dan akal. Jika akal manusia ditundukkan oleh nafsunya, maka dia akan menjadi lebih bejat dari pada hewan. Hewan tak bernafsu dan berakal. Dia hanya menjalankan instingnya. Kalau pun hewan bertindak lebih bejat daripada seharusnya, itu pun ulah manusia. Kenapa? Manusia merampas haknya dan insting berfungsi untuk mempertahankan hidup.

Konsekuensi kehidupan sering kita anggap sebagai kezaliman alam. Padahal alam di dalam kasus ini hanya menjalankan fungsinya sebagai cermin, yang mengingatkan manusia apa yang telah mereka perbuat. Jadi, yang zalim siapa?

When house is no longer home. Aku hanya berharap semua ini berhenti di sini dan tak terjadi pada keluarga yang akan kunahkodai nanti. Biarkan semua yang terjadi kini maupun sebelumnya menjadi petunjuk, yang menjadi pelajaran indah bagiku.

Bahasa apa yang paling indah?
Bahasa kesunyian.

Sayangnya manusia modern tak mengenalnya, takut akannya. Sehingga ia tak bersahabat dengan Tuhannya.

Nampaknya sudah beberapa kali Tuhan menurunkan tanganNya untuk membimbing aku, tapi seringkali aku tak sadar, kalau tak terlupa.

Yap, aku terpuruk kini. Tak perlu kujelaskan mengapa aku terpuruk. Tetapi yang jelas keterpurukan ini membawaku bagai angin berhembus di khatulistiwa, ia bisa tak menentu. Aku hanya sehelai kertas di garis ini.

Tamparan keras ini belum kunjung hilang bekasnya, ia masih meninggalkan perih. Karenanya ia menambah apa yang ada dipunggungku, sembari ribuan langkah menanti.

Masih banyak lagi.

Tapi, setelah badai pastilah ada pelangi. Tuhan selalu punya rencana indah setelah bala menerkam, mengoyakkan jiwa. Percayalah, maka semua akan terjadi.

Kalau kau mencintai seseorang yang Tuhan ridhai bagimu
Maka kau harus bersiap menerima segala bala ujian
Bukan, itu bukan tanda Tuhan ingin menyakitimu
Itu tanda Ridha-Nya
Dengan kepedihan Tuhan gugurkan dosa-dosa dari jendela hatimu sehingga kau mampu melihat dengan jernih
Dengan penderitaan cintamu akan semakin mengakar bumi
Dengan ujian semua akan kuat teruji
Cintailah dalam rasa syukur
Cintamu diiringi sedemikian ujian
Karena cintamu akan membawa keduanya kepada Cinta Hakiki.

My dream home:

Rumah yang tak terlalu besar, rapi dan hangat. Yang menjalani fungsinya sebagai tempat berlindung. Di dalamnya ada puluhan ribu judul buku dan karpet berlapiskan permadani tanpa kursi kecuali satu kursi di ruang kerja yang akustiknya sudah tertata dan ada piano dan teknologi informasi canggih di dalamnya.

Kemudian keluarga yang hangat. Yang komunikasi berkualitas selalu terjalin di dalamnya. Penuh senyum dan cinta. Ketika ada yang bermasalah, bersama mencari solusinya, bersama pula memahaminya. Yang saling menopang, bahkan ketika ada yang terjatuh. Yang penuh kesabaran. Setiap anggota keluarga mendengarkan yang satu dengan baik. Yang bisa menjadi tegas tanpa kemurkaan. Keluarga yang menjadikan hati nurani di belakangnya, bukan hawa nafsu. Kemudian beribadah bersama, suami menjadi imam yang mampu membimbing baik secara ilmu maupun spiritual. Bersama menuju para kekasih dan ar Rahim. Bergerak bersama menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Selanjutnya? Terserah istriku yang mengatur. Tapi aku belum tahu siapa dia :)

Apa yang paling dirindukan di tengah kelelahan menghadapi perputaran bumi?
Tempat bersandar.
Segala sesuatu akan hancur, lapuk, binasa.
Kecuali jiwa
Dia kekal sepanjang masa, karena ia bagian dari yang abadi
Terwujud dalam berbagai bentuk yang indah.
Tulisan, suara, cinta.

Bapa
Sudah dua kali aku memimpikanmu
Pertama, aku bermimpi ketika engkau tiba-tiba terjatuh setelah memberikan ceramah.
Hanya putramu dan aku yang menolongmu, merebahkanmu.

Kedua, baru saja.
Kulihat wajahku tiba-tiba menjadi mirip dirimu sewaktu berusia 30 tahun.
Pertanda apa ini?

Seputih-putihnya manusia memiliki hitam
Sehitam-hitamnya manusia memiliki putih
Manusia yang tak diangkat Tuhan tidaklah suci

Mungkin racun itu sudah mengenai kulitku walau sedikit
Aku mulai sempoyongan menghadapi jalannya dunia
Aku butuh penawar racun ini.

Apa penawar paling ampuh?
Wujud kasih sayangmu: Doamu.

Makin dahsyat ujianMu, Tuhanku...
Bimbinglah aku agar aku tak terjerumus...

Tuhanku, lindungi aku. Lindungi cintaku
Iblis selalu punya seribu jebakan untuk menghancurkan kebahagiaan.

Tahukah betapa aku merindumu?
Angin semakin hari semakin membuat yang kokoh pasrah pada tanah
Tapi aku tidak akan!
Aku mencintaimu, aku mencintaimu!

Sebesar apapun badainya, akan aku lalui
Karena kau telah menguatkanku, menghadapi semuanya.
Aku ingin bersamamu, selamanya. Selamanya.
Meski jarak memisahkan jasmani, tetapi tidak secara ruhani

Canda tawa senda gurau
Linangan air mata kerinduan
Perih cambukan angin badai
Bahagia.....

Itulah cinta, berjuta rasa yang tak tertulis pena

Hai hujan
Saksikan aku yang tak bergeming di mihrab ini
Dalam penantian akan kembalinya sang kekasih yang jauh di suatu negeri
Dan setiap kisah itu hanya mampu kuisi dengan rintihan senandung kerinduan
Dengan setiap tetesan air mata yang diharapkan tanah yang tandus
Karena kata-kata tak mampu melukiskan bahasa hati seutuhnya

Malas, pergilah kau
Jangan kau usik mimpiku
Semoga aku segera mendapatkan caranya
Agar kau tak memiliki kuasa atas diriku

Setiap orang Tuhan lukiskan potret yang berbeda
Ada yang berwarna dengan kesederhanaannya
Juga ada yang rumit dengan segala lika-likunya
Keduanya punya nilai yang tak sama

Kupilih yang kedua
Karena itu tak akan mudah dicampakkan waktu

Cinta itu bukan sebatang coklat
Tapi dia adalah sebatang emas.
Yang kemudian menjadi perhiasan
Setelah dia ditempa dalam bara
Peluh, air mata, dan darah sekalipun

Itulah
Derita sebagai tanda cinta.

Aku mencintaimu.

Untuk apa Dia mewajibkan mengagungkan namaNya setiap hari?

Supaya ketika kau ditimpa masalah besar, kau masih sadar kau punya yang lebih besar dan kuasa daripada masalah itu. Kemudian kau kembali dengan tangisan dan Dia merangkulmu dan membelaimu dengan penuh kasih sayang, seraya bergerak menyelesaikan masalah yang sudah tak mampu kau selesaikan.

Jihad
Banyak yang memaknai jihad itu dengan keluar rumah, kemudian menumpahkan darah orang yang berbeda paham dengan mereka, yang mereka gelari dengan julukan yang menyakitkan, salah satunya: kafir
Mungkin banyak yang tidak tahu apa arti kata dalam bahasa Arab ini. Tetapi, raut wajah yang meneriakkan kata ini sudah cukup menjadi pisau yang menusuk hati.
Itukah jihad?

Betul, jihad itu keluar dari rumah dan kemudian melakukan pengembaraan. Tetapi aku punya pemaknaan lain.
Rumahmu itu egomu, jihadmu itu keluar dari rumahmu itu. Itu perjuangan besar, melawan keakuan tiadalah mudah. Pengembaraan sudah dimulai semenjak kau mencari pintu dan mencoba membukanya. Tidak mudah, tapi mungkin. Pasti bisa jika kau mau.
Coba sejenak kamu lihat orang kesusahan di sekitarmu. Kamu punya makanan sedikit yang tinggal satu-satunya, hanya untukmu. Apa yang akan kau lakukan? Simpanlah jawabnya dan renungkan.
Jihad itu adalah pengorbanan. Dan pengorbanan itu tanda cinta. Pertanyaan selanjutnya, apa yang kau cintai?

Kalau kau mengejar cinta yang sementara, maka kau akan mendapatkan ketidakpuasan yang tak berujung, yang malah akan menjadi neraka yang membakar dirimu
Jika kau mengejar cinta sejati, kelak kau akan mendapatkan kebahagiaan
Tetapi bersiaplah, bala bencana akan berdatangan. Mereka akan menguji kecintaanmu.
Setiap pos yang kau berhasil lalui akan menguatkan cintamu.

Hmm
Dan, ruh manusia itu abadi, karena ia bagian dari Tuhan.
Aku mencintaimu.

Kala kau sudah terlalu jauh
Hatimu telah menjadi lebih keras ketimbang batu
Dia memberimu angin ribut

Bukan pertanda Dia membenci
Tapi, itulah tanda kasih sejati

Supaya kau kembali padanya dengan tangisan
Dan kemudian Dia mengulurkan tangannya
Membelaimu dengan kelembutan kasihNya
Memelukmu dengan hangat cintaNya

Bukankah itu indah?

Ujian apa yang lebih berat selain yang datang dari dalam dirimu sendiri, dan mungkin, yang kau cintai?

Aku tetap mencintaimu, hanya kerikil dan duri ini menghantam bertubi-tubi mencoba mengaburkan semuanya

Maafkan aku. Tapi ingatlah, aku akan berusaha mengejar kebahagiaan itu: aku dan kamu, selamanya.

Dan itu yang menguatkan aku. Ujian menguatkan cinta.

Duhai hujan,
Apa yang paling membasahi mata
Selain kerinduan kepada sang kekasih hati yang jauh di sana?
Apa yang paling membahagiakan hati
Selain mengelukan kedatangannya?

Hai
Begitu indah untaian katamu itu
Ia menembus relung hati dengan cara yang begitu halus
Barisan huruf yang kau rangkai telah membawa jiwamu dengan cara yang menawan

Apakah kau tahu kreteg haté?
Sang guru pernah berwasiat, itulah ujian terbesar manusia.
Lebih hebat dari lawan manapun
Perasaan yang tiba-tiba muncul tak jelas asal muaranya
Dan, kubutuh waktu untuk mengendalikan itu.

Mungkin itu yang kau maksud?
Memang dengan firasat, keduanya terpisah sehelai rambut.
Kau merasakannya? Maafkan aku......
Tapi, tanpa kau aku akan mati sebelum ia berakhir membuat prasangkaan.

Kau yang menguatkan aku, tiada lagi.
Untukku melawan "aku"
Yang seringkali menusuk diri dengan halilintar

Dan kuingin lawanku itu menjadi kawan
Karena ia takkan terpisahkan.
Duhai angin
Sampaikan salamku, peluk sayang, dan sejuta rinduku padanya

Tuhanku,
Dikala gelapnya perjalanan
Jalan begitu bercabang membingungkan
Tak tahu mana yang harus kupilih

Hampir kuputus asa
Kulihat darah berceceran diantara para saudara
Kudengar lisan kotor menebas setiap yang menjadi tujuannya
Kurasakan hati yang dingin membeku tak berperasaan

Tak kupercayai lagi keyakinanku kala itu
Tak ada yang lisannya berbicara ayat Tuhan bisa aku percayai
Aku menjadi orang yang terombang-ambing mencari cahaya
Tak tahu harus kemana

Tapi, pertolonganMu selalu datang
Dari arah yang tak terduga dan bentuk yang tak terkira
Ajaran yang selama ini dihujam fitnah tak berujung
Termasuk juga para pengikutnya
Ternyata jawabnya

Kini, aku mulai melihat seberkas cahaya
Menuju mata air idaman setiap jiwa yang kehausan
Mata air ajaran cinta, ketulusan dan kebahagiaan
Yang setiap tetesnya menyejukkan hati yang kering hampa

Perjalanannya terjal, tak mudah
Batu kerikil, lumpur licin
Lembah yang menukik, puncak yang tajam
Itulah konsekuensi untuk meraih setiap yang indah

Hei!
Coba tengok atasmu itu
Ada kilauan cahaya
Terangi malam yang dingin

Sama seperti kau
Kau yang berbinar itu
Menerangi malam yang gelap
Menghangatkan angin yang dingin

Yap, kau jauh. Berapa ribu kilometer?
Tapi masih bisa kurasa hangatmu
Masih terang cahayamu menembus sukma
Getaranmu tetap mampu mengguncangku

Bumi ini senantiasa merindu rembulan
Kurindu kau dalam hangatnya hubungan jiwa
Menanti hadirmu, untuk selamanya bersama mengarungi hidup
Selamanya. Dunia dan akhirat.

Don't know what to say now
Don't know where to start
I don't know how to handle
A complicated heart

You tell me, you are leaving
But I just have to say
Before you throw it all away

Even if you want to go alone
I will be waiting when you're coming home
And if you need someone to ease the pain
You can lean on me, my love will still remain

Don't know what you're thinking
To me it seems quite tough
To hold a conversation
When words are not enough

So this is your decision
And there's nothing I can do
I can only say to you

Even if you want to go alone
I will be waiting when you're coming home
If you need someone to ease the pain
You can lean on me, my love will still remain

If this is your decision
And there's nothing I can do
I can only say to you

Even if you want to go alone
I will be waiting when you're coming home
If you need someone to ease the pain
You can lean on me, my love will still remain

Even if you want to go alone
I will still love you when tomorrow comes
When you need someone to ease the pain
You can lean on me, my love will still remain

MLTR - Complicated Heart

Makin dihempas, makin dalam mengakar
Pada awalnya ia akan goyah
Seiring waktu menjadi kokoh
Karena yakinnya yang kuat

Meski rindu itu tidak semenyakitkan dulu
Karena aku mulai belajar bagaimana merindu
Ia tetap mengoyak dada yang merindukan

Kehadiran sang kekasih senantiasa dirindukan
Yang nampak di tengah ufuk kerinduan
Gelegak ombak desiran dalam perindu itu
Senantiasa mengarungi samudra jiwa.

Dingin di sini
Hujan baru saja usai bertemu bumi
Rintik-rintiknya membasahi tanah yang kering
Menumbuhkan kembali hijau yang menguning

Tanah ditumbuk jutaan titik air
Langit gelap angin menghempas
Guntur menggelegar getarkan jendela
Langit biru sekejap hitam mencekam

Tak lama hujan reda
Mentari menunjukkan senyumnya
Pelangi gemilang bersinar
Seolah menunjukkan indahnya perbedaan

Biarlah corak pelangi menghiasi ujung pandangmu
Senyum sang mentari melahirkan adanya
Saksikan warna-warninya yang indah itu
Masihkah ingat badai tadi?

Itulah yang kuyakini
Badai itu harus kuhadapi
Untuk menuju kebahagiaan
Selamanya, bersamamu

Badai itu bernama penempaan diri

Kupu-kupu itu ulat yang ditempa
Berbagai rintangan
Duka, sakit, perih…
Sepi, rindu…

Demikian pula dengan urusan hati

Tak hanya diri
Ia harus ditempa
Agar berbentuk indah

Bukan hanya manis dan senyum
Ia hambar tanpa pahit dan pedas
Ia tak bermakna tanpa torehan

Seperti lautan
Tanpa gejolak ia takkan indah
Tiada gemerlap karena gelombang
Ia hanya akan menjadi hamparan biru yang datar.

Kapan-kapan kita ke pantai yuk? :)

Merindu
Satu kata yang tak cukup menggambar semua
Ia tak begitu menyakitkan lagi seperti dulu
Kini ia melukiskan keindahan
Di tengah sepi penantian

Tak hanya mewarnai
Setelahnya ia menerangi
Memperjelas semuanya
Kuharap kau bisa melihatnya :)

Suara denting harmoni
Kala genta dipertemukan angin
Logam dihantam pasangannya
Tanpanya senandung indah itu hanya semu

Masalah menghantam itu
Untuk menghadirkan senandung cinta
Dengannya dua hati terbentuk indah
Tersambung mencipta simfoni

Bukankah cinta itu beragam rasa?
Tak hanya senang tak selalu duka
Untaian rasa itu mencipta pelangi
Yang indah melukis seribu kisah.

Terima kasih untuk ujianmu
Aku paham maksudmu
Akan kuhadapi seluruh itu
Samudra bergulung ombak
Lembah yang berliku
Gunung yang terjal

Untukmu
Agar aku mampu bersamamu, selamanya.

Akan tetapi,
Kala aku lelah
Izinkan aku beristirahat di bahumu
Menceritakan semua kisah
Yang memberatkan hatiku
Yang menyesakkan dadaku
Yang mencipta air mataku
Selalu kuharapkan dirimu, selalu

...

Tunggu aku di sana, di ufuk kerinduan itu :)

Life is full of lots of up and downs
And the distance feels further
When you're headed for the ground
And there is nothing more painful than to let your feelings take you down
It's so hard to know the way you feel inside
When there's many thoughts and feelings that you hide
But you might feel better if you let me walk with you
By your side

And when you need a shoulder to cry on
When you need a friend to rely on
When the whole world is gone
You won't be alone, cause I'll be there
I'll be your shoulder to cry on
I'll be there
I'll be a friend to rely on
When the whole world is gone
You won't be alone, cause I'll be there

All of the times when everything is wrong
And you're feeling like
There's no use going on
You can't give it up
I hope you work it out and carry on
Side by side,
With you till the end
I'll always be the one to firmly hold your hand
No matter what is said or done
Our love will always continue on

Everyone needs a shoulder to cry on
Everyone needs a friend to rely on
When the whole world is gone
You won't be alone cause I'll be there
I'll be your shoulder to cry on
I'll be there
I'll be the one you rely on
When the whole world's gone
You won't be alone
'Cause I'll be there

And when the whole world is gone
You'll always have my shoulder to cry on.

----
Maaf, baru kusadari hembus bisikmu
Yang merasuk sukma
Dahulu kubertanya, apa ini?

Pertanyaanku terjawab sudah



Hei kau, ini aku. Tunggulah. 
Aku sedang mendaki gunung yang terjal dan lembah yang berliku
Tapi yakin aku akan sampai
Tunggulah :)

Ebiet G. Ade - Apakah Ada Bedanya

Apakah ada bedanya
Hanya diam menunggu
Dengan memburu bayang-bayang?
Sama-sama kosong

Kucoba tuang ke dalam kanvas
Dengan garis dan warna-warni
Yang aku rindui

Apakah ada bedanya
Bila mata terpejam?
Fikiran jauh mengembara
Menembus batas langit

Cintamu telah membakar jiwaku
Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala
Dan fikiranku

Di bumi yang berputar, pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit, halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran

Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli
Aku tak peduli, aku tak peduli

Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
Dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
Di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
Dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka

...

Tunggulah di sana, aku akan segera datang.
Janganlah kemana-mana ya :)

Waktu itu.. Hingga kini

Derita

Lonceng sudah berbunyi tujuh kali, udara mulai mendingin. Tanda sudah jam 7 malam, saatnya aku kembali ke rumah. Kukemas minyak-minyak itu, dan kusimpan serapinya, semampuku. Kotak merah itu selalu setia menemaniku. Dengannya aku jemput rezeki.

Kulangkahkan diriku menyusuri jalan. Gelapnya keadaan ditemani sempoi dinginnya angin sering kali membuatku menabrak apa yang ada di depanku. Tak jarang pula aku terperosok ke dalam lubang. Tak ada penerangan yang mampu meneranginya karena tak ada hubungan menuju sumber energinya. Kugunakanlah satu-satunya sumber cahaya yang kumiliki, sumber cahaya tak perlu energi.

Beginilah keseharianku. Mencari rejeki Tuhan yang tersemai di dunia. Setiap derap perjuangannya kunikmati, kuyakin langkah demi langkah mencari nikmat dariNya merupakan langkah yang mendekatkanku padaNya. Sepuluh-duapuluh ribu hasil memijat kuperjuangkan untuk anak dan istriku. Titik-titik peluh tertumpah diatas bumi, merintih lirih demi apa yang kuperjuangkan.

“Tak terkira bahagianya ketika melihat mereka lahap memakan makanan dari nikmatNya yang kuyakin halal.”

Tiba-tiba aku diberhentikan seseorang. Ia memintaku menanti dirinya membuatkan sesuatu bagiku. Kemudian ia memberikan bungkusan yang berisi makanan dan minuman, yang tak kutahu apa itu jenisnya. Dia selalu seperti itu, memberhentikanku untuk memberikan aku sesuatu yang amat berharga itu. Kutahu ia seorang yang hatinya memancarkan kebaikan dan ketulusan.

Rejeki Tuhan datang melalui berbagai arah, tanpa terduga.

Siang dan malam tidak ada bedanya bagiku, semua selalu gelap. Aku teringat kala aku pertama kali memasuki dunia yang gelap itu. Sekitar sepuluh tahun lalu, aku berkendara dengan kecepatan tinggi untuk mengejar ketertinggalanku dalam tes CPNS. Hampir-hampir aku terlambat.  Alih-alih sampai ke tujuan, aku mengalami kecelakaan. Aku terpental dari motorku karena menabrak mobil yang sedang menggunakan hak lampu hijaunya. Aku memang melanggar lampu lalu lintas.

Aku terkapar tak sadarkan diri. Kata orang, aku berlumuran darah. Motorku hancur hampir tak berbentuk. Kala kumulai sadarkan diri, aku merasakan tulang kaki kananku patah. Kucoba buka mata, semuanya gelap! 

Aku hanya mampu menangis, betapa teledor diriku. Kini kusesali, aku terlalu sering mengabaikan pemberian Tuhan padaku. Waktu, tubuh, jiwa. Kini aku kehilangan penglihatanku. Tuhan mengambil sebagian nikmat yang telah Ia berikan.

Kini tongkatku yang menjadi mataku, menjadi sumber cahaya yang tak perlu energi. Ia menemani keseharianku, melindungi aku dari terperosoknya diriku ke dalam lubang dan menabrak apa yang ada di depanku. 

Meski demikian, aku masih punya alasan untuk bersyukur: aku masih bisa bernapas.

Dan Dia mengambil nikmat itu sebagai bukti cintaNya. Ia ingin aku kembali dekat pada-Nya melalui dimensi yang tak mampu ditarjamah manusia biasa.

Bukankah itu indah? Semua bergantung bagaimana kita melihat sesuatu. Bahagia bisa menjadi derita, derita bisa menjadi bahagia.

Oh nak, sekiranya kau menganggap apa yang kau hadapi kini sebagai derita, maka renungkanlah apa yang terjadi padaku. Kau berkeluh kesah akan kuliahmu yang sulit. Kau bersedih karena tak mampu membeli apa yang kau mau. Kau berduka akan kehilangan seseorang yang mengkhianatimu.

Nak, deritamu itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan deritaku. Tapi deritaku belum ada apa-apanya dibandingkan derita cucu Nabi Tercinta. Mungkin, aku hanya tidak bisa melihat dunia dengan mataku, tapi aku masih mampu melihat dengan mata hatiku.

Akan tetapi, tahukah apa yang terjadi pada sang cucu nabi? Nak, ingatlah Husain: bukan simbol perjuangan suatu kelompok tertentu, melainkan simbol perjuangan kemanusiaan. Ingatlah peristiwa di salah satu tempat di Irak yang pernah kakekmu ceritakan di surau kala itu, kala acara Tabuik itu. Bukankah kau juga pernah baca juga di perpustakaan pesantren waktu dulu kan? Ratusan orang ikut dengan beliau melawan ribuan pasukan yang diperintahkan oleh orang yang mengaku mengikuti agama kakeknya. 

Di tengah-tengah perjalanannya, satu per satu orang meninggalkannya. Meninggalkannya karena lebih memilih dunia ketimbang ikut bersama Sang kekasih yang mengantarkan kepada Telaga Abadi. Dikhianati; sahabat-sahabat setianya dibunuh, keluarga tercintanya ditembus anak panah mereka ditengah kehausan karena ditutupnya sumber air ke perkemahan mereka. Sang bayi dari keluarga itu, yang tak berdosa, pun tak luput dari anak panah mereka. Oh duhai! Apa pasal kerongkongan anak kecil kecintaan Husain harus tertembus panah itu? Apa dosanya?

Nak, semoga kau masih ingat cerita itu. Tak kuat aku menahan gelagak air mata duka, terlalu menyakitkan, lebih menyakitkan daripada yang aku alami. Maka, saksikanlah, ada yang lebih menderita darimu. Masihkah pantas apa yang kau alami itu kau sebut sebagai derita?

Sahabat kenanglah derita berat
Yang kini menyesakkan ruang batinmu
Meremuk redam hancurkan mimpi
Meniti asa yang tak pasti

Keluh terdengar rintihan semakin menjadi
Seolah diri berat diuji
Menelan kelam peluh tak berperi
Lupa akan nikmat Ilahi

Kenanglah…Al Husain…
Derita sebagai tanda cinta
Ya Husain…Ya Husain…
Mengenangmu bangkitkan asa
Bahwa hidup adalah cinta suci
Kau persembahkan untuk Ilahi

Gemuruh dada menghentak gelisah mengisi
Kehilangan kawan sejati
Cintamu padam hatimu sunyi
Hilang semua harga diri

Sahabat masihkah batinmu meronta sepi
Setelah Al-Husain kau tangisi
Wajahmu muram merenung diri
Adakah cinta yang kau beri?

Kenanglah…Al Husain…
Derita sebagai tanda cinta
Ya Husain…Ya Husain…
Mengenangmu bangkitkan asa
Bahwa hidup adalah cinta suci
Kau persembahkan untuk Ilahi

Syair: Miftah Fauzi Rakhmat
Maaf
Kala itu
Kau duduk di sebelahku
Tak kudengar bisikanmu
Tak kusaksikan gerakmu
Sehingga kau memilih
Menatap langit yang lain

Aku sadari
Semuanya

Maaf...
Semoga detak detik masih berpihak
Pada api baru yang menerangi sekeliling lilin

Lihatlah aku lagi!
Tatap aku lagi!
Jangan tinggalkan aku
Aku akan kembali
Segera, setelah tali temali penghalang itu
Mampu teratasi
Meski tak mudah
Tapi bukanlah tak mungkin

Karena kelak akan ada masanya
Aku tak lagi aku
Kamu tak lagi kamu
Tapi
Aku dan kamu adalah kita

Kita

Selamanya

Aku berjanji

Tunggulah di sana ya :)

Ah, aku merindukan saat-saat itu
Melantunkan shalawat barengan, bersama-sama itu
Di masjid dekat sekolah itu
Dengan shalawat yang asing di telinga itu
Yang kini mengantarkan aku kepada agama cinta.

Muhammad Nizami, Ahmad Zaki Ghifari, Kasyfurrahman, Adam Aulia Rahmadi.

Sesal

Dinginnya malam ini menusuk hingga tulangku. Tetes demi tetes air kiriman langit membasahi bumi. Kupinggirkan gerobak yang berisi penghidupanku. Duduk, mengambil sebungkus nasi yang kubeli dari warteg. Kusantap makanan ala kadarnya itu. Mungkin bagi banyak orang, makanan ini hina. Tapi, bagiku inilah anugerah Tuhan. Nasi dan kuah sop itu, tak mudah bagiku mendapatkannya.

Kala itu siang yang panas, tarik mentari membakar ubun-ubun. Kuhitung uang yang baru saja dikirim oleh orang tuaku. Dua puluh lembar seratus ribuan. Kata orang tuaku, uang itu untuk membayarkan kuliahku yang kini telah menuntaskan empat semester. Ayahku seorang petani, sedangkan ibuku tidak memiliki penghasilan. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Tak banyak memang pemasukan ayahku itu. Duapuluh lembar itu hasil dari bantingan keras tulang ayahku.

Aku adalah satu-satunya anak dalam keluarga yang menempuh pendidikan tinggi di kota. Adik-adikku tak melanjutkan jenjang pendidikannya selepas SD, karena tidak ada dana. Aku berangkat ke kota untuk melanjutkan pendidikanku. Mereka percaya kepadaku suatu saat kelak aku akan mampu memperbaiki keadaan. Aku memikul beban yang tak sederhana pada kedua bahuku. Aku harus berjuang demi mereka.

Tahun pertama; semester satu, semester dua, semua berjalan lancar. Kuliah mendapatkan tempat yang spesial. Tak pernah nilaiku kurang dari 4.0. Pergaulanku mulus. Aku menjadi bintang yang bersinar di kampus ku.

Tapi bersinarnya tak lama kemudian meredup.

Semester tiga semua berubah. Kuingat seorang temanku mengajak ke satu tempat yang begitu asing bagiku. Gemerlap cahaya memancar dari bola kristal yang berputar itu. Tak perlukan aku cerita kisah menyakitkan itu. Kuberitahu saja apa yang akhirnya terjadi padaku: aku menjadi seorang hedonis yang larut dalam candu buaian dunia.
Tak sampai dua puluh lembar seratus ribu rupiah kiriman itu kepada yang dimaksud pengirimnya. Aku drop-out karena tak bayar uang kuliah.

Kau akan mengerti mengapa.

Tak satupun beasiswa kucari. Di kelas, akulah biang merah padamnya wajah dosen. Tak pernah aku patuh padanya. Tiada buah karya tanganku yang memperbaiki hidup siapapun, termasuk diriku.

Orang tuaku menangis sedih, pupus harapannya yang telah diperjuangkan dengan tetesan peluh, cucuran darah, dan gelegak air mata. Mereka menghembuskan napas terakhirnya dalam kekecewaan yang amat luar biasa pada anaknya.

Sesalku menggelagak. Tak ada bekal yang kuambil karena gelapnya keadaan. Gelap, karena kututupi semua jendela hati, sehingga aku tak mendapatkan pancaran sinarNya. Aku lebih memilih berdansa dalam kegelapan. Tanpa kusadari, begitu banyak bekal yang mampu kuperjuangkan, berada di sekelilingku.

Tak ada guna menyalahkan masa lalu. Kuharap kau belajar dari sesalku ini. Biarkan gemintang menemaniku di tengah dinginnya malam. Selamat malam. Sehabis makananku ini, aku akan mencari bumi yang menerima pembaringan diri ini.

Watch your thoughts, they become words.
Watch your words, they become actions.
Watch your actions, they become habits.
Watch your habits, they become character.
Watch your character, it becomes your destiny.

-- Lao Tze

Temuan

"A two rak'at prayer that a married person establishes is worthier than when a bachelor keeps up prayers at nights and fasts during the days."

Man La Yahduruhul Faqih, vol. 3, p. 384

Gelegak jiwa menanti sendu
Hati bertanya kepada angin
Berharap ia membawakan pesan
Nun dari jauh sana

Pernah kau berucap
Dunia ini sempit
Demikian tak kurasa
Lahir kita berjauhan

Tapi,
Kalau kupanggil kau dari jauh
Melalui lirih panjat doa kerinduan
Kau datang tanpa kusangka akannya
Menyampaikan teka-teki dalam sapaan

Kurenungkan
Benar ucapanmu itu
Dunia ini sempit
Dunia yang baru kukenal
Yang tak mengenal kilometer

Kuharap
Rintihan lirih doa
Linangan air mata
Tangis menelan sunyi
Senantiasa menghangatkan jiwa

Kau adalah kita. Aku adalah kita. Hidup adalah kita. Tidak mungkin ada kehidupan tanpa kita.

Balada anak desa

Lihatlah makhluk kecil itu
Betapa periangnya mereka
Kala temannya melempari pasir
Tiada air wajah dendam

Keluh kesah tak dimilikinya
Terlontar tiada dari lidahnya
Kala musibah datang padanya
Tak kenal cerita derita

Kau terjatuh, terkapar
Pasti kau tangisi itu
Nak, tangismu redam sakitmu
Kini, berlarilah kejar mentari

Redam tangis itu
Kini berlari lagi
Tiada putus asa
Mentari harus kukejar

Rasa sejernih air
Jiwa seindah pelangi
Tekad selaksana gunung
Hati selembut sutra

Tuhan jagalah ia
Dari dosa mereka yang bernafsu panas
Dekatkanlah ia dengan mereka
Yang sayap malakutinya tampak pada manusia

Risalah perkhidmatan (3): Pasangan

Masih segar di pikiran ku, minggu pagi itu, kawan seperjuanganku menuju jenjang pernikahan. Suatu pernikahan yang tak saya sangka sebelumnya. Karena teman saya itu seolah tidak menampakkan "gejala" dia akan menikah.

Betul juga, jodoh itu seringkali tidak disangka. Saya tahu beberapa orang yang berusaha mendekatinya, dan saya sempat "iseng" kepada mereka berdua. Cie-cie. Dan ternyata kenyataan berkata lain.

Sudah selesai intermezzo nya. Kita lanjut.

Dan di akad pernikahan itu, ustadz Miftah, memberikan wejangan kepada kedua pengantin. Kepada mereka, beliau berkata janganlah menuntut hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Akan tetapi, niatkanlah pernikahan sebagai perkhidmatan. Perkhidmatan istri terhadap suami, suami terhadap istri. Jika nanti sudah punya anak nanti, perkhidmatan harus terbentuk antara anak dengan kedua orang tuanya, kedua orang tua kepada anak. Berlomba-lombalah dalam perkhidmatan.

Dengan niat sebagai perkhidmatan, kehidupan rumah tangga akan menjadi sakinah. Kemudian, dari sakinah itu Allah akan memberikan mawadddah, dan rahmah. Kedua yang terakhir itu tidak muncul tiba-tiba, keduanya harus diusahakan melalui jalan sakinah. Dan jalan sakinah itu bisa ditempuh dengan cara perkhidmatan.

Mungkin diantara kita tidak banyak yang mengetahui kata ini. Perkhidmatan, berasal dari kata khidmat. Saya mengartikan  perkhidmatan sebagai tindakan yang dilakukan semata-mata dorongan dari hati nurani, tanpa mengharap balasan atau pamrih. Dan dalam perkhidmatan ada pengorbanan, baik itu waktu, peluh, bahkan darah. Dan pengorbanan adalah tanda cinta.

Berbeda ketika menggunakan paradigma hak dan kewajiban. Ada yang menuntut, ada yang dituntut. Ketika ada kekhilafan, misalnya, maka keributan tak akan terelakkan. Dan tidak ada toleransi di dalamnya keluarga tersebut. Bukankah manusia biasa seperti kita itu tak luput dari kesalahan?

Jangan pernah meremehkan semut, karena bisa saja ia menaklukkan, bahkan menghancurkan gajah.

Tapi kita belum pernah melihat makhluk yang senang bekerja sama dan menolong sesama itu menghancurkan gajah, bukan?

Tuhan telah mati
Pada hati yang mati
Mati karena sesak
Diselimuti kebencian

Tuhan tidaklah mati
Hati yang mati
Laksana daun tak bertemu cahaya matahari
Hati mati karena tak terpancar sinar Ilahi
Tertutup kebencian dan kebakhilan

Risalah Perkhidmatan (2): Pelangi

Skip dulu yang mahasiswa, kita lari dulu ke yang lain, nanti mungkin kita akan kembali lagi ke topik itu.

Ah, lanjut. Pernahkah kau terpikirkan kenapa kita ini hidup dengan orang-orang yang saling berbeda satu sama lainnya?

Perbedaan itu seperti pelangi yang indah. Tuhan telah menggariskannya pada setiap diri.

Tapi tergantung juga kita mau pilih sudut pandang yang mana, dunia ini selalu punya sisi ekstrim yang saling bertolakbelakang. Untuk urusan ini, aku lebih memilih berada di sisi yang menikmati keindahan, ketimbang mereka yang ngutruk kenapa pelangi harus berbeda warna.

Kenapa ngutruk dengan pilihan Tuhan? Kau selalu bilang untuk taat kepadaNya, tapi tak bisa menghargai keputusan Tuhan yang satu ini? Kau bilang orang yang beda pemahaman denganmu itu salah, dan kau halalkan darahnya. Sejak kapan kau jadi Tuhan?

Telahkah kau menjadi binatang? Atau lebih parah dari itu?

Maka, kau orang yang tak bersyukur.

Betul katanya, perbedaan adalah rahmat, bukti kasih sayang Tuhan. Kalau kau mensyukuri perbedaan, kemudian mengarungi samuderanya, akan kau temukan harta karun di dalamnya.

Harta karun itu adalah kearifan. Dengan kearifan itu kau akan bijaksana. Tak banyak manusia yang bisa bijaksana dalam hidupnya. Langkalah mereka yang bisa menyikapi perbedaan, sabar menghadapi segala persoalan.

Manusia yang penuh kearifan adalah manusia yang banyak dicintai. Oleh sesamanya, alam, Tuhan, dan para kekasihNya. Beruntung, bukan?

Lebih beruntung daripada mereka yang shalat tapi hatinya tetap ngutruk atas keputusan Tuhan. Yang shalat belum tentu sujud padaNya.

Maka, kejarlah harta karun itu. Kalau perlu, jadilah anak-anak lagi, anak-anak yang sehat. Mereka tak mengenal kebencian, kecuali jika orang tuanya terlalu abai, atau bahkan telah meracuninya dengan racun kebencian.

Risalah Perkhidmatan (1): Mahasiswa

Sekarang sudah jam 12 malam, saya baru pulang dari suatu majelis ilmu. Dan entah kenapa, saya susah tidur, sehingga saya memilih untuk menulis ini saja, yang cukup mengganjal di pikiran saya.

Aku ini mahasiswa. Maha, siswa. Maha itu bisa dimaknai sebagai yang tinggi, dan siswa itu gelaran bagi mereka yang sedang belajar. Kita dianggap lebih "tinggi" dari pelajar yang lainnya. Tentu, ketika kita dianggap lebih "tinggi", mereka yang menyematkan anggapan tersebut punya harapan lebih atas kita. Harapan lebih akan kemampuan membuat masyarakat ini lebih baik, itu salah satunya, kupikir.

Tidak untuk sombong, tapi menyandang gelar ini berat. Di pundakku ada kepercayaan yang cukup berat untuk dipikul. Jika aku melepas pikulan tersebut, baik karena sengaja atau lupa, maka aku ini tak lebih dari seorang pengkhianat. Dan aku tentu saja memilih untuk memikulnya saja, daripada menjadi seorang pengkhianat plus plus, pengkhianat + pecundang.

Apa yang kupikul? Kepercayaan mereka yang yakin aku bisa memperbaiki masyarakat.

Dan beberapa hari lalu, aku mengalami paradigm shift karena "ditonjok". Cara pandangku mengenai ini berubah.

Kuliah bukan hanya urusan target nilai besar dengan IP(K) bling-bling. Bukan, tak sesederhana itu. Bergunakah IP(K) bling-bling itu, kalau kamu tak berguna di masyarakat? Itu yang kurenungkan selama ini. Aku tak bersemangat untuk belajar. Buat apa IP(K) gede kalau aku cuma jadi sampah saja, nantinya? Tak berguna bagi kemanusiaan?

Lalu, apa yang kupikirkan? Perkhidmatan. Kuliah, menuntut ilmu, harus dalam rangka perkhidmatan.

Sebagai mahasiswa, anggaplah kuliahmu itu sebagai perkhidmatan. Pertama, perkhidmatan kepada sesama manusia. Buatlah ilmu yang telah kau kuasai bermanfaat, dan kembangkanlah ilmumu itu sehingga kau berkontribusi besar bagi banyak orang (lebih mantap untuk urusan kemanusiaan). Tujukanlah ilmumu itu untuk kebaikan.

Yang kedua, jadikanlah perkhidmatanmu ini sebagai hadiah untuk orang yang kau cintai.

Dan mahasiswa sekarang tidak banyak yang paham, apa itu perkhidmatan. Mungkin saya akan melanjutkannya di tulisan selanjutnya, termasuk yang kedua itu.

Sekarang sudah jam 00.13, kelopak mata semakin berat, dan besok kuliah jam 6 pagi. Sampai nanti! :-)

Perasaan teraduk kencang
Tak tahu manis pahit
Gelap gulita buta arah
Terguncang terombang ambing
Kiri kanan tak menentu
Inikah kertas kosong itu?

Menangis, cengeng kah?

Setiap mata dianugrahi kemampuan untuk menangis, yang telah dimulai semenjak usia kecil. Menangis adalah benar-benar anugerah baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Secara lahiriah, menangis mampu membersihkan mata dari kotoran yang akan merusaknya, mengeluarkan zat-zal yang tidak penting bagi tubuh (atau bahkan mengganggu), dan mencegah timbulnya beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh keadaan jiwa, semisal penyakit liver dan jantung.

Lalu apa manfaatnya secara batiniah? Kita perlu membedakannya terlebih dahulu antara menangis dan cengeng. Cengeng adalah menangis untuk alasan yang sebetulnya tak perlu ditangisi, atau dengan kata lain, sedikit-sedikit menangis. Tapi bukan berarti banyak menangis itu tanda cengeng. Alasan menangis perlu reasonable, misalnya menangis karena meninggalnya seseorang yang dicintai, itu bukanlah tanda cengeng karena sudah cukup beralasan. Dengan kata lain, telah mencapai treshold. Bahasan treshold ini tidak akan masuk di sini karena nantinya tulisan ini jadi terlalu ilmiah. 

Ada beberapa alasan orang itu menangis. Bisa jadi karena tangis komunal (alias ikut-ikutan menangis), tangis kemunafikan, atau memang tangisan yang berasal dari hati. Kita tidak akan membahas bagaimana cara melihat termasuk yang mana tangisan seseorang itu, tapi kita akan membahas sedikit tentang tangis dari hati, dan tampaknya tidak akan ilmiah, karena memang bukan karya ilmiah. Iya kan? :)

Kata orang, menangis adalah tanda kelembutan hati. Memang benar, jika tangisan tersebut berasal dari dalam hati. Orang yang mudah menitikkan air kala dihadapkan hal-hal yang menyentuh hati, semisal melihat seorang ibu dengan baju compang-camping menggigil karena kehujanan, maka ia adalah seseorang yang berhati lembut.

Saya tidak akan mengutip apapun, tapi saya teringat akan Rasulullah. Dalam mindset saya, Rasulullah adalah panutan yang penuh kasih lagi lembut hatinya. Ia tidak pernah menyakiti siapa pun, dan ketika ia disakiti ia akan segera memaafkannya. Dan saya teringat akan kisah beliau menitikkan air mata. Diantaranya adalah ketika beliau memohonkan ampunan bagi orang yang menyakitinya, termasuk yang telah membunuh orang-orang yang dicintainya. (sekali lagi saya sedang tidak ingin memainkan dalil, sedang membuka ingatan saja secara ringan)

Bisa kau bayangkan, bagaimana memaafkan orang yang telah menyakiti diri kita? Bukanlah perkara mudah memaafkan kesalahan yang begitu fatal. Tapi Rasulullah adalah Kekasih Ilahi yang lembut hatinya dan indah tutur katanya. Dan dibalik lembutnya setiap hati yang tulus tersimpan kekuatan yang dahsyat, Bukankan memaafkan orang yang telah menyakiti hati kita begitu dalam itu luar biasa hebat?

Selain itu, tangisan juga meringankan beban psikologis. Orang yang menangis itu sedang meluapkan emosinya dan meledakannya, sehingga emosi tersebut tidak lagi membebaninya (secara berlebih). Orang yang menahan tangisan akan lebih rentan terhadap gangguan psikologis atau bagian neurologis. Pernah melihat balon atau ban meletus? Itu salah satu analogi terbaik untuk menggambarkannya. Udara adalah emosi dan balon itu jiwa (atau otak) kita. Jika sudah melebihi batas, ia akan merusak balon atau ban tersebut. Demikian pula dengan yang telah disebutkan sebelumnya.

Tebeci… Telor Bebek Cinta.
Eh salah, to be continued. Doakan agar aku tidak lupa melanjutkan tulisan ini.

Ngroook zzzz

Tak guna aku mengeluh
Dunia tak akan bergerak karena keluh kesahku
Suara keluh termakan masa
Yang tak terdengar kan diabaikan

Lebih baik kubangkit
Daripada harus menderita
Dalam keluh kesah
Yang meletihkan hati

Syukur padamu Ya Allah
Kau telah memasukkan dalam hatiku
Hasrat untuk mengubah diri
Menumbuhkannya dengan kasih sayangMu

Kini kutumpahkan peluh dan darahku
Berbenah memperbaiki memantaskan diri
Untuk yang mencintai
Dan yang dicintai

Instantheisme

Instantheisme

Sebelumnya, saya berharap tidak ada yang menyalin tulisan saya tanpa izin. Sekarang, saya mulai agak militan karena beberapa tulisan saya disalin tanpa sepengetahuan saya. Harap beritahukan saya jika ingin menyalin tulisan saya, dan hargai si penulis dengan mencantumkan namanya. Ayo kita hentikan budaya plagiarisme.

Ayo kita mulai.

Kini kita hidup pada era yang serba instan. Transportasi instan, makan instan, kerja instan. Semua serba instan. Berbeda dengan orang-orang dulu membuat makanannya terlebih dahulu. Jika mereka ingin makan mie, mereka membuat adonan tepungnya dulu. Kemudian setelah adonan terbentuk mereka membentuk adonan tersebut menjadi mie. Tidak selesai di sana, mereka membuat bumbunya dari rempah-rempah yang masih alami. Setidaknya orang-orang dahulu ini meraih dua manfaat: terbebas dari kanker karena bahan kimia buatan, dan memiliki keahlian dalam memasak.

Sekarang? Lapar, tinggal rebus mie. Mereka kehilangan dua manfaat itu. Mereka tidak tahu cara membuat mie yang enak, dan mereka terkena kanker karena senyawa yang mengganggu tubuh mereka. 

Mereka tidak hanya kehilangan itu. Mereka juga kini kehilangan yang lainnya. Yaitu, menghargai proses. Dahulu, orang-orang lebih menghargai proses ketimbang hasil jadi. Kenapa? Karena proses akan mempengaruhi hasil secara mutlak. Tak percaya? Silakan Anda abaikan proses, kemudian lihat hasil akhirnya

Orang-orang mulai mendewakan keinstan-an. Instan adalah segalanya. Ingin kaya, mereka mencuri uang negara. Karena orang-orang yang bertuhankan instan itu tidak cuma satu-dua orang, dan sama-sama ingin kaya, mereka melakukan pencurian berjamaah. Jika yang bertuhankan Allah melakukan shalat berjamaah, maka yang bertuhankan instan melakukan korupsi berjamaah. Jangan pernah yakin kepada koruptor yang sedang shalat itu benar-benar beribadah kepada Allah (atau apapun itu, intinya Yang Maha Tunggal, Sang Pencipta).

Kita beranjak kepada penyembah instan madzhab lainnya. Lihatlah sekelompok orang yang mudah percaya itu. Ketika dia baca artikel di internet mengenai suatu kelompok, dan isinya itu yang jelek-jeleknya saja. Dia angguk-angguk tanda percaya. Dia mengiyakan apa yang dia lihat di depan matanya, tanpa mempertanyakan lebih lanjut tentang apa yang dia baca. Ketika di layarnya itu bilang orang ini kafir dan orang kafir itu halal darahnya, dia mengamininya, tetapi pada awalmua dia tidak berani membunuh. Tapi karena exposure yang terus menerus, dia akhirnya berani membunuh orang yang beda pemahamannya dengan dia. 

Hal ini menjadi masalah besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Bencana alam karena faktor manusia muncul dimana-mana. Mulai dari banjir hingga longsor. Tidak hanya bencana alam, tetapi juga bencana sosial. Dan bencana sosial lebih mencolok bagi saya ketimbang bencana alam, karena akar dari bencana alam yang disebabkan alam, dalam pandangan saya, adalah karena bencana sosial itu.

Ketika kita berbicara mengenai empati, manusia-manusia di zaman ini lebih miskin. Miskin akan kadar empati. Belakangan marak kasus orang tua yang menyiksa, memperkosa, bahkan membunuh anaknya sendiri. Yang lebih mengerikan, ada juga yang sebaliknya. Ini adalah salah satu contoh yang muncul karena kita menuhankan Instan itu. 

Merekalah orang-orang yang bertuhankan yang namanya instan itu. Mereka ingin segalanya serba cepat, sehingga dia tidak sadar bahwa dirinya sedang disetir pikirannya. Dan mereka secara tidak sadar menduakan Tuhannya (kafir terselubung?)
Kejahatan muncul karena menuhankan instan itu. Tuhan telah diduakan. Jika seseorang benar-benar menuhankan Tuhan (apapun sebutannya itu), saya yakin mereka tidak akan bernai melakukan kejahatan. Kenapa? Mereka takut kepada Tuhannya. Bisa jadi takut karena siksa-Nya, bisa juga takut kehilangan cinta-Nya. Bisa berbagai motif seseorang takut kepada Tuhan, dan motif itu akan menentukan seberapa besar kadar keimanannya kepada Tuhannya. 

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top